Bakung Lor, Jamblang, Cirebon

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Bakung Lor
—  Desa  —
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Barat
Kabupaten Cirebon
Kecamatan Jamblang
Kodepos 45157
Luas 295.529 Ha
Jumlah penduduk 6300 jiwa

Bakung Lor adalah sebuah desa yang berada di Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Indonesia.

Dahulu kala Bakung Lor bernama Bakung Alas yang kemudian berganti nama setelah dilakukannya pemekaran desa menjadi Bakung Lor dan Bakung Kidul pada tahun 1980-an.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Desa Bakung Lor dapat ditempuh sejauh ± 10 km dari arah Kecamatan Jamblang, 8,8 km dari arah Pasar Celancang dan 12 km bila di tempuh dari arah Pasar Pasalaran Plered cirebon.

Batas Wilayah
Sebelah Utara Desa Suranenggala Lor
Sebelah Selatan Desa Bakung Kidul
Sebelah Barat Desa Kreyo,Bakung Kidul
Sebelah Timur Desa Bakung Kidul, Sura Kulon

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Desa Bakung Lor terkenal dengan nama Bakung Alas. Masyarakat Desa Bakung Lor biasa menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa Jawa dan bahasa Jawa Halus yang biasa orang tua menyebutnya bahasa kromo.

Dahulu, nama Bakung Lor berasal dari kata Bakung Alas yang berarti adalah sebuah Tempat yang menjadi Alas kekayaan dari Desa Bakung Secara global. Tempat itu Terletak di Blok Sirangdu yang lebih tepatnya berada di sebelah Utara Balai Desa Bakung Lor.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Menurut cerita, Pada jaman dahulu kala dalam penyamarannya di gunung Kumbang, yang tepatnya di blok Ardi Lawet bergelar Abujangkrek. Ki Gedeng Alang-Alang dengan gelar ki Kuwu Cerbon atau biasa orang menyebutnya dengan mbah kuwu cerbon. Di tempat tersebut beliau memiliki dua orang anak yaitu seorang laki-laki bernama Sela Rasa dan seorang perempuan bernama Sela Rasi. Di jaman itu Ki Kuwu memasuki daerah Telaga dan dan beliau bertemu dengan seseorang yang bernama Ki Wanajaya . Di telaga tersebut Ki Wanajaya adalah seorang yang sakti mandraguna hingga tak ada tandingannya.dan dalam pertemuannya dengan Ki Kuwu, terjadilah selisih paham hingga menimbulkan perkelahian. Perkelahian dua orang sakti itu terjadi lama sekali, hingga masing-masing mencari kelemahan lawannya, Tetapi belum seorangpun yang menunjukkan kelemahan untuk dapat dirobohkan salah seorang diantaranya.

Pada suatu saat diserangnya Ki Wanajaya dengan ajian Nini Badong yang berkhasiat mengeluarkan hawa dingin luar biasa. Ki kuwu mengarahkan ajian itu sangat tepat mengenai sasarannya, Ki Wanajaya menjadi tak berdaya. Tetapi Ki Kuwu yang memiliki jiwa ksatria, menunggu lawannya yang tak berdaya dan tidak berani menyerangnya sampai mati. Agaknya Ki Wanajaya sendiri merasakan perlakuan lawannya tidak mudah dapat dilawannya. hinga pada akhirnya Ki Wanajaya menyerah, dan Ki Kuwu dengan senang hati mengampuninya. Kemudian Ki Wanajaya mengikuti faham Ki Kuwu memasuki agama Islam.

Karena pernyataan Ki Wanajaya, Ki Kuwu berniat baik kepada Ki Wanajaya agar seterusnya tetap berjalan dalam Islam. kemudian ki kuwu meminta kepada Ki Wanajaya agar memperistri putrinya yang bernama Sela Rasi. Ki Wanajaya mengajukan keberatan sehubungan usianya telah berjauhan dengan Sela Rasi. Tetapi dengan kesaktiannya Ki Kuwu memberikan ilmu kepada Ki Wanajaya. Setelah ilmu itu diterima, berubahlah wajah Ki Wanajaya layaknya seorang perjaka. Ki Kuwu menyuruh Ki Wanajaya berkaca ke permukaan air agar mengetahui perubahan dirinya. Namun ditempat itu tidak ditemukan sebuah balong pun, segera Ki kuwu ditempatnya duduk mencungkil tanah, dari tanah yang dicungkilnya lah dikabulkan, lalu timbulah sebuah balong yang airnya jernih sekali, Ki Wanajaya segera berkaca di balong tersebut. Ki Wanajaya tersenyum melihat tampangnya seperti perjaka kembali. Ki Kuwu menjelaskan, engkau telah kuberi Doa Janur Wenda yang telah engkau hafalkan. Doa yang telah engkau baca dikabulkan Allah, dan raut mukamu telah kembali seperti perjaka.

Ki Kuwu menunjukkan adanya binatang-binatang kecil yang disebut Remis, berada dipinggiran balong yang baru terjadi itu. Balong ini sebaiknya diberi nama Telaga Remis, dan tanah cungkilannya bawalah. Ki Wanajaya menurut kepada semua yang dikatakan Ki Kuwu. Ki Wanajaya kemudian dijodohkan dengan Nyi Sela Rasi, di tempatkan agar berdiam di sebuah daerah yang diberi nama Bakung. Ki Wanajaya hidup rukun bersama istrinya Nyi Sela rasi di Bakung. Tanah cungkilan Telaga Remis disimpannya disebuah tempat yang diberi nama Tegal Angker. Tanah itu terletak di tapal batas Desa Pagertoya dan Desa Suranenggala Kulon. Dikatakan pula oleh Ki Kuwu kelak dikemudian hari kalau tanah di Tegal Angker dipertemukan dengan air yang berasal dari Telaga Remis, maka tanah disana akan menjadi subur.

Berdasarkan pada cerita itu, pada masa jabatan Kuwu Bakung yang pada waktu itu dipegang oleh Moh Sidik, amanat itu telah dibuktikannya. Kuwu Moh Sidik mencoba mengusahakan terjadinya air dari sungai Jamblang dapat menembus sampai ke Tegal Angker. Usahanya dibantu oleh rakyat setempat memperoleh hasil, kurang lebih tahun 1970an, air dari Telaga Remis sampai ke Tegal Angker. Yang telah diamanatkan Ki Kuwu tersebut terbukti dan membuahkan hasil, Tegal Angker merupakan tanah yang subur. Lambat laun perkampungan Bakung di kukuhkan menjadi Desa Bakung. Yang kemudian pada tahun 1980an Desa Bakung dimekarkan menjadi dua Desa yaitu Desa Bakung Kidul dan Desa Bakung Lor.

Perekonomian[sunting | sunting sumber]

Perekonomian Desa Bakung Lor dipengaruhi oleh letak geografis yang strategis sehingga struktur perekonomiannya didominasi oleh sektor Pertanian dan sektor perindustrian.

Desa Bakung sendiri sangat terkenal dengan tapenya yang tidak asing lagi di telinga masyarakat lingkungan bakung dan sekitarnya, bahkan masyarakat Kota Cirebonpun mengenalnya. Apalagi di Desa bakung juga terdapat banyak sekali pabrik - pabrik penggilingan padi yang hasil berasnya di kirimkan ke Bulog Jakarta. Sehingga tidak aneh meskipun Desa Bakung merupakan desa kecil namun namanya cukup terkenal bagi sebagian orang.

Daftar Kuwu Pemerintahan Desa Bakung[sunting | sunting sumber]

  • Ki Banar
  • Ki Sarijan
  • Ki Sardika
  • Ki Saban
  • Wirasastra
  • Nata Atmaja
  • H. Kasan
  • Mohammad Sidik
  • Curiga Wijaya
  • H. Sani Sontany
  • Tarkina
  • H. Toto Abiyanto
  • H. watma