Wasu
Wasu atau Basu (Dewanagari: वसु; IAST: Vasu) adalah kelompok dewa dalam kepercayaan Hindu yang berkaitan dengan api dan cahaya.[1] Mereka mula-mula disebutkan sebagai para dewa pelayan Indra,[2] kemudian Wisnu.[3] Pada umumnya mereka berjumlah delapan sehingga disebut Astawasu,[4] termaktub dalam kitab Ramayana sebagai anak-anak Kasyapa dan Aditi, sedangkan dalam Mahabharata disebut sebagai putra Manu atau Dharmaraja, dengan salah satu putri Daksa.[5]
Anggota
[sunting | sunting sumber]Anggota delapan Wasu memiliki nama yang berbeda-beda dalam beberapa pustaka Hindu.
| Adiparwa | Dhara | Dhruva | Soma | Ahar | Anila | Anala | Pratyūṣa | Prabhāsa |
| Wisnupurana | Āpa | Dhruva | Soma | Dharma | Anila | Anala | Pratyūṣa | Prabhāsa |
| Bhagawatapurana | Droṇa | Prāṇa | Dhruva | Arka | Agni | Doṣa | Vasu | Vibhāvasu |
| Hariwangsa | Akha | Dhara | Dhruva | Soma | Anila | Anala | Pratyūṣa | Prabhāsa |
Mahabharata
[sunting | sunting sumber]Kisah Delapan Wasu juga muncul dalam wiracarita Hindu Mahabharata. Dikisahkan bahwa salah satu dari mereka yang bernama Dyu (dalam beberapa versi disebut Apa, Dyau, atau Prabasa) terdorong oleh keinginan istrinya untuk memiliki sapi suci milik Resi Wasista. Para Wasu pun bersama-sama mencuri sapi tersebut. Ketika sang resi mengetahui perbuatan itu, ia menjadi marah dan mengutuk mereka untuk lahir sebagai manusia di bumi. Para Vasu sangat menyesal dan memohon pengampunan sehingga Wasista kemudian meringankan kutukan itu: tujuh dari mereka hanya akan hidup sebentar di dunia manusia, tetapi yang menjadi pelaku utama harus menjalani kehidupan manusia yang panjang dan penuh beban.[6]
Untuk membebaskan diri dari kutukan itu, para Wasu memohon bantuan dewi sungai Gangga. Gangga setuju untuk menjadi ibu mereka di bumi. Ia kemudian menikah dengan raja Santanu. Setiap kali seorang anak lahir, Gangga segera menghanyutkannya ke sungai—ini sebenarnya untuk membebaskan tujuh Wasu pertama dari kutukan mereka dengan cepat. Namun ketika anak kedelapan lahir, Santanu tidak tahan lagi dan menghentikan Gangga. Karena itu, anak kedelapan—yang merupakan Wasu utama—tidak dibebaskan, melainkan harus hidup lama sebagai manusia. Anak itu adalah Bisma.[6]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Dalal, Roshen (2014-04-18). Hinduism: An Alphabetical Guide (dalam bahasa Inggris). Penguin UK. hlm. 1333. ISBN 978-81-8475-277-9.
- ↑ Coulter, Charles Russell; Turner, Patricia (2021-12-06). Encyclopedia of Ancient Deities (dalam bahasa Inggris). McFarland. hlm. 493. ISBN 978-0-7864-9179-7.
- ↑ Achuthananda, Swami (2018-08-27). The Ascent of Vishnu and the Fall of Brahma (dalam bahasa Inggris). Relianz Communications Pty Ltd. hlm. 65. ISBN 978-0-9757883-3-2.
- ↑ Balfour, Edward (1885). The Cyclopædia of India and of Eastern and Southern Asia: Commercial, Industrial and Scientific, Products of the Mineral, Vegetable, and Animal Kingdoms, Useful Arts and Manufactures (dalam bahasa Inggris). B. Quartitch. hlm. 182.
- ↑ Hopkins, Edward Washburn (June 1968). Epic Mythology (dalam bahasa Inggris). Biblo & Tannen Publishers. hlm. 170. ISBN 978-0-8196-0228-2.
- 1 2 Story of Astavasu