Suku Dayak Dusun: Perbedaan revisi

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
65 bita ditambahkan ,  7 tahun yang lalu
judul menjadi Orang Dayak Dusun Bayan
(huruf dari judul menjadi agak tebal)
(judul menjadi Orang Dayak Dusun Bayan)
I. Asal mula Orang Dayak Dusun Bayan
Orang Dusun Bayan adalah salah satu suku yang tinggal di daerah Sungai Barito(1.000 km) di Provinsi Kalimantan Tengah. Kata ‘Dusun’ sendiri berasal dari penjajah Belanda sekitar tahun 1898-1930 yang menyebut Afdeeling Doesoenlandeen(Tanah Dusun). Afdeeling adalah sebuah wilayah administratif setingkat kabupaten pada masa itu. Sedangkan ‘Bayan’ berarti daerah dengan banyak Burung Nuri-nya. Nama ‘Barito’ berasal dari nama Onder Afdeeling Barito(daerah aliran sungai Barito). Lalu Tanah Dusun adalah sebutan bagi suatu kawasan daerah hulu kota Mengkatip(daerah Dayak Bakumpai sekarang Kabupaten Barito Kuala) dan Dusun pada awalnya masih satu dan itu disebut Distrik Becompaiji Dousson sebelum tahun 1898. Ibu kota Afdeeling Doesoenlandeen saat itu yakni Muara Teweh yang sekarang menjadi ibu kota dari Kabupaten Barito Utara. Orang Dayak Dusun terdiri atas 8 suku-suku kecil yakni: Dusun Witu, Dusun, Bayan Kayan, Karawatan, Dusun Taboyan(kakak tertua Dayak Dusun), Malang, Karamaun dan Dusun Daya(Dusun Bayan di Barito Tengah). Selanjutnya orang Dusun juga terdapat di Sabah Malaysia yakni Dayak Idaan yang terbagi menjadi 6 suku-suku kecil lagi yakni Bundu, Membakut, Papar, Putatan, Tenggilan, Tuaran. Semuanya itu berinduk pada satu suku Dayak di Kalimantan yakni Suku Dayak Ngaju(lingua franca). Lalu, Suku Dayak Ngaju berasal dari suku Dayak Ot Danum (leluhurnya). Leluhur mereka itu yang menurut sejarahnya berasal dari dataran tinggi Yunan China Selatan, Taiwan, dan sebagian lagi dari Indochina, seperti Burma, Thailand dan lain-lain.Yang pasti bahasa Dayak Dusun meliputi enam puluh suku kecil-kecil . Kesamaan bahasa biasanya hanya pada beberapa kata, dan penyebutan angka, misalnya, makan=kuman, tidur=mandre, saya=aku, mandi=mandrus,mandui, pantat=para, satu=isa’, empat=epat/ opat, sedangkan yang lainnya berbeda. Kedudukan Damang(kepala adat) sangat istimewa dan dibutuhkan dalam memimpin suatu kampung.
 
1.1 Lokasi
Sekarang orang Dusun Berada di Kecamatan Teweh Tengah, Kabupaten Barito Utara tepatnya di Desa Pendreh, Desa Lemo, Desa Pararawen, Desa Buntuk, Desa Bintang Ninggi dan Desa Butong. Kabupaten Barito Utara berada di daerah khatulistiwa yakni pada posisi 114A0 20 a€TM -115 A055 a€ TM Bujur Timur dan 0A049 a €TM Lintang Utara - 1A027a €TM Lintang Selatan. Suhu 22,94-32,450C. Luas wilayah 8.300 Km2
 
1.2 Jumlah warga
Diperkirakan saat ini berjumlah sekitar 5000 jiwa dan sekarang sudah banyak yang menikah dengan warga pendatang. Mata pencaharian mereka yakni perikanan, peternakan, pertanian, kerajinan ayaman, berdagang dan sekarang sudah ada yang menjadi PNS dan pejabat daerah. Mereka hidup di sekitar tepian sungai pada umumnya. Upacara adat terdiri dari: Bakatane(perjodohan), bakasaki(pernikahan), mampung(kehamilan), kelahiran anak, Balian(penyembuhan penyakit), ngogang(penguburan) dan Wara(peringatan orang meninggal).
 
II. Kepercayaan asli orang Dusun Bayan
 
2.1 Agama Resmi masyarakat Dusun Bayan
Agama asli orang Dayak Dusun Bayan adalah agama Helu atau Kaharingan . Kaharingan berasal dari bahasa Sangen atau Sangiang(bahasa orang Dayak kuno) yang akar katanya adalah ’’Haring’’ Haring berarti ada dan tumbuh atau hidup yang dilambangkan dengan Batang Garing atau Pohon Kehidupan. Pohon Batang Garing berbentuk seperti tombak dan menunjuk tegak ke atas. Bagian bawah pohon yang ditandai oleh adanya guci berisi air suci yang melambangkan Jata atau dunia bawah. Antara pohon sebagai dunia atas dan guci sebagai dunia bawah merupakan dua dunia yang berbeda tapi diikat oleh satu kesatuan yang saling berhubungan dan saling membutuhkan.
 
III. Sistem Kepercayaan orang Dusun Bayan akan roh-roh jahat
 
3.1 Kepercayaan akan roh-roh jahat
Menurut R.I.Made Sudhiarsa, bahwa “Ada dunia di luar batas akal budi manusia yakni dunia supernatural atau dunia alam gaib yang dihuni oleh makhluk dan kekuatan yang tak bisa dikuasai oleh manusia dengan cara-cara biasa. Dunia alam gaib itu pada dasarnya ditakuti oleh manusia” . Itulah mengapa masyarakat Dayak Dusun di Kabupaten Barito Utara Kalimantan Tengah memiliki kepercayaan terhadap roh-roh dan magi. Menurut kepecayaan adat Dayak Dusun Bayan, roh-roh itu tidak semuanya jahat sebab ada pula yang baik dan seringkali membantu seseorang saat berada dalam bahaya. Roh baik disebut sahabat(pelindung) dan roh jahat disebut Liak(pengganggu manusia). Itulah yang membuat orang Dayak itu bernuansa mistis.
5. Menyan, wakat Daon Rahikit(Kemenyan dan akar tumbuhan berbau wangi)
 
IV. Perjumpaan Agama Katolik dan Kaharingan di Daerah Aliran Sungai Barito
 
Menurut catatan almarhum Mgr. Demarteau MSF , dikatakan bahwa pada tahun 1312 terdapat seorang Pastor Fransiskan bernama Oderic de Pordenone yang telah menjadi misionaris pertama berkarya di bumi Kalimantan atau Kerajaan Borneo. Kemudian pada tahun 1688 sampai tahun 1761 misi Katolik dilanjutkan oleh Ordo Theatin yang berpusat di Banjarmasin Kalimantan Selatan. Pastor Antonino Ventigmilia dicatat di dalam Majalah ”The Brunei Museum Journal, tahun 1972 dengan judul “The Mission of Father Antonino Ventigmilia to Borneo” dikatakan bahwa beliau telah berkarya juga dari tahun 1688 sampai dengan 1692. Beliau berkarya tidak hanya di Banjarmasin tetapi juga sampai ke pedalaman. Beliau sangat dekat dengan orang Dayak di pedalaman dan karena itulah ia dimusuhi oleh Sultan Banjarmasin. Kematian P.Antonino Ventigmilia tidak jelas tentang bagaimana terjadinya dan dikubur di mana oleh orang Dayak pedalaman saat itu, hanya kemungkinan ia dibunuh oleh orang suruhan Sultan Banjarmasin. Hanya saja ada berita dari beberapa pendeta Protestan Gereja Dayak Evangelis( sekarang Gereja Kalimantan Evangelis) bahwa di pedalaman Kalimantan dalam upacara agama asli orang Dayak yakni Kaharingan telah dipakai “tanda salib” yang mirip dengan tanda salib milik Gereja Katolik. Ketua kampung di pedalam juga mengakui bahwa tanda tersebut memang warisan dari misi Gereja Katolik pada masa P.Antonino Ventigmilia. Tanda salib digunakan oleh orang Dayak sebagai fetis(jimat) yang berkhasiat magis untuk Tolak Bala(mengusir roh-roh jahat) yang hingga saat ini terkenal dengan sebutan lapak lampinak atau cacak burung(bahasa banjarnya) . Biasanya tanda salib terdapat di setiap tiang rumah dan sebagian lagi sebagai motif tato pada tangan. Itu artinya pewartaan Injil telah meresap ke dalam hati orang Dayak, meskipun sempat terputus pewartaannya. Orang dayak menerima Kekatolikan.
Pada bulan Juni 1970, dua orang pastor dan satu bruder dari ordo Kapusin tiba di Banjarmasin, akan tetapi mereka tidak mau berkarya di situ sebab di tempat itu hampir seluruh warganya beragama Islam. Mereka memilih untuk berkarya di Laham Kalimantan Timur sekarang. Sampai dengan tahun 1926, mereka secara teratur sekali atau dua kali dalam setahun dari Laham berangkat dari Laham untuk mengadakan kunjungan turne ke kota Banjarmasin dan juga sampai masuk ke pedalaman. Yang mereka kunjungi yakni mulai dari kampung Samarinda, Tarakan, kota Banjarmasin, Martapura, Stagen di Pelaihari, lalu dilanjutkan ke Kandangan, Sampit, Muara Teweh dan Puruk Cahu. Muara Teweh nantinya menjadi stasi pusat bagi pelayanan misi Gereja Katolik di Daerah Aliran Sungai Barito.
 
 
'''DAFTAR PUSTAKA'''
 
 
Dhavamony, M.,
Fenomenologi Agama, Yogyakarta: Kanisius.1995.
 
Mgr. Demarteau MSF.,
Mereka itu datang dari jauh: Sejarah Misionaris Keluarga Kudus di Kalimantan.Banjarbaru: Kongregasi MSF.1997.
 
Mihing, T, dkk.,
Geografi Budaya Daerah Kalimantan Tengah, Palangka Raya: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978.
 
Mikhail, C.,
Coomans, M.,
Manusia Daya: Dahulu, sekarang, masa depan,Jakarta: Gramedia.1987.
 
Riwut, T.,
Riwut, T., Maneser Panatau Tatu Hiang,Yogyakarta: Pusakalima. 2003.
 
Sudhiarsa, R.I.Made Phd.,
Mempelajari Manusia dan Kebudayaannya,Malang: STFT Widya Sasana. 2007.
 
Yunus, A, dkk.,
Upacara Tradisional(upacara kematian) Daerah Kalimantan Tengah, Jakarta: Departemen Pendidikan dan kebudayaan.1985.
 
''Sumber Internet'':
 
KOMPAS.COM. 15 Juli 2007
(http://bola.kompas.com/read/2012/01/04/16331560/Suku.Dayak.Gelar.Ritual.Sambut.Tahun.Baru) diakses pada tanggal 10 November 2013.
 
{{DEFAULTSORT:Orang Dayak Dusun Bayan}}
Pengguna anonim

Menu navigasi