Batang Barus, Gunung Talang, Solok
Batang Barus | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Sumatera Barat | ||||
| Kabupaten | Solok | ||||
| Kecamatan | Gunung Talang | ||||
| Kodepos | 27365 | ||||
| Kode Kemendagri | 13.02.07.2006 | ||||
| Luas | 185 km | ||||
| Jumlah penduduk | 8001 | ||||
| |||||
[[Kategori:Nagari di Sumatera Barat]] Batang Barus adalah sebuah nagari di Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Nagari ini terletak di pinggang Gunung Talang, berada pada ketinggian ± 1500 meter dari permukaan laut dengan topografi daerah berbukit-bukit, ibukota kabupaten solok terletak di nagari ini di kayuaro Sukarami yang di pendekkan menjadi arosuka
Nagari Batang Barus merupakan nagari yang sudah lama ada. Bahkan dari keterangan informan ketika awal Belanda masuk ke Sumatera Barat daerah tersebut sudah ada pemukiman warga. Masjid tertua yang ada di daerah tersebut berdiri pada tahun 1599.
Sejarah Nagari Batang Barus merupakan perjalanan panjang terbentuknya masyarakat Minangkabau yang berkembang melalui permukiman, adat, agama, pertanian, perdagangan, pertambangan, transportasi, hingga perkebunan kolonial. Batang Barus tidak lahir sebagai kawasan perkebunan. Jauh sebelum perusahaan Hindia Belanda hadir, masyarakat telah hidup dalam permukiman, mengelola tanah, membangun hubungan kekerabatan, menjalankan adat, serta mengembangkan kehidupan keagamaan.
[sunting | sunting sumber]Dalam tradisi lisan masyarakat, terdapat riwayat bahwa sebagian leluhur masyarakat Batang Barus berasal dari Bayang, Pesisir Selatan. Riwayat ini belum didukung dokumen primer yang dapat memastikan waktu, tokoh, dan kelompok yang melakukan perpindahan, sehingga masih ditempatkan sebagai tradisi sejarah lokal. Tradisi pembentukan nagari menyebut perkembangan permukiman melalui Taratak Baruih, Dusun Balai dan Koto Tuo, hingga terbentuknya Nagari Batang Baruih yang kemudian dikenal sebagai Batang Barus. Walaupun kronologi pastinya belum dapat ditentukan, tradisi tersebut menunjukkan bahwa pembentukan masyarakat berlangsung secara bertahap.
Masyarakat Batang Barus berkembang dalam tata sosial Minangkabau berdasarkan hubungan suku, kaum, ninik mamak dan penghulu. Dalam keterangan adat dikenal enam suku, yaitu Caniago, Tanjung, Jambak, Bendang, Malayu dan Haji. Masing-masing mempunyai penghulu sebagai pemangku adat. Struktur tersebut menunjukkan bahwa Batang Barus telah mempunyai organisasi sosial sebelum masuknya administrasi kolonial.
Perkembangan Islam menjadi bagian penting dalam sejarah masyarakat. Tradisi lokal menghubungkan Masjid Tuo Kayu Jao dengan dua tokoh agama, Angku Masyhur dan Angku Labai. Angku Masyhur dikenang sebagai imam, sedangkan Angku Labai sebagai bilal atau muazin. Masjid kemudian menjadi pusat ibadah, pendidikan agama dan kehidupan sosial masyarakat. Perbedaan tahun pendirian dalam berbagai sumber membuat tanggal pastinya masih memerlukan penelitian, tetapi keberadaan masjid menunjukkan telah berkembangnya komunitas Muslim jauh sebelum munculnya perkebunan kolonial.
Pada pertengahan abad ke-19, Batang Barus mulai muncul dalam sumber kolonial. Laporan pertambangan 1856 mencatat Moengoe Tanah, Tambang Gadang dan Loeboe Selasi sebagai lokasi tambang di sekitar kampung Batang-baroes dalam Laras Goegoe. Bukti tersebut menunjukkan bahwa kawasan Batang Barus telah memiliki aktivitas ekonomi sebelum berkembangnya onderneming perkebunan.
Pada 1875, Batang Baroes tercatat sebagai salah satu nagari dalam Laras Goegoe bersama Goegoe, Djawi-Djawi dan Kota Gai. Catatan ini menegaskan bahwa Batang Barus telah merupakan nagari yang terbentuk dan bukan permukiman yang didirikan perusahaan kolonial.
Pada akhir abad ke-19, Odoardo Beccari menggambarkan Batang Baroes sebagai “grosso villaggio”, atau kampung besar. Ia menginap di rumah seorang kepala masyarakat setempat. Setelah meninggalkan Batang Baroes, ia melewati perkebunan swasta, kemudian mencapai jalan besar Padang–Solok menuju Lubuk Selasih. Gambaran tersebut memperlihatkan hubungan antara permukiman masyarakat, perkebunan dan jaringan transportasi.
Dalam perkembangan ekonomi kolonial, Batang Buroes N.V. telah tercatat sebagai onderneming kopi berdasarkan data produksi 1893 dalam Koloniaal Verslag 1894. Batang Buroes tercatat terpisah dari Boekit Gompong dan onderneming lainnya. Selanjutnya muncul dan berkembang N.V. Cultuur Maatschappij Taloe(k) Goenoeng atau Teluk Gunung, yang menjadi bagian penting dari perkembangan perkebunan di kawasan Gunung Talang. Perubahan perusahaan dan penguasaan tanahnya perlu ditelusuri melalui arsip hak tanah, erfpacht, peta kadaster dan dokumen perusahaan.
Komoditas perkebunan kemudian mengalami diversifikasi. Kopi merupakan komoditas yang jelas tercatat di Batang Buroes, sedangkan kina berkembang di lingkungan Boekit Gompong. Pada dekade 1920-an, kawasan Gunung Talang memasuki fase perkembangan perkebunan teh. Pada 1921–1922, keberatan Negariraad Batang Baroes terhadap penyelidikan pertambangan J. van Houten menunjukkan bahwa masyarakat masih mempunyai lembaga yang dapat memperjuangkan kepentingannya terhadap sumber daya wilayah
Menjelang 1942, Batang Barus telah menjadi bagian dari lanskap ekonomi yang terdiri atas pertambangan, perkebunan, jalan raya, perdagangan dan administrasi kolonial. Namun, perkembangan tersebut tidak menghapus kehidupan nagari. Adat, suku, kaum, penghulu, kekerabatan dan agama tetap menjadi bagian penting masyarakat.
Dengan demikian, sejarah Batang Barus merupakan sejarah pertemuan antara masyarakat nagari dengan perubahan ekonomi kolonial. Perjalanan dari permukiman, adat dan agama menuju pertambangan, transportasi dan perkebunan—termasuk Batang Buroes, Boekit Gompong dan Teluk Gunung—membentuk sejarah panjang Batang Barus hingga berakhirnya pemerintahan Hindia Belanda.
Kemudian nagari ini mengalami transformasi. Sebelum tahun 1979 nagari ini di kelola oleh pemerintah nagari. Kemudian dengan diberlakukannya UU no 5 tahun 1979, nagari ini dipecah menjadi 3 desa. Selanjutnya setelah tahun 2000 sistem pemerintahan nagari kembali diterapkan di Nagari Batang Barus. Nagari ini kembali terdiri dari 3 jorong yakni Jorong Kayu Aro, Jorong Lubuak Selasih dan Jorong Kayu Jao.
Nagari Batang Barus adalah salah satu nagari dari 74 nagari yang ada di Kabupaten Solok terletak di pusat Ibukota Kabupaten Solok yang berada di lereng Gunung Talang dengan jarak ±5 km dan berbatas langsung dengan Kota Padang. Nagari Batang Barus berdampingan dengan Nagari Koto Gaek, Nagari Koto Gadang Guguk dan Nagari Aia Batumbuak. Semenjak Nagari Batang Barus sebagai pusat ibukota kabupaten Solok, jumlah penduduk meningkat dengan pesat, terbukti dari jumlah penduduk dari tahun ke tahun semakin meningkat. Selain itu Nagari Batang Barus juga merupakan nagari terluas di Kecamatan Gunung Talang, dengan luas 185,00 km².
Di Batang Barus sejak tahun 1983 area perkebunan yang gunakan oleh Belanda semasa penjajahan kembali dikembangkan dikembangkan oleh PT PN VI. Kebun kurang lebih seluas 669 HA ini ditanami dengan teh. Teh hasil perkebunan PT PN VI di Kayu Jao yang lebih dikenal dengan perkebunan danau kembar mutunya sangat bagus dan menjadi salah satu komoditas utama untuk ekspor. Teh ini merupakan yang terbaik di dunia terutama di Indonesia.
Awalnya kawasan ini merupakan hutan biasa, lalu disulap menjadi kebun teh oleh salah satu perusahaan Belanda yaitu Namiodee Venotchaat Handie Verininging pada tahun 1925 sampai 1928. Dalam proses pengerjaan pembuatan kebun teh ini melibatkan ratusan pekerja paksa dari pulau Jawa.
Kelembagaan
[sunting | sunting sumber]Dalam upaya memberdayakan masyarakat di nagari, maka dapat di bentuk lembaga- lembaga kemasyarakatan sesuai dengan kebutuhan. Lembaga kemasyarakatan merupakan mitra pemerintah nagari dalam aspek perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan yang bertumpu pada masyarakat yang ditetapkan dengan Peraturan Nagari atas prakarsa masyarakat Nagari yang bersangkutan. Nagari Batang Barus memiliki lembaga masyarakat yang merupakan anggota masyarakat setempat secara sukarela untuk berperan serta dalam pembangunan. Nagari Batang Barus termasuk nagari yang aktif dalam bidang kelembagaan masyarakat di antaranya Kerapatan Adat Nagari (KAN), Pemuda Karang Taruna, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Badan Musyawarah Nagari (BMN), Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) dan Badan Usaha Milik Nagari (BUMNAG). Seluruh Lembaga masyarakat tersebut aktif dan bergerak dibidangnya masing-masing.
Geografis
[sunting | sunting sumber]Nagari Batang Barus berada pada ketinggian antara 700 sampai 900 dari permukaan laut dengan jarak tempuh 30 km dari laut. Nagari Batang Barus mempunyai luas wilayah 18500.5 Ha yang terbagi kedalam 3 jorong dan berbatasan dengan :
| Utara | Sungai Janiah , Koto Gaek Guguak |
|---|---|
| Timur | Aie Batumbuak |
| Selatan | Kabupaten Pesisir Selatan |
| Barat | Kota Padang |
Secara geografis Nagari Batang Barus terletak di lereng Gunung Talang dengan ketinggian 700 sampai 900 m dari permukaan laut, sehingga nagari ini berhawa sejuk dan cenderung dingin dengan suhu 20 °C - 27 °C dan mempunyai curah hujan yang cukup tinggi yaitu 2434 mm pertahun. Dengan topografi berbukit dan berlembah karena terletak di gugusan Bukit Barisan, nagari ini adalah sebuah kawasan pertanian, perdagangan, perkantoran, serta kawasan wisata karena alamnya yang indah dan lahan yang subur.
