Biawak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
?Biawak
Varanus albigularis
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Sauropsida
Ordo: Squamata
Upaordo: Scleroglossa
Infraordo: Anguimorpha
Superfamili: Varanoidea
Famili: Varanidae
Genus: Varanus
Merrem, 1820
Biawak

Biawak adalah sebangsa reptil yang masuk ke dalam golongan kadal besar, suku biawak-biawakan (Varanidae). Biawak dalam bahasa lain disebut sebagai bayawak (Sunda), menyawak atau nyambik (Jawa), berekai (Madura), dan monitor lizard atau goanna (Inggris).

Biawak banyak macamnya. Yang terbesar dan terkenal ialah biawak komodo (Varanus komodoensis), yang panjangnya dapat melebihi 3 m. Biawak ini, karena besarnya, dapat memburu rusa, babi hutan dan anak kerbau. Bahkan ada kasus-kasus di mana biawak komodo menyerang manusia, meskipun jarang. Biawak ini hanya menyebar terbatas di beberapa pulau kecil di Nusa Tenggara, seperti di p. Komodo, p. Padar, p. Rinca dan di ujung barat p. Flores.

Biawak yang kerap ditemui di desa-desa dan perkotaan di Indonesia barat kebanyakan adalah biawak air dari jenis Varanus salvator. Panjang tubuhnya (moncong hingga ujung ekor) umumnya hanya sekitar 1 m lebih sedikit, meskipun ada pula yang dapat mencapai 2,5 m.

Habitat dan Makanan[sunting | sunting sumber]

Biawak umumnya menghuni tepi-tepi sungai atau saluran air, tepian danau, pantai, dan rawa-rawa termasuk rawa bakau. Di perkotaan, biawak kerap pula ditemukan hidup di gorong-gorong saluran air yang bermuara ke sungai.

Biawak memangsa aneka serangga, ketam atau yuyu, berbagai jenis kodok, ikan, kadal, burung, serta mamalia kecil seperti tikus dan cerurut. Biawak pandai memanjat pohon. Di hutan bakau, biawak kerap mencuri telur atau memangsa anak burung. Biawak juga memakan bangkai, telur kura-kura, penyu atau buaya.

Kehidupan Biawak[sunting | sunting sumber]

Biawak berkembang biak dengan bertelur. Sebelum mengawini betinanya, biawak jantan biasanya berkelahi lebih dulu untuk memperlihatkan penguasaannya. Pertarungan biawak ini unik dan menarik, karena dilakukan sambil ‘berdiri’. Kedua biawak itu lalu saling pukul atau saling tolak sambil berdiri pada kaki belakangnya, sehingga tampak seperti menari bersama.

Telur-telur biawak disimpan di pasir atau lumpur di tepian sungai, bercampur dengan daun-daun busuk dan ranting. Panas dari sinar matahari dan proses pembusukan serasah akan menghangatkan telur, sehingga menetas.

Biawak dan Manusia[sunting | sunting sumber]

Biawak telah ratusan bahkan ribuan tahun diburu manusia. Orang terutama memanfaatkan kulitnya sebagai bahan perhiasan, dan dagingnya sebagai bahan makanan atau untuk obat. Pada waktu kini, perdagangan kulit biawak telah menghidupi beribu-ribu orang, mulai dari penangkap biawak di desa-desa, pengumpul, pengolah, eksportir, hingga industri kulit. Tidak kurang dari satu juta potong kulit biawak air dikumpulkan setiap tahunnya dari berbagai bagian dunia (Shine et al. 1996, Biological Conservation 77 : 125-134).

Biawak ditangkap orang dengan cara dijerat atau dikail. Jerat atau kail itu dipasang di tempat yang sering didatangi biawak. Seperti umumnya daging kadal, daging biawak juga dipercaya sebagai obat sakit kulit.

Jenis-jenis Biawak[sunting | sunting sumber]

Suku Varanidae terdiri atas dua kelompok yang sedikit berbeda, yalah dari marga Varanus yang besar (lebih dari 35 spesies di seluruh dunia), dan marga Lanthanotus yang sejauh ini berisi spesies tunggal L. borneensis dari Kalimantan. Marga yang kedua itu merupakan biawak yang bertubuh kecil (lk. 30 cm) dan tanpa lubang telinga.

Beberapa jenis biawak yang terdapat di Indonesia: Genus: Varanus

Subgenus:
1. Varanus

  • Varanus komodoensis (Komodo Dragon) --> NTT & NTB
  • V. panoptes horni (Sand Goanna/ Argus Monitor) --> Papua


2. Empagusia

  • V. nebulosus (Clouded Monitor) --> Jawa Timur
  • V. dumerilii (Dumeril's Monitor) --> Sumatera & Kalimantan
  • V. rudicollis (Black Roughneck Monitor) --> Sumatera & Kalimantan


3. Euprepiosaurus

Species group: V. indicus (indicus complex)

  • V. indicus (Mangrove Monitor) --> Papua
  • V. cerambonensis (Ceram Mangrove Monitor) --> Maluku (Seram & Ambon)
  • V. rainerguentheri (Rainer's Monitor) --> Maluku (Halmahera)
  • V. doreanus (Blue-tailed Monitor) --> Papua
  • V. caerulivirens (Turquois Monitor) --> Maluku (Halmahera)
  • V. jobiensis (Peach Throat Monitor) --> Papua
  • V. melinus (Quince Monitor) --> Maluku (Obi & Sula)
  • V. yuwonoi (Tri-colored Monitor) --> Maluku (Halmahera)
  • V. zugorum (Olive Monitor) --> Maluku (Halmahera)
  • V. lirungensis (Lirung Monitor) --> Maluku (Talaud)
  • V. obor (Torch Monitor/ Sago Monitor) --> Maluku (Sanana)

Species group: V. prasinus (prasinus complex)

  • V. prasinus (Emerald Tree Monitor) --> Papua
  • V. reisingeri (Yellow Tree Monitor/ Reisinger's Monitor) --> Papua (Misool, Raja Ampat)
  • V. kordensis (Korden's Monitor) --> Papua (Biak)
  • V. macraei (Blue-spotted Tree Monitor) --> Papua (Raja Ampat)
  • V. boehmei (Golden-spotted Tree Monitor) --> Papua (Waigeo)
  • V. beccarii (Black Tree Monitor) --> Papua (Aru)


4. Odatria (Dwarves Monitor) Species group: V. timorensis

  • V. timorensis (Timor Monitor) --> Timor
  • V. auffenbergi (Peacock Monitor) --> Rote
  • V. similis (Grey-spotted Tree Monitor) --> Papua


5. Papusaurus

  • V. salvadorii (Crocodile Monitor/ Tree Crocodile) --> Papua


6. Soterosaurus

  • V. salvator bivittatus (Asian Water Monitor) --> Jawa, Bali, Nusa Tenggara
  • V. togianus [Togian (Black) Water Monitor] --> Sulawesi (Togian)
  • V. salvator ssp. (Sulfur Water Monitor) --> Jawa (???)
  • V. salvator ssp. (Sulawesi Spotted Water Monitor) --> Sulawesi
  • V. salvator ssp. (Black Dragon Water Monitor) --> Sumatera (Lampung)
  • V. salvator ssp. (Moluccas Water Monitor) --> Maluku (Halmahera)
  • V. salvator ziegleri --> Obi dan pulau2 sekitarnya
  • V. salvator macromaculatus --> Sumatera dan Kalimantan

Komunitas Edukasi Reptil, ASPERA[sunting | sunting sumber]

Komunitas Aspera merupakan komunitas edukasi dan pemerhati reptil. Komunitas ini didirikan atas kepedulian terhadap pelestarian reptil dan stigma negatif masyarakat terhadap keberadaan reptil pada tanggal 4 Juli 2011. Komunitas Aspera ini kerap diundang ke berbagai acara guna menyosialisasikan hewan reptil.