Prasasti Kedukan Bukit

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Langsung ke: navigasi, cari

Prasasti Kedukan Bukit ditemukan oleh M. Batenburg pada tanggal 29 November 1920 di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir, Palembang, Sumatra Selatan, di tepi sungai Tatang yang mengalir ke sungai Musi. Prasasti ini berbentuk batu kecil berukuran 45 x 80 centimeter, ditulis dalam aksara Pallawa, menggunakan bahasa Melayu Kuna. Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional dengan No. D.146.

Daftar isi

[sunting] Teks prasasti

[sunting] Alih aksara

Prasasti Kedukan Bukit
Prasasti Kedukan Bukit
svasti śrī śakavaŕşātīta 605 (604 ?) ekādaśī śu
klapakşa vulan vaiśākha dapunta hiya<m> nāyik di
sāmvau mangalap siddhayātra di saptamī śuklapakşa
vulan jyeşţha dapunta hiya<m> maŕlapas dari minānga
tāmvan mamāva yam vala dualakşa dangan ko-
duaratus cāra di sāmvau dangan jālan sarivu
tlurātus sapulu dua vañakña dātam di mata jap
sukhacitta di pañcamī śuklapakşa vula<n>….
laghu mudita dātam marvuat vanua …..
śrīvijaya jaya siddhayātra subhikşa .....

(Catatan: /v/ dalam bahasa Melayu modern menjadi /b/).

[sunting] Terjemahan

  1. Selamat ! Tahun Śaka telah lewat 604, pada hari ke sebelas
  2. paro-terang bulan Waiśakha Dapunta Hiyaŋ naik di
  3. perahu "mengambil siddhayātra". Pada hari ke tujuh paro-terang
  4. bulan Jyestha Dapunta Hiyang bertolak dari Minanga
  5. sambil membawa 20.000 tentera dengan perbekalan
  6. sebanyak dua ratus (peti) berjalan dengan perahu dan yang berjalan kaki sebanyak seribu
  7. tiga ratus dua belas datang di Mukha Upaŋ
  8. dengan sukacita. Pada hari ke lima paro-terang bulan .........
  9. dengan cepat dan penuh kegembiraan datang membuat wanua (....)
  10. Śrīwijaya menang, perjalanan berhasil dan menjadi makmur senantiasa

Pada baris ke-8 terdapat unsur pertanggalan. Namun unsur pertanggalan pada prasasti ini telah hilang. Seharusnya bagian itu diisi dengan nama bulan. Berdasarkan data dari fragmen D.161 yang ditemukan di Situs Telaga Batu, de Casparis (1956:11-15) dan Boechari (1993: A1-1-4) mengisinya dengan nama bulan Āsāda. Maka lengkaplah pertanggalan prasasti tersebut, yaitu hari kelima paro-terang bulan Āsāda yang bertepatan dengan tanggal 16 Juni 682 Masehi. Menurut Coedes siddhayatra berarti semacam potion magique atau “cairan bertuah”. Tetapi kata ini bisa pula diterjemahkan lain.yaitu menurut kamus Jawa Kuna Zoetmulder (1995): sukses dalam perjalanan. Dengan ini kalimat di atas ini bisa diubah: “Sri Baginda naik sampan untuk melakukan penyerangan, sukses dalam perjalanannya.”

[sunting] Bacaan Selanjutnya

  • George Coedès, Les inscriptions malaises de Çrivijaya, BEFEO, 1930.
  • J.G. de Casparis, Indonesian Paleography, 1975

[sunting] Lihat pula

Peralatan pribadi
Bahasa lain