Randublatung, Blora

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Randublatung
Kecamatan
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Tengah
Kabupaten Blora
Pemerintahan
 • Camat -
Luas - km²
Jumlah penduduk -
Kepadatan - jiwa/km²
Desa/kelurahan -

Randublatung adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Daerah ini merupakan salah satu titik penghasil minyak di blok cepu. Pada tahun 1992 pernah terjadi blow out pada salah satu sumur minyaknya dan proses pemadamannya membutuhkan waktu lebih dari dua bulan.[1]

Situs di Randublatung[sunting | sunting sumber]

Potret Randublatung pada zaman Hindia Belanda.
Tapan Sumengko

Tapan Sumengko adalah sebuah tempat yang sampai saat ini dipercaya oleh masyarakat setempat, terutama masyarakat Dusun Sumengko sebagai areal yang di keramatkan. Lokasinya sekitar 9 km dari kantor KPH Randublatung, tepatnya di petak 68 RPH Sumengko BKPH Boto, luasnya mencapai 1,9 ha.

Konon tempat ini dijadikan tempat pertapaan oleh leluhur dusun Sumengko dan sampai saat ini hawa magis masih terasa disekitar lokasi.

Sendang wedok

Sendang wedok merupakan sumber mata air yang lokasinya berada di sekitar Tapan Sumengko, Tepatnya sebelah Utara. Sendang ini biasa digunakan oleh masyarakat sekitar untuk keperluan sehari hari terutama untuk minum, mencuci dan keperluan lainnya.

Pada saat upacara sedekah bumi yang dilakukan oleh masyarakat Sumengko, setelah dari Tapan, kemudian upacara dilanjutkan di Sendang Wedok. Tujuannya tidak lain adalah untuk memohon berkah supaya sumber mata air ini terus mengalir dan tidak kering.

Sendang Lanang

Seperti halnya Sendang Wedok, Sendang Lanang juga merupakan situs ekologi yang sampai saat ini keberadaannya masih tetap dipertahankan oleh masyarakat dusun Sumengko dan Perhutani. Lokasinya tidak jauh dari Tapan Sumengko dan Sendang Wedok, kira-kira 350 m., masuk dalam wilayah RPH Boto BKPH Boto. Lokasinya di Petak 67 dengan luas sekitar 0,25 ha.

Aktivitas masyarakat di Sendang Lanang selain mengambil air dari sumber ini juga merupakan tempat upacara sedekah bumi yang dilakukan setelah di Sendang Wedok dan Tapan Sumengko.

Pertapaan Mundu

Tak Jauh dari Kantor KPH Randubaltung yaitu sekitar 9 Km ke arah Selatan terdapat sebuah situs yang dipercaya sebagai tempat Pertapaan seseorang yang pertama kali membuka/membangun sebuah desa yang sekarang dikenal dengan dusun Mundu. Air yang diambil dari Sendang Lanang lebih banyak digunakan untuk keperluan mandi, mencuci dan menyiram tanaman. Sementara untuk minum masyarakat mengambil dari Sendang Wedo yang dialirkan ke Penampungan air . Tetapi apabila terjadi kemarau panjang, masyarakat akan menggunakan air dari Sendang Lanang untuk air minum.

Dusun mundu dapat di capai melalui jalan alternatif Randubaltung – Solo yang kondisi jalannya cukup baik, Kurang lebih 9 km dari kantor KPH Randublatung tepatnya di pertigaan pos jaga Perhutani yaitu di Petak 66 ada jalan masuk menuju lokasi dusun Mundu. Kurang lebih 15 menit dengan menyusuri jalan macadam kita bisa sampai di lokasi pertapaan mundu. Dusn Mundu termasuk dalam wilayah Desa Bodeh dengan jumlah penduduk + 45 KK. Rata-rata mata pencaharian masyarakatnya adalah sebagai petani (Pesanggem) dan pencari kayu bakar.

Kedung Putri

Kedung Putri adalah suatu yang pada masa lalu sampai sekarang banyak menyimpan sejarah bahkan berbau mistik yang konon menurut cerita tempat ini ini sering dipakai mandi oleh Citro Wati Putri Raja Purwocarito yang cantik. Kedung Putri terletak di sebelah utara KPH Randublatung, kurang lebih 10 Km dari pusat kota Randublatung, tepatnya di petak 52 RPH Gumeng BKPH Temanjang. Secara administrative turut wilayah Desa Tanggel Kecamatan Randubaltung Kab. Blora. Begitu kentalnya muatan sejarah dilokasi ini menjadikannya cukup terkenal di Randublatung.

Manganan

Manganan adalah sebuah situs budaya yang biasa di gunakan oleh masyarakat dusun Kaliwader desa Ngliron untuk upacara sedekah bumi. Lokasinya terletak sebelah Utara KPH Randublatung, kurang lebih 12 km dari kota Randublatung. Secara administrative turut wilayah Desa Ngliron Kec. Randublatung Kab. Blora.

Bale Kambang

Bale Kambang merupakan salah satu situs yang terletak di petak 62, luasnya mencapai 0,1 ha. Di tempat ini sering digunakan untuk upacara sedekah bumi. Sejarah Bale Kambang sendiri terkait dengan sejarah di Kedung Putri. Bale kambang adalah Istana Citro Kusumo Putra kedua dari raja Purwocarito yaitu Dian Gondokusumo dengan Permaesuri Loro Girah.

Sumber Lumpur kesongo

Sumber Lumpur kesongo merupakan sebuah keajaiban alam yang ada di KPH Randublatung , terletak di Petak 141 RPH Padas BKPH Trembes, Luasnya + 100 Ha berupa hamparan tanah kosong yang sebagian ditumbuhi rumput serta beberapa kubangan air / rawa – rawa. Jarak dari KPH Randublatung sekitar 30 Km kearah Barat (Kecamatan Gabus ,Kab Grobogan ). Keistimewaan kawasan tersebut adalah mengeluarkan sumber Lumpur berupa letupan Lumpur dingin yang setiap saat bisa meletus, dan bersifat sporadic, Lokasi sekitar Lumpur Kesongo dimanfaatkan oleh masyarakat dukuh Pekuwon lor dan Sucen sebagai lahan penggembalaan serta mencari rumput wlingi , Selain itu pada titik ledakan yang juga dinamakan keraton sering dipergunakan untuk sesaji ( Ngalab Berkah ) yang dipandu oleh seorang juru kunci. Selain digunakan sebagai tempat upacara, kawasan Lumpur kesongo merupakan habitat satwa yang digunakan untuk mencari makan. Terutama jenis burung seperti Bangau Tong-tong. Terkadang juga ditemuikan ular.

Dusun Kuwung dan Pertapaan Ngreco

Dusun Kuwung adalah salah satu dusun yang letaknya cukup jauh dari Kantor KPH Randublatung. Diam –diam didaerah ini menyimpan tradisi yang mungkin sudah tidak asing lagi bagi masyarakat sekitar hutan, dimana nilai-nilai budaya yang berbau spiritual masih melekat dalam kehidupan sehari-hari. Dusun Kuwung terletak kurang lebih 6 km dari pusat kota Randublatung, tepatnya di petak 123 RPH Menden, BKPH Beran. Untuk menjangkau daerah ini tidak terlalu sulit karena sudah tersedia jalan yang biasa digunakan masyarakat untuk menuju daerah disekitarnya. Jumlah penduduk dusun Kuwung kurang lebih sekitar 60 kk yang rata-rata penduduknya bermata pencaharian sebagai petani.

Berbeda dengan Sendang Kuwung, Pertapaan Ngreco yang letaknya tidak jauh dari sumber mata air Kuwung juga menyimpan misteri yang hingga kini tempat itu masih dianggap keramat. Misteri dan sejarah Pertapaan Ngreco belum banyak terungkap, tetapi masyarakat setempat percaya bahwa tempat ini menyimpan sejarah khusus tentang asal muasal dusun kuwung.

Pertapaan Ngreco kadang-kadang masih dipakai oleh orang yang percaya dengan hal-hal gaib untuk meminta berkah dan kepentingan lainnya, tidak menutup kemungkinan digunakan juga sebagai tempat pesugihan. Sendang Kuwung dan Pertapaan ngreco merupakan salah satu tempat yang dikeramatkan oleh penduduk Dusun Kuwung Desa Menden rejo, letak petak 123 RPH Menden, BKPH Beran. Sendang Kuwung dan Pertapaan Ngreco terletak dalam petak yang sama yaitu petak 123

Jati Denok

jati Denok, begitu orang menyebutnya, Kata-kata “Denok” identi dengan gadis cantik yang mempunyai tubuh sintal dengan tubuh padat berisi. Ungkapan tersebut memang benar adanya , begitu juga dengan pohon jati yang terletak di petak 62 RPH Temetes BKPH Temanjang yang mempunyai keliling pohon 650 cm, tinggi 30 m dengan bagian pangkal pohon yang membesar. Jati Denok berumur kurang lebih 3 abad atau sektar 300 tahun lebih

Sendang Salak

Sendang terletak di lahan perhutani pada petak 123 RPH Trembes BKPH Temuireng dengan luas petak 0,1 Ha. Sendang Salak merupakan sebuah situs yang merupakan sumber air sehingga banyak masyarakat yang berinteraksi kelokasi tersebut untuk mengambil air, sehingga situs sendang salak memiliki arti yang sangat penting bagi masyarakat di sekitarnya selain itu sebagian besar masyarakat menganggap situs merupakan tempat yang dianggap masyarakat mempunyai nilai budaya tinggi dan dipercaya sebagai tempat keramat, bahkan digunakan sebagai tempat mencari berkah, pesugihan, nazdar dan sedekah bumi atau nyadran. Ritual keagamaan atau ambengan ditempat situs juga sering dilakukan.

Pablengan (lumpur)

Situs Pablengan terletak di petak 11a RPH Serut BKPH Banyuurip dengan luas 0,1ha. Situs pablengan terletak di wilayah desa Pelem, bentuk situs pablengan merupakan bledug yang selalu mengeluarkan air dan lumpur yang mengandung garam, dan di kelilingi oleh pepohonan yang lebat sehingga walaupun musim kemarau panjang tetap muncul sumber mata airnya. Sampai saat ini situs pablengan masih sangat dikeramatkan oleh masyarakat sekitarnya antara lain untuk tempat mencari berkah, sedekah bumi dan masyarakat percaya bahwa kehilangan ternaknya mengadakan selamatan dipablengan maka ternak yang hilang tersebut akan kembali.

Sumur Uripan

Sumur Uripan berada di petak 22 RPH Banyuasin BKPH Ngliron dengan luas 0,1 ha Sumur uripan merupakan sumber mata air berupa sumur peninggalan jaman Belanda. Sumur ini berfungsi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat desa Banyuasin. Yaitu berupa sumur berjajar / berdampngan, 1 sumur untuk memenuhi kebutuhan minum dan 1 sumur untuk mencuci. Pada saat musim kemarau air tetap mengalir dan saat sedekah bumi masyarakat masih memanfaatkannya yaitu pada hari Rabu Pahing setiap musim panen.

Awalnya sumur dalam bentuk serumbung yaitu dikelilingi dengan kayu, pada tahun 2003 oleh masyarakat setempat secara swadaya direhab menggunakan gorong-gorong.

Disekeliling sumur terdapat pohon besar dan rindang, satwa pun masih ada terutama burung

Sendang Apit

Sendang Apit berada di petak 14 d RPH Sugih BKPH Boto berada di desa Kepoh, Sendang Apit merupakan sendang yang sumber airnya ada sepanjang tahun oleh masyarakat sekitar sendang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sendang Apit ini berbentuk sumur sederhana yang dikelilingi kayu begitu juga atapnya. Disekitar sendang banyak ditumbuhi pohon – pohon yang rindang. Kemudian pada tahun 2003 dilakukan perbaikan yaitu berupa pemberian gorong-gorong disekeliling sumur dan diberi atap berbentuk rumah-rumahan, hal ini dengan harapan daun dan ranting dari dahan pohon yang ada disekeliling sendang tidak masuk sumur.

Banyu Tes

Situs Banyu Tes berbentuk sumber mata air berbentuk sumur kecil di bukit, sumber airnya disaat musim kemarau tetap ada. Situs tersebu berada dipetak 62 RPH Temetes BKP Temanjang dengan luas 0,1 ha Oleh masyarakat desa Temetes tiap hari Jum’at Pon sehabis panen dilakukan sedekah bumi “Nyadran” dilokasi situs tersebut .

Jati Gong

Situs Jati Gong berada di petak 63 RPH Temetes BKPH Temanjang dengan luas 0,1 ha. Situs ini berbentuk pohon mahoni ± umur 53 tahun. Menurut cerita masyarakat desa Temetes konon pada zaman dahulu ada perayaan atau hajatan, dalam acara tersebut ada hiburan berupa gamelan yang diadakan selama 7 hari 7 malam, namun pada saat selesai masih ada salah satu alat gamelan yang tertinggal dipohon jati yaitu Gong besar dan tidak diambil-ambil seingga pada saat itu oleh masyarakat disebut sebagai Jati Gong.

Desa/kelurahan[sunting | sunting sumber]

  1. Bekutuk
  2. Bodeh
  3. Gembyungan
  4. Jeruk
  5. Kadengan
  6. Kalisari
  7. Kediren
  8. Kutukan
  9. Ngliron
  10. Pilang
  11. Plosorejo
  12. Randublatung
  13. Sambongwangan
  14. Sumberjo
  15. Tanggel
  16. Temulus
  17. Tlogotuwung
  18. Wulung

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]