Retardasi mental

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Orang dengan penyakit retardasi mental.

Retardasi mental adalah kondisi sebelum usia 18 tahun yang ditandai dengan rendahnya kecerdasan (biasanya nilai IQ-nya di bawah 70) dan sulit beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari.[1] Retardasi mental tertuju pada sekelompok kelainan pada fungsi intelektual dan defisit pada kemampuan adaptif yang terjadi sebelum usia dewasa. Akan tetapi, klasifikasi retardasi mental lebih bergantung pada hasil penilaian IQ dari pada kemampuan adaptif.[2]


Kriteria Diagnosis[sunting | sunting sumber]

1. Nilai IQ sekitar 70 atau dibawahnya
2. Adanya defisit atau gangguan pada fungsi adaptif minimal 2 dari fungsi berikut : komunikasi, self-care, tempat tinggal, kemampuan sosial/interpersonal, akademis, kerja, kesehatan, keamanan, penggunaan tempat umum, self-direction, makan.
3. Onset terjadi sebelum berumur 18 tahun.[2]


Epidemiologi[sunting | sunting sumber]

- Prevalensi retardasi mental dari dari populasi umum sekitar 1-3%
- Rasio laki-laki dan perempuan yaitu 1,5:1
- 85% dari seluruh kasus merupakan kasus Ringan.[3]


Klasifikasi[sunting | sunting sumber]

Klasifikasi dibawah ini merupakan klasifikasi berdasarkan hasil penilaian IQ, yaitu :
1. Retardasi Mental Ringan (mild) : bila nilai IQ berkisar 70-55/50
2. Retardasi mental sedang (moderate) : bila nilai IQ berkisar antara 55/50 – 40/35
3. Retardasi mental berat (severe) : bila nilai IQ berkisar antara 40/35 – 25/20
4. Retardasi mental sangat berat (Profound) : bila nilai IQ berada di bawah 25/20.[4]

Faktor Risiko[sunting | sunting sumber]

Faktor risiko terjadinya retardasi mental diantaranya :
1. Genetik : kelainan biologis yang memungkinkan terjadinya retardasi mental seperti sindroma Down, sindroma Fragile-X
2. Sosioekonomik : pendidikan orang tua yang rendah ditambah dengan buruknya nutrisi atau kemiskinan yang dapat berisiko menyebabkan retardasi mental.
3. Pengaruh lingkungan.[2] (Inggris)
4. Kelainan Metabolik
5. Maternal substance abuse
6. Trauma atau penyakit (illness)
7. Idiopatik, kurang lebih 40%. [5]
8. Infeksi maternal seperti infeksi Rubela, Cytomegalovirus, Sifilis genital.[6]

Ciri-ciri retardasi mental[sunting | sunting sumber]

Ciri utama retardasi mental adalah lemahnya fungsi intelektual.[7] Lama sebelum muncul tes formal untuk menilai kecerdasan, orang dengan retardasi mental dianggap sebagai orang yang tidak dapat menguasai keahlian yang sesuai dengan umurnya dan tidak bisa merawat dirinya sendiri.[7]

Selain intelegensinya rendah, anak dengan retardasi mental juga sulit menyesuaikan diri dan susah berkembang.[7] Keterampilan adaptif antara lain adalah keahlian memperhatikan dan merawat diri sendiri dan mengemban tanggung jawab sosial seperti berpakaian, buang air, makan, kontrol diri, dan berinteraksi dengan kawan sebaya.[7]

Manifestasi Klinis[sunting | sunting sumber]

Pasien anak biasanya datang dengan keluhan dismorfisme seperti mikrosefali disertai dengan gagal tumbuh sesuai usia, tidak ada tanda-tanda khusus secara fisik yang menunjukan kelainan intelektual. Kebanyakan anak dengan gangguan intelektual sulit bersosialisasi dengan anak seumurnya, tidak berkembang sesuai umurnya misalnya kurangnya pendengaran atau penglihatan, postur yang tidak sesuai, atau sulit untuk duduk atau berjalan pada anak usia 6-18 bulan. Gangguan bicara dan bahasa paling banyak terjadi setelah usia 18 bulan. Retardasi mental banyak teridentifikasi pada usia 3 tahun.[2]


Manajemen Terapi[sunting | sunting sumber]

Manajemen terapi yang mungkin diberikan pada anak dengan retardasi mental diantaranya :
1. Dokter anak memeriksa fisik anak secara lengkap dan mengobati kelainan/penyakit yang mungkin ada.

Adapun pencegahan yang mungkin dilakukan yaitu :
a. Preventif primer :
- Memberikan perlindungan spesifik terhadap penyakit tertentu (imunisasi)
- Meningkatkan kesehatan dengan memberikan gizi yang baik, mengajarkan cara hidup sehat

b. Preventif Sekunder :
- Mendeteksi penyakit sedini mungkin.
- Diagnosis dini PKU (fenilketonuria) dan hipotiroid ditanggulangi (untuk mencegah kerusakan lebih lanjut).
- Koreksi defek sensoris kemudian dilakukan stimulasi dini (stimulasi sensoris, speech therapist)

2. Psikolog untuk menilai perkembangan mental terutama kognitif anak.
3. Pekerja sosial untuk menilai situasi keluarga bila dianggap perlu.

Setelah dilakukan penilaian, dirancang strategi terapi, mungkin perlu dilibatkan lebih banyak ahli. Misalnya ahli saraf anak bila menderita epilepsy, palsi serebral dll. psikiater bila anak tersebut menderita kelainan tingkah laku ; fisioterapis untuk merangsang perkembangan motorik dan sensorik ; ahli terapi bicara serta guru pendidikan luar biasa.


Prognosis[sunting | sunting sumber]

Seorang anak yang mengalami retardasi mental yang berat, prognosis kedepannya ditentukan oleh keadaan anak tersebut pada masa awal kanak-kanaknya. Retardasi mental yang ringan bisa jadi terjadi hanya sementara. Anak-anak mungkin akan didiagnosa sebagai retardasi mental pada awalnya, namun pada tahun-tahun usia berikutnya, mungkin kelainannya akan dapat lebih dispesifikan, contohnya gangguan komunikasi dan autism.
Efek jangka panjang dari setiap individu berbeda-beda, bergantung pada derajat deficit kognitif dan adaptif, gangguan perkembangan pada masa embrionik, dan dukungan keluarga serta lingkungan. [2])


Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Santrock, J. W. Psikologi Pendidikan, Jakarta: Kencana, 2010, hal. 224-225.
  2. ^ a b c d e (Inggris) Kliegman, Robert M. (2007). Nelson Textbook Of Pediatrics. Saunders Elsevier. ISBN 978-1-4160-2450-7. 
  3. ^ (Inggris) Jonathan, Birnkrant (2007). Crash Course: Psychiatry. Mosby Elsevier. ISBN 978-0-323-04832-3. 
  4. ^ (Inggris) Mental Retardation, Mental Retardation. Diakses pada 30 Juli 2012.
  5. ^ Mental Retardation, Behavioral Healthcare. Diakses pada 30 Juli 2012.
  6. ^ Faktor Resiko Retardasi Mental, Faktor Resiko Retardasi Mental. Diakses pada 1 Agustus 2012.
  7. ^ a b c d Zigler, E. F. Looking Back 40 Years and Seeing the Person with Mental Retardation as a Whole Person, Personality and Motivational Differences in Persons with Mental Retardation. Mahwah: Erlbaum, hal. 5.

Lihat juga[sunting | sunting sumber]