Degradasi lahan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Penggembalaan hewan berlebih dapat menyebabkan degradasi lahan
Degradasi lahan serius di kawasan Karst pasca aktivitas penambangan fosfat, di Nauru
Erosi tanah pada di lahan gandum di Washington, Amerika Serikat. Awalnya tidak terlihat sebagai masalah signifikan, namun jika terjadi terus-menerus dapat mendegradasi nutrisi tanah

Degradasi lahan adalah proses di mana kondisi lingkungan biofisik berubah akibat aktivitas manusia terhadap suatu lahan.[1] Perubahan kondisi lingkungan tersebut cenderung merusak dan tidak diinginkan.[2] Bencana alam tidak termasuk faktor yang mempengaruhi degradasi lahan, namun beberapa bencana alam seperti banjir, longsor, dan kebakaran hutan merupakan hasil secara tidak langsung dari aktivitas manusia sehingga dampaknya bisa disebut sebagai degradasi lahan.

Degradasi lahan memiliki dampak terhadap produktivitas pertanian, kualitas lingkungan, dan memiliki efek terhadap ketahanan pangan.[3] Diperkirakan hingga 40% lahan pertanian yang ada di dunia saat ini telah terdegradasi.[4]

Jenis degradasi lahan[sunting | sunting sumber]

Sejak berabad-abad jenis degradasi lahan yang terjadi diantaranya disebabkan oleh erosi air, angin, dan mekanis; degradasi secara kimiawi dan biologi. Empat jenis degradasi lainnya telah muncul di abad ini, yaitu:[5]

  • pencemaran akibat aktivitas pertanian, industri, pertambangan, dan aktivitas komersial
  • hilangnya lahan yang mampu ditanami akibat pembangunan habitat manusia
  • radioaktif antropogenik, umumnya tidak disengaja
  • cekaman lahan akibat konflik bersenjata

Secara rinci ada 36 jenis degradasi lahan yang semuanya disebabkan oleh manusia.

Penyebab[sunting | sunting sumber]

Degradasi lahan merupakan masalah serius yang sebagian besar terkait dengan aktivitas pertanian. Penyebab utama termasuk:

Kepadatan populasi manusia yang tinggi tidak selalu terkait dengan degradasi lahan, melainkan praktek yang dilakukan manusia terhadap lahan yang ditempatinya. Populasi dapat mendayagunakan sekaligus melestarikan lahan jika menginginkannya tetap produktif dalam waktu lama. Hingga kini, degradasi lahan merupakan faktor utama penyebab migrasi manusia besar-besaran di Afrika dan Asia.[7]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Conacher, Arthur; Conacher, Jeanette (1995). Rural Land Degradation in Australia. South Melbourne, Victoria: Oxford University Press Australia. hlm. 2. ISBN 0-19-553436-0. 
  2. ^ Johnson, D.L., S.H. Ambrose, T.J. Bassett, M.L. Bowen, D.E. Crummey, J.S. Isaacson, D.N. Johnson, P. Lamb, M. Saul, and A.E. Winter-Nelson. 1997. Meanings of environmental terms. Journal of Environmental Quality 26: 581-589.
  3. ^ Eswaran, H.; R. Lal and P.F. Reich. (2001). "Land degradation: an overview". {{{booktitle}}}, New Delhi, India: Oxford Press. Diakses pada 2012-02-05. 
  4. ^ Ian Sample (2007-08-31). "Global food crisis looms as climate change and population growth strip fertile land". The Guardian. Diakses 2008-07-23. 
  5. ^ Brabant Pierre, 2010. A land degradation assessment and mapping method. A standard guideline proposal. Les dossiers thématiques du CSFD. N°8. November 2010. CSFD/Agropolis International, Montpellier, France. 52 pp.
  6. ^ ILRI (1989), Effectiveness and Social/Environmental Impacts of Irrigation Projects: a Review, In: Annual Report 1988 of the International Institute for Land Reclamation and Improvement (ILRI), Wageningen, The Netherlands, hlm. 18–34 
  7. ^ Terminski, Bogumil, Towards Recognition and Protection of Forced Environmental Migrants in the Public International Law: Refugee or IDPs Umbrella (December 1, 2011). Policy Studies Organization (PSO) Summit, December 2011

Bahan bacaan terkait[sunting | sunting sumber]