PLTSa Gedebage

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Gedebage adalah sebuah fasilitas pembangkitan listrik berkapasitas 7 MW yang menggunakan sampah sebagai bahan bakarnya. PLTSa Gedebage dibangun di Bandung Timur untuk mengatasi masalah sampah di kota Bandung Raya. PLTSa ini akan dibangun oleh PT Bandung Raya Indah Lestari (BRIL) di atas lahan seluas 10 hektare , 3 hektare akan digunakan untuk fasilitas Pembangkita listrik , sedangkan 7 hektare akan digunakan sebagai sabuk hijau mengelilingi fasilitas pembangkit.

Penggambaran Sistem[sunting | sunting sumber]

Sampah yang datang akan diturunkan kadar airnya dengan jalan ditiriskan dalam bunker selama 5 hari. Setelah kadar air berkurang tinggal 45%, sampah akan dimasukan ke dalam tungku pembakaran, kemudian dibakar pada suhu 850'C-900'C , pembakaran yang menghasilkan panas ini akan memanaskan boiler dan mengubah air di dalam boiler menjadi uap. Uap yang tercipta akan disalurkan ke turbin uap sehingga turbin akan berputar.Karena turbin dihubungkan dengan generator maka ketika turbin berputar generator juga akan berputar. Generator yang berputar akan mengahsilkan tenaga listrik yang kan disalurkan ke jaringan listrik milik PLN. Uap yang melewati turbin akan kehilangan panas dan disalurkan ke boiler lagi untuk dipanaskan , demikian seterusnya.

Manfaat[sunting | sunting sumber]

Diperkirakan dari 500 - 700 ton sampah atau 2.000 -3.000 m3 sampah per hari akan menghasilkan listrik dengan kekuatan 7 Megawatt. Sampah sebesar itu sama dengan sampah yang dibuang ke TPA Sarimukti sekarang. Dari pembakaran itu, selain menghasilkan energi listrik, juga memperkecil volume sampah kiriman. Jika telah dibakar dengan temperatur tinggi , sisa pembakaran akan menjadi abu dan arang dan volumenya 5% dari jumlah sampah sebelumnya. Abu sisa pembakaran pun bisa dimanfaatkan untuk bahan baku pembuatan batu bata.

Kontroversi[sunting | sunting sumber]

Protes terhadap adanya PLTSa Gedebage dilakukan oleh masyarakat sekitar , terutama penghuni Perumahan Griya Cempaka Arum Gedebage yang letaknya tak jauh dari lokasi PLTSa. 100% warga GCA menolak PLTSa.[rujukan?] Penolakan mereka didukung para ahli lingkungan, termasuk Walhi Jabar.[rujukan?] Mereka mengkhawatirkan polusi suara dan bau yang mungkin akan mengganggu mereka. Seperti PLTU berbahan bakar fosil pada umumnya , PLTSa juga menghasilkan polusi udara , zat dioksin yg dihasilkan PLTU fosil juga dihasilkan oleh PLTSa. Yang mereka maksudkan adalah cerobong asap PLTSa hanya 35m sedangkan di Singapura 70m. Masalahnya juga pada bagian keluarnya asap. Yang berada di Singapura menghadap laut sedangkan yang berada di Gedebage menghadap pemukiman warga. Jika suatu saat zat dioksin meledak dapat menyebabkan kerusakan 1 kota.[rujukan?] Bom dioksin pernah diujicobakan dan dapat merusak satu kota sehingga tidak dapat dikunjungi lagi karena sudah tercemar.[rujukan?] Warga di Griya Cempaka Arum mulai mengolah sampah menjadi barang-barang yang berguna bagi masyarakat. Mereka juga akan mendirikan TPS plus Griya Cempaka Arum.[rujukan?]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]