Kepaksian Sekala Brak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Kepaksian Sekala Brak (Baca: Sekala Bekhak) adalah sebuah Kepaksian di Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung. Oleh beberapa pengamat sejarah asal Lampung Barat, Sekala Brak sering dianggap sebagai tempat asal bangsa Lampung. Hal ini dibantah oleh banyak pihak mengingat kisah tersebut hanya berdasar dongeng tanpa bukti-bukti yang kuat. Teori bahwa Kepaksian Sekala Brak sebagai asal usul suku Lampung digembar-gemborkan oleh orang-orang Lampung Barat terutama yang memiliki kedekatan khusus dengan Kepaksian tersebut.

Pendukung Edward Syah Pernong, yang diakui oleh para pendukungnya sebagai Sultan, diduga berusaha melegitimasi teori Sekala Brak dengan cara membuat buku yang lebih mirip Company Profile, lalu disebar luaskan ke berbagai media termasuk media online seperti Wikipedia dan Blog. Kekeliruan (baik disengaja ataupun tidak) ini telah menimbulkan kesalahpahaman di mata masyarakat.

Teori Diandra Natakembahang & Pengamat Asal Lampung Barat[sunting | sunting sumber]

Gembar-gembor bahwa Sekala Brak adalah asal usul bangsa / suku Lampung dipopulerkan (bukan dimulai) oleh Diandra Natakembahang. Seorang anggota keluarga Kepaksian Sekala Brak yang menulis buku tentang Sekala Brak pada tahun 2005. Buku yang lebih mirip Profil Perusahaan ini lalu di paste ke berbagai koran, blog, hingga Wikipedia

Buku karya Diandra Natakembahang dianggap kontroversial karena ditulis dengan terlalu banyak melibatkan faktor emosional dan kepentingan. Dalam beberapa bagian, ia dianggap terlalu berani karena memenggal dan menyimpangkan konteks kalimat dan maksud dari buku yang dijadikan bahan rujukan. Diandra dengan mentah mengutip kalimat dalam buku tanpa memilah apakah kalimat tersebut merupakan kesaksian dari narasumber ataukah hasil kajian dan penelitian. Berikut adalah teori yang dikemukakan Diandra yang dianggap kontroversial :

  1. Teori bahwa kata LAMPUNG berawal dari kata "Anjak Lambung"*A berarti berasal dari ketinggian (Diandra Natakembahang:2005). Teori ini dianggap tidak berdasar karena penulis tidak melampirkan penjelasannya dan sejarah penggunaannya.
  2. Teori bahwa To-Langpohwang yang diucapkan oleh I-Tsing berarti "Orang Atas" dalam bahasa Hokkian, sangat lemah dan diragukan. Sebab dalam bahasa Hokkian klasik maupun modern tidak ditemukan kata-kata tersebut maupun yang mirip dengannya. Justru kata "To-Langpohwang" lebih cocok jika dikaitkan dengan nama Tulang Bawang karena cataan Tiongkok kuna baik Liu Sung Shu (Abad ke 4 M.) maupung Tai-ping Huan Yuchi (Abad ke 7 M.) menyebutkan bahwa To-Langpohwang berada di sekitar Pantai Tenggara Sumatera, dan bukan di Pegunungan sebelah Barat.
  3. Tafsiran para ahli purbakala seperti Groenevelt, L.C.Westernenk dan Hellfich sering dijadikan dasar klaim oleh pendukung teori Sekala Brak. Namun menurut kelompok penentang teori tersebut, para ahli tersebut tidak pernah menyatakan bahwa Sekala Brak sebagai asal usul bangsa Lampung.
  4. Sebelum Majapahit menyerang negeri-negeri di sebelah Timurnya, di Pulau Sumbawa telah berdiri Kerajaan Tertua di Nusa Tenggara yaitu Kerajaan Tua Dompu yang bercorak Hindu-Budha. Pendiri atau Raja Pertama kerajaan tersebut adalah Putera Raja Tulang Bawang dan itu diakui oleh masyarakat Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Bahkan Pemerintah Kabupaten Dompu dalam situs resminya telah mengakui itu.
  5. Diandra memenggal dan menampilkan terjemahan kalimat dalam buku William Marsden The History of Sumatra', 1779', secara tidak lengkap. Sebelumnya Diandra menuliskan kutipan buku William Marsden sebagai berikut :

"If you ask the Lampoon people of these part, where originally comme from they answere, from the hills, and point out an island place near the great lake whence, the oey, their forefather emigrated…".

"Apabila tuan-tuan menanyakan kepada Masyarakat Lampung tentang dari mana mereka berasal, mereka akan menjawab dari dataran tinggi dan menunjuk ke arah Gunung yang tinggi dan sebuah Danau yang luas.."

Diandra dkk. menyunat beberapa kata yang sangat penting, yaitu "Apabila tuan-tuan menanyakan kepada Masyarakat Lampung di bagian ini tentang darimana mereka......"

Konteks kalimat tersebut sedang membicarakan masyarakat pantai Barat Daya negeri Lampung. Lengkapnya adalah :

"It is probably within but a very few centuries that the south-west coast of this country has been the habitation of any considerable number of people; and it has been still less visited by strangers, owing to the unsheltered nature of the sea thereabouts, and want of soundings in general, which renders the navigation wild and dangerous for country vessels; and to the rivers being small and rapid, with shallow bars and almost ever a high surf. If you ask the people OF THESE PARTS from whence they originally came they answer, from the hills, and point out an inland place near the great lake from whence they say their forefathers emigrated: and further than this it is impossible to trace".

"......Apabila anda bertanya kepada orang-orang Lampung di bagian ini (Pesisir pantai Barat/Barat Daya negeri Lampung yaitu Lampung Barat yang ditemui oleh William Marsden) tentang dari mana mereka berasal, mereka akan menjawab dari dataran tinggi dan menunjuk ke arah Gunung yang tinggi dan sebuah Danau yang luas....." Pembahasan penggalan kalimat kunci :

  1. The south-west coast of this country : Pantai/Pesisir Barat Daya dari negeri Lampung tentu Lampung Barat
  2. less visited by strangers : kurang/jarang didatangi orang asing pendatang
  3. unsheltered nature of the sea thereabouts : tentu yang dimaksud Samudera Hindia
  4. ever a high surf : sungai yang dimaksud lebih dekat pada Way Besai di Lampung Barat
  5. the people of these parts : orang-orang yang ditanya pada bagian Lampung Barat (sesuai deskripsi diatas)
  6. it is impossible to trace : mustahil untuk dilacak kebenarannya

Dari penjabaran diatas, dapat kita ketahui bahwa sesungguhnya buku tersebut tidak menyatakan bahwa asal usul bangsa Lampung dari Skala Brak. Namun itu hanya pengakuan dari masyarakat yang ada di wilayah pantai Barat / Barat daya dari negeri Lampung. Selain itu Diandra tidak mempertimbangkan bahwa William Marsden adalah seorang Sekretaris Presiden Benteng Marlborough di Bengkulu yang berbatasan langsung dengan Lampung Barat.

Sekala Brak Bukan Asal Usul Orang Lampung[sunting | sunting sumber]

Ada klaim dari Kepaksian Skala Brak bahwa Skala Brak adalah asal usul bangsa Lampung yang kemudian menyebar ke berbagai penjuru Lampung, tidak terkecuali ke Kalianda. Menurut klaim ini Skala Brak awalnya dihuni oleh Kerajaan Skala Brak Hindu yang kemudian diserbu oleh Empat Umpu asal Pagaruyung yang beragama Islam pada pertengahan abad ke-16. Tepatnya setelah Sultan Alif Khalifatullah dinobatkan sebagai pemimpin Kerajaan Pagaruyung pada sekitar tahun 1560 (Mardjamni Martamin, et.al., 2002:122). Lalu keturunan dari Pagaruyung inilah yang diklaim sebagai Empat Umpu yang mendirikan Sekala Brak dan keturunannya menyebar hingga menjadi suku bangsa Lampung saat ini.

Teori ini ditentang keras oleh para pengamat yang memahami sejarah nusantara. Beberapa bantahan yang diungkapkan adalah :

1. Pada tahun 1520, Hasanudin (anak Sunan Gunung Jati) sudah melakukan dakwah di Lampung. Tentu dakwah tidak mungkin dilakukan apabila di Lampung (terutama bagian selatan) belum ada penduduknya. Artinya sebelum tahun 1520 di Lampung (terutama bagian selatan yang berbatasan dengan P. Jawa) sudah ada penduduknya.

2. Sebelum tahun 1550, Gugusan Krakatau dan Bandar Lampung sudah turun-temurun dihuni oleh masyarakat Lampung yang hidup dari hasil hutan, sarang burung, dan lada. (De Sumatra Post 1936) [1].

Dari 2 poin diatas, maka teori Kepaksian Skala Brak sebagai asal usul suku Lampung terpatahkan.

Klaim Kepaksian Sekala Brak ini juga ditentang oleh Lembaga Adat Megouw Pak (Tulang Bawang) yang mengklaim bahwa nama To-Langpohwang yang disebutkan oleh I-Tsing lebih kuat kepada sebutan untuk Kerajaan Tulang Bawang. MPAL (Majelis Penyimbang Adat Lampung) juga membantah klaim dari Sekala Brak tersebut. Menurut MPAL di wilayah Lampung, seluruh Marga memiliki kedudukan sejajar dan tidak ada pemimpin antar marga. Sedangkan manuver yang dilakukan oleh Edwarsyah Pernong saat ini yang mengklaim dirinya sebagai Sultan, seolah ingin meninggikan dirinya dibanding marga-marga lainnya.

Penolakan juga datang dari Marga Rajabasa, Kalianda, atas tindakan Edwardsyah Pernong yang mengukuhkan Pangeran Penyimbang Agung sebagai Kepala Marga Rajabasa tandingan. Padahal berdasarkan surat-surat resmi pemerintah Hindia-Belanda yang terkumpul dalam buku Adatrechtbundels XXXII: Zuid-Sumatra, dan koran-koran berbahasa Belanda seperti De Sumatra Post, Bataviaasch Niuwsblad, dan beberapa media lainnya, kepala marga Rajabasa adalah keturunan Pangeran Minak Putra.

Teori Etimologi Sekala Brak[sunting | sunting sumber]

Ada beberapa teori tentang etimologi Sekala Brak (Diandra Natakembahang:2005), yaitu:

  • Sakala Bhra yang berarti titisan dewa (terkait dengan Kerajaan Sekala Brak Kuno)
  • Segara Brak yang berarti genangan air yang luas (diketahui sebagai Danau Ranau)
  • Sekala Brak yang berarti tumbuhan sekala dalam jumlah yang banyak dan luas (tumbuhan ini banyak terdapat di Pesagi dan dataran tingginya)

Pendapat Sejarawan dan Catatan Tentang Sekala Brak[sunting | sunting sumber]

Menurut Zawawi Kamil (Menggali Babad & Sedjarah Lampung) disebutkan dalam sajak dialek Komering/Minanga: "Adat lembaga sai ti pakaisa buasal jak Belasa Kapampang, Sajaman rik tanoh Pagaruyung pemerintah Bundo Kandung, Cakak di Gunung Pesagi rogoh di Sekala Berak, Sangon kok turun temurun jak ninik puyang paija, Cambai urai ti usung dilom adat pusako" Terjemahannya berarti "Adat Lembaga yang digunakan ini berasal dari Belasa Kepampang (Nangka Bercabang), Sezaman dengan ranah Pagaruyung pemerintah Bundo Kandung (pada abad 15), Naik di Gunung Pesagi turun di Sekala Berak, Memang sudah turun temurun dari nenek moyang dahulu, Sirih pinang dibawa di dalam adat pusaka, Kalau tidak pandai tata tertib tanda tidak berbangsa".

Ada indikasi bahwa pada abad ke 3 telah berdiri sebuah kerajaan yang belum diketahui secara pasti kapan mulai berdirinya. Kerajaan ini dihuni oleh Buay Tumi dengan Ibu Negeri Kenali dan Agama resminya adalah Hindu Bairawa dan Budha. Hal ini dibuktikan dengan adanya Batu Kepampang di Kenali yang fungsinya adalah sebagai alat untuk mengeksekusi Pemuda dan Pemudi yang tampan dan cantik sebagai tumbal dan persembahan untuk para Dewa.

Riwayat leluhur masyarakat Lampung Barat / Sekala Brak dapat ditelusuri melalui warahan (cerita turun temurun),tambo (catatan pada kulit kayu),maupun hahiwang (puisi/syair adat). Di lereng gunung Pesagi,dapat ditemukan berbagai peninggalan lain,seperti bebatuan yang tersebar di gunung Pesagi,tapak bekas kaki,altar/tempat eksekusi muda-mudi.

Lamban Gedung Buay Belunguh, Kenali

Berdasarkan Warahan dan Sejarah yang disusun di dalam Tambo, dataran Sekala Brak yang pada awalnya dihuni oleh suku bangsa Tumi ini mengagungkan sebuah pohon yang bernama Belasa Kepampang atau nangka bercabang karena pohonnya memiliki dua cabang besar, yang satunya nangka dan satunya lagi adalah sebukau yaitu sejenis kayu yang bergetah. Keistimewaan Belasa Kepampang ini bila terkena cabang kayu sebukau akan dapat menimbulkan penyakit koreng atau penyakit kulit lainnya, namun jika terkena getah cabang nangka penyakit tersebut dapat disembuhkan. Karena keanehan inilah maka Belasa Kepampang ini diagungkan oleh suku bangsa Tumi.

Berdirinya Kepaksian Sekala Brak[sunting | sunting sumber]

Sultan Kepaksian Sekala Brak, dari kiri : Sultan Kepaksian Nyerupa, Sultan Kepaksian Bejalan Diway, Sultan Kepaksian Pernong, dan Sultan Kepaksian Belunguh

Diriwayatkan di dalam Tambo bahwa para Pendiri Paksi Pak Sekala Brak adalah berasal dari Pagaruyung. Sebagaimana Mataram, Kutai dan Pagaruyung, Sekala Brak mengalami dua era yaitu era Keratuan Hindu Budha dan era Kesultanan Islam. Para Pendiri Paksi Pak Sekala Brak masing masing adalah:

  1. Umpu Bejalan Di Way Beliau adalah Pendiri Paksi Buay Bejalan Diway memerintah dan dimakamkan di Puncak, Sukarami Liwa
  2. Umpu Belunguh Beliau adalah Pendiri Paksi Buay Belunguh memerintah di Barnasi, Belalau
  3. Umpu Nyerupa. Beliau adalah Pendiri Paksi Buay Nyerupa memerintah di Tampak Siring, Sukau
  4. Umpu Pernong. Beliau adalah Pendiri Paksi Buay Pernong memerintah di Henibung, Batu Brak
Lambang Paksi Buay Bejalan Diway

Umpu berasal dari kata Ampu seperti yang tertulis pada batu tulis di Pagaruyung yang bertarikh 1358 A.D. Ampu Tuan adalah sebutan Bagi anak Raja Raja Pagaruyung Minangkabau. Setibanya di Sekala Brak keempat Umpu bertemu dengan seorang Muli yang ikut menyertai para Umpu dia adalah Si Bulan. Di Sekala Brak keempat Umpu tersebut mendirikan suatu perserikatan yang dinamai Paksi Pak yang berarti Empat Serangkai atau Empat Sepakat.

Kedatangan para Umpu Pendiri Paksi ini tidaklah bersamaan, berdasarkan penelitian terakhir diketahui bahwa menyebarnya Agama Islam dan pembaharuan Adat dilakukan setelah kedatangan Umpu Belunguh ke Sekala Brak yang memerangi Sekerumong dan akhirnya dimenangkan oleh perserikatan Paksi Pak sehingga dimulailah era Kesultanan Islam di Sekala Brak. Sedangkan penduduk yang belum memeluk agama Islam melarikan diri ke Pesisir Krui dan terus menyeberang ke pulau Jawa dan sebagian lagi ke daerah Palembang. Raja terakhir dari Buway Tumi Sekala Brak adalah Kekuk Suik sebagai anak laki-laki dari Ratu Sekeghumong dengan wilayah kekuasaannya yang terakhir di Pesisir Selatan Krui -Tanjung Cina.

Dataran Sekala Brak akhirnya dikuasai oleh keempat Paksi yang disertai Si Bulan, Maka Sekala Brak kemudian diperintah oleh keempat Paksi dengan menggunakan nama Paksi Pak Sekala Brak. Inilah cikal bakal Kepaksian Sekala Brak yang merupakan puyang bangsa Lampung. Kepaksian Sekala Brak mereka bagi menjadi empat Marga atau Kebuwayan yaitu:

  1. Umpu Bejalan Di Way memerintah daerah Kembahang dan Balik Bukit dengan Ibu Negeri Puncak, daerah ini disebut dengan Paksi Buay Bejalan Di Way.
  2. Umpu Belunguh memerintah daerah Belalau dengan Ibu Negerinya Kenali, daerah ini disebut dengan Paksi Buay Belunguh.
  3. Umpu Nyerupa memerintah daerah Sukau dengan Ibu Negeri Tapak Siring, daerah ini disebut dengan Paksi Buay Nyerupa.
  4. Umpu Pernong memerintah daerah Batu Brak dengan Ibu Negeri Hanibung, daerah ini disebut dengan Paksi Buay Pernong

Sedangkan Si Bulan mendapatkan daerah Cenggiring namun kemudian Si Bulan berangkat dari Sekala Brak menuju ke arah matahari hidup. Dan daerah pembagiannya digabungkan ke daerah Paksi Buay Pernong karena letaknya yang berdekatan.

Bendera Lambang Paksi Buay Belunguh, Pakhu Sukha (pakis hutan)

Suku bangsa Tumi yang lari kedaerah Pesisir Krui menempati marga marga Punggawa Lima yaitu Marga Pidada, Marga Bandar, Marga Laai dan Marga Way Sindi namun kemudian dapat ditaklukkan oleh Lemia Ralang Pantang yang datang dari daerah Danau Ranau dengan bantuan lima orang punggawa dari Paksi Pak Sekala Brak. Dari kelima orang punggawa inilah nama daerah ini disebut dengan Punggawa Lima karena kelima punggawa ini hidup menetap pada daerah yang telah ditaklukkannya.

Agar syiar agama Islam tidak mendapatkan hambatan maka pohon Belasa Kepampang itu akhirnya ditebang untuk kemudian dibuat PEPADUN. Pepadun adalah singgasana yang hanya dapat digunakan atau diduduki pada saat penobatan SAIBATIN Raja Raja dari Paksi Pak Sekala Brak serta keturunan keturunannya. Dengan ditebangnya pohon Belasa Kepampang ini merupakan pertanda jatuhnya kekuasaan suku bangsa Tumi sekaligus hilangnya faham animisme di kerajaan Sekala Brak. Sekitar awal abad ke 9 Masehi para Saibatin di Sekala Brak menciptakan aksara dan angka tersendiri sebagai Aksara Lampung yang dikenal dengan Had Lampung.

Pepadun, pohon yang disembah suku Tumi

Ada dua makna di dalam mengartikan kata Pepadun, yaitu:

  1. Dimaknakan sebagai PAPADUN yang maksudnya untuk memadukan pengesahan atau pengakuan untuk mentahbiskan bahwa yang duduk di atasnya adalah Raja.
  2. Dimaknakan sebagai PAADUAN yang berarti tempat mengadukan suatu hal ihwal. Maka jelaslah bahwa mereka yang duduk di atasnya adalah tempat orang mengadukan suatu hal atau yang berhak memberikan keputusan.

Ini jelas bahwa fungsi Pepadun hanya diperuntukkan bagi Raja Raja yang memerintah di Sekala Brak. Atas mufakat dari keempat Paksi maka Pepadun tersebut dipercayakan kepada seseorang yang bernama Benyata untuk menyimpan, serta ditunjuk sebagai bendahara Pekon Luas, Paksi Buay Belunguh dan kepadanya diberikan gelar Raja secara turun temurun.

Manakala salah seorang dari keempat Umpu dan keturunannya memerlukan Pepadun tersebut untuk menobatkan salah satu keturunannya maka Pepadun itu dapat diambil atau dipinjam yang setelah digunakan harus dikembalikan. Adanya bendahara yang dipercayakan kepada Benyata semata mata untuk menghindari perebutan atau perselisihan di antara keturunan keturunan Paksi Pak Sekala Brak dikemudian hari.

Pada Tahun 1939 terjadi perselisihan di antara keturunan Benyata memperebutkan keturunan yang tertua atau yang berhak menyimpan Pepadun. Maka atas keputusan kerapatan adat dengan persetujuan Paksi Pak Sekala Brak dan Keresidenan, Pepadun tersebut disimpan dirumah keturunan yang lurus dari Umpu Belunguh hingga sekarang.

== Silsilah Paksi Pak Sekala Brak ==

Lamban gedung buay pernong

Silsilah Paksi Bejalan Di Way :

1. Ratoe Bejalan Di Way

2. Ratoe Tunggal

3. Kun Tunggal Simbang Negara

4. Ratoe Mengkuda Pahawang

5. Puyang Rakian

6. Puyang Raja Paksi

Sultan Kepaksian Buay Nyerupa, Puniakan Dalom Salman Parsi

7. Dalom Sangun Raja

8. Raja Junjungan

9. Ratoe Mejengau

10. Pangeran Siralaga

11. Dalom Suluh Iroeng

12. Pangeran Nata Marga

13. Pangeran Raja Di Lampoeng

14. Pangeran Jaya Kesuma I

15. Pangeran Pakoe Alam

16. Pangeran Puspa Negara

17. Pangeran Jaya Kesuma II

18. Ratoe Kemala Jagat

19. Suntan Jaya Kesuma III

20. Suntan Jaya Kesuma IV

Silsilah Paksi Nyerupa :

Sultan Paksi buay pernong, gelar Pun beliau Suttan Pangeran raja selalau yang dipertuan sekala brak XXIII

1. Ratoe Nyeroepa

2. Si Gadjah Adoq Ratoe Piekoeloen

3. Tjerana Adoq Dalom Piekoeloen

4. Si Gadjah Adoq Ratoe Piekoeloen

5. Tjerana Adoq Dalom Piekoeloen

6. Si Gadjah Adoq Ratoe Piekoeloen

7. Melawan Adoq Pangeran Piekoeloen

8. Si Rasan Adoq Piekoeloen Ratoe Di Lampoeng

9. Melawan Batin Joenjoengan Adoq Piekoeloen Ratoe Di Lampoeng

10. Si Rasan Adoq Dalom Poerba Jagat Piekoeloen

11. Si Gadjah Adoq Dalom Ratoe Piekoeloen

12. Tjerana Adoq Ratoe Piekoeloen

13. Si Gadjah Batin Mengunang Adoq Piekoeloen Bala Seriboe

14. Si Pokok Adoq Dalom Piekoeloen

15. Si Gadjah Adoq Batin Piekoeloen

16. Merah Hakim Adoq Suntan Ali Akbar

17. Merah Hasan Adoq Suntan Ratoe Piekoeloen

18. Merah Hadis Adoq Dalom Baginda Raja

19. Syaifullah Hakim Adoq Suntan Akbarsyah

20. Salman Marga Alam Adoq Ratoe Piekoeloen Djayadiningrat

21. Dwi Tjakrawati Adoq Ratoe Piekoeloen Permata Alam

Silsilah Paksi Belunguh:

Sultan kepaksian Belunguh, Pun Beliau Suttan Pangeran Junjungan Sakti II

1. Oempoe Beloengoeh

2. Oempoe Siak

3. Oempoe Depati Djoendjoengan Sakti

4. Raja Keraton Batin

5. Pangeran Bala Seriboe I

6. Dalom Permata Djagat

7. Pangeran Bala Seriboe II

8. Pangeran Poeloen I

9. Pangeran Bala Seribu III

10. Pangeran Djaja Di Lampoeng I

11. Pangeran Bala Seriboe IV

12. Batin Dengian

13. Pangeran Djaja Di Lampoeng II

Pangeran Djajadilampoeng II,Sultan paksi buay belunguh saat zaman Belanda

14. Suttan Ratoe Pikoeloen

15. Pangeran Permata Djagat II

16. Pangeran Djoendjoengan Sakti II

Silsilah Paksi Pernong:

1. Ratoe Pernong

2. Oempoe Semula Jadi

3. Oempoe Semula Raja

4. Raja Selalau Sangoen Guru

5. Oempoe Depati Nyalawati

6. Ratu Depati Raja Sutan

7. Raja Dunia

8. Batin Sasuhunan

9. Oempoe Batin Ratu

10. Raja Dunia Muda

11. Pangeran Singa Diraja

12. Pangeran Poerba

13. Pangeran Alip Jaya

14. Pangeran Batin Sekehandak

15. Pangeran Batin Pasirah Purbajaya

16. Pangeran Sempurna Jaya

17. Sutan Makmur Dalom Nata Diraja

18. Sutan Lela Muda

19. Sultan Sempurna Jaya

20. Sutan Raja Selalau Dengian Paksi

Lambang Kepaksian Buay pernong

Perpindahan Warga Negeri Sekala Brak[sunting | sunting sumber]

Perpindahan Warga Negeri Sekala Brak ini bukannya sekaligus melainkan bertahap dari waktu ke waktu yang dipengaruhi oleh beberapa peristiwa penting di dalam sejarah seperti:

  1. Ketika suku bangsa Tumi yang mendiami Sekala Brak terusir dan Skala Brak jatuh ketangan Paksi Pak Sekala Brak, hingga mereka menyebar kedaerah lain.
  2. Perselisihan dan silang sengketa dikalangan keluarga yang mengakibatkan satu fihak meninggalkan Sekala Brak untuk mencari penghidupan ditempat lain.
  3. Adanya bencana alam berupa gempa bumi yang memaksa sebagian Warga Negeri Sekala Brak untuk berpindah dan mencari penghidupan yang baru.
  4. Perpindahan juga terjadi disebabkan peraturan adat yang mengikat yang menetapkan semua hak hak adat jatuh atau diwarisi oleh Putera Tertua, sehingga anak anak yang muda dipastikan tidak sepenuhnya memiliki hak apalagi kedudukan tertentu di dalam adat. Dengan cara memilih untuk pindah kedaerah yang baru maka dapat dipastikan mereka memiliki kedudukan dan tingkatan di dalam adat yang mereka bentuk sendiri ditempat yang baru.
keris emas hadiah sultan banten terhadap paksi buay belunguh

Ketetapan Adat Tentang Pepadun dan Hirarki Adat dalam Kepaksian[sunting | sunting sumber]

Seperti telah diterangkan terdahulu Pepadun dibuat dari Belasa Kepampang yang dibuat sedemikian rupa menjadi singgasana tempat bertahtanya Raja yang dinobatkan di Paksi Pak Sekala Brak. Ketetapan adat bahwa hanya keturunan yang lurus dan tersulung dari Paksi Pak Sekala Brak yang berhak untuk dapat duduk di atas Pepadun itu dalam gawi penobatan Raja sebagai Saibatin. Dengan demikian adat Pepadun seperti yang terdapat di daerah Lampung lainnya tidak seperti daerah asalnya di Sekala Brak.

Pertimbangan untuk menaikkan atau menurunkan pangkat adat seseorang dilakukan dalam permufakatan sidang adat dengan memperhatikan kesetiaan seseorang kepada garis dan aturan adat dinilai telah memenuhi syarat dan mematuhi garis, ketentuan dan aturan adat, untuk seterusnya keturunannya dapat dipertimbangkan untuk dinaikkan setingkat pangkat adatnya. Namun jika yang terjadi sebaliknya kemungkinan untuk keturunannya pangkat adat itu tetap atau bahkan diturunkan.

Pertimbangan yang kedua untuk menaikkan pangkat adat seseorang adalah dengan melihat jumlah bawahan dari seseorang yang akan dinaikkan pangkat adatnya. Seseorang yang yang menyandang pangkat adat atau Gelaran yang disebut ADOK harus memiliki bawahan yang berbanding dengan kedudukan pangkat adatnya.

Pangeran Ahmad syafe'i gelar Suttan Ratu Pikulun, anak dari Suttan Pangeran Djajadilampoeng II

Tingkatan tertinggi dalam adat adalah Saibatin Suntan. Untuk dapat mencapai Gelaran atau Adok dan kedudukan atau pangkat adat ditentukan oleh berapa banyak bawahan atau pengikut dari seseorang. Hirarki Adat dalam Kepaksian Sekala Brak dari yang tertinggi sampai yang terendah adalah:

  1. Suntan
  2. Raja
  3. Batin
  4. Radin
  5. Minak
  6. Kemas
  7. Mas

Petutughan atau panggilan dalam Masyarakat Adat Lampung adalah berdasarkan hirarki seseorang di dalam adat. Untuk panggilan kakak adalah Pun dan Ghatu untuk Suntan, Atin untuk Raja, Udo Dang dan Cik Wo untuk Batin, Udo dan Wo untuk Radin, Udo Ngah dan Cik Ngah untuk Minak, Abang dan Ngah untuk Mas serta kakak untuk Kemas. Sedangkan panggilan untuk orang tua adalah Akan dan Ina Dalom untuk Suntan, Aki dan Ina Batin untuk Raja, Ayah dan Ina Batin untuk Batin sedangkan untuk Radin, Mas dan Kimas menggunakan panggilan Mak dan Bak. Panggilan kepada setingkat panggilan orang tua seperti paman dan bibi adalah; Pak Dalom dan Ina Dalom untuk Suntan, Pak Batin dan Ina Batin untuk Raja, Tuan Tengah- dan Cik Tengah untuk Batin, Pak Balak dan Ina Balak untuk Radin, Pak Ngah dan Mak Ngah untuk Minak, Pak Lunik dan Ina Lunik untuk Mas serta Pak Cik dan Mak Cik untuk Kemas. Panggilan untuk kakek-nenek adalah Tamong Dalom dan Kajong Dalom untuk setingkat Suntan, Tamong Batin dan Kajong Batin untuk setingkat Raja dan Batin sedangkan untuk Radin, Minak, Mas dan Kemas menggunakan panggilan Tamong dan Kajong saja.

Lamban gedung buay bejalan diway

Gelaran atau Adok -DALOM, SUNTAN, RAJA, RATU, panggilan seperti PUN dan SAIBATIN serta nama LAMBAN GEDUNG hanya diperuntukkan bagi Saibatin dan keluarganya dan dilarang dipakai oleh orang lain. Dalam garis dan peraturan adat tidak terdapat kemungkinan untuk membeli Pangkat Adat, baik dengan Cakak Pepadun atau dengan cara cara lainnya terutama di dataran Skala Brak sebagai warisan resmi dari kerajaan Paksi Pak Sekala Brak.

Tentang kepangkatan seseorang dalam adat tidaklah dapat dinilai dari materi dan kekuatan yang dapat menaikkan kedudukan seseorang di dalam lingkungan adat, melainkan ditentukan oleh asal, akhlak dan banyaknya pengikut seseorang dalam lingkungan adat. Bilamana ketiganya terpenuhi maka kedudukan seseorang di dalam adat tidak perlu dibeli dengan harta benda atau diminta dan akan dianugerahkan dengan sendirinya.

Kesempatan untuk menaikkan kedudukan seseorang di dalam adat dapat pula dilaksanakan pada acara Nayuh atau Pernikahan, Khitanan dan lain lain. Pengumuman untuk Kenaikan Pangkat ini, dilaksanakan dengan upacara yang lazim menurut adat di antara khalayak dengan penuh khidmat diiringi alunan bunyi Canang disertai bahasa Perwatin yang halus dan memiliki arti yang dalam.

Bahasa Perwatin adalah ragam bahasa yang teratur, tersusun yang berkaitan dengan indah dan senantiasa memiliki makna yang anggun, ragam bahasa ini lazim digunakan dilingkungan adat dan terhadap orang yang dituakan atau dihormati. Sedangkan Bahasa Merwatin adalah ragam bahasa pasaran yang biasa digunakan sehari hari yang dalam perkembangannya banyak dipengaruhi oleh bahasa bahasa lain.

Sebuah siger lampung berlapis emas , milik kepaksian Belunguh

Prosesi kenaikan seseorang di dalam adat dihadiri oleh Saibatin Suntan atau Perwakilan yang ditunjuk beserta para Saibatin dan Pembesar lainnya. Dari rangkaian kata kata dalam bentuk syair dapat disimak ungkapan “Canang Sai Pungguk Ghayu Ya Mibogh Di Dunia Sapa Ngeliak Ya Nigham Sapa Nengis Ya Hila”

Terjemahannya bebasnya bermakna “Bunyi Gong Laksana Suara Pungguk Yang Syahdu Merayu, Gemanya Terdengar Keseluruh Dunia, Siapa Yang Melihat Ia Terkesima Dan Rindu, Siapa Yang Mendengarnya Ia Akan Terharu”. Ini bermakna bahwa pengumuman kenaikan kedudukan seseorang di dalam adat telah diumumkan secara resmi.

Tentang adanya penggunaan Pepadun di daerah Lampung lainnya dimana kedudukan di dalam adat itu dapat dibeli atau menaikkan kedudukan di dalam adat dengan mengadakan Bimbang Besar. Cakak Pepadun di wilayah ini dapat dianalisa awal pelaksanaannya sebagai berikut –Warga Negeri yang memiliki hubungan genealogis dari salah satu Paksi Pak Sekala Brak dan beberapa kelompok pendatang dari daerah lain yang menempati wilayah yang baru ini tentu jauh dari pengaruh Saibatin serta Garis, Peraturan, dan Ketentuan adat yang berlaku dan mengikat.

Ditempat yang baru ini tentu dengan sendirinya harus ada Pemimpin dan Panutan yang ditaati oleh kelompok kelompok ditempat baru itu untuk membentuk suatu komunitas baru dan orang yang dipilih sebagai Pimpinan Komunitas ini dipastikan orang yang meiliki kekayaan dan kekuatan untuk dapat melindungi komunitasnya. Karenanya pada daerah Lampung tertentu dapat saja seseorang yang tidak memiliki trah bangsawan mengangkat dirinya menjadi pemimpin atau kepala adat dengan kompensasi tertentu.

Cara cara pengangkatan diri ini mengambil contoh penobatan Saibatin Raja dari daerah asalnya Paksi Pak Sekala Brak, pada masa berikutnya peristiwa Cakak Pepadun telah menjadi kebiasaan dan diteruskan sampai sekarang. Di wilayah baru ini rupanya tidak ada larangan tentang Pangkat Adat dengan melihat kenyataan yang ada bahwa Gelaran Gelaran atau Adok yang Sakral dan dipegang teguh di Paksi Pak Sekala Brak ternyata bahkan menjadi suatu gelaran umum di daerah ini.

Setelah soal naik Pepadun dengan tidak ada dasar ini menjadi suatu perlombaan yang hebat dikalangan khalayak, kesempatan ini digunakan oleh pasa penyimbang untuk mencari kekayaan dan setelah itu meningkat sedemikian rupa hingga mendatangkan kerugian yang besar bagi khalayak di dalam mengadakan Bimbang Besar. Keadaan ini dimanfaatkan oleh Pemerintah Belanda dengan memfasilitasi tindakan tindakan ke arah ini.

Pada zaman imperialis hal ini dimanfaatkan oleh kaum imperialis dengan memecah belah Bangsa Lampung sehingga perbedaan yang ada digunakan sebagai umpan untuk memperuncing pertentangan di antara Bangsa Lampung sendiri terutama di dalam Adat. Belanda menggantikan kedudukan Raja dengan kedudukan sebagai Pesirah. Bentuk pemerintahan yang tadinya dijalankan dalam tatanan kemurnian dan keluhuran Adat perlahan diarahkan untuk mengikuti kepentingan Belanda.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Helfrich, O.L. 1930. Adatrechtbundels XXXII : Zuid-Sumatra. hlm. 233-241. 's-Gravenhage: Martinus Nijhoff.


Sumber[sunting | sunting sumber]

  • Diandra Natakembahang adoq Batin Budaya Poerba
    Lamban Bandung, Negeri Ratu Kembahang
    Paksi Bejalan Di Way, Paksi Pak Sekala Brak
    Lampung
  • Drs Irfan Anshory adoq Batin Kesuma Ningrat
    Penyimbang Sukabanjar
    Marga Gunung Alip, Keratuan Semaka
    Lampung

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]