Kupu, Dukuhturi, Tegal

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kupu
Desa
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Tengah
Kabupaten Tegal
Kecamatan Dukuhturi
Kodepos 52192
Luas -
Jumlah penduduk -
Kepadatan -

Kupu adalah sebuah desa di kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Indonesia.

Demografi[sunting | sunting sumber]

Mata pencaharian di Kupu, Dukuhturi, Tegal banyak bergerak di sektor agraris dan sektor ekonomi tersier. Mayoritas penduduk memeluk agama islam

Sarana Prasarana[sunting | sunting sumber]

Sekolah[sunting | sunting sumber]

  • SD Kupu 01
  • SD Kupu 02 Inpres.
  • 1 MI (Madrasah Ibtidaiyah).
  • MTs Almunawarah Kupu.
  • 1 Sekolah Diniyah

Tempat Ibadah[sunting | sunting sumber]

Aksesbilitas[sunting | sunting sumber]

Transportasi Angkutan Desa Jurusan Tegal - Jatibarang yang rutenya dimulai dari Terminal Tegal - Desa Tunon - Desa Kalinyamat - Desa Dukuhturi - Desa Kupu - Desa Ketanggungan - Desa Gumalar - Desa Besole - dan terakhir ke Jatibarang.

Pertanian[sunting | sunting sumber]

Desa Kupu terbelah menjadi dua bagian oleh aliran sungai Kemiri. Di sebelah barat dikenal dengan sebutan Kupu Kulon dan di sebelah Timur dikenal dengan sebutan Kupu Wetan. Satu sebutan lagi adalah Kupu Dukuh karena letaknya dipisahkan oleh tegalan yang cukup luas dan berada paling timur yang berbatasan dengan Desa Pengarasan.

Pada tahun 80-an, pertanian di Desa Kupu cukup maju. Dari hasil pertanian seperti bawang merah, cabai, padi telah meningkatkan taraf hidup masyarakat petani. Bahkan nilai jual atau sewa tanah pada waktu itu boleh dibilang tinggi karena banyak dari desa-desa lain seperti Sidakaton dan Sidapurna banyak yang menggarap lahan di Desa Kupu. Hal ini pula didukung oleh irigasi yang tertata rapi sehingga di saat musim kemarau tidak kekurangan air. Selain itu adanya kelompok tani dimana setiap hari ada mantri pertanian yang berkunjung ke sawah-sawah untuk memberikan penyuluhan.

Pada waktu itu juga banyak perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang pertanian seperti obat-obatan, pupuk sampai alat-alat pertanian yang mengadakan pertemuan dengan para kelompok tani dalam rangka promosi/uji coba seperti penggunaan pestisida untuk hama ulet, penyubur tanaman salah stau produknya adalah N-Fix, benih padi dll banyak yang diujicobakan di persawahan desa Kupu. Bukan hanya itu saja, pernah dari siswa SMA dari Kalimantan pernah mengadakan PKL mengenai bercocok tanam bawang. Kurang lebih selama sebulan terjun mencari solusi untuk diterapkan di tanah Kalimantan yang katanya kondisi tanahnya berpasir.

Kemudian pada pertengahan tahun 1990-an, pernah ada tim peneliti dari PBB yaitu WHO yang diketuai/ anggotanya pada waktu, salah satunya yaitu Ir. Misha Kishi dari Jepang yang mengadakan penelitian terkait penggunaan pestisida bagi para petani. Perlu diketahui bahwa sejak adanya pestisida dalam produk pertanian Indonesia, ekspor hasil pertanian keluar negeri menurun drastis dikarenakan banyak negara tujuan eskpor menolak produk pertanian Indonesia yang mengandung pestisida. Pestisida sendiri adalah bahan kimia yang apabila dikonsumsi secara terus menerus akan membahayakan kesehatan dan mengakibatkan kanker.

Dengan dasar itulah WHO mengadakan penelitian di berbagai daerah di Seluruh Indonesia termasuk di Desa Kupu. Beberapa orang petani diwawancarai mengenai akibat bersentuhan langsung dengan pestisida. Ditemukan kasus yang pernah di liput oleh RCTI yaitu kasus Bapak Wajad yang mengalami kelumpuhan yang diakibatkan oleh pestisida. Selain itu beberapa petani yang lain ada juga yang merasakan penglihatannya mulai berkurang akibat seringnya terkena semprotan pestisida. Umumnya, keluhan yang sering dirasakan oleh para petani akibat penggunaan pestisida adalah pusing-pusing, mual-mual dan ada juga yang mengalami muntah-muntah.

Sejak adanya penelitian dari WHO, kondisi pertanian di Desa Kupu mengalami penurunan hasil panen. Banyak faktor yang menyebabkan menurunnya hasil pertanian diantaranya adalah dikuranginya zat-zat yang ada dalam pestisida dan pupuk serta kondisi tanah yang telah tercemar oleh racun pestisida sehingga unsur hara yang terkandung dalam tanah menjadi kurang subur. Hal ini tentu mengakibatkan tingkat kesuburan tanah dan tentunya berakibat pada tanaman yang ditanam. Selain itu tidak teraturnya musim tanam, artinya bahwa yang seharusnya musim tanam padi, masih ada saja petani yang menanam palawija, bawang dan lain-lain sehingga memudahkan hama untuk berkembang biak.

Ditambah lagi kondisi pengarian yang rusak akibat tidak dirawat dan telah dimakan usia sehingga disaat musim hujan banyak limpahan air yang sering menggenangi sawah dan sebaliknya di saat musim kemarau terjadi kekurangan air. Perlu diketahui pula bahwa disaat musim kemarau banyak warga khususnya para petani di desa Ketanggungan dan desa Kupu serta mungkin desa-desa lain merasakan susahnya mendapatkan suplai pengairan untuk mengairi ladang/sawah mereka.

Kondisi saluran air dari Desa Gumalar, Ketanggungan sampai ke Kupu mengalami kerusakan dan pendangkalan karena banyak tumpukan sampah bercampur lumpur sempanjang aliran. Bahkan kondisi ini diperparah dengan tidak terawatnya pintu air karena hilang dicuri orang. Suplai air yang diperoleh dari pintu air Desa Lumingser tidak dapat memenuhi kebutuhan pengairan sawah yang ada di desa Ketanggungan dan desa Kupu sehingga disaat kemarau banyak petani yang menggunakan Diesel untuk menyedot air tanah sebagai solusi pengairan sawah mereka.

Dahulu pernah ada proyek pemerintah yaitu menyediakan mesin diesel untuk mengatasi masalah pengairan, namun proyek tersebut tidak berjalan dengan semestinya karena kondisi mesin yang tidak bisa tertahan lama dan akhirnya rusak. Sampai sekarang diesel beserta bangunannya sudah tidak ada lagi, hanya menyisakan pipa sumur air yang masih tertanam dalam tanah.

Memprihatinkan memang kondisi pertanian masyarakat desa Kupu. Petani selalu dirugikan dan tidak pernah untung. Disaat panen, hasil panen mereka harganya rendah bahkan untuk balik modal saja tidak cukup. “Gemah ripah loh jinawi” apakah pantas disandang oleh bangsa ini jika kondisi pertanian kita begini? Bagaimana hasil pertanian kita bisa bersaing dengan negara lain kalau sistem pengairannya juga amburadul? Penduduk di desa banyak pemuda yang enggan terjun ke dunia pertanian, mereka lebih memilih bekerja di Jakarta. Mungkin kondisi yang sama juga melanda desa-desa yang lain. Diperkirakan 15-20 tahun mendatang banyak tanah sawah yang menganggur tidak bisa ditanami karena tiadanya sumber air. Sekarang saja banyak pemilik sawah yang sengaja menelantarkan sawahnya karena tidak adanya modal untuk mengolah, ditambah lagi kondisi pengairan yang sangat memprihatinkan.

Saat ini, hamparan sawah di Desa Kupu seakan-akan hidup segan mati tak mau. Kondisi jalan sawah sudah mulai rusak, sarana jembatan yang menghubungkan dengan Kapubaten Brebes (desa Lembarawa) juga rusak ditambah para pemilik sawah yang tidak lagi mampu mengelola sawahnya.

Pada tahun 2008 ada kabar bahwa akan ada mega proyek jalan Tol Pejagan-Pemalang (Bakrie Group) yang dalam site plannya pintu masuk melalui Desa Kupu tepatnya di perbatasan sawah antara Desa Sidakaton Dukuh, Lembarawa dan Desa Kupu. Namun sampai saat ini proyek yang sempat santer terdengar kini nyaris tidak terdengar lagi padahal tahap pemetaan/ pematokan sudah dimulai. Namun kini patok-patok yang sudah dilakukan oleh pemerintah/ Bakrie Grup kini telah hilang dicabut oleh masyarakat setempat karena sampai saat ini belum ada kejelasan penggantian tanah yang terkena proyek jalan tol tersebut.

Tiga sungai terbesar di Wilayah Tegal adalah Kali Gung, Kali Ketiwon dan Kali Kemiri. Apabila ditelusuri sumber air dari Kali Kemiri berasal dari cabang kali-kali kecil yang kemudian menyatu dengan Kali Kemiri. Anak sungai Kemiri dapat dilihat dari pertigaan sungai yang disebut Sarajiwa/Surajiwa (perbatasan Sidapurna, Sidakaton, Kupu) dan di Desa Gumalar berlanjut sampai Desa Lumingser masih terlihat jelas melalui googlemap. Dari Desa Gumalar genangan air sungai belum mulai tampak, hanya terlihat aliran kecil dan masih terlihat batu kali dan cadas/wadas. Genangan air mulai terlihat di perbatasan antara Desa Gumalar dan Ketanggungan sampai ke Pintu Air Sidapurna atau masaraka sekiar menyebutnya dengan nama Pintu Seng.

Di Desa Kupu terdapat sebuah jembatan yang melintasi Kali Kemiri. Jembatan tersebut dulu waktu zaman penjajahan Belanda dikenal dengan sebutan “Brug Ireng”. Penamaan “Brug Ireng” konon menurut cerita orang-orang dahulu jembatan itu berwarna hitam (di cat hitam) dan informasi mengenai penamaan “brug ireng” penulis sendiri belum pernah mendengar versi lain selain sebutan itu. Bila melihat pondasi yang ada, dahulu jembatan tersebut terbuat dari kayu jati. Sampai saat ini di bawah jembatan masih terlihat (orang tegal bilang) “jongos”, yaitu glondongan kayu jati yang masih tertanam kokoh seperti berbentuk pondasi jembatan.

Sekitar Tahun 1980-an jembatan mulai rusak dan bertepatan juga dengan masuknya Sutet (Saluran Udara Ekstra Tinggi) yaitu aliran listrik Jawa-Bali yang melintasi di Kupu, maka sekitar tahun 1982 dibangunlah jembatan yang sampai sekarang kita lewati bersama. Dengan wajah yang baru, jembatan ini tidak berwarna hitam lagi sehingga tidak ada penamaan yang jelas. Meskipun demikian, orang-orang masih ada yang menyebutkan “Brug Ireng” meskipun warnanya sudah tak hitam lagi dan orang-orang mulai mengganti dengan nama sebutan “Brug Santo”.

Sejak pertama kali berdiri, jembatan di cat berwarna kuning. Maklumlah waktu itu Soeharto yang lagi berkuasa dan waktu itu pula seluruh perangkat desa di bawah naungan kuningnya beringin maka tak heran segala yang berbau pembangunan di cat berwarna kuning. Pernah juga di cat berwarna hitam, hal ini mungkin untuk mengingatkan identitas bahwa sebenarnya jembatan ini yang dulu dikenal oleh banyak orang adalah “brug ireng”, namun tak berlangsung lama kemudian di cat lagi berwarna kuning. Sebutan warna “Brug Ireng” kini sudah tidak populer dulu lagi, kini masyarakat khususnya bagi generasi sekarang lebih memilih menyebut dengan nama “Brug Santo”.

Mengapa dinamakan “Brug Santo”? Bagi msyarakat Desa Kupu, pasti banyak yang mengenal Bapak Santo. Dia adalah “sang penunggu” jembatan. Tingalnya persis di sebelah kanan (dari timur) perempatan dengan membuka kios dagangan sembako (dulu) dan sekarang kiosnya dijadikan bengkel. Dahulu kios tokonya Bapak Santo paling rame dan sering dijadikan “tongkrongan” dan boleh dibilang perempatan tak pernah ada sepinya.

Saking seringnya orang menyebut nama “Brug Santo” sebagai tempat nongkrong, tempat menunggu angkutan atau tempat bermain, maka lama-kelamaan nama yang dulu dikenal dengan sebutan “Brug Ireng” perlahan-lahan mulai menghilang bahkan jarang terdengar lagi. Kini bila orang jauh menanyakan tentang Desa Kupu atau alamat orang Kupu, maka “Brug Santo” sering dijadikan patokan atau ancer-ancer dan tentunya hal ini sangat memudahkan pencarian alamat atau orang yang dimaksud.

Inilah secuil cerita tentang penamaan “Brug Santo” yang merupakan jembatan yang ada di Desa Kupu yang menghubungkan antara Kupu Kulon dan Kupu Wetan. Dari uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa sejarah penamaan suatu tempat tentu ada sesuatu yang melatarbelakanginya baik itu berasal dari orang atau peristiwa-peristiwa tertentu sebagaimana cerita tentang penamaan “Brug Ireng” yang berubah menjadi “Brug Santo”. Kira-kira pada tahun 2007, salah satu pondasi penyangga "Brug Santo" roboh akibat diterjang derasnya arus air pada waktu musim penghujan.

KONDISI DESA KUPU DISAAT DITINGGALKAN SEPARUH WARGANYA

Pada tahun 2011 jumlah penduduk masyarakat desa Kupu Kecamatan Dukuhturi Kabupaten Tegal berjumlah ± 6.000 (enam ribu) jiwa. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa mata pencaharian masyarakat Desa Kupu salah satunya adalah para pedagang Wartegan yang merantau di Jabodetabek. Kini masyarakat yang berprofesi menjadi petani sudah dapat dihitung dengan jari, mereka telah meninggalkan profesi sebagai petani lantaran sudah banyak yang jatuh bangkrut karena selalu merugi dan merugi bahkan lahan sawahpun banyak yang sudah berpindah tangan. Kalaupun masih memiliki, sawahnya disewakan ke orang lain dengan nilai sewanya hanya kisaran ratusan ribu per tahun. Hampir 40 persennya masyarakat desa Kupu adalah perantau, maka tidak heran banyak rumah-rumah yang “suwung” (rumah yang tidak berpenghuni) dan akan ada penghuninya lagi pada saat-saat mudik lebaran. Itupun tidak semua anggota keluarganya mudik. Kalaupun ada penghuninya, paling-paling dihuni oleh 2 atau tiga orang dan umumnya adalah orang tua (nenek-kakek) dan cucunya yang tinggal bersamanya. Boleh dipilang penduduk desa Kupu dalam satu keluarga inti (dalam satu rumah) pasti ada yang merantau. Meskipun banyak masyarakat yang merantau, kondisi Desa Kupu masih tertinggal jauh dengan desa-desa di sekitarnya. Kurangnya fasilitas-fasilitas yang dapat mendukung kemajuan sebuah desa terutama perputaran ekonomi masyarakat desa. Jika melihat desa-desa lain seperti Sidakaton, Sidapurna, Dukuhturi, Ketanggungan dll meskipun masyarakatnya sama-sama perantau, namun kondisi desa-desa tersebut telah lebih maju dalam hal penyediaan fasilitas-fasilitas yang memacu perkembangan sebuah desa (selain Puskesmas Kupu dan Pasar Kupu). Di desa-desa tetangga sudah ada fasilitas tenaga medis seperti bidan, dokter umum, fasilitas internet, bengkel motor, pom bensin mini, pengisian air isi ulang, penyewaan CD/Komik/rental PS, dan pusat-pusat perbelanjaan skala kecil (pasar dan toko-toko) sebagai sarana perputaran ekonomi di desa dan tersedianya sarana transportasi (angkutan desa) dalam menunjang perpindahan barang dan jasa. Coba tengok saja kondisi desa Kupu sekarang, fasilitas yang dikelola swasta (pribadi) dari mulai fasilitas internet belum tersedia, bidan praktek belum ada, praktek dokter umum (baru ada tapi belum menunjukkan aktivitasnya dalam pemberian pelayanan masyarakat setempat), pom bensin mini belum tersedia, tempat penyewaan CD/Komik/rental PS juga belum tersedia, dan pusat-pusat perbelanjaan juga masih sedikit sehingga para pembeli sering dikenakan harga yang tinggi karena merasa tidak ada saingan. Harga Aqua gallon yang umumnya dipasaran seharga Rp.13.000 dijual menjadi Rp.15.000 ribu. Sebelumnya pernah ada di beberapa blok terdapat toko kelontongan yang boleh dibilang cukup komplit untuk menyediakan berbagai kebutuhan, namun karena daya beli masyarakat yang menurun maka banyak toko kelontongan yang tutup karena tidak adanya perputaran uang dari masyarakat setempat. Faktor utamanya pada waktu itu adalah karena kondisi pertanian yang terpuruk. Hal ini sangat berpengaruh sekali terhadap kondisi perekonomian di wilayah desa Kupu. Pada tahun 80-90 an kondisi pertanian di desa Kupu boleh dibilang mengalami kemajuan yang cukup pesat dari hasil pertanian bawang merahnya, yang kemudian di susul dengan hasil panen cabe merah, kedelai dan padi. Waktu itu harga bawang bisa disetarakan dengan harga emas. Harga bawang merah pernah mencapai harga tertinggi Rp. 15 ribu rupiah per kilo. Lumayan bukan? Dan pada saat harga bawang merah anjlok pernah mencapai harga terendah Rp. 50 rupiah per kilo. Melihat kondisi pertanian yang dari tahun ke tahun baik dari segi produksi maupun harga jual selalu menurun dan petani selalu merugi, berpengaruh terhadap perekonomian karena daya beli masyarakat desa Kupu juga ikut menurun. Hal demikian telah banyak warga desa Kupu yang beralih profesi dari petani mencoba menjadi pedagang Warteg di Jakarta. Melakoni usaha ini juga ada juga yang berhasil dan banyak pula yang bangkrut. Salah satu ciri desa/daerah yang maju adalah tersedianya berbagai fasilitas dan banyaknya aktifitas sebagai dampak dari banyak munculnya fasilitas-fasilitas yang mampu secara mandiri memenuhi kebutuhannya sendiri. Berkembangnya sebuah desa tidak terlepas dari tingkat perekonomian masyarakat di suatu wilayah. Tingkat kemajuan yang dicapai setiap desa tidaklah sama. Banyak faktor yang mempengaruhi terhadap tingkat kemajuan yang dicapai oleh suatu desa, yaitu : 1.Potensi desa, yang mencakup potensi sumber daya alam, potensi penduduk warga desa beserta apartat desanya. 2.Adanya interaksi antara desa dengan kota atau rural interaction, mencakup di dalamnya perkembangan komunikasi dan lalu lintas. 3.Lokasi desa terhadap daerah-daerah disekitarnya. Suatu desa dapat dikatakan sebagai desa yang maju yaitu ketika desa tersebut sudah mampu mengembangkan semua potensi yang dimiliki secara optimal. Hal ini ditandai dengan kemampuan masyarakatnya untuk mengadakan interaksi dengan masyarakat luar, melakukan tukar-menukar barang dengan wilayah lain (fungsi perdagangan) dan kemampuan untuk saling mempengaruhi dengan penduduk di wilayah lain. Dari hasil interaksi tersebut, masyarakat dapat menyerap teknologi baru untuk memanfaatkan sumberdayanya sehingga proses pembangunan berjalan dengan baik. Desa Kupu yang secara administratif merupakan wilayah yang masuk dalam Kabupaten Tegal dan merupakan daerah agraris (pertanian), namun hampir semua penduduknya telah meninggalkan profesi sebagai petani. Dengan ditinggalkannya sawah sebagai tempat bercocok tanam, maka banyak sawah yang terlantar. Beralihnya profesi sebagai pedagang Warteg tentu akan berpengaruh terhadap kondisi perekonomian desa. Disaat mudik lebaran, terasa ada aktivitas penduduk karena adanya transaksi-transaksi ekonomi. Coba bayangkan apabila dalam satu orang membawa uang dari Jakarta minimal 2 juta, maka dari separuhnya jumlah penduduk desa Kupu minimal setengahnya dari uang yang didapat dari hasil merantau untuk dibelanjakan di daerah. Maka jika melihat hal demikian, tentu kondisi di desa terasa hidup karena adanya perputaran ekonomi yang sangat cepat dan hal ini tentu akan sangat perpengaruh terhadap kemajuan suatu desa. Namun sayangnya hal ini tidak berlangsung lama, setelah itu desa kembali sepi bagaikan desa mati yang tak ada aktivitasnya karena ditinggalkan separuh dari warganya untuk mengadu nasib di Jakarta. Kondisi seperti ini mungkin juga sama dengan kondisi desa-desa di Indonesia yang warganya perantau. Meminjam konsep “Balik Ndeso Mbangun Ndeso” apabila dapat diterapkan pada setiap masing-masing daerah, niscaya kemajuan desa akan diperoleh dan predikat desa tertinggal akan ditinggalkan.

(Imam Bukhori, 8-4-11 / 7-9-11)

Acungan Jempol Buat Pak Kepala Desa Achmad Sochidi

Sebuah Gebrakan Membangun Desa Kupu Menuju Desa Yang Berbenah

Desa Kupu adalah salah satu desa yang dapat dikatakan sebagai desa yang tertinggal khususnya dalam hal pembangunan. Hal ini dikarenakan faktor geografis yang tidak mendukung karena letaknya jauh dari perkotaan dan jauh dari pusat-pusat keramaian. Ditambah lagi terbelahnya desa Kupu oleh Sungai Kemiri yang membentang dari Selatan ke Utara dan Sungai yang membentang dari Timur ke Barat yang bertemu dengan kali Kemiri (orang menyebut dengan kali pertigaan Surajiwa).

Akses jalan menuju ke dan dari desa Kupu pun sangat terbatas karena di bagian barat terhampar luas sawah yang membentang sampai ke barat yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Brebes. Di sebelah utara hanya terdapat jalan inspeksi menghubungkan desa Sidakaton (Kemuren) yang jarang dilalui karena sempitnya jalan. Demikian pula di sebelah selatan desa yang berbatasan dengan desa Ketanggungan yang merupakan satu-satunya jalan alternatif yang ada dan sudah menjadi jalan yang dilalui Angkutan Desa Jurusan Tegal – Jatibarang.

Untuk menghubungkan desa yang terbelah, hanya mengandalkan 1 (satu) jembatan yang menghubungkan Kupu Timur dan Kupu Barat sehingga banyak sudut-sudut desa yang boleh dibilang tidak tersentuh oleh kaki-kaki manusia. Kondisi tersebut boleh dikatakan “matinya sebuah desa” karena tidak adanya akses yang saling terintegrasi untuk menghubunghkan antar sudut desa yang ada. Hal tersebut berakibat banyak masyarakat mengurungkan niatnya membeli tanah atau membangun rumah yang tidak memiliki akses jalan yang memadai.

Sudah hampir 35 tahun saya melihat kondisi Desa Kupu tidak ada kemajuan dalam hal infrastruktur jalan, saluran air maupun jembatan. Tengok saja jembatan Kali Pilang, pada tahun 1990-an masih menggunakan kayu dan kemudian di akhir kepemimpinan Lurah Sayidi (Alm) berinisiatif membangun jembatan dengan beton. Namun karena konstruksi jembatannya tidak kuat, jembatan belum jadi sudah rusak dan pembangunan terbengkalai karena kehabisan anggaran.

Masuk ke wilayah perkampungan desa, tidak tertatanya saluran air / got. Tengok saja di sepanjang jalan dari Pasar Kupu sampai Kupu Kulon (Jl. Sumber Bawang) tidak ada saluran air, kalaupun ada hanya di sebelah kanan atau kiri saja dan itupun tidak terintegrasi bahkan lebih parahnya lagi mengambil badan jalan seperti di depan SD Kupu I sehingga mempersempit luas jalan utama. Masuk ke dalam lagi di gang-gang jalan tidak adanya saluran air sehingga disaaat musim penghujan air menggenang dan mengikis jalan-jalan sehingga merusak jalan yang konon sudah beraspal.

Menengok pembangunan rumah warga, ditemukan kepadatan rumah-rumah warga sebagai contoh di Blok Kupu Kidul yang jumlah pembangunan rumah warga cukup pesat, namun jarang yang mempertimbangkan akses jalan, saluran air dan tempat pembuangan sampah. Tradisi masyarakat desa Kupu, pada umumnya menyarankan kepada anak-anaknya membangun ditempat pakarangan yang ditunjuk oleh orangtua. Pada umumnya, rumah inti (rumah lugu) memiliki halaman baik samping, depan dan belakang cukup luas, maka tempat yang kosong tersebut akan dibangun oleh anak-anaknya sesuai petunjuk orangtuanya. Apabila halaman kanan, kiri, depan dan belakang sudah terisi oleh rumah-rumah, maka yang sebelumnya ada akses jalan yang dilalaui oleh umum, maka menjadi hilang. Terkadang tidak ada toleransi untuk memberikan akses jalan karena lahan yang ada dihabiskan semua untuk dibangun.

Sebagai tetangga yang merasa aksesnya ditutup pun akan melakukan protes yang sama. Sebagai contoh, setiap rumah pasti memiliki saluran pembuangan air kotoran yang seharusnya selalu mengalir. Kebetulan saluran air itu harus melewati tetangga sebelah. Apabila si tetangga tidak boleh membuang saluran air yang melewati pekarangan tetangga, maka mau tidak mau harus membuat saluran air di pekarangan sendiri atau mengalirkan ke tempat lain. Permasalahan-permasalahan seperti itulah yang saat ini sedang terjadi di Desa Kupu yang perlu segera diselesaikan bersama.

Di sisi lain, misalnya di Blok Kupu Tengah bagian Utara yang wilayahnya masih banyak pekarangan (kebon-kebon) kosong, karena tidak adanya akses sehingga jarang sekali pembangunan rumah warga. Pada zaman lurah Sayidi dan Masroni, pernah digagas oleh Bapak Zainal Arifin membicarakan untuk membangun jalan tembus, namun karena ada salah satu warga yang menolak akhirnya rencana tersebut tidak terlaksana.

Namun, kabarnya saat ini pembangunan jalan tembus beserta saluran air sudah dilaksanakan. Melalui Kepala Desa Achmad Sochidi telah melakukan gebrakan untuk membangun desa Kupu menuju desa yang berbenah dengan melakukan pendekatan-pendekatan terhadap warga yang tanahnya terkena proyek jalan tembus dan pertimbangan-pertimbangan ke depan akan pentingnya jalan sehingga akhirnya merealisasikan pembangunan jalan tembus tersebut. Adapun tanah-tanah warga yang terkena pembuatan jalan adalah tanah milik:

1.      Ibu Hj. Sawi/Bapak Nawari

2.      Ibu Capi

3.      Bapak Ratno/Ibu Walik

4.      Bapak H. Umar Said

5.      Ibu Mujenah/Sayidi

6.      Bapak Kamilah

7.      Bapak Sakri

8.      Bapak H. Alamin

9.      Bapak Sodik

10.  Bapak Soli

Semoga dengan adanya jalan tembus tersebut, akan menjadikan desa Kupu lebih terintegrasi dengan jalan-jalan desa yang sudah ada. Hal yang perlu dipertimbangkan lagi ke depan adalah menyambut apabila terealisasi jalan tol Pejagan - Pemalang dimana menurut site plan pintu tol ada di desa Kupu, maka akan membuka peluang desa kupu untuk mudah diakses. Selain itu, nilai jual tanah akan tinggi dan tentunya akan meningkatkan perekonomian masyarakat desa Kupu.

Dengan disahkannya Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa dan PP No. 43 Tahun 2014, maka tiap desa akan mendapat kucuran dana dari pemerintah pusat melalui APBN lebih kurang 1 milyar per tahun. Melalui dana tersebut, mudah-mudahan dapat dimanfaatkan untuk membangun Desa Kupu dengan segala infrastruktur untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, langkah baik dan bijak yang dilakukan Bapak Kepala Desa Achmad Sochidi, saya mengacungkan jempol, karena baru kali ini ada gebrakan membangun desa dengan sederetan pembenahan-pembenahan (pengaspalan jalan dan pembuatan saluran air). Ke depan, saya menyarankan dilakukan pembenahan atau penambahan tanah untuk pemakaman dan pembenahan saluran irigasi di sawah. Terima kasih. (Imam Bukhori, 15/12/2014)

MENYATUKAN PANDANGAN DALAM SATU WADAH “KUPU UNITY”

Sebagaimana diketahui bersama bahwa wilayah Kupu terbagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu Kupu Kulon dan Kupu Wetan, namun masih dalam satu kesatuan (Kupu unity). Meskipun masih dalam satu kesatuan desa, masalah ke”egoan” antara Blok Kulon dan Blok Wetan sampai saat ini masih kita rasakan. Belum ada penelitian lebih lanjut mengapa terjadi keegoan masyarakat di 2 blok tersebut.

Sebagai contoh, kegiatan pemuda di kampung kita pernahkah melakukan kolaborasi kegiatan dalam satu kesatuan Kupu unity? Apabila saya perhatikan, semua blok memiliki cara masing-masing.

1.      'Di Bidang Kegiatan Keagamaan

Kita tengok Kupu Kulon Bagian Utara ada PRISKUBA. Kegiatannya mengadakan pengajian-pengajian hari besar Islam yang lingkup wilayah meliputi 3 Musholla. Kegiatan lain yaitu mengkoordinir warga di hari raya Idul Qurban melalui pelaksanaan hingga penyaluran Hewan Qurban. Kalo tidak salah PRISKUBA saat ini masih eksis.

Untuk Kupu Barat Bagian Tengah dahulu ada IRMB (Ikatan Remaja Baitul Muttaqin) yang lingkup wilayahnya di lingkungann Mushola Baitul Mutaqin. Kegiatannya meliputi pengajian-pengajian bulan Romadhon. Eksistensi IRMB saat ini saya sudah tidak mendengar lagi kabarnya. Informasi sekarang, di Mushola ini sekarang sedang tumbuh kegiatan pendidikan berbasis keagamaan (PAUD, TK, dan lembaga Diniyah Awaliyah serta pengajian-pengajian) di bawah naungan Yayasan Al-Tafsiriyah. Mudah-mudahan berjalan sesuai dengan tujuan mulia yaitu mencerdasakan anak bangsa melalui pendidikan agama.

Kupu Kulon Bagian Selatan, untuk bagian ini saya kurang paham betul ada tidaknya ikata remaja mushola. Tetapi yang saya ketahui di salah satu Mushola (konon sekarang orang bilang masjid) sering diadakan acara pengajian akbar bulanan berupa ISTIGHOSAH. Mudah-mudahan akan berlanjut syiarnya.

Kupu Wetan Blok Masjid Lor. Dahulu, sejak zamannya Ki Soleh masih, saya pernah mendengar adanya acara pengajian setelah Jumatan. Sekarang, saya tidak mengetahuinya lagi setelah sepeninggalnya Almarhum Ki Soleh Markidi. Mudah-mudahan ada penerusnya.

Kupu Wetan Blok Masjid Al-Muawanah (Masjid Jami Kupu), dahulu ada pengajian Reboan yang diselenggarakan setiap hari Rabu. Alhamdulillah sampai saat ini masih berjalan. Secara lokasi, tempat ini berada di tengah-tengah desa, maka sangat strategis untuk syiar.

Masalah peringatan hari besar Islam, dahulu memang pernah ada panitia yang secara khusus menyelenggarakan acara pengajian yang dilakukan secara bergilir (kurang lebih ada 14 Musholah dan 2 Masjid). Panitia itu dikenal PHBI (Panitia Peringatan Hari Besar Islam) yang ketua dan anggotanya dari pengurus Masjid dan Mushola. Namun, entah kenapa akhir-akhir ini kegiatan PHBI tidak terdengar serutin dahulu. Ini perlu dihidupkan kembali melalui penyatuan visi dan misi dengan melibatkan ulama, tokoh masyarakat, pemuda dan pemerintah setempat.

Di bidang keagamaan, untuk generasi sebelum kita (orang tua) boleh dibilang lebih solid.

2.      'Di bidang Kegiatan Sosial

Sebenarnya banyak hal kegiatan di bidang sosial, salah satunya yaitu kegiatan Peringatan 17 Agustus. Pada kegiatan inilah sangat kentara keegoan masing-masing blok. Selama ini, apakah dalam acara 17 Agustusan pernah ada kerja sama membuat acara besar dalam memperingati HUT RI dalam satu kesatuan Kupu Unity? Itu hanya salah satu contoh. Mungkin dalam hal lain yang sifatnya kepentingan bersama membasmi tikus di sawah. Dahulu, petani-petani di kampung kita kompak mengadakan basmi tikus karena waktu itu hama tikus menyerang lahan pertanian.

3.      'Di bidang lain

Sebenarnya banyak warga Kupu yang memiliki organisasi-organisasi yang tujuannya adalah mempererat tali silaturahmi. Yang santri memiliki ikatan Santrinya, yang pedagang warteg memiliki ikatan pedagang wartegnya, yang perantau memiliki ikatan Persatuan Perantauan Warga Kupu di Jakarta dan lain-lain.

4.      'Peran Pemerintah Desa

Keegoan antar blok memang bukan menjadi isu baru. Isu tersebut memang sudah dirasakan oleh kepala desa kita. Melalui pemerintah desa saat ini, Bapak Achmad Sochidi telah melakukan beberapa pendekatan untuk menyatukan Pemuda/Pemudi Desa Kupu dengan menunjuk beberapa pemuda/pemudi  dan berencana mendirikan sebuah KARANG TARUNA.

Tidak mudah memang menyatukan pandangan. Setidaknya sudah ada usaha yang telah dilakukan. Dibutuhkan kesadaran masing-masing pihak dan menyampingkan keegoan kita, Insya Allah warga kupu menjadi solid dalam satu wadah “KUPU UNITY” . 

(Imam Bukhori, 1/12/2014)