Masjid Raya Singkawang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Masjid Raya Singkawang adalah salah satu masjid tertua di Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia, tepatnya di Kota Singkawang. Masjid ini menjadi kebanggaan masyarakat Muslim Singkawang.[1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1870, Kapitan Bawahasib Marikan, seorang pendatang dari Distrik Karikal, Calcutta, India, datang ke Singkawang untuk berdagang permata (marjan). Saat itu, Bawasahib Marican belum mendapat pangkat Kapitan. Lakon usahanya tersebut setidaknya ditekuni selama sekitar lima tahun, karena pada 1875, pendatang dari Calcutta India ini diangkat Pemerintah Belanda sebagai Kapitan di Singkawang.[2]

Di samping jabatannya, Kapitan Bawasahib Marican juga berkebun kelapa, gambir dan beternak sapi untuk memenuhi ransum tentara Belanda atau disebut Nederlands Indies Leger.[2]

Sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada 1885, Kapitan Bawasahib Marican membangun Masjid Raya di kawasan Pasar Baru Singkawang (yang kini tidak lagi disebut kawasan Pasar Baru). Ketika itu tempat ibadah umat Islam di Singkawang ini masih berukuran kecil dan tidak mempunyai menara.[2]

Kapitan Bawasahib Marican membangun Masjid Raya di tanah miliknya yang berbentuk segitiga. Waktu itu belum ada jalan di samping lahan tersebut. Di salah satu sudut lahan itulah dibangun Masjid Raya. Sementara di dekat Masjid tersebut terdapat pula Pekong, tempat ibadahnya etnis Tionghoa yang didirikan seorang kapitan dari China. Jadi, saat itu dua orang kapitan membangun tempat ibadah berdampingan. Kendati berdampingan, para pengikutnya tetap hidup dalam keharmonisan dan kedamaian, tidak pernah terjadi pertikaian antaretnis maupun antaragama.[2]

Terbakar[sunting | sunting sumber]

Sekitar tahun 1927, terjadi kebakaran hebat yang membumihanguskan bangunan-bangunan, termasuk Masjid Raya dan pekong. Praktis, aktivitas perekonomian masyarakat pun tidak dapat berlangsung normal.

Tidak kurang dari 10 tahun, masyarakat Singkawang berjuang keras untuk mengembalikan kejayaannya dalam berdagang dan bercocok tanam. Hingga akhirnya kehidupan masyarakat seperti sedia kala, bahkan lebih baik lagi. Tetapi, pada 1914, pendiri Masjid Raya, Kapitan Bawasahib Marican meninggal dunia. Sehingga tidak dapat membangun kembali tempat ibadah tersebut. Posisinya diisi Cartiker Kapitan Abdul Rajak Marican yang merupakan keponakannya. Keponakan pendiri Masjid Raya Singkawang ini meninggal 1932 dan posisinya diisi Kanda SM Maiden hingga 1949. Pada masa inilah Masjid paling tua tersebut dibangun kembali.[3]

Tepatnya, pada 1936 atau sekitar 10 tahun pasca bencana kebakaran yang tidak diketahuinya sebabnya itu, Masjid Raya didirikan kembali. Lokasinya masih di tempat semula, tempat sebelum masjid tersebut terbakar. Sedangkan pekong dibangun bukan di tempat semula atau dipindahkan. Untuk pembangunan tersebut, anak Kapitan Bawasahib Maricar, H Ahmad menyumbang lahan untuk perluasan Masjid Raya Singkawang. Lahan tersebut juga merupakan warisan dari orangtuanya. Selanjutnya anak kedua Kapitan Bawasahib Marican, BM Hanifah Marican menyumbang pembangunan satu menara Masjid Raya. Pembangunanya dilakukan pada 1953 memanfaatkan tenaga Jenawi Tahir. Selanjutnya anak ketiga Kapitan Bawasahib Marican, BM Khalid Marican juga menyumbangkan lahannya untuk memperluas areal Masjid Raya. Kendati semakin luas, bentuk areal tersebut masih segitiga.[3]

Karena areal semakin luas, Masjid Raya pun semakin diperbesar. Rehabilitasi untuk memperbesar tempat ibadah tersebut dilakukan pada 1973. Diperluas lagi pada 1978. Kemudian direnovasi total pada 2007 dan hingga sekarang masih berlangsung.[3]

Dukungan pemerintah[sunting | sunting sumber]

Walikota Singkawang Hasan Karman pada tahun 2010 yang lalu, akan berjanji menjadikan masjid ini sebagai tanda kota Singkawang.[4] Sehingga, wakil walikota Singkawang, Edy R. Yacoub mengajak warga berpartisipasi untuk merampungkan masjid raya.[4]

Keunikan[sunting | sunting sumber]

Uniknya, masjid ini bersebelahan dengan Kelenteng Tri Darma Bumi Raya yang menunjukkan bentuk toleransi beragama masyarakat daerah tersebut.[5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Masjid Tertua Direnovasi Total. Harian Equator, 5 Mei 2011. Diakses pada 29 Juli 2012
  2. ^ a b c d Dinamika Masyarakat Kota Singkawang: Sejarah yang Terlupakan. Harian Equator, 7 Mei 2011. Diakses pada 29 Juli 2012
  3. ^ a b c Masjid Direnovasi, Pekong Dipindahkan. Harian Equator, 8 Mei 2011. Diakses pada 29 Juli 2012
  4. ^ a b Warga Diajak Segera Rampungkan Masjid Raya Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika kota Singkawang. 11 November 2011. Diakses pada 29 Juli 2012.
  5. ^ Wiratmaja, Juanita; Priyatno, Agus; Wahyudi, Heppy. Singkawang, Bukan Sekadar Kota Seribu Kelenteng Liputan6.com. 25 Februari 2012. Diakses pada 29 Juli 2012.