Tapir Asia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
?Tapir Asia
Tapir Asia di Kebun Binatang London
Tapir Asia di Kebun Binatang London
Status konservasi
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Perissodactyla
Famili: Tapiridae
Genus: Tapirus
Spesies: T. indicus
Nama binomial
Tapirus indicus
(Desmarest, 1819)

Tapir Asia (Tapirus indicus) adalah salah satu jenis tapir. Tapir Asia merupakan jenis yang terbesar dari keempat jenis tapir dan satu-satunya yang berasal dari Asia. Nama ilmiahnya indicus merujuk pada Hindia Timur, yaitu habitat alami jenis ini. Di Sumatra tapir umumnya disebut tenuk or seladang, gindol, babi alu, kuda ayer, kuda rimbu, kuda arau, marba, cipan, dan sipan.[1]

Deskripsi[sunting | sunting sumber]

Tapir Asia mudah dikenali dari cirinya berupa "pelana" berwarna terang dari bahu hingga pantat. Bulu-bulu di bagian lain tubuhnya berwarna hitam kecuali ujung telinganya yang berwarna putih seperti jenis tapir lain. Pola warna ini berguna untuk kamuflase: warna yang membuat kacau membuatnya tidak nampak seperti tapir, binatang lain mungkin mengiranya batu besar dan bukannya mangsa saat tapir ini berbaring atau tidur.[2]

Kerangka

Tapir Asia tumbuh hingga sepanjang 1,8 sampai 2,4 mdan 8 kaki), tinggi 90 sampai 107 cm (3 sampai 3,5 kaki), dengan biasanya 250 sampai 320 kg (550 dan 700 pon), meskipun berat mereka dapat mencapai 500 kg (1.100 pon).[3] Tapir betina biasanya lebih besar daripada tapir jantan. Seperti jenis tapir lain ekornya pendek gemuk serta belalai yang panjang dan lentur.Di tiap kaki depanya terdapat empat kuku dan di tiap kaki belakangnya ada tiga kuku. Indera penglihatan tapir Asia agak buruk namun indera pendengarannya dan penciuman tajam.

Siklus Hidup[sunting | sunting sumber]

Tapir muda, masih dengan pola bergaris-garisnya, tidur di belakang induknya

Masa hamil tapir Asia sekitar 400 hari, dimana setelahnya seekor anak lahir dengan berat 6,8 kg (15 pon). Tapir Asia merupakan yang terbesar saat lahir dibanding jenis-jenis tapir lainnya dan tumbuh lebih cepat dari jenis tapir lain.[4] tapir muda dari semua jenis berbulu cokelat dengan garis-garis dan bintik-bintik putih, pola yang memungkinkannya bersembunyi dengan efektif di dalam bayangan-bayangan hutan. Pola pada bayi ini berubah menjadi pola warna tapir dewasa antara empat hingga tujuh bulan setelah kelahiran. Anak tapir disapih antara umur 6 dan 8 bulan dan binatang ini menjadi dewasa pada umur tiga tahun. perkembangbiakan basanya terjadi pada bulan April, Mei Atau Juni. Tapir betina biasanya melahirkan satu anak tiap dua tahun. Tapir Asia dapat hidup hingga 30 tahun baik di alam liar maupun di kurungan.

Ketertarikan baru-baru ini mendorong para perekayasa biologi mencoba menciptakan versi kerdil dari tapir. Mereka percaya bahwa ada pasar untuk tapir kerdil sebagai binatang peliharaan di Amerika Serikat.

Perilaku[sunting | sunting sumber]

Seekor tapir dengan belalai di rentangkan, Woodland Park Zoo, Seattle

Tapir Asia terutama merupakan hewan penyendiri, menandai jalur-jalur besar di darat sebagai teritori atau daerah kekuasaannya, meski daerah ini biasanya bertumpang tindih dengan daerah kekuasaan individu lain. Tapir menandai teritorinya dengan mengencingi tetumbuhan dan mereka sering mengikuti jalur lain dari yang telah mereka buat yang telah ditumbuhi tumbuhan.

Binatang ini herbivora, ia mencari makan berupa umbi empuk dan daun-daunan dari lebih dari 115 jenis tumbuhan (ada kira-kira 30 yang terutama disukainya), bergerak lambat di hutan dan berhenti untuk makan dan memperhatikan bau yang ditinggalkan tapir lain di daerah itu.[5] Akan tetapi, bila merasa terancam, tapir dapat lari dengan cepat meskipun bertubuh besar, dan mereka juga dapat membela diri dengan rahang kuat serta gigi tajamnya. Tapir-tapir Asia berkomunikasi satu sama lain dengan cicitan dan siulan bernada tinggi. Mereka suka tinggal di dekat air dan sering mandi dan berenang. Mereka juga bisa memanjat tempat yang curam. Tapir aktif terutama malam hari, walaupun mereka tidak benar-benar nokturnal. Mereka cenderung makan begitu matahari terbenam dan sebelum matahari terbit, mereka juga sering tidur siang sebentar. Tingkah laku ini menandai mereka sebagai satwa krepuskular.

Habitat, Pemangsa dan Kerentanan[sunting | sunting sumber]

Peta penyebaran tapir di alam liar, data sekitar tahun 2003

Dahulu, tapir Asia dapat ditemukan diseluruh hutan hujan dataran rendah di Asia Tenggara termasuk Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar Burma, Thailand, dan Vietnam. Namun populasinya menurun tahun-tahun belakangan ini, dan seperti jenis-jenis tapir lainnya juga terancam kepunahan.[6] Karena ukurannya, tapir memiliki sedikit pemangsa alami, bahkan tapir jarang dimangsa oleh harimau. [7]Ancaman utama bagi tapir Asia adalah kegiatan manusiatermasuk penebangan hutan untuk pertanian, banjir akibat dibendungnya sungai untuk membuat pembangkit listrik tenaga air, dan perdagangan ilegal.[8]. Di Thailand, sebagai contoh, penangkapan dan penjualan seekor tapir muda dapat bernilai US$5500.[9] Di daerah seperti Sumatra, dimana populasinya kebanyakan Muslim , tapir jarang diburu untuk dimakan karena kemiripan tubuhnya dengan babi membuat daging tapir tabu, namun di beberapa daerah mereka diburu untuk olahraga atau tidak sengaja tertembak karena dikira binatang lain.[10] Status dilindungi di Thailand, Malaysia dan Indonesia, yang ditujukan pada pembunuhan tapir dengan sengaja tapi tidak ditujukan pada isu hilangnya habitat, telah membatasi pemulihan atau menjaga polulasi tapir.

Variasi brevetianus[sunting | sunting sumber]

sejumlah kecil tapir Asia melanistik (serba-hitam) telah diamati. Tahun 1942, seekor tapir serba-hitam dikirim ke kebun binatang Rotterdam dan diklasifikasikan sebagai subspesies yang disebut Tapirus indicus brevetianus yang dinamai berdasarkan penemunya Kapten K. Brevet.[11] Pada tahun 2000, dua ekor tapir melanistik diamati selama studi harimau di Suaka Hutan Jerangau di Malaysia Semenanjung. [12] Penyebab variasi ini mungkin ketidaknormalan genetis yang mirip dengan macan kumbang yang muncul pada populasi macan tutul, Akan tetapi, kecuali kalau dan hingga individu brevetianus dapat dipelajari, penjelasan yang tepat untuk sifat tersebut tetap tidak diketahui.

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ bin Momin Khan, Mohd Khan. "Status and Action Plan of the Malayan Tapir (Tapirus indicus)" Tapirs: Status Survey and Conservation Action Plan published by IUCN Tapir Specialist Group, 1997, page 1
  2. ^ Woodland Park Zoo Animal Fact Sheet: Malayan Tapir (Tapirus indicus)
  3. ^ Wilson & Burnie, Animal: The Definitive Visual Guide to the World's Wildlife. DK ADULT (2001), ISBN 978-0-7894-7764-4
  4. ^ Fahey, B. 1999. "Tapirus indicus" (On-line), Animal Diversity Web. Accessed June 16, 2006.
  5. ^ bin Momin Khan, Mohd Khan. "Status and Action Plan of the Malayan Tapir (Tapirus indicus)" Tapirs: Status Survey and Conservation Action Plan published by IUCN Tapir Specialist Group, 1997, page 1
  6. ^ Kawanishi et al (2003). Tapirus indicus. 2006 IUCN Red List of Threatened Species. IUCN 2006. Diakses 11 May 2006. Database entry includes justification for why this species is vulnerable
  7. ^ bin Momin Khan, Mohd Khan. "Status and Action Plan of the Malayan Tapir (Tapirus indicus)" Tapirs: Status Survey and Conservation Action Plan published by IUCN Tapir Specialist Group, 1997, page 2
  8. ^ Fact sheet on Malayan Tapir - Tapirus indicus, UNEP World Conservation Monitoring Centre, in association with the World Wildlife Foundation
  9. ^ bin Momin Khan, Mohd Khan. "Status and Action Plan of the Malayan Tapir (Tapirus indicus)" Tapirs: Status Survey and Conservation Action Plan published by IUCN Tapir Specialist Group, 1997, page 2
  10. ^ Simon, Tamar. “The Tapir: A Big Unknown” article from Discovery Channel Canadian website, July 22, 1999.
  11. ^ Shuker, Dr. Karl P. N. Mysteries of Planet Earth, pages 11-12
  12. ^ Mohd, Azlan J. "Recent Observations of Melanistic Tapirs in Peninsular Malaysia".Pada September 2003, peneliti Kanada William Sommers menyaksikan kelahiran seekor tapir hitam di alam liar. Tapir Conservation: The Newsletter of the IUCN/SSC Tapir Specialist Group, June 2002, Volume 11, Number 1, pages 27-28

Pranala luar[sunting | sunting sumber]