Suku Dayak Dusun: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
35.864 bita dihapus ,  7 tahun yang lalu
k
dicurigai copyvio
(judul menjadi Orang Dayak Dusun Bayan)
k (dicurigai copyvio)
'''Suku Dayak Dusun''' adalah salah satu etnis [[Dayak]] terbesar di [[Kalimantan Tengah]] yang mendominasi wilayah pesisir (pantai) aliran sungai Barito (dari [[Barito Selatan]] sampai dengan [[Murung Raya]]). Namun demikian banyak dari sub suku ini menyangkal bahwa mereka berasal dari suku Dusun.
'''Orang Dayak Dusun Bayan'''
 
(Kepercayaan dan Perjumpaan dengan Agama Katolik)
 
Suku Dayak Dusun dengan nama yang sama juga terdapat di negeri [[Sabah]], tetapi berbeda rumpun yaitu masing dari rumpun Dayak [[Ot Danum]] dan [[Murut]].
I. Asal mula Orang Dayak Dusun Bayan
Orang Dusun Bayan adalah salah satu suku yang tinggal di daerah Sungai Barito(1.000 km) di Provinsi Kalimantan Tengah. Kata ‘Dusun’ sendiri berasal dari penjajah Belanda sekitar tahun 1898-1930 yang menyebut Afdeeling Doesoenlandeen(Tanah Dusun). Afdeeling adalah sebuah wilayah administratif setingkat kabupaten pada masa itu. Sedangkan ‘Bayan’ berarti daerah dengan banyak Burung Nuri-nya. Nama ‘Barito’ berasal dari nama Onder Afdeeling Barito(daerah aliran sungai Barito). Lalu Tanah Dusun adalah sebutan bagi suatu kawasan daerah hulu kota Mengkatip(daerah Dayak Bakumpai sekarang Kabupaten Barito Kuala) dan Dusun pada awalnya masih satu dan itu disebut Distrik Becompaiji Dousson sebelum tahun 1898. Ibu kota Afdeeling Doesoenlandeen saat itu yakni Muara Teweh yang sekarang menjadi ibu kota dari Kabupaten Barito Utara. Orang Dayak Dusun terdiri atas 8 suku-suku kecil yakni: Dusun Witu, Dusun, Bayan Kayan, Karawatan, Dusun Taboyan(kakak tertua Dayak Dusun), Malang, Karamaun dan Dusun Daya(Dusun Bayan di Barito Tengah). Selanjutnya orang Dusun juga terdapat di Sabah Malaysia yakni Dayak Idaan yang terbagi menjadi 6 suku-suku kecil lagi yakni Bundu, Membakut, Papar, Putatan, Tenggilan, Tuaran. Semuanya itu berinduk pada satu suku Dayak di Kalimantan yakni Suku Dayak Ngaju(lingua franca). Lalu, Suku Dayak Ngaju berasal dari suku Dayak Ot Danum (leluhurnya). Leluhur mereka itu yang menurut sejarahnya berasal dari dataran tinggi Yunan China Selatan, Taiwan, dan sebagian lagi dari Indochina, seperti Burma, Thailand dan lain-lain.Yang pasti bahasa Dayak Dusun meliputi enam puluh suku kecil-kecil . Kesamaan bahasa biasanya hanya pada beberapa kata, dan penyebutan angka, misalnya, makan=kuman, tidur=mandre, saya=aku, mandi=mandrus,mandui, pantat=para, satu=isa’, empat=epat/ opat, sedangkan yang lainnya berbeda. Kedudukan Damang(kepala adat) sangat istimewa dan dibutuhkan dalam memimpin suatu kampung.
 
1.1 Lokasi
Sekarang orang Dusun Berada di Kecamatan Teweh Tengah, Kabupaten Barito Utara tepatnya di Desa Pendreh, Desa Lemo, Desa Pararawen, Desa Buntuk, Desa Bintang Ninggi dan Desa Butong. Kabupaten Barito Utara berada di daerah khatulistiwa yakni pada posisi 114A0 20 a€TM -115 A055 a€ TM Bujur Timur dan 0A049 a €TM Lintang Utara - 1A027a €TM Lintang Selatan. Suhu 22,94-32,450C. Luas wilayah 8.300 Km2
 
==Lagu Daerah Dayak Dusun Kabupaten Barito Selatan==
1.2 Jumlah warga
* [http://www.youtube.com/watch?v=W0GqyY5lmNI&feature=related PESEN ITAK KAKAH]
Diperkirakan saat ini berjumlah sekitar 5000 jiwa dan sekarang sudah banyak yang menikah dengan warga pendatang. Mata pencaharian mereka yakni perikanan, peternakan, pertanian, kerajinan ayaman, berdagang dan sekarang sudah ada yang menjadi PNS dan pejabat daerah. Mereka hidup di sekitar tepian sungai pada umumnya. Upacara adat terdiri dari: Bakatane(perjodohan), bakasaki(pernikahan), mampung(kehamilan), kelahiran anak, Balian(penyembuhan penyakit), ngogang(penguburan) dan Wara(peringatan orang meninggal).
1.3 Bahasa
Salah satu dari rumpun bahasa Melayu-Polinesia yang terdapat pula kemiripan dengan bahasa kebangsaan Madagaskar yakni bahasa Malagasi(sekitar 70%). Dalam percakapan sehari-hari orang Dayak ini menggunakan bahasa Dusun(Bayan).
 
== Lihat pula ==
II. Kepercayaan asli orang Dusun Bayan
* [[Suku Dayak Dusun Deyah]] di [[Tabalong]]
 
{{suku-stub}}
2.1 Agama Resmi masyarakat Dusun Bayan
Agama asli orang Dayak Dusun Bayan adalah agama Helu atau Kaharingan . Kaharingan berasal dari bahasa Sangen atau Sangiang(bahasa orang Dayak kuno) yang akar katanya adalah ’’Haring’’ Haring berarti ada dan tumbuh atau hidup yang dilambangkan dengan Batang Garing atau Pohon Kehidupan. Pohon Batang Garing berbentuk seperti tombak dan menunjuk tegak ke atas. Bagian bawah pohon yang ditandai oleh adanya guci berisi air suci yang melambangkan Jata atau dunia bawah. Antara pohon sebagai dunia atas dan guci sebagai dunia bawah merupakan dua dunia yang berbeda tapi diikat oleh satu kesatuan yang saling berhubungan dan saling membutuhkan.
Buah Batang Garing ini, masing-masing terdiri dari tiga yang menghadap ke atas dan tiga yang menghadap ke bawah, melambangkan tiga kelompok besar manusia sebagai keturunan Maharaja Sangiang, Maharaja Sangen, dan Maharaja Bunu . Buah garing yang menghadap arah atas dan bawah mengajarkan manusia untuk menghargai dua sisi yang berbeda secara seimbang atau dengan kata lain mampu menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat. Tempat bertumpu Batang Garing adalah Pulau Batu Nindan Tarung yaitu pulau tempat kediaman manusia pertama sebelum manusia diturunkan ke bumi. Disinilah dulunya nenek moyang manusia, yaitu anak-anak dan cucu Maharaja Bunu hidup, sebelum sebagian dari mereka diturunkan ke bumi ini. Dengan demikian orang-orang Dayak diingatkan bahwa dunia ini adalah tempat tinggal sementara bagi manusia, karena tanah air manusia yang sebenarnya adalah di dunia atas, yaitu di Lewu Tatau(surga).
Dengan demikian sekali lagi diingatkan bahwa manusia janganlah terlalu mendewa-dewakan segala sesuatu yang bersifat duniawi. Pada bagian puncak terdapat burung enggang dan matahari yang melambangkan bahwa asal-usul kehidupan ini adalah berasal dari atas. Burung enggang dan matahari merupakan lambang lambang-lambang Ranying Mahatala Langit(Yang Mahakuasa) yang merupakan sumber segala kehidupan. Jadi inti lambang dari pohon kehidupan ini adalah keseimbangan atau keharmonisan antara sesama manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan.
Kaharingan menjadi dasar adat istiadat dan budaya mereka. Kaharingan hingga saat ini masih dianut oleh sebagian besar orang Dayak Dusun, walau pada kenyataannya, tidak sedikit mereka yang telah menganut agama Islam, Kristen, Katolik. Tradisi lama dalam hidup keseharian mereka masih melekat erat tidak hanya dalam bahasa, gerak-gerik, simbol, ritus, serta gaya hidup, namun juga dalam sistem nilai pengertian dan pandangan mereka dalam memaknai kehidupan.
Orang Dayak Dusun Bayan percaya bahwa Kaharingan diturunkan dan diatur langsung oleh Ranying Hatalla. Keyakinan tersebut hingga saat ini tetap dianut dan ditaati oleh pemeluknya secara turun-temurun. Bagi mereka, Balai Basarah(Tempat pertemuan) berfungsi sebagai tempat untuk beribadah. Ibadah rutin umat Kaharingan dilakukan setiap Kamis atau malam Jumat. Malam Jumat disebut Malem Nyirom. Di mana setiap keluarga Dusun Bayan, malam itu tidak boleh mencuci piring, mangkok dan mengasah pisau atau ha-hal yang berbau tajam berupa parfum, semuanya harus dibiarkan begitu saja. Satu hal lagi yakni tidak boleh bersiul. Sebab kalau bersiul akan memanggil roh jahat untuk mengambil nyawa kita dan kita bisa langsung mati di tempat. Roh itu yakni Bala(roh jahat) yang berkeliaran sekitar jam magribnya umat Islam. Katanya, menurut mitos sahabat orang dayak yakni penunggu rumah-rumah akan memakan sisa-sisa makanan kita langsung dari tempat cucian. Baru pada esok harinya, tiap keluarga boleh mencuci semuanya.
Pembagian Alam dalam Kaharingan adalah sebagai berikut:
• Alam Atas(Lewu Tatau Tahta kuasa Ranying Hatalla)
• Pantai Danom Kalunen( bumi tempat manusia) ialah tempat kehidupan sementara selama manusia masih bernafas, tetapi kelak setelah mati manusia akan kembali pulang ke Lewu Tatau
• Alam Bawah(dunia di bawah tanah dan di bawah air, yang menjadi tempat bagi Kalue tunggal tusoh atau penguasa tumbuh-tumbuhan. Biasanya ia diberi kalangkang ancak(sesajian) yang digantung pada pohon besar atau langsung diceburkan ke air.
Hari raya atau ritual penting dari agama Kaharingan adalah upacara Wara yaitu ritual kematian tahap akhir dan upacara Basarah. Menurut kepercayaan orang Dayak Bayan bahwa di atas puncuk Gunung Lumut itulah hidup roh-roh nenek moyang(liyau) yang sudah meninggal . Bisa dikatakan bahwa menurut kepercayaan Kaharingan puncak dari gunung tersebut adalah pintu masuk ke surganya orang Dayak Dusun Bayan setelah upacara Wara. Di situ Roh nenek moyang mereka sudah tidak berwujud manusia lagi melainkan sudah berwujud kupu-kupu, burung, udang, lebah, semut dan lai-lain yang bisa hidup di gunung lumut. R.I Made Sudhiarsa mengatakan: “Kepercayaan kepada leluhur didasarkan atas anggapan bahwa makhluk manusia terdiri atas badan dan jiwa. Pada waktu meninggal, jiwa terbebas dari badan dan tetap berpartisipasi dalam urusan manusia” . Inilah sebabnya orang Dayak Dusun Bayan tidak bisa meninggalkan begitu saja kepercayaan mereka, itu adalah karakteristik budayanya yang didasarkan atas keturunan(etnis).
Berikut sejumlah buku suci yang memuat ajaran dan juga seperangkat aturan hidup penganutnya:
 Panaturan(sejenis kitab suci)
 Talatah Basarah(kumpulan doa)
 Tawar, petunjuk tata cara meminta pertolongan Tuhan dengan upacara menabur manyangen Tingang(beras). Beras adalah perantara manusia dengan Ranying Hatalla dan pengantara manusia dengan leluhurnya.
 Buku Bakasaki(Pemberkatan Perkawinan), dan
 Buku Panyumpahan(Pengukuhan untuk acara pengambilan sumpah jabatan)
Di luar buku suci di atas, dalam melakukan Basarah, mereka juga menggunakan Sangku atau dalam bahasa Sangiangnya disebut Sangku Tambak Raja Saparanggun Dalam Kangatil Bawak Lamiang yang ditempatkan di atas meja kecil. Posisinya haruslah lebih tinggi dari lantai tempat duduk umat. Lalu di atas meja tersebut pula diberi alas kain yang bersih dengan banyak warna selain warna hitam. Letak Sangku haruslah di tengah-tengah umat saat basarah berlangsung. Umat Kaharingan percaya bahwa Sangku Tambak Raja adalah perwujudan dari seluruh kemahakuasaan dari Ranying Hatalla. Itulah simbol dari penyatuan batin umat dengan Ranying Hatalla.
Beberapa sarana Basarah yang harus ada dalam kepercayaan umat Kaharingan:
• Sangku
• Weah(beras)
• Dandang Tingang(bulu ekor burung Tingang)
• Sipa(giling pinang)
• Ruku/Rukun Tarahan(rokok)
• Bulau Pungkal Raja(uang logam yang diletakkan di dalam Sangku)
• Weah Bio(beras terbaru)
• Undus Tanak(minyak kelapa)
• Tampung Tawar(tirtha)
• Parapen(perapian)
• Garu, Manyan dan dupa
• Banang Lapik Sangku(kain alas Sangku)
• Telui piak manta(telur ayam yang tidak direbus)
• Unge Sukup Masam(bermacam-macam bunga)
Selama beribadah, mereka menyanyikan Kandayu(kidung). Lazimnya ada 4 jenis kandayu yakni: Kandayu Manyarah Sangku Tambak Raja, Kandayau Mantang Kayu Erang, Kandayu Parawei dan Kandayu Mambuwur Weah Bio(saat menabur beras ke udara).
Umat Kaharingan yakin bahwa setiap orang dalam kehidupannya mempunyai tugas dan misi tertentu. Misi utama Kaharingan ialah “mengajak manusia menuju jalan yang benar dengan berbakti serta mengagungkan Ranying Hatalla dalam setiap sikap dan perbuatan” . Oleh karena itu, manusia juga mempunyai tanggungjawab yang harus dilaksanakan yakni melaksanakan misi kehidupan dengan sempurna. Untuk mencapai hal tersebut, “lahir dan batin harus selalu bersih” . Artinya penyucian diri sangatlah penting bagi setiap manusia di dunia ini, sehingga ritual hapalas(mengoleskan atau mengusap darah binatang kurban berupa babi atau ayam putih) dalam Kaharingan dilakukan terus menerus secara turun temurun.
Kaharingan mengenal tiga relasi yang harus dijaga keharmonisannya yakni:
1. Hubungan manusia dengan Ranying Hatalla
Dalam ajaran Kaharingan dinyatakan bahwa hubungan manusia dengan Ranying Hatalla: Penyang ije kasimpei, penyang Ranying Hatalla Langit artinya beriman kepada Yang Tunggal yakni Ranying Hatalla.
2. Hubungan manusia dengan manusia lainnya baik secara kelompok maupun individu
Hatamuei lingu nalata artinya saling mengenal, saling tukat pengalaman dan pikiran dan saling tolong-menolong. Selanjutnya Hatindih kambang nyahun tarung mantang lawang langit artinya berlomba-lomba untuk menjadi manusia baik agar diberkati oleh Ranying Hatalla.
3. Hubungan manusia dengan alam semesta
Sebagai ciptaan Ranying Hatalla yang paling mulia dan sempurna, manusia wajib menjadi teladan bagi makhluk lainnya. Segala keajaiban yang terjadi adalah sarana untuk lebih mengetahui dan menyadari kebesaran dari Ranying Hatalla. Semua makhluk menyadari bahwa hanya Ranying Hatalla saja yang patut disembah.
Beberapa Dosa berat dalam kehidupan manusia ialah:
• Merampas
• Mengambil isteri orang
• Mencuri
• Merampok
• Ketidakadilan dalam memutuskan perkara bagi mereka yang berwenang memutuskannya, yaitu para Kepala Kampung, Kepala Suku dan Kepala Adat
• Tindakan tidak adil atau menerima suap atau uang(sorok) bagi mereka yang bertugas mengadili perkara di Pantai Danum Kalunen(bumi)
Dalam kaharingan dikenal Lewu Tatau(surga), sedangkan neraka tidak dikenal sama sekali. Mereka hanya mengetahui bahwa bila melakukan pelanggaran atau ngalanggar pantangan dari suatu aturan yang sudah ditetapkan oleh Ranying Hatalla, mereka akan mengalami malapetaka yang terkadang langsung dialami dan ada pula yang perlahan namun pasti. Ini membuat umatnya merasa takut.
 
[[Kategori:Dayak|Dusun]]
2.2 Kepercayaan Tradisional akan keberadaan, peranan dan pengaruh roh-roh dan aneka makhluk gaib
Orang Dayak percaya bahwa di dunia ini banyak terdapat roh-roh halus. Mereka percaya kepada: Sangiang(roh yang tinggal di tanah dan udara); Timang(roh yang tinggal di batu keramat); Tondoi(roh yang tinggal di bunga); Kujang(roh yang tinggal di pohon); Longit(roh yang tinggal di mandau-mandau). Mereka itu disebut Ganan Taneranu. Mereka adalah para penunggu, penghuni, penjaga suatu tempat(batu, pohon beringin, gua, air sungai dan laut bahkan langit). Mereka itu semuanya harus diberi sesajian supaya mereka tetap setia menunggu bahkan tidak mengganggu atau marah dengan memberi suatu penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh bantuan medis di rumah sakit manapun. Satu-satunya cara untuk sembuh yakni orang yang sedang mengalami sakit tersebut harus memohon maaf dan memberi sesajian berupa beras 3 warna atau ayam putih yang panggang atau ayam putih yang langsung disembelih lehernya di dekat tempat itu juga. Jadi, Roh nenek moyang Suku Dayak sangat berpengaruh pada kehidupan.
Berikutnya Tambahgahan(Jin yang baik) yakni suatu kali orang dayak tersesat di jalan atau di hutan sampai-sampai lupa arah mau kemana saat akan pulang kembali ke rumah mereka, maka yang mereka lakukan adalah memanggil sahabat mereka supaya membawa mereka kembali pulang. Dalam kepercayaan orang dayak, kita akan diletakkan di atas bahunya lalu dibawa terbang seperti aladin.
Selanjutnya Nyuruh(penjaga padi) yakni setiap orang Dusun Bayan yang mempunyai ladang padi akan selalu memberi persembahan sesajian kepada sang penguasa kesuburan yakni Nyuruh. Biasanya dilakukan saat biji padi sudah muncul dan kalau dipegang sudah terasa sudah ada buah di dalam kulit biji padi milik mereka. Sesajian yang akan diberikan kepadanya yakni dalam bentuk beras 3 warna putih(beras putih biasa), kuning(dengan warna kunyit) dan merah(dengan darah ayam berbulu putih). Dalam kepercayaan orang Bayan ini harus dilaksanakan tiap kali berladang. Tujuannya supaya padi mereka berhasil, berbuah banyak, tidak dimakan hama tikus, burung pipit dan belalang. Yang penting lagi yakni jangan sampai semua padi mereka busuk hingga mereka tidak beroleh hasil. Tidak berhasil bagi orang dayak artinya nyuruh marah karena tidak ijin dan tidak memberi hormat kepadanya kerena ia adalah penguasa atas segala kesuburan tumbuh-tumbuhan yang ada di atas bumi.
Ada sebuah pengalaman yang menarik ketika saya masih berada di sana. Waktu itu saya sangat takut sekali jika mendengar nama-nama hantu misalnya” jin tatau wale bulau” yang katanya sangat baik bisa menjadi sahabat beberapa orang Dayak kami. Jin tatau wale bulau adalah sosok roh yang sangat tinggi dan besar. Ia mempunyai pakaian lengkap, di mana warnanya sangat cerah penuh dengan cahaya kuning berkilauan. ia bercelana panjang dan bersepatu sangat indah. Di atas kepalanya terdapat topi unik semacam aladin. Ada cerita dari beberapa orang kampug kami yang mengatakan bahwa pernah suatu kali seorang perempuan ditangkap sekelompok ngayau atau kelompok pencari kepala pada masa sebelum penjajahan di Indonesia. Perempuan itu dibawa ke sebuah tempat yang sangat jauh sekali dari kampungnya dan bahkan ia pun tidak kenal dengan tempat di mana ia berada saat itu. Ia sangat ketakutan. Ia disekap di dalam sebuah rumah besar seperti pabrik, di situ ia melihat ada banyak kepala bergantung seperti tempat pemotongan daging sapi dan di sana sini terdapat banyak darah yang membuat suasana tempat itu tidak nyaman lagi yakni bau amis dari darah manusia. Ada banyak lalat juga di mana-mana. Perempuan ini tidak bisa tidur. Maka sebagai orang Dayak, ia kemudian pasrah kepada Ranying Hatalla atau Yang maha kuasa. Ia memanggil sahabatnya jin tatau wale bula ini untuk membawanya keluar dari tempat ia disekap ini lalu membawanya kembali pulang kepada kedua orang tuanya. Ia selamat dari bahaya kematian. Sesampainya ia dirumah, seluruh keluarga berkumpul untuk mengadakan syukur dengan berjanji akan selalu memberi sesajian kepada jin tatau wale bulau. Demikianlah ceritanya lengket di ingatan orang-orang kampung kami hingga sekarang.
Melihat kenyataan tersebut kiranya betul bahwa “Kepercayaan kepada makhluk dan kekuatan supernatural, pertama, terpelihara oleh apa yang diterangkan sebagai manifestasi kekuatan. Kedua, kepercayaan itu tetap lestari karena makhluk supernatural memiliki sifat-sifat yang terkenal bagi rakyat” . Inilah alasan utama bagi orang Dayak Dusun Bayan hingga kini tetap menjaga ritual kepercayaan mereka.
 
III. Sistem Kepercayaan orang Dusun Bayan akan roh-roh jahat
 
3.1 Kepercayaan akan roh-roh jahat
Menurut R.I.Made Sudhiarsa, bahwa “Ada dunia di luar batas akal budi manusia yakni dunia supernatural atau dunia alam gaib yang dihuni oleh makhluk dan kekuatan yang tak bisa dikuasai oleh manusia dengan cara-cara biasa. Dunia alam gaib itu pada dasarnya ditakuti oleh manusia” . Itulah mengapa masyarakat Dayak Dusun di Kabupaten Barito Utara Kalimantan Tengah memiliki kepercayaan terhadap roh-roh dan magi. Menurut kepecayaan adat Dayak Dusun Bayan, roh-roh itu tidak semuanya jahat sebab ada pula yang baik dan seringkali membantu seseorang saat berada dalam bahaya. Roh baik disebut sahabat(pelindung) dan roh jahat disebut Liak(pengganggu manusia). Itulah yang membuat orang Dayak itu bernuansa mistis.
Saat berkomunikasi dengan roh leluhur atau makhluk halus, manusia harus memiliki sikap pengendalian diri. Walaupun Ranying Hatalla telah mengizinkan manusia untuk berkomunikasi dengan mereka, manusia tetap harus ingat bahwa dirinya harus selalu dalam keadaan waspada dan menghindari keserakahan. Bahayanya ialah apabila tidak berhati-hati dan tidak memahami dengan benar, mungkin saja malah terjadi kesalahan yang fatal. Parahnya lagi, bukan roh baik yang dituju namun roh jahat yang menipu dan menyesatkan dan mencelakakan manusia.
Ada juga beberapa roh jahat, diantaranya:
Pertama, ada roh jahat yang bernama Liak. Liak adalah sosok roh yang berwujud mengerikan, dengan lidah menjulur panjang hingga ke perutnya. Matanya sangat tajam dan berpakaian tidak teratur. Ia berjenis kelamin laki-laki dan tinggal di udara. Ia sangat ditakuti oleh masyarakat kami, sebab ia bersifat merusak kedamaian antar keluarga di kampung. Ia suka mengganggu. Ia juga bisa menyebabkan penyakit aneh yang sulit disembuhkan oleh pihak medis di rumah sakit manapun. Penyakit itu semacam kutukan. Obatnya hanyalah minta maaf kepada Liak, lalu memberinya makan sesajian dan menyuruhnya untuk pergi jauh dan jangan mengganggu lagi.
Angui mama lengai bungai adalah sosok roh yang sifatnya seperti bunglon di mana wujudnya selalu berubah-ubah dan ia menyesatkan manusia. Ia berjenis kelamin perempuan. Ia tinggal di pohon-pohon dalam hutan lebat. Sudah ada beberapa orang Dayak Dusun yang tidak pulang ke rumah mereka, karena telah dikecohkan oleh roh jahat ini. Cara yang sampai sekarang masih dipercayaai yakni dengan mengadakan balian. Balian harus dilakukan oleh pihak keluarga dengan mengundang semua orang di kampung lalu secara bersama-sama berdoa kepada Ranying Hatalla supaya ahli balian diberi petunjuk arah di mana dan bagaimana menuju ke tempat orang yang hilang tersebut. Selanjutnya pada pertengahan upacara balian itu, ahli balian akan pergi ke luar rumah menuju ke hutan sekitar kampung dengan jangka waktu yang tidak pasti, sebab kadang ia bisa kembali esok paginya dengan membawa kembali orang yang hilang tersebut ke rumah. Oleh karena itu, pihak keluarga wajib memberi sesajian(ancak) kepada roh tersebut setiap malam Jumat agar ia tidak mengganggu keluarga mereka lagi di kemudian hari.
Rajan peres adalah sosok roh jahat yang merupakan sumber penyakit bagi semua orang Dayak Dusun. Ia tinggal di udara. Ia berjenis kelamin laki-laki dengan berpakaian seperti seorang raja setan yang selalu mengawas-awasi semua orang dari atas. Siapa saja yang lalai dalam berdoa kepada Ranying Hatalla lalu sibuk dengan kegiatan keduniawian, orang tersebut akan diberi penyakit. Salah satunya cara untuk bisa sembuh yakni dengan berdoa kepada Ranying Hatalla yang Mahakuasa supaya diampuni kesalahannya lalu tidak boleh lupa bahwa orang yang sudah disembuhkan itu berkewajiban memberi sesajian setiap malam Jumat.
Nyaring pampahilep adalah sosok makhluk jadi-jadian yang suka mengganggu manusia. Ia berwujud tidak jelas karena sulit untuk berjumpa dengannya. Yang pasti ia bersuara nyaring di tengah hutan. Terkadang ia bernyanyi, berteriak atau menangis seperti perempuan yang minta tolong di siang hari. Banyak orang Dayak yang tertipu oleh suara tersebut lalu esok harinya orang tersebut ditemukan mati dengan kondisi yang sangat menggenaskan. Orang Dayak langsung tahu bahwa itu adalah akibat dari perbuatan nyaring pampahilep. Warga kampung pada malam harinya harus mengadakan upacara balian memohon kepada Ranying Hatalla supaya semua warga dilindungi dari roh jahat itu. Sesajian harus diberikan kepada roh jahat itu agar ia tidak mengganggu atau membunuh lagi. Boleh dikatakan bahwa warga berdamai dengan roh tersebut dan tetap hidup berdampingan.
Tamang Tarai Bulan Tambun Pantun Garantung atau disebut juga Raja Sial. Ia berjenis kelamin laki-laki. Ia tinggal di Bukit Handut Nyahu Kereng Tatabat Kilat(di daerah gunung dan perbukitan). Tugasnya ialah mendatangkan kesialan, kekejaman, kecelakaan, dan kerugian bahkan kematian kepada manusia. Maka cara biasa yang dilakukan oleh orang Dayak yakni melaksanakan Ritual Tolak Bala. Tujuannya ialah meminta kepada roh jahat ini supaya menjauh dari kehidupan warga dan tidak mengganggu segala rencana yang akan dilakukan oleh warga. Mereka hidup berdampingan dengan rukun dan damai serta tidak akan ada musibah esok hari.
Bansi adalah sosok roh jahat yang berjenis kelamin perempuan dengan tidak berpakaian sedikitpun. Ia mempunyai payudara yang besar dan menjuntai ke bawah. Rambutnya panjang tidak bersisir rapi. Ia tinggal di hutan. Ia suka mengganggu laki-laki karena ia ingin agar laki-laki tersebut menjadi suaminya di hutan. Orang Dayak percaya bahwa laki-laki tersebut mungkin akan pulang dengan selamat tetapi ia tidak lagi mempunyai penis dan buah jakar sebab sudah diambil oleh roh tersebut. Sampai sekarang saya masih belum tahu cara mengatasinya.
Selanjutnya, Raja Hantuen atau Raja Haramaung Batulang Bunu Balikur Talawang. Ia berjenis kelamin laki-laki. Ia tinggal di pohon-pohon besar dekat kampung. Ia merupakan sumber petaka dan kerusuhan. Ia juga sering memperalat manusia yang hidup sebagai keturunan hantuen, di mana diketahui bahwa keturunannya ini berwujud manusia yang mengganggu dengan meminum darah manusia yang baru saja melahirkan. Terkadang ia mengganggu ibu hamil pada malam hari. Ia hantu yang dengan kepala dan isi perutnya terbang di udara. Sampai sekarang keturunan roh ini masih ada tetapi sulit untuk bisa membedakan dan mengetahui apakah orang tersebut keturunan hantuen(makhluk jadi-jadian).
3.2 Praktek-praktek Ritual magis
Upacara ini tidak harus dipimpin mantir, karena bisa saja dipimpin oleh kepala keluarga(kakek atau ayah) yang bisa melakukan babasaan balian. Selama upacara, kemenyan dan akar tumbuhan yang berbau wangi dibakar di atas perapian, dan tidak boleh mati. Lalu, ahli balian tadi mengadakan ngokoi okan(memberi makan roh). Ayam disembelih dengan darah direciki ke tanah, tidak lupa beras dengan tiga warna ditaburi ke udara. Selanjutnya, lemang digantung di atas sebuah tiang atau diletakan di atas sebuah meja kecil yang tidak boleh lagi diambil atau disentuh oleh manusia. Dalam doa balian meminta supaya roh jahat mau menjauh dan tidak mengganggu segala kegiatan manusia dalam suatu kampung. Artinya, dunia, kekuatan-kekuatan vital, hujan dan kesuburan diperbaharui serta roh-roh leluhur dipuaskan dan keamanan mereka dijamin . Lalu para pelaku menjadi setara dengan masa lampau yang suci dan melanggengkan tradisi suci serta memperbaharui fungsi-fungsi dan hidup warga masyarakat tertentu. Contohnya, di Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, umat Kaharingan berkumpul di Balai Basarah untuk menggelar ritual yang disebut Tolak Bala sebelum menyambut Tahun Baru . Ritual ini selalu diadakan setiap tahun. Tolak Bala adalah upacara dengan memberi batas antara kehidupan manusia dan roh jahat supaya roh jahat tidak mengganggu manusia. Upacara dilakukan dengan membakar kemenyan dan bebatuan yang merupakan tradisi leluhur Dayak Dusun Bayan. Tujuannya yakni memohon kepada Ranying Hatalla hati yang bersih dan suasana sekitar menjadi rukun. Diakhiri dengan dibacakannya ikrar bersama yang berisi beberapa poin yakni meminta Gunung Peyuyan, Gunung Peyenteau dan Gunung Lumut di wilayah Kecamatan Gunung Purei agar dilindungi dan dipelihara dari perbuatan orang yang tidak bertanggung jawab. Sebab Hutan adalah sumber hidup orang Dayak maka tidak boleh ada perambahan dan perusakan.
Setiap upacara adat Dayak Dusun Bayan selalu menggunakan beras karena beras adalah media komunikasi antara Manusia dengan Ranying Hatalla. Beras biasanya ditaburkan ke udara sebanyak tujuh kali sambil berhitung dan juga ditaburkan sedikit ke atas manusia yang disebut Tampung tawar biasanya dengan sambil mengucapkan Kuur murue yang artinya semoga kamu dilindungi oleh Ranying Hatalla.
 
3.3 Benda-benda fisik dalam Ritual magis
Untuk semua Roh halus yang jahat dan suka mengganggu harus diberikan:
1. Weah bura mea melintang(Beras biasa, beras warna kuning kunyit, dan beras dengan merah darah ayam putih)
2. Piak upe(ayam jantan warna putih)
3. Weah pulut(beras ketan) yang dibungkus dengan daun pisang lalu dibentuk seperti lemang dengan kedua ujungnya diikat dengan tali dari kulit pisang juga. Bisa juga lemang dengan bambu.
4. Parapen(perapian)
5. Menyan, wakat Daon Rahikit(Kemenyan dan akar tumbuhan berbau wangi)
 
IV. Perjumpaan Agama Katolik dan Kaharingan di Daerah Aliran Sungai Barito
 
Menurut catatan almarhum Mgr. Demarteau MSF , dikatakan bahwa pada tahun 1312 terdapat seorang Pastor Fransiskan bernama Oderic de Pordenone yang telah menjadi misionaris pertama berkarya di bumi Kalimantan atau Kerajaan Borneo. Kemudian pada tahun 1688 sampai tahun 1761 misi Katolik dilanjutkan oleh Ordo Theatin yang berpusat di Banjarmasin Kalimantan Selatan. Pastor Antonino Ventigmilia dicatat di dalam Majalah ”The Brunei Museum Journal, tahun 1972 dengan judul “The Mission of Father Antonino Ventigmilia to Borneo” dikatakan bahwa beliau telah berkarya juga dari tahun 1688 sampai dengan 1692. Beliau berkarya tidak hanya di Banjarmasin tetapi juga sampai ke pedalaman. Beliau sangat dekat dengan orang Dayak di pedalaman dan karena itulah ia dimusuhi oleh Sultan Banjarmasin. Kematian P.Antonino Ventigmilia tidak jelas tentang bagaimana terjadinya dan dikubur di mana oleh orang Dayak pedalaman saat itu, hanya kemungkinan ia dibunuh oleh orang suruhan Sultan Banjarmasin. Hanya saja ada berita dari beberapa pendeta Protestan Gereja Dayak Evangelis( sekarang Gereja Kalimantan Evangelis) bahwa di pedalaman Kalimantan dalam upacara agama asli orang Dayak yakni Kaharingan telah dipakai “tanda salib” yang mirip dengan tanda salib milik Gereja Katolik. Ketua kampung di pedalam juga mengakui bahwa tanda tersebut memang warisan dari misi Gereja Katolik pada masa P.Antonino Ventigmilia. Tanda salib digunakan oleh orang Dayak sebagai fetis(jimat) yang berkhasiat magis untuk Tolak Bala(mengusir roh-roh jahat) yang hingga saat ini terkenal dengan sebutan lapak lampinak atau cacak burung(bahasa banjarnya) . Biasanya tanda salib terdapat di setiap tiang rumah dan sebagian lagi sebagai motif tato pada tangan. Itu artinya pewartaan Injil telah meresap ke dalam hati orang Dayak, meskipun sempat terputus pewartaannya. Orang dayak menerima Kekatolikan.
Pada bulan Juni 1970, dua orang pastor dan satu bruder dari ordo Kapusin tiba di Banjarmasin, akan tetapi mereka tidak mau berkarya di situ sebab di tempat itu hampir seluruh warganya beragama Islam. Mereka memilih untuk berkarya di Laham Kalimantan Timur sekarang. Sampai dengan tahun 1926, mereka secara teratur sekali atau dua kali dalam setahun dari Laham berangkat dari Laham untuk mengadakan kunjungan turne ke kota Banjarmasin dan juga sampai masuk ke pedalaman. Yang mereka kunjungi yakni mulai dari kampung Samarinda, Tarakan, kota Banjarmasin, Martapura, Stagen di Pelaihari, lalu dilanjutkan ke Kandangan, Sampit, Muara Teweh dan Puruk Cahu. Muara Teweh nantinya menjadi stasi pusat bagi pelayanan misi Gereja Katolik di Daerah Aliran Sungai Barito.
Pada tanggal 1 Januari 1926, 3 orang misionaris MSF yakni P. Fr. Groot MSF, P. J.v. d. Linden MSF dan Bruder Egidius Stoffel MSF dari Belanda berangkat menuju Kalimantan. P. Fr. Groot MSF langsung diangkat oleh Pater Jenderal MSF P. A. Trampe MSF menjadi superior/propinsial mereka ketika sudah berkarya di Kalimantan. Mereka tiba di Lahan tanggal 27 Februari 1926. Di sini mereka disambut dengan hangat oleh dua pastor dan dua bruder Ordo Kapusin beserta 5 suster Fransiskanes dari Veghel dan seluruh orang Dayak di Laham. Pada masa inilah terjadi pengambil alihan dari Kapusin ke tangan MSF. Kapusin bergeser ke Kalimantan Barat yakni Pontianak sekarang. Para misionaris pertama Kongregasi MSF inilah yang kemudian melanjutkan karya pelayanan Ordo Kapusin untuk melayani umat Dayak Katolik di Laham, lalu mereka juga berturne ke hulu Sungai Mahakam, ke kampung Samarinda, Tarakan, kota Banjarmasin, Martapura, Stagen di Pelaihari, lalu dilanjutkan ke Kandangan, Sampit, Muara Teweh dan Puruk Cahu. Mereka berkarya dengan senang hati seperti para pendahulu mereka. Misalnya saja, tanggal 24 Juni 1929 P.Fr.Groot MSF yang sedang menderita sakit TBC dan rencananya beliau akan kembali ke negeri Belanda untuk berobat, tetap bersikap keras untuk terus mengunjungi semua umat Katolik di stasi-stasi. Lalu berita menyedihkan yakni tanggal 18 September Sr. Alexia Hellings dari kongregasi Suster Fransiskanes dari Veghel meninggal dunia di Samarinda. Yang mengejutkan lagi tanggal 10 Oktober 1937, P. A.v. Rossum MSF hilang di dalam hutan dekat Tering. Seluruh kampung Dayak membunyikan gong sebagai tanda bahwa ada musibah yakni seorang pastor MSF hilang dan dari banyak pencarian pastor tersebut pun tidak ditemukan jejak dan mayatnya. Namun baru tanggal 1 November 1937, ia ditemukan oleh orang Dayak dalam keadaan sangat lemah. Begitulah nasib para misionaris pertama Kalimantan.
Selanjutnya Gereja Katolik masuk ke daerah Barito khususnya pinggiran aliran sungai Barito, juga sangatlah tidak mudah karena untuk bisa diterima dengan baik harus mengenal budaya daerah setiap desa yang masing mempunyai keunikannya sendiri. Perjalanan misi Katolik di mulai tahun 1950, di mana saat itu masih Vikariat Banjarmasin yang baru saja dipisahkan dengan Vikariat Samarinda. Oleh pihak keuskupan dibagi menjadi 5 wilayah Pastoral yakni Daerah Aliran Sungai Barito, Barito Timur, Sampit, dan Palangka Raya. Daerah sungai Barito meliputi Muara Teweh dan sekitarnya sampai dengan Puruk Cahu yang sekarang ini sudah menjadi Kabupaten Murung Raya.
Kunjungan pastoral saat itu lebih sering dilakukan di Stasi Muara Teweh sampai dengan tahun 1954. Pastor yang mengunjungi saat itu yakni P. G. Kaperti MSF yang lalu digantikan oleh P. J.Zoetebir MSF yang mana pastor inilah yang sesungguhnya diakui oleh orang-orang kampung sebagai perintis Karya Misi Gereja Katolik di daerah ini. Tahun berikutnya menyusul seorang lagi misionaris MSF yakni P. Wrzesniewski MSF dari Polandia yang membentuk stasi baru di antaranya Stasi Buntok dan Stasi Puruk Cahu. Umat Katolik di sini selalu mendapat kunjungan sehingga semakin banyak orang Kaharingan yang tertarik juga melihat apa yang dilakukan oleh para pastor Katolik masa itu. Katolik semakin berkembang dan memunculkan beberapa umat yang dengan suka rela membantu dalam proses katekese umat, mereka itu juga lah yang nantinya memperkenalkan Agama Katolik kepada sesamanya. Diperkirakan lebih dari 30 desa telah dijangkau oleh para perintis pertama waktu itu, daerah Sungai Teweh, Sungai Montalat dan Sungai Ayuh. Kabar Gembira tentang Yesus Kristus telah masuk dan diterima dengan baik oleh orang Dayak Dusun.
Misi Katolik juga dirintis oleh para suster SFD, di mana mereka membuka susteran dan poliklinik di Buntok lalu pada tanggal 18 April 1969, seorang misionaris MSF juga yakni P. Herman Staclhacke MSF bekerja sama dengan Resort Gereja Kalimantan Evangelis yang ada di Buntok bersama-sama mengelola SMP dan sebagai kepala sekolahnya yakni Sr. Dominique SFD. Lalu pada tahun 1978 Buntok menjadi sebuah stasi tetap dengan pastor pertama P. Stefan MSF dari Jerman.
Dalam perjumpaan dengan agama Katolik, orang Dayak Dusun mengalami perubahan sikap mental yang disebut dengan tobat. Perubahan mental secara total itu mempengaruhi sikap dan tindakan manusia secara keseluruhan . Yakni dari kesatuan yang agak tertutup dan belum mencari hubungan dengan masyarakat luar , orang Dayak Dusun mulai memaksakan diri mereka untuk memperbarui diri dengan membuka masuknya budaya baru. Hal itu bisa melalui cara berdoa dengan Tuhan, simbol yang digunakan dan alat liturgi yang digunakan termasuk cara berbicara dengan orang lain semakin baik. Meskipun secara umumnya mereka masih mentaati dan menghormati segala tradisi adat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Penerimaan akan Gereja Katolik boleh dikatakan sangat lambat karena masih banyak orang Dayak Dusun yang tidak sekolah dan tidak mempunyai keterampilan hidup. Inilah yang membuat mereka dengan mudahnya mereka kembali ke kepercayaan Kaharingan. Mereka masih merasa nyaman hidup di dalam keluarga dengan kepercayaan yang sama pula. Para pastor tidak pernah memberikan aturan yang tegas kepada orang Dayak dalam proses sebelum dibaptis. Mereka dengan mudahnya kembali ke kepercayaan semula atau pindah ke Protestan bahkan ada juga yang masuk Islam.
Menurut saya mewartakan Injil itu tidak mudah. Setelah kita mendengar kenyataan yang telah lalu, yakni tentang bagaimana para misionaris awal mewartakan Injil di Kalimantan di mana ada berbagai tantangan, baik berupa sikap penolakan dari Orang Dayak terhadap kepercayaan baru, sikap para penguasa di suatu daerah, situasi yang menakutkan karena masih banyak hutan dan dengan jarak tempuh ke rumah orang Dayak yang begitu jauh. Untuk bisa melakukan itu semua kiranya kita membutuhkan suatu sikap penuh keberanian dan pasrah kepada Allah.
Satu hal yang penting lagi yakni tentang cara memasuki suatu daerah dan beradaptasi dengan budaya yang baru pula. Menurut saya para misionaris awal telah belajar banyak tentang sikap orang Dayak di pedalaman, cara hidup mereka, dan bahasa pergaulan sehari-hari mereka. Para misionaris awal itu sungguh hebat. Dengan keterbatasan sarana dan prasana mereka tetap setia melayani umat yang sudah merindukan Ekaristi Kudus di kampung mereka.
 
 
'''DAFTAR PUSTAKA'''
 
 
Dhavamony, M.,
Fenomenologi Agama, Yogyakarta: Kanisius.1995.
 
Mgr. Demarteau MSF.,
Mereka itu datang dari jauh: Sejarah Misionaris Keluarga Kudus di Kalimantan.Banjarbaru: Kongregasi MSF.1997.
 
Mihing, T, dkk.,
Geografi Budaya Daerah Kalimantan Tengah, Palangka Raya: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978.
 
Coomans, M.,
Manusia Daya: Dahulu, sekarang, masa depan,Jakarta: Gramedia.1987.
 
Riwut, T., Maneser Panatau Tatu Hiang,Yogyakarta: Pusakalima. 2003.
 
Sudhiarsa, R.I.Made Phd.,
Mempelajari Manusia dan Kebudayaannya,Malang: STFT Widya Sasana. 2007.
 
Yunus, A, dkk.,
Upacara Tradisional(upacara kematian) Daerah Kalimantan Tengah, Jakarta: Departemen Pendidikan dan kebudayaan.1985.
 
''Sumber Internet'':
 
KOMPAS.COM. 15 Juli 2007
(http://bola.kompas.com/read/2012/01/04/16331560/Suku.Dayak.Gelar.Ritual.Sambut.Tahun.Baru) diakses pada tanggal 10 November 2013.
 
{{DEFAULTSORT:Orang Dayak Dusun Bayan}}
42.421

suntingan

Menu navigasi