Lompat ke isi

Akad

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Akad (kota))
Bentang wilayah Kemaharajaan Akad dan sekitarnya pada peta Timur Dekat

Akad (disebut pula Akade, a-ka₃-de₂ki, atau Agade dalam bahasa Akad: 𒀀𒂵𒉈𒆠, akadê, dan 𒌵𒆠 URIKI dalam bahasa Sumer babak Ur III) adalah ibu kota Kemaharajaan Akad, negara terkuat di Mesopotamia selama satu setengah dasawarsa pada sepertiga-akhir milenium ke-3 Pramasehi.

Lokasinya tidak diketahui. Dalam penelitian-penelitian terdahulu, ada banyak gundukan tanah yang disangka sebagai lokasi Akad.[1] Pada zaman modern, penelitian difokuskan pada lokasi yang disifatkan 1) dekat kota Esnuna, 2) dekat kota Sipar, 3) tidak jauh dari kota Kisy dan kota Babel, 4) dekat Sungai Tigris, serta 5) tidak jauh dari Sungai Diyala - semuanya terletak kurang lebih 30 kilometer jauhnya dari kota Bagdad di kawasan tengah Irak. Ada pula usulan-usulan lokasi nun jauh sampai ke daerah Mosul di kawasan utara Irak.[2][3][4]

Ilah utama Akad adalah Dewi Istar-Anunitum atau ‘Aštar-Anunîtum (Istar Berangasan),[5] meskipun mungkin saja merupakan aspek lain dari Istar-Ulmašītum.[6] Ilaba, suami Istar, juga dipuja. Kemudian hari, pada babak Babel Lama, Istar dan Ilaba dipuja di kota Girsu, dan kemungkinan besar juga di kota Sipar.[2]

Kemungkinan besar kota inilah yang tercatat di dalam Alkitab Ibrani dengan aksara Ibrani אַכַּד (ʾAkaḏ) sebagai salah satu dari kota-kota Nimrod di tanah Sinear (Kejadian 10:10).

Pada masa-masa awal perkembangan ilmu Asyurologi, muncul dugaan bahwa Agade bukanlah nama yang berasal dari bahasa Akad. Bahasa Sumer, bahasa Huri, dan bahasa Lulubi (kendati tidak ada bukti pendukung) sempat diusulkan sebagai asal-muasal nama tersebut. Asal-usul non-Akad dari nama kota itu mencuatkan dugaan bahwa mungkin saja situs tersebut sudah didiami manusia pada zaman pra-Sargon.[7]

Prasasti Obelisk Manisytusyu, tahun 2270–2255 Pramasehi, Museum Louvre

Ada keterangan waktu yang diserangkaikan dengan nama En-šakušuana (sekitar tahun 2350 Pramasehi), Raja Uruk yang sezaman dengan Lugal-zage-si, Raja Uma, yaitu "pada tahun En-šakušuana mengalahkan Akad". Mungkin saja peristiwa tersebut terjadi tidak lama menjelang berdirinya Kemaharajaan Akad, dan merupakan bagian dari suatu kampanye militer ke kawasan utara yang juga berhasil menundukkan Kisy dan Aksyak.[8][9]

Semua patahan arca keprabuan Manisytusyu (sekitar tahun 2270–2255 Pramasehi), penguasa Akad yang kedua, memuat semacam "prasasti baku". Prasasti ini menyebut-nyebut Agade[10]di dalam petikan berikut ini:

"Man-istusu, raja dunia: tatkala menaklukkan Ansan dan Sirihum, menyuruh ... kapal-kapal mengarungi Laut Bawah. ... Ia menambang batu hitam dari gunung-gunung di seberang Laut Bawah, menaikkannya (batu hitam) ke kapal-kapal, dan menambatkannya (kapal-kapal) di dermaga Agade"[11]

Arca Basitki, ditemukan di Provinsi Dahuk, Kurdistan Irak, diperkirakan berasal dari masa pemerintahan Naram-Sin (sekitar tahun2254–2218 Pramasehi), memuat prasasti yang menyebutkan pembangunan sebuah kuil di Akad

Prasasti yang terpahat pada Arca Basitki menyebutkan bahwa penduduk Akad mendirikan kuil bagi Naram-Sin sesudah ia menumpas suatu pemberontakan melawan pemerintahannya.[12]

"Naram-Sin, nara perkasa, Raja Agade, tatkala keempat tepas dunia serentak bangkit memberontak melawan dia, ... Lantaran jasanya melindungi dasar-dasar kotanya dari marabahaya, (warga kotanya memohon kebenaran dari Astar di Eana, Enlil di Nipur, Dagan in Tutul, Ninhursag di Kes, Ea di Eridu, Sin di Ur, Samas di Sipar, (dan) Nergal di Kutha, supaya (Naram-Sin) diangkat (menjadi) dewa kota mereka, dan mereka mendirikan di Agade sebuah kuil (yang didarmabaktikan) baginya. ... "[11]

Salah satu tahun diimbuhi nama Naram-Sin, yaitu "Tahun Tembok Agade [dibangun]". Tahun lain yang juga diimbuhi nama Naram-Sin adalah "Tahun Kuil Istar di Agade Dibangun".[11]

Lokasi "Dur(BAD₃)-DA-ga-de₃" (Benteng Agade) kerap muncul di dalam peninggalan-peninggalan tertulis dari babak Ur III, menyiratkan pendewaan Naram-Sin.[13]

Dari sukber-sumber tertulis dapat diketahui bahwa para penguasa Esnuna pada menjelang akhir abad ke-19 menjalankan kegiatan keagamaan di Akad.[14]

Berdasarkan peninggalan-peninggalan tertulis yang ditemukan di Mari, raja orang Amori yang bernama Syamsyi-Adad (tahun 1808–1776 Pramasehi), pada tahun-tahun terakhir masa pemerintahannya, berangkat ke kota "Rapiqum dan Akad" (kedua-duanya sudah direbut anaknya, Yasmah-Adad) sebagai bagian dari salah satu kampanye militernya, kali ini dalam rangka memerangi Esnuna.[15][16]

Di dalam mukadimah Undang-Undang Hamurabi (sekitar tahun 1750 Pramasehi) tercantum kalimat "orang yang melinggihkan Ištar di kuil Eulmaš di dalam kota Akade". Di dalamnya termuat pula daftar kota searah aliran sungai yaitu "... Tutub, Esnuna, Agade, Asyur, ..." yang menempatkan Akade di tepian Tigris di antara Esnuna dan Asyur. Akade diberi imbuhan ribitu yang mencirikan tempat terkemuka.[17][18]

Sebuah peninggalan tertulis Babel yang dibuat berabad-abad kemudian (diduga merupakan salinan prasasti yang terpahat pada arca Sargon, Raja Akad, tahun 2334–2279 Pramasehi) menyebutkan tentang kapal-kapal yang bersandar di dermaga Agade, yaitu "Sargon menambat[kan kapal-kapal dari Meluha Magan, and Tilmun] d[i dermaga] Ag[ade].".[11][19]

Agade-ki (Negeri Akad) pada cap silinder Syar-Kali-Syari

Di dalam daftar budak dari kota Sipar di Kemaharajaan Babel Lama, tercamtum nama dua orang budak perempuan yang, berdasarkan cara penamaan yang baku, diduga berasal dari Akad atau pernah dimiliki seseorang dari Akad, yaitu "Taram-Agade dan Taram-Akadi". Nama budak yang pertama kebetulan persis sama dengan nama anak perempuan Naram-Sin, penguasa Akad beberapa abad sebelumnya.[20]

Di dalam salinan prasasti bata yang dibuat pada masa pemerintahan Raja Babel Baru Nabonidus (tahun 556-539 Pramasehi) berabad-abad kemudian, penguasa Kas yang bernama Kurigalzu I (sekitar tahun 1375 Pramasehi) melaporkan pembangunan kembali rumah Akitu Dewi Istar di Akade.[21][22] Salinan lain dari zaman Nabonidus mengindikasikan bahwa Kurigalzu (tidak jelas Kurigalzu I atau Kurigalzu II) meninggalkan sebuah prasasti di Akade yang meriwayatkan usahanya yang gagal untuk menemukan E.ul.mas (kuil Istar-Anunitum).[23] Nabonidus mengklaim bahwa penguasa Asyur yang bernama Esarhadon (tahun 681–669 Pramasehi) telah membangun kembali E.ul.mas, kuil Istar-Anunitum, di Agade.[24]

Syutruk-Nakhunte (tahun 1184-1155 Pramasehi), penguasa Elam yang menaklukkan sebagian Mesopotamia, memberitakan bahwa ia mengalahkan Sipar. Sebagai bagian dari rampasan perang, beberapa arca keprabuan lama Akad diboyongnya pulang ke Susa, termasuk Jayastamba Naram-Sin dan sebuah arca penguasa Akad yang bernama Manisytusyu. Tidak diketahui apakah arca-arca itu diambil langsung dari Akad atau memang sudah dipindahkan ke Sipar.[10][25]

Màr-Isâr (Mar-Istar) ditugaskan oleh Raja Asyur Baru Esarhadon (tahun 681–669 Pramasehi) ke kota Akad. Di dalam sepucuk suratnya kepada Esarhadon pada tahun 671 Pramasehi, Màr-Issâr melaporkan bahwa si "raja pengganti", anak kepala tata usaha kuil (šatammu) di Akad, bertolak dari Niniwe dan tiba di kota Akad lima hari kemudian, lantas "bersemayam di atas singgasana" dan dikubur di sana.[26][27][28] Di dalam surat yang lain, ia menyebutkan bahwa:

"Sehubungan dengan ihwal gerhana bulan yang paduka tuan hamba titahkan kepada sahaya lewat surat, sudah dilakukan pengamatan di kota Akad, kota Borsipa, dan kota Nipur. Hasil pengamatan kami di Akad selaras dengan hasil (pengamatan) yang lain. Sebuah ne[kara] perunggu sudah disiapkan (ditabuh)."[29]

Pada tahun 674 Pramasehi, Esarhadon melaporkan pemulangan dewa-dewi (arca-arca keagamaan) asal Akad kembali ke kota itu dari Elam, kemungkinan besar arca-arca yang diboyong Syutruk-Nakhunte lima abad sebelumnya, tetapi yang lebih masuk akal adalah arca-arca yang dirampas dalam penyerbuan orang Elam yang terjadi pada tahun 675 Pramasehi.[30][31]

Sebuah dokumen budak dari tahun ke-13 masa pemerintahan Raja Babel Baru Nebukadnezar II (tahun 605–562 Pramasehi) menyatakan sebagai berikut:

"Ibna anak Šum-ukin, atas kemauan sendiri, menjual Šahana berikut anak perempuannya yang berumur tiga tahun bernama Ša-Nana-bani kepada Šamaš-danu anak Mušezib-Marduk keturunan pendeta kota Akad seharga satu setengah mina lima syikal perak, yakni harga yang disepakati. ..."[32]

Sesudah menaklukkan Mesopotamia, Koresy Agung (sekitar tahun 600–530 Pramasehi) menulis sebagai berikutː

"... mereka (raja-raja dari seluruh dunia) semua mempersembahkan upeti yang berat-berat dan mencium kakiku di Babel. Dari (daerah) sejauh kota Asyur dan kota Susa, kota Agade, kota Esnuna, kota Zamban, kota Me-Turnu, kota Der, sejauh negeri orang Guti, kota-kota suci (itu) di seberang Sungai Tigris ..."[33]

Peta lokasi Sipar, Esnuna, Kisy, dan Babel, kota-kota yang diduga berdekatan dengan Akad

Para sarjana sudah berusaha mengidentifikasi lokasi kota Akad sedari awal perkembangan ilmu Asyurologi. Pada hakikatnya semua lokasi yang diusulkan berada di dua area, yaitu 1) area sekitar tempuran sungai Tigris-Diayala, yakni area yang sebagian besar berada di dalam lingkungan kota Bagdad saat ini, dan 2) area sekitar tempuran sungai Tigris-Adheim (kemudian hari disebut Sungai Radānu) di selatan Samara.[34]

Hampir semua lokasi kota Akad yang diusulkan terletak di tepi Sungai Tigris. Masalahnya, aliran Sungai Tigris dari Samara ke selatan, seiring bergulirnya waktu, sudah menyimpang dari alur yang terabadikan dalam rekam sejarah, sudah menjadi sebuah pertanyaan terbuka. Kenyataan ini kian memperumit penentuan lokasi kota Akad, dan juga membuka kemungkinan bahwa lokasinya bergeser seiring bergulirnya waktu, sebagaimana yang kadang-kadang terjadi bilamana aliran Sungai Tigris dan Efrat berpindah.[35]

Berdasarkan kuduru-kuduru dari masa pemerintahan Raja Marduk-nadin-ahe (1095–1078 Pramasehi) yang berasal dari bangsa Kasi, dan Raja Nebukadnezar I (1121–1100 Pramasehi) dari kulawangsa Isin ke-2, pernah dikemukakan bahwa kota Akad sudah diganti namanya pada milenium ke-2. Kuduru yang bersangkutan menyiratkan bahwa nama baru Akad adalah Dur-Syaru-Kin, "di tepi Sungai Nisy-Gati, daerah Miliku". Dur-Syaru-Kin ini bukanlah Dur-Syarukin yang didirikan oleh bangsa Asyur-Baru pada abad ke-8 Pramasehi. Kemungkinan besar lokasinya adalah situs Dur-Rimusy (pusat pemujaan Dewa Adad), yang terletak 9 kilometer di sebelah utara Dur-Syarukin (Tel el-Mjelat).[36]

Daerah sekitar Sungai Zab Kecil, yang berhulu di Iran dan menyatu dengan aliran Sungai Tigris di selatan Al Zab, daerah Kurdistan Irak, juga pernah diajukan sebagai lokasi Akad.[37]

Situs lain yang diduga sebagai lokasi Akad adalah Isyan Mizyad (Tel Mizyad), sebuah situs rendah yang luas (1.000 x 600 meter), 5 kilometer (3,1 mi) di barat laut Kisy, dan 15 km di timur-timur laut Babel.[4][38] Ekskavasi-ekskavasi telah menunjukkan bahwa puing-puing di Isyan Mizyad berasal dari babak Akad (ditemukan sekitar 200 naskah administratif dalam bahasa Akad Lama, sebagian besar adalah daftar pekerja), babak Ur III, babak Isin-Larsa, dan babak Babel Baru, termasuk sekumpulan arsip loh aksara baji dari babak Ur III.[39][2][40][41][42] Sampai dengan zaman Babel Baru, ada sebuah terusan yang membujur dari Kisy ke Mizyad.[43][44]

Dokumen penganugerahan tanah kepada Marduk-apla-idina I oleh Meli-Syipak II (tahun 1186–1172 Pramasehi) pada zaman kulawangsa Kasi, pihak penerima diserahi lahan garapan di tanah komunal kota Akad yang berada di sekitar permukiman Tamaku yang bersebelahan dengan Nar Sari (Terusan Raja) di Bīt-Piri’-Amuru, di sebelah utara "tanah Istar-Agade" dan di sebelah timur terusan Kibati.[45]

Berdasarkan sebuah catatan perjalanan zaman Babel Lama dari Mari, yang menempatkan Akad di antara kota Sipar (Sippar dan Sippar-Amnanum) dan Khafajah (Tutub) di jalur menuju Eshnunna, maka lokasi Akad berada di tepi sungai Tigris, yakni di daerah hilir dari aliran sungai Tigris yang melewati kota Bagdad sekarang ini, tidak jauh dari tempat penyeberangan sungai Tigris dan sungai Diyala, anak sungai Tigris. Dokumen-dukumen Mari juga mengindikasikan bahwa Akad terletak di sebuah tempat penyeberangan sungai.[46]

Pada masa pemerintahan Rîm-Anum, penguasa Uruk (sekitar tahun 1800 Pramasehi), tawanan-tawanan perang dari Akad disatukan dengan tawanan perang dari Eshnunna dan Nērebtum.[47]

Sebuah catatan tawanan Babel Lama dari masa pemerintahan Rīm-Anum, Raja Uruk, pada abad ke-18 Pramasehi menyiratkan bahwa Akad berada di daerah Esynuna, yang terletak di lembah sungai Diyala, sebelah barat laut kota Sumer.[48] Akad juga pernah diduga berada di bawah kekuasaan Esynuna pada masa itu.[49] Diketahui pula bahwa para penguasa Esynuna melanjutkan kegiatan pemujaan di kota Akkad.[50]

Isi sebuah naskah dari masa pemerintahan Zimri-Lim (sekitar 1775–1761 Pramasehi) juga menyiratkan bahwa lokasi Akad terletak tidak jauh dari Esynuna. Sesudah Esynuna ditaklukkan oleh Atamrum, Raja Andarig, ada seorang biduanita bernama Husyutum yang dipulangkan ke kampung halamannya di dekat Mari, dan tidak seberapa lama kemudian sudah sampai ke Akad.

"Gumul-Sin mengantar perempuan itu keluar dari gapura kota dan berlepas. (Sebuah laporan diantar kembali kepada tuan hamba.) Inilah yang hamba perintahkan kepada pemandu jalan itu, ‘sesudah KAU antar perempuan itu melewati kota perbatasan dengan selamat, gantilah pakaian dan tutup kepalanya.’ Namun lantaran lalai, orang itu tidak mengganti (pakaian dan tutup kepalanya), malah membawa serta tiga empat (perempuan lain) bersama-sama dengan dia. Sesudah mengisi bekal, berangkatlah mereka sampai ke Akad. Mereka minum bir, dan sesudah menaikkan perempuan itu ke atas punggung seekor bagal, dituntunnyalah perempuan itu melewati alun-alun Akad. Perempuan itu dikenali orang lalu ditangkap. Tatkala kabar penangkapannya sampai ke Atamrum di Esynnna, satu pasukan beranggotakan 30 prajurit bersenjata tombak perunggu mengepung Gumul-Sin seraya berkata, ‘tuanmu sudah memberimu 5 mana perak, tetapi masih saja engkau menjual perempuan dari Esynuna."[51][52]

Tel Muhammad (kemungkinan besar Diniktum) di tenggara kawasan upakota Bagdad, dekat tempuran Sungai Diyala dan Sungai Tigris, penah diajukan sebagai salah satu perkiraan lokasi Akad.[3] Tidak ada temuan apapun di situs itu yang dapat diperkirakan berasal dari zaman Kemaharajaan Akad. Ekskavasi-ekskavasi menemukan sisa-sisa artefak yang diperkirakan berasal dari zaman Isin-Larsa, zaman Babel Lama, dan zaman Kasi.[53]

Sebuah situs di dekat Qādisiah (Kudsia), yang dinamakan El Sanam (atau Makan el Sanam) oleh penduduk setempat, telah diajukan sebagai lokasi Akad berdasarkan lapik sebuah arca Akad Lama (sekarang tersimpan di Museum Inggris) yang ditemukan di situs itu.[54] Arca tersebut terbuat dari batu hitam dengan tinggi yang semula mencapai tiga meter, dan diduga sebagai arca penguasa Rimusy. Kabarnya bagian atas arca dihancurkan oleh seorang imam setempat dengan alasan memberantas penyembahan berhala. Sebagian situs sudah tergerus aliran Sungai Tigris serta berlokasi di antara Samara dan tempuran Sungai Tigris dan Sungai ʿAdhaim.[55][56] Fragmen arca pertama kali diteliti dan diperinci oleh Claudius Rich pada tahun 1821.[57] Lokasi tersebut sudah lebih dulu diajukan oleh W. H. Lane.[58] Belum lama ini, dalam sebuah survei regional, situs tersebut teridentifikasi (situs N) berada tidak jauh di sebelah selatan situs Samara di tepi Sungai Tigris, bersebelahan dengan sebuah benteng permukiman lama.[59]

Màr-Issâr (Mar-Istar), yang memerintah Akad mewakili Esarhadon, Raja Asyur Baru, mengeluhkan kendala yang ditemuinya dalam mengirimkan laporan kepada raja. Ia menyebutkan beberapa titik persinggahan di jalur pengiriman surat yang menghubungkan Akad dengan Niniwe. Tak satu pun dari titik-titik persinggahan tersebut yang diketahui saat ini, sekalipun sudah ada beberapa lokasi yang diusulkan.

"Sepanjang jalur (para pegawai) tempat persinggahan meneruskan surat-surat hamba dari seorang kepada yang lain (sehingga) sampai ke hadapan Raja, Tuan hamba. (Akan tetapi) dua tiga kali (sudah) surat-surat hamba dikembalikan dari (titik perhentian) Kamanate, Ampihapi, dan [ ... ]garesu! Sudilah kiranya Baginda mengirim titah yang dimeteraikan dengan meterai (unqu) negara kepada mereka (supaya) mereka meneruskan surat hamba dari seorang kepada yang lain sehingga sampai ke hadapan Raja, Tuan hamba!"[60]

Baca juga

[sunting | sunting sumber]
  1. Unger, Eckhard (1928), "Akkad", dalam Ebeling, Erich; Meissner, Bruno (ed.), Reallexikon der Assyriologie (dalam bahasa Jerman), vol. 1, Berlin: W. de Gruyter, hlm. 62, OCLC 23582617
  2. 1 2 3 Westenholz, C. F., "The Old Akkadian Period: History and Culture", in Mesopotamien: Akkade-Zeit und Ur III-Zeit (Orbis Biblicus et Orientalis 160/3), Universitätsverlag Freiburg Schweiz, Freiburg, Schweiz, hlmn. 11-110, 1999
  3. 1 2 Wall-Romana, Christophe "An areal location of Agade", Journal of Near Eastern Studies 49.3, hlmn. 205–245, 1990
  4. 1 2 Harvey Weiss, "Kish, Akkad and Agade", tinjauan atas "McGuire Gibson, The city and area of Kish", Journal of the American Oriental Society, jld. 95, no. 3, hlmn. 434–53, 1975
  5. Meador, Betty De Shong (2001), Inanna, Lady of the Largest Heart. Poems by the Sumerian High Priestess Enheduanna, Austin: University of Texas Press, ISBN 978-0-292-75242-9
  6. Sharlach, T. M., "Belet-šuhnir and Belet-terraban and Religious Activities of the Queen and the Concubine(s)", in An Ox of One's Own: Royal Wives and Religion at the Court of the Third Dynasty of Ur, Berlin, Boston: De Gruyter, pp. 261-286, 2017
  7. Speiser, Ephraim Avigdor, "Elam And Sumer In The Epigraphical Sources", dalam Mesopotamian Origins: The Basic Population of the Near East, Philadelphia: University of Pennsylvania Press, hlmn. 26-58, 1930
  8. Pomponio, Francesco, "Further Considerations On KišKI In The Ebla Texts", Revue d’Assyriologie et d’archéologie Orientale, jld. 107, hlmn. 71–83, 2013
  9. A. Westenholz, "Old Sumerian and Old Akkadian Texts in Philadelphia, Chiefly from Nippur", I: Literary and Lexical Texts and the Earliest Administrative Documents from Nippur. Bibliotheca Mesopotamica 1. Malibu: Undena Publications, 1975
  10. 1 2 Eppihimer, Melissa, "Assembling King and State: The Statues of Manishtushu and the Consolidation of Akkadian Kingship", American Journal of Archaeology, jld. 114, no. 3, hlmn. 365–80, 2010
  11. 1 2 3 4 Douglas R. Frayne, The Sargonic and Gutian Periods (2334-2113), University of Toronto Press, hlmn. 5-218, 1993, ISBN 0-8020-0593-4
  12. A. H. al-Fouadi, "Bassetki Statue with an Old Akkadian Royal Inscription of Naram-Sin of Agade (2291-2255 BC)", Sumer, jld. 32, no. 1-2, hlmn. 63-76, 1976
  13. Steinkeller, Piotr, "The Divine Rulers of Akkade and Ur: Toward a Definition of the Deification of Kings in Babylonia", History, Texts and Art in Early Babylonia: Three Essays, Berlin, Boston: De Gruyter, hlmn. 107-157, 2017
  14. Nele Ziegler, "Akkad à l’époque paleo- babylonienne", in Entre les fleuves – II: D’Aššur à Mari et au- delà, penyunting N. Ziegler dan E. Cancik- Kirschbaum, Gladbeck: PeWe, 2014
  15. Lewy, Hildegard, "The Synchronism Assyria—Ešnunna—Babylon", Die Welt Des Orients, jld. 2, no. 5/6, hlmn. 438–453, 1959
  16. Dossin, G., "Archives royales de Mari1", Paris: Impr. Nationale, 1950 (dalam bahasa Prancis)
  17. Steinert, Ulrike, "Akkadian Terms for Streets and the Topography of Mesopotamian Cities", Altorientalische Forschungen, jld. 38, no. 2, hlmn. 309-347, 2011
  18. Composite of Laws of Hammurabi at CDLI - RIME 4.03.06.add21 (P464358)
  19. Prasasti Aksara Baji Tentang Kekalahan Oman & Lembah Sungai Sindu - MS-2814 Koleksi Schoyen
  20. Harris, Rivkah, "Notes on the Slave Names of Old Babylonian Sippar", Journal of Cuneiform Studies, jld. 29, no. 1, hlmn. 46–51, 1977
  21. Clayden, T., "Kurigalzu I and the restoration of Babylonia", Iraq 58, hlmn. 109–121, 1996
  22. Frame, G., "Nabonidus and the history of the Eulmas temple at Akkad", Mesopotamia 28, hlmn. 21-50, 1993
  23. George, A. R., "House Most High. The temples of ancient Mesopotamia", Winona Lake, 1993 ISBN 978-0931464805
  24. S. Langdon, "New Inscriptions of Nabuna'id", American Journal of Semitic Languages and Literatures 32, 1915-16
  25. Winter, Irene J., "How Tall Was Naram-Sîn’s Victory Stele? Speculation on the Broken Bottom", dalam Leaving No Stones Unturned: Essays on the Ancient Near East and Egypt in Honor of Donald P. Hansen, disunting oleh Erica Ehrenberg, University Park, USA: Penn State University Press, hlmn. 301-312, 2021
  26. Nissinen, Martti, "City as Lofty as Heaven: Arbela and Other Cities in Neo-Assyrian Prophecy", Prophetic Divination: Essays in Ancient Near Eastern Prophecy, Berlin, Boston: De Gruyter, hlmn 267-300, 2019
  27. Ahmed, Sami Said, "Ashurbanipal and Shamash-shum-ukin", Southern Mesopotamia in the time of Ashurbanipal, Berlin, Boston: De Gruyter Mouton, hlmn. 62-103, 1968
  28. Rochberg, Francesca, "Natural Knowledge in Ancient Mesopotamia", Wrestling with Nature: From Omens to Science, disunting oleh Peter Harrison, Ronald L. Numbers, dan Michael H. Shank, Chicago: University of Chicago Press, hlmn. 9-36, 2011
  29. D. Brown and M. Linssen, "BM 134701=1965-10-14,1 and the Hellenistic Period Eclipse ritual from Uruk", Revue d’Assyriologie et d’archéologie Orientale, jld. 91, no. 2, 1997, hlmn. 147–66, 1997
  30. A. K. Grayson, "Assyrian and Babylonian chronicles", J. J. Augustin, 1975
  31. Frame, Grant, "Uncertain Dynasties", Rulers of Babylonia, Toronto: University of Toronto Press, hlmn. 90-274, 1995
  32. Garroway, Kristine, "Appendix A. Cuneiform Texts", Children in the Ancient Near Eastern Household, University Park, USA: Penn State University Press, hlmn. 254-280, 2014
  33. Rawlinson, Henry Creswicke, "A selection from the miscellaneous inscriptions of Assyria and Babylonia", dalam The Cuneiform inscriptions of Western Asia, jld. 5, London, 1884
  34. Naohiko Kawakami, "The Location of the Ancient City of Akkade: Review of Past Theories and Identification of Issues for Formulating a Specific Methodology for Searching Akkade", AL-RĀFIDĀN: Journal of Western Asiatic Studies, jld. 45, hlmn. 45–68, 2023
  35. Kawakami, Naohiko, "GIS and Historical Geographical Analyses of the Reconstructed Ancient Course of the Tigris in the Northern Part of Southern Mesopotamia", al-Rāfidān, jld. 43, hlmn. 13-38, 2022
  36. Khalid al-Admi, "A New Kudurru of Maroduk-Nadin-Ahhe IM. 90585", Sumer, jld. 38, no. 1–2, hlmn. 121–133, 1982
  37. McGuire Gibson, "The city and area of Kish", Field Research Projects, 1972
  38. Rashid, F., "Akkad or Bab-Aya", Sumer 43, hlmn. 183-214, 1984 (dalam bahasa Arab)
  39. "Excavations in Iraq, 1979–80." Irak, jld. 43, no. 2, hlmn. 167–198, 1981
  40. Mahmoud, N. Ahmed, "The Ur III tablets from Ishan Mizyad", Acta Sumerologica, jld. 11, hlmn. 330–352, 1989
  41. "Excavations in Iraq, 1981–82." Irak, jld. 45, no. 2, hlmn. 199–224, 1983
  42. al-Mutawali, Nawala A., "Clay Tablets from Tell Mizyad", Sumer 41, hlmn. 135–136, 1985 (dalam bahasa Arab)
  43. Buccellati, Marilyn K., "Orientalists Meet at Berkeley", Archaeology, jld. 21, no. 4, hlmn. 303–304, 1968
  44. Al-Mutawally, N.A.M., "Economical Texts from Išān-Mazyad", dalam De Meyer, L. dan Gasche, H., (penyunting), Mésopotamie et Élam, Actes de la XXXVIème Rencontre Assyriologique Internationale Gand, 10-14 juillet 1989, Ghent, hlmn. 45-46, 1991
  45. W. J. Hinke, "A New Boundary Stone of Nebuchadrezzar I from Nippur (BE IV)", Universitas Philadelphia, 1907
  46. Andrew George, "Babylonian and Assyrian: a history of Akkadian", dalam: Postgate, J. N. (penyunting), Languages of Iraq, Ancient and Modern, London: British School of Archaeology in Iraq, 2007
  47. Jursa, M., "A ‘Prisoner Text’ from Birmingham", dalam G. Chambon, M. Guichard, & A-I. Langlois (penyunting), De l’argile au numérique. Mélanges assyriologiques en l’honneur de Dominique Charpin, Peeters Publishers. Publications de l'Institut du Proche-Orient Ancien du Collège de France, hlmn. 507-512, 2019
  48. Michael Jursa, "A 'Prisoner Text' from Birmingham", dalam G. Chambon, M. Guichard & A.-I. Langlois (penyunting), De l’argile au numérique. Mélanges assyriologiques en l’honneur de Dominique Charpin (Leuven), hlmn. 507-512, 2019 ISBN 978-9042938724
  49. Ziegler N. & A.-I. Langlois, "Les toponymes paléo-babyloniens de la Haute-Mésopotamie", Matériaux pour l’étude de la toponymie et de la topographie I/1, Paris, 2016
  50. Nele Ziegler, "Akkad à l’époque paleo- babylonienne," dalam Entre les fleuves – II: D’Aššur à Mari et au- delà, penyunting N. Ziegler dan E. Cancik- Kirschbaum, Gladbeck: PeWe, 2014
  51. Sasson, Jack M., "Warfare", Dari Arsip Mari: An Anthology of Old Babylonian Letters, University Park, Amerika Serikat: Penn State University Press, 2015, hlmn. 181-214, 2015
  52. Chaffey, Ilana, "Come as you are, as you were, as I want you to be: A Study of Foreign Musicians in the Mari Archives", Disertasi, Universitas Macquarie, 2022
  53. Gentili, Paolo, "Wandering Through Time: The Chronology Of Tell Mohammed", Studi Classici e Orientali, jld. 57, hlmn. 39–55, 2011
  54. Ross, John, "A Journey from Baghdád to the Ruins of Opis, and the Median Wall, in 1834", Jurnal Paguyuban kegeografian Kerajaan, jld. 11, hlmn. 121–36, 1841
  55. Reade, Julian, "Early monuments in Gulf stone at the British Museum, with observations on some Gudea statues and the location of Agade", jld. 92, no. 2, hlmn. 258-295, 2002
  56. Thomas, Ariane, "The Akkadian Royal Image: On a Seated Statue of Manishtushu", Zeitschrift für Assyriologie und vorderasiatische Archäologie, jld. 105, no. 1–2, hlmn. 86–117, 2015
  57. Rich, C. J., "Narrative of a Residence in Koordistan &c, edited by his widow", London, 1836
  58. Lane, W. H., "Babylonian Problems", John Murray, London, 1923
  59. Northedge, Alastair, dan Robin Falkner, "The 1986 Survey Season at Sāmarrā", Irak, jld. 49, hlmn. 143–73, 1987
  60. Radner, Karen, "Royal pen pals: the kings of Assyria in correspondence with officials, clients and total strangers (8th and 7th centuries BC)", hlmn. 127-143, 2015

Bacaan lanjutan

[sunting | sunting sumber]
  • Frayne, D. R., 2004 Geographical Notes on the Land of Akkad, in G. Frame (penyunting), From the Upper Sea to the Lower Sea, Studies on the History of Assyria and Babylonia in Honour of A. K. Grayson, Leiden: Negeri Belanda, Instituut Voor Het Naije Oosten, hlmn. 103–116, 2004
  • Kawakami, Naohiko, "The northwestern territorial extent of Sargon's Empire of Akkad: studies on the royal inscriptions and the historical literary texts on the horizons of the historical geography", Disertasi, Universitas Liverpool, 2004
  • Naohiko Kawakami, "Searching for the Location of the Ancient City of Akkade in Relation to the Ancient Course of the Tigris Using Historical Geographical and GIS Analyses", AKKADICA, jld. 143, hlmn. 101–135, 2022
  • G.J. P. McEwan, "Agade after the Gutian Destruction: The Afterlife of a Mesopotamian City", AfO Beiheft 19, hlmn. 8–15, 1982
  • Nowicki, Stefan, "Sargon of Akkade and his god: Comments on the worship of the god of the father among the ancient Semites", Acta Orientalia Academiae Scientiarum Hungaricae 69.1, hlmn. 63–82, 2016
  • Sallaberger, W./I. Schrakamp, "Philological data for a historical chronology of Mesopotamia in the 3rd millennium", dalam: W. Sallaberger/I. Schrakamp (penyunting), History & philology, ARCANE 3. Turnhout, hlmn. 1–13, 2015 ISBN 978-2503534947