Dodo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
?Dodo
Rentang fosil: Baru saja
Rekonstruksi Dodo
Rekonstruksi Dodo
Status konservasi
Status iucn3.1 EX.svg
Punah  (akhir abad ke-17) (IUCN 3.1)
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Columbiformes
Famili: Columbidae
Upafamili: Raphinae
Genus: Raphus
Brisson, 1760
Spesies: R. cucullatus
Nama binomial
Raphus cucullatus
(Linnaeus, 1758)
Tempat hidup (berwarna merah)
Tempat hidup (berwarna merah)
Sinonim
  • Struthio cucullatus Linnaeus, 1758
  • Didus ineptus Linnaeus 1766


Dodo (Raphus cucullatus) adalah burung yang tak dapat terbang yang pernah hidup di Pulau Mauritius. Burung ini berhubungan dengan merpati. Burung ini memiliki tinggi sekitar satu meter, pemakan buah-buahan, dan bersarang di tanah.

Dodo punah antara pertengahan sampai akhir abad ke-17. Kepunahannya sering dijadikan arketipe karena terjadi dalam sejarah manusia dan akibat aktivitas manusia.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Tidak jelas dari mana kata dodo berasal. Mungkin berhubungan dengan dodaars, bahasa Belanda untuk sejenis bebek. Ada hubungan antara keduanya karena kemiripan bulu di kakinya atau karena kedua binatang ini kaku. Bagaimanapun, orang Belanda juga diketahui menyebut unggas dari Mauritius ini dengan walghvogel (unggas yang membuat mual) karena rasanya. Nama terakhir ini digunakan pertama kali dalam jurnal dari laksamana Wybrand van Warwijck yang mengunjungi dan memberi nama Mauritius tahun 1598. Dodo atau Dodaerse kembali tercatat dalam jurnal kapten Willem van West-Zanen empat tahun kemudian,[1] namun tidak jelas apakah dia yang pertama kali menggunakan nama tersebut, karena sebelum orang Belanda, orang Portugis sudah mengunjungi pulau itu tahun 1507, tetapi tidak menetap.

Menurut Kamus Encarta dan Kamus Etimologi Chambers, "dodo" berasal dari bahasa Portugis doudo (sekarang doido) berarti "bodoh" atau "gila".[2] Namun, istilah Portugis untuk burung itu sekarang, dodô, berasal dari bahasa Inggris. Kata doudo atau doido di bahasa Portugis sendiri kemungkinan berasal dari bahasa Inggris lama ("dolt"). Keraguan bahwa asal kata itu dari Portugis juga karena, dalam bahasa Portugis, nama yang dibentuk dari pengulangan dua suku kata terdengar kekanak-kanakan.

Kemungkinan lain adalah bahwa dodo merupakan onomatope dari bunyi burung itu sendiri, bunyi yang mirip burung merpati 'doo-doo'.[3]

Biologi[sunting | sunting sumber]

Morfologi dan ketidakmampuan terbang[sunting | sunting sumber]

Pada Oktober 2005, bagian dari Mare aux Songes, tempat paling penting dari peninggalan dodo, dipindahkan oleh suatu tim peneliti internasional. Banyak peninggalan yang ditemukan, termasuk tulang dari burung dengan kedewasaan beragam,[4] dan beberapa tulang jelas-jelas berasal dari kerangka seekor burung dan tersimpan dalam posisi aslinya. [2] Temuan ini dipertunjukkan pada publik pada Desember 2005 di Naturalis, sebuah museum di Leiden. Sebelumnya, beberapa spesimen yang dikaitkan dengan dodo sudah dikenal, kebanyakan terdiri dari tulang-tulang berserakan. Museum Natural History di Dublin dan di Universitas Oxford, di antaranya, mempunyai spesimen yang disusun dari peninggalan yang tidak berhubungan ini. Telur dodo dipertunjukkan di Museum London Timur di Afrika Selatan. Sampai saat ini, peninggalan yang paling lengkap, yang dipertunjukkan di Museum of Natural History di Universitas Oxford, berupa sebagian tulang kaki dan kepala yang berisi satu-satunya bagian tubuh lunak yang masih ada dari spesies ini.

Gambar dodo oleh Jan Savery tahun 1651 berdasar pada lukisan Roelant Savery tahun 1626, dibuat dari spesimen yang diisi - perhatikan bahwa ia mempunyai dua kaki kiri dan burung itu tampak kegemukan di tempat penangkapannya.

Sisa dari dodo terakhir disimpan di Oxford's Ashmolean Museum, tapi di pertengahan abad ke-18, spesimen itu telah benar-benar rusak dan diperintahkan untuk dibuang oleh kurator atau direktur museum sekitar tahun 1755.

Di bulan Juni 2007, para petualang yang mengeksplorasi sebuah gua di Lautan Hindia menemukan kerangka dodo yang paling lengkap dan paling tersimpan baik dibanding yang lainnya selama ini.[5]

Dari gambaran artis kita tahu bahwa dodo memiliki bulu keabu-abuan, paruh sepanjang 23 cm dengan ujung bengkok, sayap yang sangat kecil, kaki kuning yang kokoh, dan seberkas bulu keriting di bagian ujung belakangnya. Dodo adalah unggas yang sangat besar, dengan berat sekitar 23 kg. Tulang dadanya tidak bisa menunjangnya untuk terbang; burung yang hidup di tanah ini berevolusi dengan memanfaatkan ekosistem pulau Mauritius yang tidak memiliki makhluk yang dapat memangsanya.

Gambaran tradisional dari dodo adalah burung yang gemuk dan canggung, tetapi pandangan ini telah dipertentangkan sekarang. Pendapat umum dari ilmuwan sekarang adalah bahwa lukisan lama itu menunjukkan spesimen yang ditangkap dan diberi makan terlalu banyak.[6] Karena Mauritius memiliki musim kering dan basah, dodo kemungkinan menggemukkan diri dengan buah matang di akhir musim penghujan untuk bisa selamat melalui musim kemarau saat langka makanan; laporan kontemporer menyebutkan burung ini memiliki selera makan yang "rakus". Sehingga, dalam penangkapan, akan sangat mudah mengalami kebanyakan makan.

Makanan[sunting | sunting sumber]

Pohon tambalacoque, juga dikenal sebagai "pohon dodo", dihipotesiskan Stanley Temple telah dimakan oleh Dodo, dan hanya melalui pencernaan dodo benih buah-buahan ini bisa tumbuh; ia menegaskan bahwa tambalacocque sekarang hampir punah karena ketiadaan dodo. Ia memaksa agar tujuh belas buah-buahan ini dimakan kalkun liar dan tiga di antaranya bisa berkecambah. Dalam penelitiannya, Temple tidak berupaya menumbuhkan benih dari buah-buahan lainnya sebagai kontrol yang tidak diberikan pada kalkun sehingga dampak pemberian buah-buahan kepada kalkun jadi tidak jelas. Temple juga tidak memperhatikan laporan penelitian tentang pengecambahan benih tambalacoque oleh A. W. Hill tahun 1941 dan H. C. King tahun 1946, yang menemukan bahwa benih itu bisa tumbuh, walau sangat jarang, tanpa dimakankan pada unggas.[7][8][9][10]

Kepunahan[sunting | sunting sumber]

Dodo (Abad ke-17)

Dodo adalah burung yang tidak takut pada manusia, dan ditambah ketidakmampuannya untuk terbang, membuatnya menjadi mangsa yang mudah ditangkap.[11] Orang yang mendarat di Mauritius memakan burung ini. Namun, banyak jurnal melaporkan rasa dodo tidak enak dan dagingnya yang keras, sementara spesies lokal lainnya seperti Rail Merah enak rasanya. Umumnya dipercaya bahwa pelaut Melayu menghargai burung ini dan membunuhnya hanya untuk menggunakannya sebagai hiasan kepala dalam upacara keagamaan.[12] Manusia pertama yang mendatangi Mauritius membawa binatang baru, seperti anjing, babi, kucing, tikus, dan kera pemakan kepiting yang menghancurkan sarang dodo, sementara manusia menghancurkan hutan tempat dodo tinggal.[13] Kini, dampak dari binatang-binatang itu—terutama babi dan kera—pada kepunahan dodo dianggap lebih berpengaruh dibanding pengaruh dari perburuan. Ekspedisi tahun 2005 menemukan banyak binatang yang mati akibat banjir. Kematian massal demikian semakin menyulitkan bagi spesies yang sudah terancam punah.[14]

Walaupun banyak laporan tentang pembunuhan massal dodo untuk bekal makanan dalam kapal, penemuan arkeologis sampai sekarang kurang mendapatkan bukti dari adanya manusia yang memangsa burung ini. Tulang belulang dari setidaknya dua dodo ditemukan dalam gua di Baie du Cap yang digunakan sebagai tempat berlindung buronan budak dan narapidana pada abad ke-17, tapi karena tempat itu terisolasi di ketinggian, daerah itu sukar dicapai oleh dodo.[15]

Kemungkinan gambar dodo terawal yang akurat (1601–1603).

Ada kontroversi seputar waktu kepunahan dodo. Robert dan Solow menyatakan bahwa "kepunahan Dodo adalah saat terlihat terakhir tahun 1662, seperti dilaporkan oleh pelaut Volkert Evertsz" (Evertszoon), tetapi banyak sumber lainnya menduga hal itu terjadi pada tahun 1681. Robert dan Solow menunjukkan bahwa karena dodo terlihat terakhir sebelum 1662 adalah pada tahun 1638, dodo kemungkinan sudah sangat jarang pada tahun 1660-an.[16] Analisis statistik tentang catatan perburuan Issac Johannes Lamotius memberikan perkiraan baru tahun 1693, dengan tingkat kepercayaan 95% dari 1688 sampai 1715. Mempertimbangkan bukti-bukti lain seperti laporan pelancong dan tidak adanya laporan yang baik setelah 1689,[15] sepertinya Dodo punah sebelum tahun 1700; sehingga, Dodo terakhir mati hanya satu abad lebih sedikit setelah penemuan spesies itu tahun 1581.[17]

Semula hanya sedikit yang memerhatikan burung yang punah ini. Pada awal abad ke-19, burung ini dianggap sebagai makhluk yang aneh dan banyak yang menganggapnya hanya mitos. Dengan penemuan serangkaian tulang dodo di Mare aux Songes dan laporan yang dibuat oleh George Clark mulai tahun 1865, minat terhadap burung ini mulai bertambah. Dalam tahun yang sama dengan dimulainya publikasi laporan Clarke, burung yang baru punah ini dijadikan salah satu karakter dalam ceritera Alice's Adventures in Wonderland hasil karya Lewis Carroll.[18] Dengan populernya buku tersebut, dodo jadi banyak diketahui dan mudah dikenali sebagai ikon dari kepunahan.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Staub, France (1996): Dodo and solitaires, myths and reality. Proceedings of the Royal Society of Arts & Sciences of Mauritius 6: 89-122 HTML fulltext
  2. ^ a b "Dodo skeleton find in Mauritius". BBC News. 2006-06-24. Diakses 2006-08-28. 
  3. ^ Quammen, David (1996): The Song of the Dodo: Island Biogeography in an Age of Extinction. Touchstone, New York. ISBN 0-684-82712-3
  4. ^ "Scientists find 'mass dodo grave'". BBC News. 2005-12-24. Diakses 2006-09-07. 
  5. ^ "Dodo Skeleton Found on Island, May Yield Extinct Bird's DNA". National Geographic. 2007-07-03. Diakses 2007-07-09. 
  6. ^ Kitchener, A. On the external appearance of the dodo, Raphus cucullatus. Archives of natural History, 20, 1993.
  7. ^ Temple, Stanley A. (1977): Plant-animal mutualism: coevolution with Dodo leads to near extinction of plant. Science 197(4306): 885-886. HTML abstract
  8. ^ Hill, A. W. (1941): The genus Calvaria, with an account of the stony endocarp and germination of the seed, and description of the new species. Annals of Botany 5(4): 587-606. PDF fulltext (requires user account)
  9. ^ King, H. C. (1946). Interim Report on Indigenous Species in Mauritius. Government Printer, Port Louis, Mauritius.
  10. ^ Witmer, M. C. & Cheke, A. S. (1991): The dodo and the tambalacoque tree: an obligate mutualism reconsidered. Oikos 61(1): 133-137. HTML abstract
  11. ^ "Scientists pinpoint dodo's demise". BBC News. 2003-11-20. Diakses 2006-09-07. 
  12. ^ James, Bradly. 1998. The History of Mauritius. Lowell House: Boston. 34-35.
  13. ^ Jonathan Fryer (2002-09-14). "Bringing the dodo back to life". BBC News. Diakses 2006-09-07. 
  14. ^ Tim Cocks (2006-06-04). "Natural disaster may have killed dodos". Reuters. Diakses 2006-08-30. 
  15. ^ a b Janoo, Anwar (2005): Discovery of isolated dodo bones [Raphus cucullatus (L.), Aves, Columbiformes] from Mauritius cave shelters highlights human predation, with a comment on the status of the family Raphidae Wetmore, 1930. Annales de Paléontologie 91: 167–180. [English with French abstract] DOI:10.1016/j.annpal.2004.12.002 (HTML abstract) Hume et al ref probably too.
  16. ^ Roberts, David L. & Solow, Andrew R. (2003): Flightless birds: When did the dodo become extinct? Nature 425(6964): 245. doi:10.1038/426245a
  17. ^ http://www.wikifaq.com/Dodo_Bird_FAQs
  18. ^ Alice's Adventures in Wonderland karangan Lewis Carroll dipublikasikan tahun 1865.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]