Kecerdasan burung

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kea dikenal karena kecerdasan dan rasa ingin tahunya. Kea dapat memecahkan teka-teki logis, seperti mendorong dan menarik hal-hal dalam urutan tertentu untuk mendapatkan makanan, dan akan bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu

Kecerdasan burung berkaitan dengan definisi kecerdasan dan pengukurannya yang berlaku pada burung. Secara tradisional, burung telah dianggap lebih rendah dalam kecerdasan dibandingkan dengan mamalia, dan istilah yang merendahkan seperti otak burung telah digunakan bahasa sehari-hari dalam beberapa kebudayaan. Persepsi tersebut tidak lagi dianggap benar secara ilmiah. Kesulitan mendefinisikan atau mengukur kecerdasan mahluk hidup selain manusia membuat subjek ini sulit untuk dikaji secara ilmiah. Secara anatomis, burung memiliki otak yang relatif besar dibandingkan dengan ukuran kepalanya. Indera visual dan pendengaran berkembang dengan baik di sebagian besar spesies, sedangkan indera peraba dan penciuman yang baik hanya berkembang pada beberapa kelompok burung. Burung bergerak dengan cara terbang dan menggunaan kaki pada sebagian besar spesies. Paruh dan kaki digunakan untuk memanipulasi makanan dan benda-benda lainnya. Burung dapat berkomunikasi menggunakan sinyal visual serta melalui penggunaan panggilan dan nyanyian. Karena itu pengujian kecerdasan didasarkan pada mempelajari tanggapan burung terhadap rangsangan sensorik.

Penelitian[sunting | sunting sumber]

Burung pecuk yang digunakan oleh nelayan di Asia tenggara kemungkinan bisa menghitung.

Kecerdasan burung telah dipelajari melalui beberapa atribut dan kemampuan. Banyak studi ini telah di dilakukan pada burung seperti burung puyuh, ayam dan merpati yang dipelihara di kandang. Hal ini, bagaimanapun, bidang penelitian cukup terbatas, tidak seperti kera. Burung dalam keluarga gagak dan burung beo telah menunjukkan untuk hidup secara sosial, membutuhkan jangka waktu perkembangan yang lama, dan memiliki otak depan yang besar, dan dari sini dapat diharapkan kemungkinkan bahwa burung mampu memiliki kemampuan kognitif yang lebih besar.[1]

Menghitung[sunting | sunting sumber]

Kemampuan menghitung dapat dianggap sebagai bukti kecerdasan. Anekdot pada tahun 60-an mengatakan bahwa burung gagak dapat menghitung sampai 3.[2] Para peneliti tentunya harus berhati-hati dan memastikan bahwa burung memang memiliki kemampuan menghitung, bukan sekedar dugaan yang akurat.[3][4] Beberapa penelitian seperti yang dilakukan oleh Universitas Negeri Moskwa mengemukakan bahwa burung gagak memang kemungkinan memiliki kemampuan menghitung.[5] Burung beo telah menunjukkan bahwa ia bisa menghitung sampai 6.[6]

Burung pecuk yang digunakan oleh para pencari ikan dari Cina yang diberi umpan setelah menangkap delapan ikan telah terbukti mampu menghitung sampai delapan. E.H. Hoh menulis dalam majalah Natural History:

Pada tahun 1970-an, di sungai Li, Pamela Egremont mengamati nelayan yang memperbolehkan burung-burung untuk makan setelah menangkap delapan ikan. Ia melaporkan dalam tulisannya pada Biological Journal of the Linnean Society, bahwa setelah kuota tujuh ekor ikan terpenuhi, burung-burung tersebut "berkeras tidak mau bergerak lagi sampai cincin di leher mereka di kendurkan. Mereka mengabaikan perintah untuk menyelam dan bahkan menolak dorongan kasar atau ketukan, duduk murung dan tidak bergerak di tempatnya bertengger." Sementara itu, burung lain yang belum memenuhi kuota mereka terus menangkap ikan seperti biasa. "Kita dipaksa untuk menyimpulkan bahwa burung-burung pandai tersebut dapat menghitung sampai tujuh," tulisnya.[7]

Banyak burung juga dapat mengetahui adanya perubahan jumlah telur dalam sarangnya. Burung parasit Cuculidae sering kali mengetahui untuk membuang satu buah telur dari sarang yang akan dititipinya sebelum meletakkan telurnya sendiri.

Pembelajaran asosiatif[sunting | sunting sumber]

Sinyal visual atau pendengaran dan hubunganya dengan makanan serta manfaat lainnya telah diteliti dengan baik, dan burung telah dilatih untuk mengenali dan membedakan bentuk kompleks. Hal ini dipercaya merupakan kemampuan penting yang membantu kelangsungan hidup mereka.[8]

Kemampuan ruang dan waktu[sunting | sunting sumber]

Sebuah tes kecerdasan yang umum dilakukan adalah tes dengan memberi penghalang kaca antara burung dan item seperti makanan untuk mengetahui kemampuan burung memutari kaca tersebut guna mengambil makanan. Kebanyakan mamalia gagal dalam tes ini. Ayam juga gagal dalam tes ini, namun banyak spesies dari keluarga gagak dengan mudah melalui tes ini.[9]

Burung pemakan buah-buahan besar di hutan tropis bergantung pada musim berbuah tanaman. Banyak spesies seperti merpati dan rangkong telah terbukti dapat memutuskan daerah mencari makan yang sesuai dengan waktu sepanjang tahun. Burung yang mempunyai kebiasaan menimbun makanan juga telah menunjukkan kemampuan untuk mengingat lokasi persediaan makanan.[10][11] Burung penghisap nektar seperti kolibri juga mengoptimalkan pencarian makan mereka dengan melacak lokasi bunga yang baik dan buruk.[12] Penelitian yang dilakukan Jays Scrub Barat juga menunjukkan bahwa burung mungkin dapat merencanakan ke depan. Mereka menyimpan makanan sesuai dengan kebutuhan masa depan dan risiko tidak mampu menemukan makanan pada hari-hari berikutnya.[13]

Banyak burung mengikuti jadwal waktu yang ketat dalam kegiatan mereka. Hal ini sering bergantung pada isyarat lingkungan. Burung juga sensitif terhadap panjannya waktu siang hari, dan kesadaran ini sangat penting sebagai isyarat khususnya bagi spesies yang bermigrasi. Kemampuan untuk menyesuaikan diri selama migrasi ini dikaitkan dengan keunggulan burung dalam bidang sensorik, daripada kecerdasan.

Induksi ketukan[sunting | sunting sumber]

Penelitian yang dipublikasikan tahun 2008 yang dilakukan pada seekor kakatua eleonora yang diberi nama Snowball menunjukkan tanda bahwa burung tersebut dapat mengidentifikasi ketukan musik buatan manusia, kemampuan yang dikenal dengan nama induksi ketukan.[14]

Kesadaran diri[sunting | sunting sumber]

Pengujian dengan menggunakan cermin memungkinkan ilmuwan untuk mengetahui apakah burung menyadari bayangan dirinya sendiri dan dapat membedakan dirinya dengan binatang lainnya. burung magpie erasia merupakan satu-satunya binatang, selain mamalia yang terlihat dapat melewati tes ini dimana ia berusaha menyingkirkan stiker berwarna dari bawah paruh mereka ketika ditampilkan di cermin. Namun pada tahun 1981 Lanza dan Skinner mempublikasikan jurnal ilmiah dimana mereka berpendapat bahwa merpati juga dapat melewati tes cermin. Seekor merpati dilatih untuk melihat ke dalam cermin untuk mencari sebuah kunci tanggapan di belakangnya yang kemudian berbalik untuk mematuk - makanan menjadi konsekuensi pilihan yang benar. Selanjutnya burung tersebut dilatih untuk mematuk titik yang ditempatkan pada bulu, sekali lagi, makanan menjadi konsekuensi dari menyentuh titik tersebut. Pelatihan yang terakhir ini dilakukan tanpa adanya cermin. Tes terakhir adalah menempatkan celemek kecil di tubuh merpati - cukup untuk menutupi sebuah titik yang ditempatkan pada perut bagian bawah. Sebelum diletakkan di depan cermin, merpati tersebut tidak mencoba untuk mematuk titik pada tubuhnya, namun begitu ia diletakkan di depan cermin, ia menjadi aktif dan berusaha mematuk titik di bawah celemek tadi.

Penggunaan peralatan[sunting | sunting sumber]

Burung pelatuk menggunakan tongkat untuk menusuk ulat, dengan gambar kedua menunjukkan mereka telah berhasil menangkapnya

Banyak burung telah menunjukkan kemampuannya menggunakan peralatan. Definisi peralatan ini telah menjadi bahan perdebatan. Salah satu usul tentang definisi peralatan telah didefinisikan oleh T. B. Jones dan A. C Kamil tahun 1973 sebagai:

Penggunaan benda fisik selain dari pada anggota tubuh binatang atau pelengkapnya dengan maksud sebagai sarana untuk meningkatkan pengaruh fisik yang direalisasikan oleh hewan.[15]

Dengan definisi ini, seekor hering berjanggut yang menjatuhkan tulang di atas batu tidak bisa dikatakan menggunakan peralatan karena batu tersebut tidak bisa dikatakan sebagai perpanjangan anggota tubuh. Namun penggunaan batu yang dicapit dengan paruh untuk memecahkan telur burung unta seperti yang dilakukan oleh burung hering mesir dapat dikatakan sebagai penggunaan alat. Banyak spesies lain termasuk burung bayan, corvidae dan kelompok burung pengicau telah dicatat sebagai burung yang mampu menggunakan peralatan.[1]

Gagak kaledonia baru telah diamati di alam liar menggunakan tongkat dengan paruh mereka untuk mengambil serangga dari batang kayu. Burung muda di alam liar biasanya mempelajari teknik ini dari induknya, sementara itu seekor gagak laboratorium bernama "Betty" melakukan improvisasi dengan membengkokkan kawat tanpa pengalaman sebelumnya.[16]

Camarhynchus pallidus dari kepulauan galapagos juga menggunakan batang sederhana untuk membantu mendapatkan makanan. Dalam penangkaran, seekor burung finch muda belajar untuk meniru perilaku ini dengan melihat burung lain dari kandang yang berdekatan. Gagak di perkotaan Jepang telah melakukan inovasi teknik untuk memecahkan kacang bercangkang keras dengan menjatuhkannya ke penyeberangan jalan dan membiarkannya pecah tergilas oleh mobil. Kemudian mereka mengambil kacang yang sudah pecah saat mobil-mobil berhenti oleh lampu merah. burung makaw telah menunjukkan kemampuan memanfaatkan tali guna mengambil barang-barang yang biasanya akan sulit untuk mencapai.[17] [18] Kokokan laut menggunakan umpan untuk menangkap ikan.

Belajar melalui pengamatan[sunting | sunting sumber]

Pengujian kecerdasan yang dilakukan di laboratorium lebih sering menggunakan penghargaan makanan untuk meningkatkan respon. Namun, kemampuan hewan untuk belajar melalui pengamatan dan peniruan dianggap lebih signifikan. Gagak telah dicatat memiliki kemampuan untuk saling belajar antara satu dengan yang lainnya.[19]

Anatomi otak[sunting | sunting sumber]

Pada awal abad ke 20, para ilmuwan berpendapat bahwa burung memiliki ganglion basal yang berkembang pesat, dengan struktur otak besar mirip mamalia yang kecil.[20] Penelitian terbaru menolak pandangan ini. [21] Ganglion basal hanya menempati sebagian kecil otak burung. Sebaliknya, diperkirakan burung menggunakan bagian lain dari otaknya, medio-rostral neostriatum/hyperstriatum ventrale sebagai pusat kecerdasan mereka, dan rasio ukuran otak terhadap tubuh burung bayan dan gagak sebanding dengan primata yang lebih tinggi.[22]

Penelitian dengan menggunakan burung tangkaran telah memberikan wawasan mengenai burung apa yang paling cerdas. Sementara burung beo memiliki kemampuan meniru ucapan manusia, penelitian dengan bayan abu-abu Afrika telah menunjukkan bahwa beberapa burung dapat mengasosiasikan kata-kata dengan makna dan bentuk kalimat sederhana. (lihat Alex). Beo dan keluarga corvidae, gagak dianggap burung yang paling cerdas. Tidak mengherankan, penelitian telah menunjukkan bahwa spesies ini cenderung memiliki HVC terbesar. Dr Harvey J. Karten, seorang neuroscientist di Universitas Kalifornia, San Diego yang telah mempelajari fisiologi burung, telah menemukan bahwa bagian bawah dari otak burung menyerupai otak manusia.

Perilaku sosial[sunting | sunting sumber]

Kehidupan sosial telah dianggap sebagai kekuatan pendorong terhadap evolusi intelijensi. Banyak burung memiliki organisasi sosial. Banyak spesies dari keluarga corvidae terpisah menjadi kelompok-kelompok keluarga kecil untuk kegiatan seperti bersarang dan pertahanan teritorial. Burung-burung tersebut kemudian berkumpul dalam kawanan besar terdiri dari spesies yang berbeda untuk tujuan migrasi. Beberapa burung menggunakan kerja sama tim saat berburu. Burung predator yang berburu berpasangan telah diamati menggunakan teknik "umpan dan beralih" , dimana salah satu burung akan mengalihkan perhatian mangsanya sementara yang lainnya menyambar untuk membunuh.

Perilaku sosial memerlukan identifikasi individu, dan kebanyakan burung tampaknya mampu mengenali pasangan, saudara dan anak. Perilaku lain seperti bermain dan kerjasama dalam berkembang biak juga dianggap indikator kecerdasan.

Ketika gagak sedang berburu makanan, mereka tampaknya sensitif dengan memperhatikan siapa yang mengawasi mereka menyembunyikan makanan. Mereka juga mencuri makanan tangkap burung lain.[23]

Pada beberapa cikrakperi seperti cikrakperi agung dan cikrakperi punggung merah burung jantan memetik mahkota bunga dalam warna yang kontras dengan bulu perkawinan mereka dan menunjukkannya kepada burung lain dalam spesies mereka, yang akan mengakui, memeriksa dan kadang-kadang memanipulasi kelopaknya.

Fungsi ini nampaknya tidak berhubungan dengan aktifitas seksual atau agresifitas jangka pendek dan menenngah sesudahnya, meskipun fungsi ini rupanya bukan agresifitas dan kemungkinan besar seksual.[24]

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Burung berkomunikasi dengan kawanannya dengan nyanyian, panggilan, dan bahasa tubuh. Penelitian menunjukkan bahwa nyanyian tetitorial yang rumit dari beberapa jenis burung harus dipelajari sejak usia muda, dan bahwa ingatan akan nyanyian tersebut akan dipakai oleh burung tersebut sepanjang hidupnya. Beberapa spesies burung dapat berkomunikasi dalam berbagai dialek. Sebagai contoh, philesturnus carunculatus Selandia Baru akan belajar lagu dari "dialek" marga yang berbeda dalam spesies mereka sendiri, sama seperti manusia dapat mempelajari beberapa dialek dari daerah yang berbeda. Saat burung jantan penguasa suatu daerah mati, seekor jantan muda akan segera mengambil alih daerah tersebut, bernyanyi untuk mencari pasangan dalam dialek yang sesuai dengan daerah tersebut.

Penelitian terakhir mengindikasikan bahwa beberapa burung memiliki kemampuan memahami struktur gramatikal.[25]

Kemampuan konseptual[sunting | sunting sumber]

Bukti bahwa burung dapat membentuk konsep-konsep abstrak seperti "sama lawan berbeda" telah ditunjukkan oleh Alex, bayan abu-abu Afrika. Alex dilatih oleh psikolog hewan Irene Pepperberg untuk menyebutkan lebih dari 100 benda dengan warna dan bentuk yang berbeda dan yang terbuat dari bahan yang berbeda. Alex juga bisa meminta atau menolak benda-benda ('Saya ingin X') dan mengkuantifikasi jumlah benda tersebut.[26]

Burung makaw telah terbukti memahami konsep "kiri" dan "kanan."[27] [28]

Objek tetap[sunting | sunting sumber]

Burung makaw telah dibuktikan untuk sepenuhnya memahami konsep ketetapan suatu benda dalam usia muda.[29] Mereka bahkan akan menyangkal "Kesalahan A-bukan-B". Jika mereka ditunjukkan benda, terutama benda yang sudah mereka kenali - mereka akan mencari secara logis dimana benda itu mungkin ditempatkan. Sebuah tes untuk YouTube dilakukan sebagai berikut: seekor macaw ditunjukkan sebuah benda, benda tersebut kemudian disembunyikan di belakang punggung pelatih dan ditempatkan dalam sebuah wadah. Wadah tempat benda tadi diletakkan bersama dengan wadah lain dan beberapa objek, diletakkan tersebar di atas meja secara bersamaan tanpa sepengetahuan burung. Wadah khusus tempat benda tadi disimpan tanpa sepengetahuan burung merupakan objek yang belum pernah diamati oleh burung itu sebelumnya. Burung tadi mencari benda itu, kemudian mencari di beberapa wadah lain, kemudian kembali untuk membuka wadah yang tepat. Hal ini menunjukkan pengetahuan dan kemampuan burung dalam mencari benda.[30]

Teori pikiran[sunting | sunting sumber]

Penelitian pada kirik-kirik hijau (Merops orientalis) menunjukkan bahwa burung kemungkinan dapat melihat dari sudut pandang predator.[31] Gagak leher cokelat (Corvus ruficollis) telah diamati berburu kadal melakukan kerja sama yang kompleks dengan gagak lainnya, menunjukkan pemahaman yang baik tentang perilaku mangsa.[32] Aphelocoma californica menyembunyikan persediaan makanan dan kemudian akan kembali menyembunyikan makanan itu jika ada burung lain yang melihatnya, tetapi ia melakukan itu hanya jika persediaan makanannya pernah dicuri sebelumnya.[33] Hal ini dapat dianggap sebagai teori pikiran, walaupun bisa jadi ada penjelasan lain dalam tingkat yang lebih rendah.[34] Kemampuan untuk melihat dari sudut pandang individu lain sebelumnya hanya dikaitkan dengan hominid dan kadang-kadang gajah. Kemampuan tersebut membentuk dasar rasa empati.

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Nathan J. Emery (2006) Cognitive ornithology: the evolution of avian intelligence. Phil. Trans. R. Soc. B (2006) 361, 23–43, princeton.edu
  2. ^ Rand, Ayn 1967. Introduction to Objectivist Epistemology. New York: The Objectivist.
  3. ^ Hurford, James (2007). The Origins of Meaning: Language in the Light of Evolution. New York: Oxford University Press. ISBN 0-19-920785-2. 
  4. ^ Miller, D. J. (1993). Do animals subitize? In S. T. Boysen & E. J. Capaldi (Eds.), The development of numerical competence: Animal and human models (pp. 149–169). Hillsdale, NJ: Erlbaum.
  5. ^ Smirnova, AA, OF Lazareva and ZA Zorina (2000) Use of number by crows: investigation by matching and oddity learning. J. Experimental analysis of Behaviour 73:163–176 PDF, seab.envmed.rochester.edu
  6. ^ Pepperberg, IM (2006) Grey parrot numerical competence: a review. Animal Cognition 9(4):377–391 DOI:10.1007/s10071-006-0034-7
  7. ^ Hoh, Erling Hoh (1988) Flying fishes of Wucheng – fisherman in China use cormorants to catch fish. Natural History. October, 1988
  8. ^ Carter, D. E. & Eckerman, D. A. 1975 Symbolic matching by pigeons: rate of learning complex discriminations predicted from simple discriminations. Science 187, 662–664.
  9. ^ Scott, John P. 1972. Animal Behavior. Univ. of Chicago Press. Chicago, Ill. p. 193.
  10. ^ Kamil, A., and R. Balda. 1985. Cache recovery and spatial memory in Clark's nutcrackers (Nucifraga columbiana). Journal of Experimental Psychology and Animal Behavioral Processes 11:95–111.
  11. ^ Bennett, A. T. D. 1993 Spatial memory in a food storing corvid. I. Near tall landmarks are primarily used. J. Comp. Physiol. A 173, 193–207. DOI:10.1007/BF00192978
  12. ^ Healy, S. D. & Hurly, T. A. 1995 Spatial memory in rufous hummingbirds (Selasphorus rufus): a field test. Anim. Learn. Behav. 23, 63–68.
  13. ^ C. R. Raby, D. M. Alexis, A. Dickinson and N. S. Clayton 2007. Planning for the future by western scrub-jays. Nature 445, 919–921 DOI:10.1038/nature05575 PDF, bec.ucla.edu
  14. ^ Patel, Aniruddh D.; Iversen, John R.; Bregman, Micah R.; Schulz, Irena & Schulz, Charles (2008–2008), "Investigating the human-specificity of synchronization to music", Proceedings of the 10th Intl. Conf. on Music Perception and Cognition (Adelaide: Causal Productions)
  15. ^ Jones, T. B. & Kamil, A. C. 1973 Tool-making and tool-using in the northern blue jay. Science 180, 1076–1078.
  16. ^ Crow making tools, news.nationalgeographic.com
  17. ^ http://www.youtube.com/watch?v=kLa3Usdqhlw
  18. ^ http://www.youtube.com/watch?v=aR3bUB1sjV4
  19. ^ Bugnyar, T. & Kotrschal, K. 2002 Observational learning and the raiding of food caches in ravens, Corvus corax: is it 'tactical' deception? Anim. Behav. 64, 185–195. DOI:10.1006/anbe.2002.3056
  20. ^ Edinger, L., (1908) The relations of comparative anatomy to comparative psychology. Journal of Comparative Neurology and psychology 18:437–457
  21. ^ Reiner,A. et al., (2005) Organization and Evolution of the Avian Forebrain, The Anatomical Record Part A 287A:1080–1102
  22. ^ Iwaniuk, A.N.; Nelson, J.E. (2003). "Developmental differences are correlated with relative brain size in birds: A comparative analysis". Canadian Journal of Zoology 81: 1913–1928. doi:10.1139/z03-190. 
  23. ^ N.J. Emery and N.S. Clayton, The mentality of crows: convergent evolution of intelligence in corvids and apes, Science 306 (2004), pp. 1903–1907
  24. ^ Karubian, Jordan & Alvarado, Allison (2003): Testing the function of petal-carrying in the Red-backed Fairy-wren (Malurus melanocephalus). Emu 103(1):87–92 HTML abstract, publish.csiro.au
  25. ^ Gentner, Timothy Q.; Fenn, Kimberly M.; Margoliash, Daniel; Nusbaum, Howard C. (2006). "Recursive syntactic pattern learning by songbirds". Nature 440 (7088): 1204–1207. doi:10.1038/nature04675. PMC 2653278. PMID 16641998. 
  26. ^ Pepperberg, I. M. 1999 The Alex studies: cognitive and communicative abilities of Grey parrots. Cambridge, MA: Harvard University Press.
  27. ^ http://www.youtube.com/watch?v=73xXvpzW2Ps&feature=channel_video_title
  28. ^ http://www.youtube.com/watch?v=Ifv7SWJK4iM&feature=channel_video_title
  29. ^ http://www.youtube.com/watch?v=HoXoZG3X0dI
  30. ^ http://www.youtube.com/watch?v=7PqdcP7AlNo
  31. ^ Watve, Milind; Thakar, Juilee; Kale, Abhijit; et al., S; Shaikh, I; Vaze, K; Jog, M; Paranjape, S (December 2002). "Bee-eaters (Merops orientalis) respond to what a predator can see". Animal Cognition 5 (4): 253–259. doi:10.1007/s10071-002-0155-6. PMID 12461603. Diakses 7 April 2009. 
  32. ^ Yosef, Reuven; Yosef, Nufar (May 2010). "Cooperative hunting in Brown-Necked Raven (Corvus rufficollis) on Egyptian Mastigure (Uromastyx aegyptius)". Journal of Ethnology 28 (2): 385–388. doi:10.1007/s10164-009-0191-7. Diakses 20 September 2012. 
  33. ^ Clayton, Nichola S.; Joanna M Dally and Nathan J Emery (29 April 2007). "Social cognition by food-caching corvids. The western scrub-jay as a natural psychologist". Phil. Trans. R. Soc. B (Royal Society) 362 (1480): 507–522. doi:10.1098/rstb.2006.1992. 
  34. ^ Penn, Derek C.; Daniel J Povinelli (29 April 2007). "On the lack of evidence that non-human animals possess anything remotely resembling a ‘theory of mind’". Phil. Trans. R. Soc. B (Royal Society) 362 (1480): 731–744. doi:10.1098/rstb.2006.2023. "The fact that only birds with previous pilfering experience re-cache observed food sites is an interesting result but sheds no light on the internal mental representations or cognitive processes being employed by the birds in question. This experimental result certainly does not demonstrate that ex-pilferers understand anything about the internal, subjective experience of their potential competitors... There are any number of much lower-level explanations for ... the connection between pilfering and re-caching in corvids." 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]