Gajah (album): Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
1.962 bita ditambahkan ,  7 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler
| rev1Score = {{Rating|4|5}}
}}
 
Kemunculan Muhammad Tulus Rusyidi di kancah musik Indonesia memang merupakan sebuah kejutan yang menyenangkan dan juga menyehatkan dari sisi kualitas musik. Gajah, album kedua dari pria yang juga berprofesi sebagai seorang arsitek ini, terasa kian menunjukkan kekuatannya sebagai seorang biduan pop papan atas.
 
Ia memiliki vokal unik berkarakter tanpa keinginan untuk menjadi berlebihan, mulus meluncur langsung ke hati dan punya potensi bikin kaum hawa lemah di lutut. Namun selain itu ia juga punya kemampuan yang bukan main sebagai seorang pencipta lagu/lirik.
 
“Baru”, nomor pembuka yang bergaya Motown/Stax Records merupakan pilihan yang tepat. Bas yang berdentum terdengar tua, beat drum kuno membuat siapapun sukar menahan keinginan untuk ikut menjentikkan jari.
 
”Inilah aku yang baru”, kata Tulus seolah telah menyiapkan lagu ini sebagai nomor pembuka yang dijamin segera menyabet cinta pendengarnya. Di album ini, Tulus banyak bermain dengan eksplorasi-eksplorasi genre pop yang demikian luas, seperti Motown, pop/soul, hingga doo-wop di lagu “Satu Hari Di Bulan Juni” yang bisa jadi soundtrack terbaik untuk slow dance di prom night bertema ‘60-an.
 
Tulus juga kembali dengan tata bahasa lirik yang unik, seperti pada “Gajah” yang sekilas seperti sebuah retrospeksi yang ditempuh secara analogis. “Waktu kecil dulu mereka menertawakan/Mereka panggil aku gajah/Ku marah/Kini baru kutahu puji dalam olokan.”
 
Atau sesederhana mengapresiasi hari libur di “Tanggal Merah”, “Satu hari hanya kamu dan dirimu/Menikmati tanah yang kau injak”. Tulus mengarungi tema-tema yang jarang tersentuh oleh lirik pop Indonesia pada umumnya. Yang menarik adalah selama ini di Indonesia seperti ada stereotip bahwa mainstream identik dengan yang mudah, ringan, dan catchy, sementara si indie lebih ‘aneh’ dan edgy. Tulus dan Gajah terasa berdiri kokoh di tengah, serta melabrak kedua stereotip itu. Tanpa pretensi, Tulus terasa tulus.
 
== Personel ==
969

suntingan

Menu navigasi