Masyarakat multikuturalisme

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Masyarakat Multikultularisme adalah masyarakat yang jelas memiliki tradisi memahami, menghormati dan menghargai budaya orang lain. Masyarakat multikultur adalah masyarakat yang terdiri dari berbagai suku, agama dan ras yang saling berinteraksi dalam hubungan sosialnya. Segala sesuatu yang dilakukan setiap orang dalam suatu kelompok etnis selalu bertujuan untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan bagi setiap anggota dalam kelompoknya. Untuk mencapai tujuan tersebut setiap orang dalam suatu kelompok memiliki cara-cara tersendiri yang biasanya berbeda dengan anggota kelompok etnis yang lainnya.[1]

Salah satu masalah pada masyarakat multikulturalisme adalah sikap etnosentris. Etnosentris adalah sikap menilai unsur – unsur kebudayaan lain dengan menggunakan kebudayaan sendiri. Dapat diartikan pula sebagai sikap yang menganggap cara hidup bangsa merupakan cara hidup yang paling baik.Dampak negatif yang lebih luas dari sikap etnosentris lainnya, yaitu: Mengurangi keobjektifan ilmu pengetahuaan, menghambat pertukaran budaya, menghambat proses asimilasi kelompok yang berbeda, dan memicu timbulnya konflik sosial. Bukti adanya sikap Etnosentris adalah hampir setiap individu merasa bahwa kebudayaan yang paling baik dan lebih tinggi dibandingkan dengan kebudayaan lainnya. Misalnya, bangsa Amerika bangga akan kekayaan materinya, bangsa Prancis bangga akan bahasanya, bangsa Italia bangga akan musiknya.[2]

Faktor penyebab masyarakat multikulturalisme di Indonesia[sunting | sunting sumber]

Dalam membentuk masyarakat multikultural dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:[3]

Faktor sejarah[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan faktor sejarah terdapat dua aspek munculnya multikulturalisme, yakni migrasi yang masuk ke suatu daerah dan adanya kebanggaan sebagai minoritas. Sedangkan aspek kedua lebih bersifat pada unsur identitas yang dimiliki oleh individu yang dirasa lebih kuat daripada rasa nasionalismenya. Misalnya saja negara Indonesia, yang dikenal akan masyarakatnya yang multikultural. Indonesia sendiri merupakan negara dengan sumber daya alam yang begitu melimpah terutama dalam sektor rempah-rempah. Hal inilah yang membuat negara seperti Portugis, Inggris, Belanda, dan Jepang ingin menjajah Indonesia. Karena penjajahan inilah membuat beberapa negara dapat tinggal dalam jangka waktu yang cukup lama di Indonesia, bahkan beberapa diantaranya sampai menikah dengan bangsa Indonesia. Hal inilah yang menyebabkan terjadi penambahan kekayaan budaya serta ras di Indonesia sehingga memunculkan masyarakat multikultural.[3]

Letak geografis[sunting | sunting sumber]

Suatu negara atau wilayah memiliki karakteristik dan kondisi geografis yang berbeda-beda. Kondisi geografis ini akan mempengaruhi fenomena alam yang sering terjadi di wilayah tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung, fenomena alam akan mempengaruhi kehidupan sosial dalam suatu lingkungan masyarakat. Perbedaan dari kondisi geografis ini akan menimbulkan corak dan cara hidup yang beranekaragam dalam masyarakat. Contohnya Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki banyak daerah gunung dan daerah laut, tentunya cara hidup masyarakat di daerah gunung akan berbeda dengan mereka yang hidup di daerah laut atau pesisir pantai.[3]

Adanya pengaruh kebudayaan asing[sunting | sunting sumber]

Selain dipengaruhi oleh letak geografis Indonesia adanya masyarakat multikultural disebabkan oleh adanya pengaruh kebudayaan asing.Masuknya pengaruh kebudayaan asing ini dipengaruhi juga oleh letak geografis di Indonesia sehingga banyak berbagai unsur agama dan juga budaya yang masuk ke Indonesia. Indonesia terletak diantara Samudera Hindia dan Pasifik dan jalur tersebut merupakan jalur lintasan para pedagang yang berasal dari China, India, dan lain-lain. Para pedagang tersebut datang ke Indonesia tidak hanya untuk berdagang akan tetapi bertujuan juga untuk menyebarkan kebudayaan dan agama yang dianutnya sehingga saat ini di Indonesia terdapat bermacam-macam agama.[3]

Kondisi iklim[sunting | sunting sumber]

Kondisi Iklim yang berbeda-beda dan juga banyaknya macam-macam ras di Indonesia yang tumbuh membuat masyarakat Indonesia menjadi masyarakat multikultiral. Selain itu perbedaan yang menyebabkan masyarakat Indonesia disebut masyarakat multikultural yaitu adanya perbedaan antara tipe masyarakat perkotaan, pertanian, dan juga komunitas budaya suku bangsa lainnya. Masih berhubungan dengan kondisi geografis, kondisi iklim dan cuaca juga termasuk fenomena alam yang dipengaruhi faktor geografis dari suatu wilayah. Perbedaan iklim dan cuaca akan mempengaruhi pola perilaku manusia dalam menyesuaikan diri dengan iklim tersebut. Contohnya masyarakat yang tinggal di daerah yang lebih dingin akan menggunakan pakaian yang lebih tebal, sedangkan yang tinggal di daerah panas akan mengenakan pakaian yang lebih tipis.[3]

Integrasi nasional[sunting | sunting sumber]

Faktor penyebab terjadinya masyarakat multikultural yang terakhir yaitu adanya bentuk integrasi sosial. Integrasi nasional tersebut berasal dari suku bangsa di Indonesia yang beraneka ragam. Adanya integrasi suku bangsa menjadi suatu kesatuan bangsa Indonesia dipengaruhi oleh empat peristiwa diantaranya yaitu, peristiwa kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, adanya penjajahan Belanda, pada masa pergerakan nasional yang menyebabkan munculnya sumpah pemuda dan peristiwa yang sangat berpengaruh yaitu kemerdekaan Indonesia.

Karakteristik[sunting | sunting sumber]

Menurut Pierre L Van den Berghe ciri-ciri atau karakteristik masyarakat multikultural adalah:[4]

  1. Terjadinya segmentasi ke dalam bentuk-bentuk kelompok sosial.
  2. Keberagaman dalam masyarakat dapat membuat masyarakat membentuk kelompok tertentu berdasarkan identitas yang sama sehingga menghasilkan subkebudayaan berbeda satu dengan kelompok lain.
  3. Memiliki pembagian struktur sosial ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat nonkomplementer.
  4. Masyarakat yang beragam membuat struktur masyarakat mengalami perbedaan antara masyarakat satu dengan yang lain. Perbedaan struktur masyarakat itu dapat dilihat melalui lembaga-lembaga sosial yang bersifat tidak saling melengkapi.
  5. Kurang mengembangkan konsensus (kesepakatan bersama).
  6. Masyarakat yang beragam memiliki standar nilai dan norma berbeda yang diwujudkan melalui perilaku masyarakat. Penyebabnya, karakteristik masyarakat yang berbeda kemudian disesuaikan dengan kondisi lingkungan fisik dan sosial.
  7. Relatif sering terjadi konflik.
  8. Perbedaan-perbedaan di masyarakat menjadi salah satu pemicu terjadinya konflik. Konflik yang terjadi bisa sangat beragam, mulai dari konflik antarindividu sampai antarkelompok.
  9. Secara relatif, integrasi sosial tumbuh karena paksaan dan saling ketergantungan di bidang ekonomi. Jika masyarakat multikultural bisa terkoordinasi dengan baik, maka integrasi sosial sangat mungkin terjadi. Tetapi, integrasi sosial di masyarakat timbul bukan karena kesadaran, melainkan paksaan dari luar diri atau luar kelompok.
  10. Adanya dominasi politik.
  11. Kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat multikultural dapat memiliki kekuatan politik yang mengatur kelompok lain. Hal ini menjadi bentuk penguasaan (dominasi) dari suatu kelompok kepada kelompok lain yang tidak memiliki kekuatan politik.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Prayitno, Berchah Pitoewas, Hermi Yanzi (2017). "Pengaruh Sikap Primordialisme Terhadap Upaya Pembentukan Proses Harmonisasi Masyarakat Multikultur". Jurnal Kultur Demokrasi. 6 (3). ISSN 2746-2749. 
  2. ^ Sosiologi untuk SMA dan MA kelas XI, KTSP standar, Kun Maryati & Juju Suryawati, ESIS
  3. ^ a b c d e Ifa Nurhayati, Lina Agustina (2020). "Masyarakat Multikultural: Konsepsi, Ciri dan Faktor Pembentuknya". Jurnal Akademika. 14 (1): 22-25. ISSN 2085-7470. 
  4. ^ Arum Sutrisni Putri. "Masyarakat Multikultural: Pengertian dan Ciri-ciri". Diakses tanggal 10 November 2020.