Rokok Klembak: Perbedaan antara revisi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Konten dihapus Konten ditambahkan
Tidak ada ringkasan suntingan
kTidak ada ringkasan suntingan
Baris 1: Baris 1:
'''Rokok Klembak Menyan''', atau dikenal juga dengan nama ‘rokok siong’ adalah rokok yang terbuat dari daun [[tembakau]], akar [[klembak]] dan menyan yang dilinting atau digulung dengan kertas papier. Rokok ini populer di kalangan [[petani]] dan [[buruh]] di sekitar pesisir selatan [[Jawa Tengah]], yang membentang dari [[Cilacap]], [[Banyumas]], [[Purwokerto (kota)|Purwokerto]], [[Purbalingga]], [[Sumpiuh, Banyumas|Sumpiuh]], [[Tambak, Banyumas|Tambak]], [[Gombong, Kebumen|Gombong]], [[Karanganyar, Kebumen|Karanganyar]], [[Kebumen]] sampai daerah [[Purworejo]]. Rokok ini populer karena harga yang relatif murah dan terjangkau untuk kalangan bawah. Selain itu diyakini oleh sebagian orang dapat digunakan sebagai obat mengatasi sembelit. Saat ini, kondisi penjualan rokok jenis ini sudah stagnan dan cenderung menurun, karena hanya orang-orang yang sudah tua dan sepuh yang menghisap rokok ini. Orang-orang yang lebih muda lebih suka menghisap rokok putih dan rokok kretek yang lebih populer, sedangkan rokok klembak lebih banyak digunakan sebagai rokok sesaji untuk keperluan sesaji dalam upacara pengiriman doa seperti selamatan maupun perayaan hari besar seperti sedekah bumi maupun sedekah laut di daerah pedesaan.
'''Rokok Klembak Menyan''', atau dikenal juga dengan nama ‘rokok siong’ adalah rokok yang terbuat dari daun [[tembakau]], akar [[klembak]] dan menyan yang dilinting atau digulung dengan kertas papier. Rokok ini populer di kalangan [[petani]] dan [[buruh]] di sekitar pesisir selatan [[Jawa Tengah]], yang membentang dari [[Cilacap]], [[Banyumas]], [[Purwokerto (kota)|Purwokerto]], [[Purbalingga]], [[Sumpiuh, Banyumas|Sumpiuh]], [[Tambak, Banyumas|Tambak]], [[Gombong, Kebumen|Gombong]], [[Karanganyar, Kebumen|Karanganyar]], [[Kebumen]] sampai daerah [[Purworejo]]. Rokok ini populer karena harga yang relatif murah dan terjangkau untuk kalangan bawah. Selain itu diyakini oleh sebagian orang dapat digunakan sebagai obat mengatasi sembelit. Saat ini, kondisi penjualan rokok jenis ini sudah stagnan dan cenderung menurun, karena hanya orang-orang yang sudah tua dan sepuh yang menghisap rokok ini. Orang-orang yang lebih muda lebih suka menghisap rokok putih dan rokok kretek yang lebih populer, sedangkan rokok klembak lebih banyak digunakan sebagai rokok sesaji untuk keperluan sesaji dalam upacara pengiriman doa seperti selamatan maupun perayaan hari besar seperti sedekah bumi maupun sedekah laut di daerah pedesaan.


==Sejarah==
=Sejarah=
Di daerah keresidenan Banyumas rokok klembak merupakan jenis rokok yang umum dihisap di kalangan masyarakat umum. Industri rokok klembak baru muncul pada tahun 1925 dengan berdirinya perusahan rokok klembak yang pertama di kota Gombong, yang pada waktu itu berada dalam wilayah kabupaten Karanganyar. Pada tahun 1928 muncul lagi perusahaan rokok klembak yang kedua dalam skala menengah, dan setelah tahun 1929, muncul lagi 3 perusahaan rokok klembak dalam skala kecil. Setelah itu di daerah Cilacap pada tahun 1928 mulai berdiri perusahaan rokok klembak yang pertama. Selanjutnya muncul beberapa industri rokok klembak yang berkembang di wilayah Keresidenan Banyumas. Berikut adalah tabel perkembangan rokok klembak di Keresidenan Banyumas dari tahun 1929 sampai tahun 1933.<ref>Buku Hikayat Kretek karya Amen Budiman dan Ong Hok Ham, Kepustakaan Populer Gramedia, tahun 2016</ref>
Di daerah keresidenan Banyumas rokok klembak merupakan jenis rokok yang umum dihisap di kalangan masyarakat umum. Industri rokok klembak baru muncul pada tahun 1925 dengan berdirinya perusahan rokok klembak yang pertama di kota Gombong, yang pada waktu itu berada dalam wilayah kabupaten Karanganyar. Pada tahun 1928 muncul lagi perusahaan rokok klembak yang kedua dalam skala menengah, dan setelah tahun 1929, muncul lagi 3 perusahaan rokok klembak dalam skala kecil. Setelah itu di daerah Cilacap pada tahun 1928 mulai berdiri perusahaan rokok klembak yang pertama. Selanjutnya muncul beberapa industri rokok klembak yang berkembang di wilayah Keresidenan Banyumas. Berikut adalah tabel perkembangan rokok klembak di Keresidenan Banyumas dari tahun 1929 sampai tahun 1933.<ref>Buku Hikayat Kretek karya Amen Budiman dan Ong Hok Ham, Kepustakaan Populer Gramedia, tahun 2016</ref>
{| class="wikitable"
{| class="wikitable"
Baris 139: Baris 139:
|'''31'''
|'''31'''
|}
|}
=Sejarah Rokok Klembak di wilayah Purworejo=
==Sejarah Rokok Klembak di wilayah Purworejo==
Di daerah Purworejo, industri dan produksi kerajinan rokok klembak menyan sudah berlangsung sejak tahun 1970an. Menurut catatan, kini terdapat 28 perajin kretek klembak menyan yang banyak dilakukan dalam skala rumahan. Cikal bakal industri rokok klembak menyan di Purworejo berawal dari Desa Jono, Kecamatan Bayan, Purworejo. Desa ini jugalah yang terkenal sebagai sentra kerajinan klembak menyan. Bahkan dalam 1 desa ada 4 industri rumahan yang masih bertahan sampai saat ini.
Di daerah Purworejo, industri dan produksi kerajinan rokok klembak menyan sudah berlangsung sejak tahun 1970an. Menurut catatan, kini terdapat 28 perajin kretek klembak menyan yang banyak dilakukan dalam skala rumahan. Cikal bakal industri rokok klembak menyan di Purworejo berawal dari Desa Jono, Kecamatan Bayan, Purworejo. Desa ini jugalah yang terkenal sebagai sentra kerajinan klembak menyan. Bahkan dalam 1 desa ada 4 industri rumahan yang masih bertahan sampai saat ini.


=Sejarah Rokok Klembak di kota Gombong=
==Sejarah Rokok Klembak di kota Gombong==
Sejak tahun 1950, di kota Gombong muncul produksi dengan merk Sintren, Bangjo dan Togog yang dirintis oleh pasangan suami istri The Tjoan (Agus Subianto) dan Tjo Goe Nio (Setiawati). Pada waktu itu, pemasarannya bukan hanya sebatas di sepanjang pesisir selatan pulau Jawa namun merambah ke pulau Sumatera, khususnya propinsi Jambi. Produk dijual dengan kemasan isi 6 batang dan 10 batang per bungkusnya. Produksinya amat disukai oleh penggemar rokok klembak menyan pada saat itu. Bahkan dalam perkembangannya perusahaan ini sempat menyerap hampir 1000 pekerja. Pelanggan rokok merk Sintren berada di kota Kebumen, Kroya, Purwokerto dan Gombong. Untuk pemasaran rokok merk Togog meliputi wilayah Jawa Tengah bagian tengah seperti : Purbalingga, Magelang hingga Wonosobo. Sedangkan merk Bangjo dipasarkan di Purwokerto, Sidareja, Majenang dan Ajibarang. Untuk pelanggan di wilayah luar pulau Jawa masih tetap propinsi Jambi.
Sejak tahun 1950, di kota Gombong muncul produksi dengan merk Sintren, Bangjo dan Togog yang dirintis oleh pasangan suami istri The Tjoan (Agus Subianto) dan Tjo Goe Nio (Setiawati). Pada waktu itu, pemasarannya bukan hanya sebatas di sepanjang pesisir selatan pulau Jawa namun merambah ke pulau Sumatera, khususnya propinsi Jambi. Produk dijual dengan kemasan isi 6 batang dan 10 batang per bungkusnya. Produksinya amat disukai oleh penggemar rokok klembak menyan pada saat itu. Bahkan dalam perkembangannya perusahaan ini sempat menyerap hampir 1000 pekerja. Pelanggan rokok merk Sintren berada di kota Kebumen, Kroya, Purwokerto dan Gombong. Untuk pemasaran rokok merk Togog meliputi wilayah Jawa Tengah bagian tengah seperti : Purbalingga, Magelang hingga Wonosobo. Sedangkan merk Bangjo dipasarkan di Purwokerto, Sidareja, Majenang dan Ajibarang. Untuk pelanggan di wilayah luar pulau Jawa masih tetap propinsi Jambi.



Revisi per 31 Oktober 2017 07.34

Rokok Klembak Menyan, atau dikenal juga dengan nama ‘rokok siong’ adalah rokok yang terbuat dari daun tembakau, akar klembak dan menyan yang dilinting atau digulung dengan kertas papier. Rokok ini populer di kalangan petani dan buruh di sekitar pesisir selatan Jawa Tengah, yang membentang dari Cilacap, Banyumas, Purwokerto, Purbalingga, Sumpiuh, Tambak, Gombong, Karanganyar, Kebumen sampai daerah Purworejo. Rokok ini populer karena harga yang relatif murah dan terjangkau untuk kalangan bawah. Selain itu diyakini oleh sebagian orang dapat digunakan sebagai obat mengatasi sembelit. Saat ini, kondisi penjualan rokok jenis ini sudah stagnan dan cenderung menurun, karena hanya orang-orang yang sudah tua dan sepuh yang menghisap rokok ini. Orang-orang yang lebih muda lebih suka menghisap rokok putih dan rokok kretek yang lebih populer, sedangkan rokok klembak lebih banyak digunakan sebagai rokok sesaji untuk keperluan sesaji dalam upacara pengiriman doa seperti selamatan maupun perayaan hari besar seperti sedekah bumi maupun sedekah laut di daerah pedesaan.

Sejarah

Di daerah keresidenan Banyumas rokok klembak merupakan jenis rokok yang umum dihisap di kalangan masyarakat umum. Industri rokok klembak baru muncul pada tahun 1925 dengan berdirinya perusahan rokok klembak yang pertama di kota Gombong, yang pada waktu itu berada dalam wilayah kabupaten Karanganyar. Pada tahun 1928 muncul lagi perusahaan rokok klembak yang kedua dalam skala menengah, dan setelah tahun 1929, muncul lagi 3 perusahaan rokok klembak dalam skala kecil. Setelah itu di daerah Cilacap pada tahun 1928 mulai berdiri perusahaan rokok klembak yang pertama. Selanjutnya muncul beberapa industri rokok klembak yang berkembang di wilayah Keresidenan Banyumas. Berikut adalah tabel perkembangan rokok klembak di Keresidenan Banyumas dari tahun 1929 sampai tahun 1933.[1]

Kabupaten Pemilik Jenis Perusahaan Jumlah Perusahaan & Tahun
1929 1930 1931 1932 1933
Karanganyar Tionghoa Menengah 2 2 2 2 2
Karanganyar Tionghoa Kecil 3 3 4 5 6
Karanganyar Jawa Kecil 1 2
Banyumas Tionghoa Kecil 2 4 6 7
Banyumas Jawa Kecil 2 3 1
Cilacap Tionghoa Kecil 5 10 14 14 5
Cilacap Jawa Kecil 1 2 2 2 1
Purwokerto Tionghoa Kecil 6 8 4
Purbalingga Tionghoa Menengah 2 2 2
Purbalingga Tionghoa Kecil 2 5 7 6
Purbalingga Jawa Kecil 1 1
Banjarnegara Tionghoa Kecil 2 5 9 7
Jumlah Total Perusahaan 15 28 50 60 31

Sejarah Rokok Klembak di wilayah Purworejo

Di daerah Purworejo, industri dan produksi kerajinan rokok klembak menyan sudah berlangsung sejak tahun 1970an. Menurut catatan, kini terdapat 28 perajin kretek klembak menyan yang banyak dilakukan dalam skala rumahan. Cikal bakal industri rokok klembak menyan di Purworejo berawal dari Desa Jono, Kecamatan Bayan, Purworejo. Desa ini jugalah yang terkenal sebagai sentra kerajinan klembak menyan. Bahkan dalam 1 desa ada 4 industri rumahan yang masih bertahan sampai saat ini.

Sejarah Rokok Klembak di kota Gombong

Sejak tahun 1950, di kota Gombong muncul produksi dengan merk Sintren, Bangjo dan Togog yang dirintis oleh pasangan suami istri The Tjoan (Agus Subianto) dan Tjo Goe Nio (Setiawati). Pada waktu itu, pemasarannya bukan hanya sebatas di sepanjang pesisir selatan pulau Jawa namun merambah ke pulau Sumatera, khususnya propinsi Jambi. Produk dijual dengan kemasan isi 6 batang dan 10 batang per bungkusnya. Produksinya amat disukai oleh penggemar rokok klembak menyan pada saat itu. Bahkan dalam perkembangannya perusahaan ini sempat menyerap hampir 1000 pekerja. Pelanggan rokok merk Sintren berada di kota Kebumen, Kroya, Purwokerto dan Gombong. Untuk pemasaran rokok merk Togog meliputi wilayah Jawa Tengah bagian tengah seperti : Purbalingga, Magelang hingga Wonosobo. Sedangkan merk Bangjo dipasarkan di Purwokerto, Sidareja, Majenang dan Ajibarang. Untuk pelanggan di wilayah luar pulau Jawa masih tetap propinsi Jambi.

Daftar Perusahaan

Di daerah Purworejo dan sekitarnya, masih banyak industri rumahan rokok klembak menyan yang bertahan, diperkirakan jumlahnya sekitar puluhan. Daftar perusahaan rokok klembak menyan yang masih bertahan di kota Gombong, yang terdaftar pada Departemen Kementerian Perindustrian [2]:

  1. Rokok Mirasa
  2. Rokok Nusah Harapan
  3. Rokok Shinta
  4. Rokok Sintren

Referensi

  1. ^ Buku Hikayat Kretek karya Amen Budiman dan Ong Hok Ham, Kepustakaan Populer Gramedia, tahun 2016
  2. ^ Perusahaan yang terdaftar pada Kemenperin RI