Ular segitiga-merah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
?Ular Segitiga-merah
Xenochrophis trianguligerus dari Kutai Barat, Kalimantan Timur
Xenochrophis trianguligerus dari Kutai Barat, Kalimantan Timur
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Reptilia
Ordo: Squamata
Upaordo: Serpentes
Famili: Colubridae
Genus: Xenochrophis
Spesies: X. trianguligerus
Nama binomial
Xenochrophis trianguligerus
(Boie, 1827)

Ular segitiga-merah adalah sejenis ular yang cantik dari suku Colubridae. Ular perenang ini dinamai demikian karena memiliki deretan segitiga kemerahan di kedua sisi tubuhnya. Karena itu ia juga dikenal sebagai ular sisi-merah, atau bahkan kadang-kadang disebut dengan nama yang tidak tepat: ular picung. Namanya dalam bahasa Inggris adalah triangle keelback, merujuk pada gambaran segitiga merah tadi dan bentuk sisik-sisik punggungnya yang berlunas (keeled). Nama ilmiahnya adalah Xenochrophis trianguligerus (Boie, 1827).

Pemerian[sunting | sunting sumber]

Tubuh bagian tengah X. trianguligerus dari Bogor, Jawa Barat

Ular yang ramping dan gesit. Panjang tubuh maksimal mencapai 120 cm, namun umumnya sekitar 80 cm atau kurang.

Sisi atas tubuh (dorsal) coklat kelabu bercampur pola-pola hitam, dengan deretan segitiga terbalik kehitaman di atas berseling dengan segitiga kemerahan di bawah di sepanjang sisi tubuhnya. Warna kemerahan itu memudar di sebelah depan (dekat leher) dan sebelah belakang tubuh (perut hingga ekor). Kepala hijau zaitun sampai kecoklatan. Bibir, dagu dan tenggorok kuning. Terdapat beberapa coret hitam tipis di bibir atas, terutama di bawah dan belakang mata. Ventral (sisi bawah tubuh) berwarna keputihan, dengan belang-belang (perpanjangan segitiga gelap) di bawah ekor.

Sisik-sisik dorsal tersusun dalam 19 deret (19-19-17), berlunas kecuali satu-dua deret terbawah. Sisik ventral 134-151 buah, sisik anal (penutup anus) berpasangan, sisik-sisik subkaudal di bawah ekor 86-97 pasang. Sisik labial (bibir) atas 9 buah, no 4-6 (4-7) menyentuh mata. Sisik anterior temporal dua buah di masing-masing sisi kepala. Lubang hidung mengarah ke atas, sebagaimana ciri ular-ular perenang.

Agihan[sunting | sunting sumber]

Ular ini diketahui menyebar luas mulai dari India (Arunachal Pradesh (distrik Deban - Changlang), Kep. Nikobar); Burma; Laos; Kamboja; Vietnam; Thailand; Semenanjung Malaya; Singapura; dan Kepulauan Nusantara.

Di Nusantara menyebar mulai dari Sumatra dan pulau-pulau di sekitarnya (Nias, Mentawai, Riau, Bangka, Belitung), Borneo (termasuk pula Brunei Darussalam dan Malaysia Timur); Jawa; Sulawesi; Kep. Sangihe dan Ternate).

Lokasi asal tipe: Bogor, Jawa Barat.

Ekologi dan perilaku[sunting | sunting sumber]

Berenang di saluran irigasi

Di Sumatra ditemukan mulai dari daerah pantai hingga ketinggian sekitar 1330 m di dekat Brastagi, 920 m di Fort de Kock, dan di atas 900 m di Kerinci. Meski demikian, ular ini lebih melimpah di dataran rendah.

Ular ini menyukai wilayah perairan seperti aliran sungai, saliran, paya dan rawa-rawa, serta kolam-kolam ikan dan sawah. Sering dijumpai tengah berenang di sungai kecil atau saluran irigasi. Kadang-kadang bersembunyi sambil berendam di antara tanaman air. Meskipun demikian ular segitiga-merah sering pula naik dan tinggal di darat.

Aktif di siang hari (diurnal), ular ini terutama memangsa kodok dan ikan, meski tidak jarang pula memburu reptilia kecil seperti kadal. Namun Stuebing dan Inger (1999) menyebutkan bahwa ular ini juga kerap ditemukan aktif di malam hari (nokturnal). Ular betina bertelur hingga sekitar 15 butir.

Ular segitiga-merah gesit di air maupun di darat. Sedikit agresif dan mudah menggigit apabila ditangkap, namun tidak membahayakan manusia.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  • David, P. & G. Vogel. 1997. The Snakes of Sumatra. An annotated checklist and key with natural history notes. Edition Chimaira. Frankfurt. ISBN 3-930612-08-9.
  • Stuebing, R.B. & R.F. Inger. 1999. A Field Guide to The Snakes of Borneo. Natural History Publications (Borneo). Kota Kinabalu. ISBN 983-812-031-6.
  • Tweedie, M.W.F. 1983. The Snakes of Malaya. The Singapore National Printers. Singapore