Asfiksia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Asfiksia
Klasifikasi dan rujukan eksternal
ICD-10 R09.0, T71.
ICD-9 799.0

Perinatal asfiksia (berasal dari bahasa Yunani sphyzein yang artinya "denyut yang berhenti") merupakan kondisi kekurangan oksigen pada pernafasan yang bersifat mengancam jiwa. Keadaan ini bila dibiarkan dapat mengakibatkan hipoksemia dan hiperkapnia yang disertai dengan metabolik asidosis. [1] Asfiksia timbul karena adanya depresi dari susunan saraf pusat (CNS) yang menyebabkan gagalnya paru-paru untuk bernafas. [2]

Epidemiologi[sunting | sunting sumber]

Angka kejadian akibat asfiksia di Rumah sakit di Jawa Barat adalah 25,2% dan angka kematian di rumah sakit rujukan propinsi di Indonesia mencapai 41,94%. Data mengungkapkan bahwa sekitar 10% bayi baru lahir di rumah sakit membutuhkan bantuan bantuan bernafas, dari yang ringan hingga resusitasi ekstensif.[3]


Karakteristik Esensial[sunting | sunting sumber]

Tanda-tanda khusus dari bayi baru lahir dengan asfiksia, harus memenuhi 4 kriteria berikut :

  • Metabolik asidosis, darah diperiksa dari arteri umbilical cord fetus (pH <7 dan basa defisit >=12 mmol/L)
  • Skor Apgar 0-3 selama lebih dari 5 menit.
  • Adanya kelainan neurologis seperti kejang, koma atau hipotonis (neonatal ensefalofati)
  • Disfungsi multiorgan [4]


Mekanisme Asfiksia Selama Periode Partus dan Post-Partum[sunting | sunting sumber]

Beberapa mekanisme yang dapat menimbulkan asfiksia diantaranya :
1. Gangguan sirkulasi umbilikal, contohnya karena kompresi ''umbilical cord''
2. Tidak mencukupinya perfusi plasenta, contohnya yaitu hipotensi maternal, hipertensi kehamilan, dan kontraksi uterus yang abnormal.
3. Gangguan oksigenasi maternal, contohnya penyakit jantung-paru dan anemia
4. Adanya gangguan pada pertukaran gas di plasenta, contohnya yaitu abruptio plasenta dan plasenta previa
5. Paru-paru bayi gagal bertransisi dari sirkulasi fetal ke sirkulasi neonatal ([1]


Manifestasi Klinis[sunting | sunting sumber]

Mayoritas bayi baru lahir yang mengalami asfiksia, tidak menunjukan kelainan neurologis pada tahap akut.Efek yang ditimbulkan bila bayi asfiksia tidak diterapi dengan segera, akan menyebabkan kerusakan dari banyak organ :
Bila Apgar score <5 dalam waktu 5 menit, bayi bisa mengalami gangguan yang parah minimal pada 1 organ, dimana 90% bayi dengan Apgar score ≥5 dalam waktu 5 menit, kecil kemungkinan untuk mengalami kelainan organ yang parah. Organ-organ tersebut diantaranya :
1.Gangguan saraf : kelainan yang timbul dapat berupa retardasi mental, penurunan IQ, kejang, kerusakan ''spinal cord'', dan depresi pernafasan
2. Sistem Kardiovasckular : keadaan yang timbul bisa berupa ''Shock'', hipotensi, insufisiensi trikuspid, nekrosis miokardium, dan gagal jantung
3. Fungsi Ginjal :keadaan yang timbul dapat berupa hematuria, proteinuria, atau gagal ginjal
4. Fungsi Hepar : keadaan yang timbul dapat berupa peningkatan serum ALT, amonia, dan bilirubin indirek
5. Traktus Gastrointestinal
6. Gangguan fungsi pernafasan[1]

Manajemen[sunting | sunting sumber]

Manajemen utama yang pertama kali diberikan yaitu :
1. Resusitasi [5][6]
2. Pemberian obat-obatan, seperti epinefrin
3. Intubasi Endotrakeal[3]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c (Inggris) Gomella, Tricia Lacy (2004). Neonatology : Management, Procedures, On-call problems, Diseases, and Drugs. Lange. ISBN: 0-07-138918-0. 
  2. ^ (Inggris) Kliegman, Robert M. (2007). Nelson Textbook of Pediatrics. Saunders Elsevier. ISBN: 978-0-8089-2365-7. 
  3. ^ a b (Inggris) Kosim, M. Sholeh (2008). Buku Ajar Neonatologi. Badan Penerbit IDAI. ISBN: 978-979-8421-30-3. 
  4. ^ Essential Criteria, Essential Criteria. Diakses pada 27 Juli 2012.]
  5. ^ NRP, NRP. Diakses pada 27 Juli 2012.]
  6. ^ Neonatal Resuscitation, Neonatal Resuscitation. Diakses pada 27 Juli 2012.]