Kayu bakar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Tumpukan kayu bakar di sisi bangunan
Kapak yang digunakan untuk membelah kayu bakar
Pengumpul kayu bakar di Uganda
Pemanas ruangan sekaligus tungku memasak berbahan bakar kayu

Kayu bakar adalah segala jenis bahan kayu yang dikumpulkan untuk digunakan sebagai bahan bakar. Umumnya kayu bakar merupakan bahan yang tidak diproses selain pengeringan dan pemotongan, dan masih terlihat jelas bagian-bagian kayu seperti kulit kayu, mata kayu, pith, dan sebagainya.

Kayu bakar diyakini sebagai penyebab minor terjadinya degradasi lahan setelah penebangan kayu komersial. Pelarangan pemanenan kayu bakar hanya menyulitkan masyarakat miskin dan tidak menyentuh permasalahan utama dari deforestasi.[1]:240

Pemanenan kayu[sunting | sunting sumber]

Secara umum kayu yang digunakan sebagai kayu bakar adalah kayu yang terletak di atas percabangan batang utama. Di bawah bagian tersebut, kayu digunakan sebagai bahan baku penggergajian kayu.[2]:14 Kayu yang memiliki tegangan geser yang rendah juga akan digunakan sebagai kayu bakar karena kayu konstruksi dan kayu furnitur akan membutuhkan tegangan geser yang kuat untuk menahan beban.[2]:28-29

Kayu didapatkan dari hutan dengan cara menebang kayu, memungut cabang atau ranting yang runtuh dari pohon, atau diambil dari limbah industri kayu. Di beberapa tempat, hutan dipelihara secara lestari sebagai sumber kayu bakar.[3] Namun di hutan hujan tropis yang sangat lebat, seringkali kayu diambil secara langsung dari tanah karena merupakan cabang atau ranting pohon yang runtuh.

Pemanfaatan kayu di lokasi yang jauh dari tempat pemanenan memiliki risiko terjadinya penyebaran serangga yang menjadi hama hutan. Kayu yang dipotong di lokasi pemanenan kayu mengurangi risiko tersebut.[4][5]

Pemanfaatan[sunting | sunting sumber]

Sejak tahun 1990an penggunaan kayu bakar di dunia semakin menurun, sementara penggunaan arang kayu semakin meningkat dan mulai menggantikan kayu bakar. Hal ini tidak terlepas dari sifat kayu bakar yang merupakan barang inferior dengan elastisitas negatif, yang berarti semakin tinggi pendapatan individu, semakin kecil kemungkinan individu tersebut menggunakan kayu bakar dan akan lebih beralih ke jenis bahan bakar lain yang lebih praktis.[1]:243 Namun kayu bakar tetap menjadi alternatif lapisan masyarakat menengah ke bawah jika harga bahan bakar lain seperti gas meningkat.[6]

Kayu bakar juga menjadi mata pencaharian bagi rakyat miskin. Di pedesaan di Jawa Barat, kayu bakar dijual ke konsumen dengan harga Rp 600 per kilogram. Kayu bakar tersebut didapatkan sebagai limbah penggergajian kayu maupun memungutnya dari hutan.[7]:237

Meski sudah tersedia bahan bakar jenis lain yang memiliki nilai kalori lebih tinggi, lebih bersih, dan lebih praktis, namun beberapa jenis kuliner di dunia masih menggunakan kayu bakar untuk memasaknya.[8] Di berbagai tempat, kayu bakar tetap digunakan karena telah menjadi ciri khas.[9] Memasak dengan kayu bakar diyakini memiliki rasa yang berbeda dibandingkan memasak dengan bahan bakar lain.[10]

Nilai kalor dari kayu bakar[sunting | sunting sumber]

Kadar air dari kayu bakar menentukan bagaimana kayu terbakar dan seberapa besar nilai kalornya. Kadar air kayu bervariasi tergantung spesies. Kayu yang masih hijau (belum dikeringkan) dapat memiliki massa hingga dua kali lipat kayu kering karena adanya kadar air tersebut. Umumnya kayu yang telah dikeringkan dan siap digunakan akan memiliki kadar air antara 20 hingga 25 persen. Pengukuran nilai kalor dari kayu bakar umumnya menggunakan nilai kalor kayu kering oven dikurangi kalor uap sesuai kadar air kayu kering siap pakai.[11] Nilai kalor dari kayu bakar akan bervariasi tergantung pada spesies pohonnya.[12][13]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]