Simo, Boyolali

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Simo
Kecamatan
Lokasi Kecamatan Simo ing Kabupaten Boyolali
Peta lokasi Kecamatan Simo
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Tengah
Kabupaten Boyolali
Pemerintahan
 • Camat Noegroho Wahyoe Soebroto, S.Sos.
Luas 48,04 km²
Jumlah penduduk 43.533 jiwa
Kepadatan 906 jiwa/km²
Desa/kelurahan 13
Kantor kecamatan Simo

Simo adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan Simo terletak di sebelah timur laut ibukota Kabupaten Boyolali.

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Desa/kelurahan[sunting | sunting sumber]

  1. Bendungan
  2. Blagung
  3. Gunung
  4. Kedung Lengkong
  5. Pelem
  6. Pentur
  7. Simo
  8. Sumber
  9. Talakbroro
  10. Temon
  11. Teter
  12. Walen
  13. Wates
Pembagian wilayah administrasi desa di Kecamatan Sawit, Boyolali

Arti nama[sunting | sunting sumber]

Dalam bahasa Jawa Baru "sima" berarti macan atau harimau. Di perempatan dekat terminal bus terdapat tugu harimau. Namun sima dalam bahasa Jawa Kuna berarti "tanah perdikan" atau "tanah yang dibebaskan dari pajak". Nama terakhir ini lebih memungkinkan. Di seluruh Jawa terdapatkan nama-nama tempat Sima lainnya.

Di dalam versi yang lain, nama simo bermula dari sejarah demak dan pengging. Sebagaimana diketahui, bahwa demak dengan Sultan Fatah mempunyai pertentangan dengan Ki Ageng Pengging. Demak sebagai kerajaan Islam yang didukung oleh wali songo berseberangan dengan Ki Ageng Pengging yang merupakan anak murid dari Syekh Siti Jenar. Walisongo mengutus sunan kudus untuk pergi ke pengging dengan maksud mengajak ki ageng pengging agar mau bergabung dengan demak. di dalam perjalanan ke pengging itulah rombongan sunan kudus bermalam di sebuah hutan di sebelah utara kali cemara. Ketika bermalam itu Sunan kudus memukul pusaka berupa gong yang namanya Kyai SIMA, yang bunyinya mirip dengan auman harimau (simo).

Mendengar suara auman harimau itu, kemudian penduduk sekitar beramai-ramai menuju ke hutan dengan maksud menangkap harimau tersebut. Bukan harimau yang ditemui tapi Sunan Kudus dan rombongan yang mereka jumpai. Ketika ditanya kedatangan mereka ke tengah hutan, penduduk menjawab bahwa tadi ada suara harimau sehingga mereka bermaksud untuk membunuhnya. Kemudian oleh sunan kudus dijawab bahwa tidak ada harimau dan mereka disuruh kembali ke rumah dan oleh sunan kudus daerah itu kemudian dinamakan Simo.

Kota pelajar[sunting | sunting sumber]

Simo terkenal sebagai kota kecamatan pelajar. Di kota ini terdapat tugu pelajar yang dibangun tahun 1985 di perempatan Tegalrayung sebagai simbol atas kenyataan ini. Hampir semua penduduk muda lulus SMA atau sederajat. Ratusan sarjana, master dan doktor muncul dari kecamatan ini.

Simo memiliki pasar kebutuhan sehari-hari yang buka setiap hari dan buka secara besar di hari pasaran Pahing, pasar hewan di Pasar Simo yang buka juga setiap Pahing dan pasar hewan di Karangjati yang ramai pada hari Pahing dan Kliwon. Di sebelah utara Karangjati terdapat pegunungan yang dinamakan Gunung Madu. Di sini terdapat banyak goa peningalan zaman Jepang tepat di sisi jalan raya. Pemandangan luas ke arah kota Surakarta dapat dinikmati dari daerah ini. Simo juga memiliki berbagai tempat peninggalan bersejarah yang cukup menarik untuk dijadikan tempat wisata. Yaitu gunung madu dan gunung tugel yang mempunyai daya tarik tersendiri, tapi sayang pemerintah daerah setempat belum terlalu memberikan perhatian kepada kawasan ini.

Kenyataan bahwa Simo adalah kota pelajar sangat nampak nyata, dapat dilihat dari banyaknya sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan bahkan perguruan tinggi yang berdiri di daerah ini, mulai dari sekolah negeri, swasta, sampai sekolah khusus yang berbasis keagamaan. Prestasi Kecamatan Simo dapat dikatakan cukup membanggakan, dimana SMU Muhammadiyah 1 Simo pernah meraih juara no. 1 untuk cerdas cermat tentang perkoperasian tingkat Jawa Tengah pada tahun 1990 dan mewakili Jawa Tengah untuk tingkat nasional, SMA Negeri 1 Simo telah meraih gelar no. 2 terbaik se-Jawa Tengah pada Tahun Ajaran 2006. Selain itu SMP Negeri 1 Simo adalah sekolah yang tertua di daerah ini yang telah menghasilkan alumni-alumni yang berpretasi yang telah menyebar di seluruh Indonesia. Di antaranya DR.Ir.Djoko Hermanianto, MSc salah satu alumni dari Jerman yang sampai sekarang sebagai Dosen di IPB - Bogor. Ia adalah asli putra seorang petani yang berada di Dusun Pulung - Kelurahan Gunung - Kecamatan Simo.

Wisata Kuliner Pasar Simo[sunting | sunting sumber]

Pasar Simo mempunyai ragam dagangan khususnya makanan yang khas. Dari gudangan (urap) daun adas yang hanya tumbuh di Selo Boyolali, kupat tahu dengan bakmi glepung singkong - lomboknya digerus pake sendok, gule kambing dengan acar bawang merah utuhan, bergedel singkong (ketemu rasa sama di RM ayam goreng Ciganea Jabar), mentho kacang, gemblong, gendar dengan kelapa parut, puli pecel, tempe mbok Darubi, nasi tempe mendoan dengan bungkus daun jati, tahu rebus atau bacem, wedang serbat/jahe disimpan dengan 'jun', hingga yang baru belakangan hadir seperti bebek dan ayam goreng, pecel lele, gudeg, angkringan malam dan aneka jajanan yang tak kalah level mutunya dengan eks Pengging atau Solo. Apalagi Simo didukung ketersediaan air minum yang berkualitas sehingga masakan dan minuman menjadi enak.

Sayangnya, masakan yang menjadi trade mark tahun 60-an seperti soto Pak Wiro atau mBok Mangun Cebleng, panganan Nyah Yute (ibu tua yang warungnya menyajikan wajik, jenang jadi, krasikan, kue lapis, klepon, ketan bubuk dele, diracik rapi dalam takaran daun pisang), krupuk Pak Marto (yang mengolah sendiri dari singkong mentah menjadi tepung kanji sampai produk akhir krupuk/bakmi), gule P Kaji Wetan Pasar (mbahnya Ngadenan dan Rahardjo), semuanya sudah tak berlanjut, karena keturunanya tidak ada yang meneruskan.

Simo dulu pusatnya makanan tape. Tape pohung Simo terkenal manisnya, berpikul-pikul setiap hari dipasok ke pasar-pasar di Solo. Saat itu terminal bis Simo-Solo (hanya ada dua bis, Eva dan Sridaya) masih berada di depan pasar. Dari sini pedagang pedagang tape menunggu bis dan menggunakan untuk angkutan ke Solo. Tape Simo saking manis dan 'njuruh'nya, air tape bercucuran dari atas (atap bis untuk bagasi), mengenai penumpang yang duduk dipinggir jendela, badan bis pun lengket-lengket. Kunci kelezatan tape Simo ini, selain karena pohungnya yang baik, juga karena ragi tape yang diproduksi oleh Na Kok Liong dari jalan Nonongan Solo kala itu. Sekarang pemandangan ini sudah tidak dijumpai lagi. Tapi tape pohung, baik yang glondongan model peuyeum Bandung atau tape gaplek (potongan kecil kecil dibungkus daun pisang), dan tape ketan item masih bisa dinikmati di pasar ini.

Apa yang ada sekarang masih sangat memuaskan untuk dicoba sebagai alternatif wisata kuliner, selain wisata ke Gunung Tugel, Rogo Runting.