Maurice Bucaille

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Dr. Maurice Bucaille (lahir di Pont-l'Eveque, 19 Juli 1920 – meninggal 17 Februari 1998 pada umur 77 tahun) adalah seorang ahli bedah berkebangsaan Perancis. Ia terutama menjadi terkenal karena menulis buku tentang Islam, Al Qur'an dan ilmu pengetahuan modern.

Salah satu kontroversi yang masih menyelimuti keberadaannya adalah tentang statusnya saat dia meninggal, apakah dia sudah menjadi seorang Muslim, atau tetap pada kepercayaannya yang lama. Tidak ada bukti langsung yang dapat menjelaskan kontoversi ini, sedangkan bukti-bukti yang ada umumnya sudah terdistorsi oleh pandangan pribadi para penulisnya.

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

Bucaille pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris. Pada tahun 1974 dia mengunjungi Mesir atas undangan Presiden Anwar Sadat dan mendapat kesempatan meneliti Mumi Firaun yang ada di museum Kairo. Hasil penelitiannya kemudian dia terbitkan dengan judul Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern atau judul aslinya , Les momies des Pharaons et la médecine. Berkat buku ini, dia menerima penghargaan Le prix Diane-Potier-Boès (penghargaan dalam sejarah) dari Académie française dan Prix general (Penghargaan umum) dari Academie nationale de medicine, Perancis.

Bibel, Qur'an dan Sains Modern[sunting | sunting sumber]

Buku lainnya Bibel, Qur'an dan Sains Modern judul asli dalam bahasa Perancis La Bible, le Coran et la Science (1976) menjadi best-seller internasional di dunia Muslim dan telah diterjemahkan ke hampir semua bahasa utama umat Muslim di dunia. Bucaille menjadi ternama dengan karyanya ini. Karyanya ini mencoba menerangkan bahwa Al Qur'an sangat konsisten dengan ilmu pengetahuan dan sains, namun bahwa Alkitab atau Bibel tidaklah demikian. Bucaille dalam bukunya mengkritik Bibel yang ia anggap tidak konsisten dan penurunannya bisa diragukan. Buku tersebut sudah sering dibantah penulis lain, misalnya William Campbell dan M.B. Dainton.

Bucaillism[sunting | sunting sumber]

Bucaillism adalah istilah yang digunakan untuk gerakan yang menghubungkan ilmu pengetahuan modern dengan agama, dan terutama dari Islam [1]. Sejak penerbitan Alkitab, Quran dan Sains, Bucaillists telah mempromosikan ide bahwa Quran berasal dari Tuhan, dengan alasan bahwa itu berisi fakta-fakta ilmiah yang benar.[2][3]

Menurut The Wall Street Journal, Bucailleism adalah "dalam beberapa hal Muslim berpasangan untuk kisah penciptaan dalam Kristen" meskipun "sementara kisah penciptaan telah bertolak belakang dengan penjelasan ilmu pengetahuan modern, Bucailleism merangkul itu". Ini menggambarkan Bucailleism sebagai yang "meremehkan oleh sebagian sarjana pada umumnya" tetapi mengatakan pihaknya telah memupuk kebanggaan dalam warisan Muslim dan memainkan peran penting dalam menarik mualaf.[4]

Islam dan Sains[sunting | sunting sumber]

Bucaille dalam bukunya mengkritik Alkitab atau Bibel yang ia anggap tidak konsisten dan penurunannya bisa diragukan. Sedangkan dalam Al Qur'an terdapat banyak kecocokan dengan fakta sains. Di antara tulisannya ialah:

"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan." [QS 27:88]

Bucaille menjelaskan bahwa ternyata gunung-gunung bersama dengan lempeng bumi bergerak. Jadi ayat Al Qur'an di atas sesuai dengan ilmu pengetahuan.

Bucaille juga menjelaskan bahwa ayat Al Qur'an di bawah yang menyatakan bahwa Allah menyelamatkan badan Fir'an hingga bisa dilihat manusia saat ini sesuai dengan kenyataan:

"Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu" [QS 10:92]

Ternyata para ahli menemukan garam di dalam badan Fir'aun yang menunjukkan bahwa Fir'aun memang pernah tenggelam. Jenazah Fir'aun/Mumi bisa dilihat manusia hingga saat ini.

Penerimaan[sunting | sunting sumber]

Teori concordist Maurice Bucaille ini telah menghadapi beberapa kritik. William F. Campbell menyatakan bahwa Maurice Bucaille tidak mengevaluasi Qur'an dengan standar yang sama yang dia gunakan untuk menilai Alkitab. Memang, Bucaille menuntut bahwa Alkitab sesuai dengan bahasa ilmiah abad ke-20, sementara ia menemukan dan menerima bahwa Quran tidak ditulis dengan kekakuan ilmiah tersebut, karena Al-Qur'an, saat ia menulis: "dinyatakan dalam bahasa yang sesuai dengan petani atau nomaden dari semenanjung Arab".[5] Dengan demikian, ia mengklaim Bucaille tidak objektif.[6]

Menurut Sameer Rahim, menulis di The Daily Telegraph, Bucaille "pernyataan telah ditertawakan oleh para ilmuwan dan teolog canggih".[7]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Encyclopaedia of the history of science, technology, and medicine in non-western cultures, ed. Helaine Selin, retrieved 28 March 2011
  2. ^ Explorations in Islamic science Ziauddin Sardar, (1989), retrieved 28 March 2011
  3. ^ An illusion of harmony: science and religion in Islam (2007) Taner Edis, retrieved 28 March 2011
  4. ^ Daniel Golden (23 January 2002). "Western Scholars Play Key Role In Touting 'Science' of the Quran". The Wall Street Journal. Diarsipkan dari aslinya tanggal 19 September 2007. 
  5. ^ (William F. Campbell 1994, hlm. 32.)
  6. ^ (William F. Campbell 1994, hlm. 29.)
  7. ^ Sameer Rahim (8 Oct 2010). "Pathfinders: The Golden Age of Arabic Science by Jim al-Khalili: review". The Telegraph. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]