Prasasti Terengganu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Batu Bersurat Terengganu)
Langsung ke: navigasi, cari

Prasasti Terengganu (kadangkala Trengganu) adalah prasasti tertua yang tertulis dalam huruf Jawi (gundul). Prasasti Terengganu ditemukan di Terengganu, Semenanjung Malaka kurang lebih 30 kilometer dari pantai timur pada awal abad ke 20. Prasasti ini ditemukan oleh seorang saudagar keturunan Arab yang bernama Sayid Husin bin Ghulam al-Bokhari di sungai Teresat dekat Kuala Berang.

Menurut penduduk setempat, prasasti yang termaktub di atas batu ini, sudah lama terletak di depan sebuah surau atau langgar yang dipakai sebagai tumpuan kaki saat berwudhu.

Isi teks[sunting | sunting sumber]

Isi teks yang berbahasa Melayu Klasik ini mengenai undang-undang seorang raja. Sebuah catatan menarik ialah bahwa di sini Tuhan tidak hanya disebut dengan asma Allah tetapi juga Dewata Mulia Raya. Selain itu beberapa kata bahasa Sanskerta masih dieja menurut kaidah fonetik bahasa ini, seperti kata bhumi.

Alihaksara kritis

Sisi A[sunting | sunting sumber]

  1. Rasulullah dengan yang orang …. bagi mereka ……..
  2. ada pada Dewata Mulia Raya beri hamba meneguhkan agama Islam
  3. dengan benar bicara darma meraksa bagi sekalian hamba Dewata Mulia Raya
  4. di benuaku ini penentu agama Rasul Allah salla’llahu ‘alaihi wa sallama Raja
  5. mandalika yang benar bicara sebelah Dewata Mulia Raya di dalam
  6. bhumi. Penentua itu fardlu pada sekalian Raja manda-
  7. -lika Islam menurut setitah Dewata Mulia Raya dengan benar
  8. bicara berbajiki benua penentua itu maka titah Seri Paduka
  9. Tuhan mendudukkan tamra ini di benua Terengganu adipertama ada
  10. Jum’at di bulan Rejab pada tahun sarathan di sasanakala
  11. Baginda Rasul Allah telah lalu tujuh ratus dua…

Sisi B[sunting | sunting sumber]

  1. keluarga di benua Jawa (jauh ?) ........kan......ul
  2. datang berikan. Keempat darma barang orang berpihutang
  3. jangan mengambil k......(a)mbil hilangkan emas
  4. kelima darma barang orang ……………(mer)deka
  5. jangan mengambil tugal buat ........t emasnya
  6. jika ia ambil hilangkan emas. Keenam darma barang
  7. orang berbuat balacara laki-laki perempuan setitah
  8. Dewata Mulia Raya jika merdeka bujan palu
  9. seratus rautan. Jika merdeka beristri
  10. atawa perempuan bersuami ditanam hinggan
  11. pinggang dihembalang dengan batu matikan
  12. jika ingkar balacara hembalang jika anak mandalika

Sisi C[sunting | sunting sumber]

  1. bujan dandanya sepuluh tengah tiga jika ia ..........
  2. menteri bujan dandanya tujuh tahil sepaha………
  3. tengah tiga. Jika tetua bujan dandanya lima ta(hil……
  4. tujuh tahil sepaha masuk bendara. Jika o(rang……
  5. merdeka. Ketujuh darma barang perempuan hendak..
  6. tida dapat bersuami jika ia berbuat balacara

Sisi D[sunting | sunting sumber]

  1. ……..tida benar dandanya setahil sepaha kesembilan darma
  2. ……..Seri Paduka Tuhan siapa tida……dandanya
  3. ..........kesepuluh darma jika anakku atawa pemain(ku) atawa cucuku atawa keluargaku atawa anak
  4. ……..tamra ini segala isi tamra ini barang siapa tida menurut tamra ini laanat Dewata Mulia Raya
  5. ……….dijadikan Dewata Mulia Raya bagi yang langgar acara tamra ini.

Beberapa ketidakjelasan[sunting | sunting sumber]

Tarikh prasasti ini agak problematis sebab bilangan tahun ini ditulis, tidak dengan angka. Di sini hanya bisa terbaca tujuh ratus dua: 702H. Tetapi kata dua ini bisa diikuti dengan kata lain; (20-29) atau -lapan -> dualapan -> "delapan". Kata ini bisa pula diikuti dengan kata "sembilan". Dengan ini kemungkinan tarikh ini menjadi banyak: (702, 720 - 729, ata 780 - 789 H). Tetapi karena prasasti ini juga menyebut bahwa tahun ini adalah "Tahun Kepiting" (saratan) maka hanya ada dua kemungkinan yang tersisa: yaitu tahun 1326M atau 1386M.

Sumber bacaan[sunting | sunting sumber]

  • H.S. Paterson (& C.O. Blagden), 'An early Malay Inscription from 14th-century Trengganu', Journ. Mal. Br.R.A.S., II, 1924, pp. 258-263.
  • R.O. Winstedt, A History of Malaya, revised ed. 1962, p. 40.
  • J.G. de Casparis, Indonesian Paleography, 1975, p. 70-71.