SMA Kolese Loyola Semarang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari


Sekolah Menengah Atas Kolese Loyola Semarang
Data Sekolah
LogoKoleseLoyola.png
Berdiri: Agustus 1949
Provinsi: Jawa Tengah
Alamat Lengkap: Jl.Karanganyar 37
Nomor Telepon/Fax:
Kepala Sekolah: Bruder Yustinus Triyono, SJ.
Jumlah Kelas: 8 kelas setiap tingkat
Program Jurusan: IPA dan IPS
Rentang Kelas: X, XI IPA, XI IPS, XII IPA, XII IPS
Kurikulum: Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
Jumlah Siswa:
NEM Masuk terendah:
NEM Masuk tertinggi:
NEM Masuk rata-rata:
Status sekolah: Swasta
Website: http://www.loyola-smg.sch.id

Kolese Loyola (Loyola College atau yang lebih dikenal dengan akronim LC [élsi]) adalah sebuah lembaga pendidikan bernafaskan iman Katolik yang dijalankan oleh Serikat Yesus. Kolese Loyola berlokasi di Semarang. Nama Loyola diambil dari nama santo pelindung sekolah, Santo Ignatius Loyola (1491-1556).

Sejarah Kolese[sunting | sunting sumber]

Pendidikan Loyola mengakar sangat dalam di dalam sejarah kolese Yesuit. Dimulai dari zaman Ignatius Loyola, zaman penjajahan Belanda, awal kemerdekaan Indonesia, hingga sekarang.

Zaman Santo Ignatius[sunting | sunting sumber]

Beberapa lama setelah lahirnya Serikat Yesus, Ignatius dan kawan-kawannya menghadapi masalah besar dalam mencari tenaga baru dewasa yang cakap, terdidik, dan terpanggil seperti mereka. Serikat muda ini diminta mengemban tugas-tugas yang semakin lama semakin berat. Satu-satunya jalan adalah mendirikan beberapa pusat pendidikan untuk kaum muda yang terpanggil untuk mengabdi seperti mereka. Pusat-pusat pendidikan ini begitu berhasil dan terkenal sehingga banyak orang tua ingin menitipkan anak-anak mereka ke dalam pusat pendidikan Yesuit yang kemudian disebut collegium atau kolese. Arti harfiah kolese adalah tempat belajar bersama atau sekolah berasrama (dalam bahasa Latin kata cum berarti 'bersama' sedangkan leggere berarti 'membaca' atau 'belajar').

Kolese terkenal karena pendidikan humanisme dan alumni-alumninya. Pada masa itu sedang berkembang paham humanisme atau kemanusiaan. Humanisme memusatkan perhatian pada martabat manusia (dalam bahasa Latin kata "homo" berarti "manusia"). Satu gerakan cabang humanisme memandang manusia sama sekali otonom dan karenanya harus mengembangkan segala potensinya tanpa mengindahkan iman dan agama bahkan menolak Tuhan. Sumber pendidikan humanisme adalah karya sastra dan budaya Yunani-Romawi yang jauh lebih bermutu daripada karya sastra budaya kontemporer yang terlalu dipengaruhi agama dan kitab suci.

Kolese mengembangkan humanisme religius, yaitu suatu humanisme yang di satu sisi mengakui otonomi dan potensi manusia dan di sisi lain mengakui bahwa martabat, otonomi, dan potensinya itu berakar pada hakekat manusia sebagai anak-anak Allah yang dicintai-Nya. Dengan demikian untuk perkembangan intelektual, kolese mampu menggunakan sumber pendidikan karya sastra dan budaya Yunani-Romawi secara optimal. Untuk perkembangan pribadi, kolese mampu menghargai usaha pengembangan potensi siswa dalam kebebasan dan kemandirian. Sedangkan untuk perkembangan iman, kolese mampu merajut pendidikan modern tersebut dalam religiositas yang mendalam. Pendidikan kolese begitu berhasil sehingga alumni-alumni tidak hanya menghayati humanisme, melainkan juga menjadi tokoh-tokoh pembela humanisme religius.

Akhirnya sampai pada tahun 1556 saat meninggalnya, Santo Ignatius telah merestui pendirian 40 kolese dan menyetujui karya pendidikan di kolese sebagai salah satu karya Serikat Yesus. Semboyan kolese pada tahun itu adalah "Mendidik kaum muda adalah mereformasi dunia" (Educatio puerorum reformatio mundi). Sekolah mendidik humanis religius dan menumbuhkan mereka menjadi pendekar humanisme religius melawan humanisme atheis yang menyesatkan.

Zaman Penjajahan Belanda[sunting | sunting sumber]

Kolese pertama di Indonesia adalah Kolese Xaverius di Muntilan. Pendiri dan pencetus ide itu adalah Pater van Lith, SJ. Murid-muridnya mengatakan bahwa ia adalah seorang Belanda berhati Jawa (waktu itu negara Indonesia belum berdiri). Ia sangat prihatin melihat keadaan kemanusiaan waktu itu. Orang Jawa di tanahnya sendiri adalah budak, sedangkan orang Belanda adalah tuan. Ini adalah suatu kemanusiaan yang timpang. Ia ingin mengubah persepsi, sikap, dan penghayatan akan kemanusiaan yang salah itu. Untuk itu, ia mendirikan kolese bagi pemuda Jawa atau Indonesia. Di Kolese Xaverius, siswa meresapkan iman keyakinan bahwa setiap manusia diciptakan sama sebagai anak-anak Allah. Di samping itu, mereka belajar bahasa dan budaya Belanda. Di asrama, siswa belajar hidup dengan cara hidup orang Belanda. Dengan bekal yang diperoleh selama di kolese, siswa-siswa Jawa menghayati kemanusiaan yang benar, tidak menjadi inferior, mampu berbahasa dan bertatacara sebagai manusia berbudaya modern. Mereka dapat duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan orang Belanda.

Cita-cita kolese Pater van Lith, SJ berhasil. Hal ini tampak dari penghayatan para siswanya sebagai orang Jawa otentik yang mampu hidup modern. Mereka menghayati kemanusiaan yang benar, memperjuangkan, dan menyebarkannya. Banyak dari mereka menjadi guru dan mengajarkan apa yang telah diperoleh dari Muntilan. Banyak juga yang berkecimpung dalam berbagai profesi dan di mana mereka berada, mereka memperjuangkan ideal Kolese Xaverius.

Awal pendirian[sunting | sunting sumber]

Pendiri Kolese Loyola adalah Pater Jan van Waayenburg, SJ. Akhir tahun 1948, Belanda meninggalkan Indonesia. Pada saat yang kritis tersebut negara Indonesia ditinggalkan oleh para pemimpin birokrasi, bisnis, kemasyarakatan, dan pendidikan. Mereka kembali ke negeri Belanda. Melihat situasi tersebut, Pater Jan prihatin. Di samping itu, ia juga prihatin dan kagum terhadap anak-anak muda yang pulang dari gerilya karena ikut orang tuanya. Di satu sisi mereka tidak mempunyai sekolah, dan di sisi lain mereka adalah anak-anak muda pemberani, mengorbankan hidup nyaman di rumah untuk ikut berperang, dan berjuang guna kepentingan orang banyak membela tanah air.

Berawal dari keprihatinan di atas, Pater Jan mendirikan kolese untuk mendidik kaum muda. Ia mencita-citakan siswa kolese menjadi pemimpin masa depan yang berjuang untuk rakyat banyak, bersemangat tinggi, dan mampu berkorban seperti kaum muda bergerilya. Mereka diharapkan menjadi tokoh masyarakat yang tegar dalam moral dan yang berkepedulian kepada kepentingan rakyat banyak. Pemikiran Pater Jan van Waayenburg, SJ mengenai pendidikan sama dengan pemikiran para pater Yesuit pertama sekalipun konteksnya berbeda.

Pada Agustus 1949, Pater Jan van Waayenburg, SJ mendirikan suatu SMA yang bernama Canisius VHO (VHO adalah sekolah persiapan ke perguruan tinggi). Pada awalnya, sekolah ini bertempat di Bruderan Kalisari. Jumlah siswa-siswinya sedikit. Oleh karena itu, antara siswa dan siswi dicampur. Setelah jumlahnya memadai, para siswa dipisahkan dari para siswi dalam kelas-kelas yang tersendiri. Kelas para siswa diasuh oleh romo-romo Yesuit. Sedangkan para siswi diasuh oleh suster-suster Fransiskanes. Pada tahun 1950, kelas para siswa dipindah ke lokasi baru di jalan Karanganyar. Canisius VHO menjelma menjadi Kolese Loyola. Kelas para siswa ini disebut Loyola Putra. Sedangkan para siswi dipindah ke daerah Bangkong, pada jalan Mataram dan diasuh oleh suster Fransiskanes.

Sejak 1 Agustus 1968, kedua bagian secara resmi berdiri sendiri dengan nama Loyola I dan Loyola II. Sejak 1 Februari 1982, pemisahan Kolese Loyola dari Loyola II menjadi sempurna dengan berubahnya nama Loyola II menjadi Sedes Sapientie. Suster PI juga mendirikan sebuah sekolah sekolah yang terpisah dari Loyola II menjadi Loyola III di Kebon Dalem. Sekolah Suster PI ini telah berpisah secara resmi sejak 25 April 1973 dan menjadi SMA Kebon Dalem Semarang. Kolese Loyola sendiri menerima murid putri secara resmi dari kelas 1 pada tahun 1968. Untuk mewadahi kiprah alumni Kolese Loyola dibentuk suatu wadah KEKL (Keluarga Eks Kolese Loyola) pada tanggal 27 Desember 1962. Dalam KEKL, alumni tidak hanya bekerja sama untuk meraih cita-citanya, tetapi juga untuk menjadi pelopor dalam memperjuangkan kepentingan bangsa.

Akhir Milenium II[sunting | sunting sumber]

Konteks pendidikan di Indonesia pada tahun 1965-1995 adalah pembangunan. Dalam masa pembangunan banyak orang yang tertinggal, menjadi miskin, dan tertindas. Atas nama pembangunan tidak jarang terjadi ketidakadilan dan pelanggaran HAM. Dalam konteks pembangunan ini Pater Krekelberg, SJ dan Pater Dumais, SJ menggambarkan pendidikan di Loyola sebagai suatu pangkalan pasukan perintis. Pendidikan diarahkan untuk membentuk pejuang-pejuang bagi kepentingan rakyat banyak dan tidak hanya mencari kenyamanannya sendiri. Pendidikan diarahkan untuk membentuk siswa-siswi menjadi mandiri, kreatif, inisiatif, dan berjuang untuk kepentingan rakyat banyak.

Pater Markus, SJ dan Pater Warnabinarja, SJ mengungkapkan pembinaan di Loyola sebagai pembinaan untuk mengembangkan siswa menjadi manusia bagi sesama (man and woman for others). Para rektor pada waktu itu mengimpikan agar para siswa menjadi orang-orang terdidik yang mau bersusah payah bagi orang lain, khususnya yang miskin, kecil, tertindas, dan tertinggal.

Dalam konteks pembangunan ini kemanusiaan sejati atau humanisme sejati adalah humanisme yang memuat kepedulian sosial. Para pengasuh Loyola mengharapkan alumni menghayati humanisme yang memuat kepedulian sosial dan sekaligus berjuang untuk memecahkan masalah-masalah sosial yang besar yang melanda Indonesia.

Awal Milenium III[sunting | sunting sumber]

Konteks pendidikan pada awal milenium III adalah masyarakat yang sakit, yaitu masyarakat yang diliputi dengan ketidakadilan, kemiskinan, terkoyaknya persaudaraan, kurang penghargaan terhadap martabat manusia bahkan perusakan lingkungan. Dari konteks pendidikan, pendidikan berjalan ke arah yang salah. Pendidikan hampir melulu mengembangkan aspek intelektual tanpa memperhatikan konteks siswa yang nyata. Aspek intelektual itu pun direduksi menjadi hafalan, sedangkan metode pembelajarannya cenderung verbalitas dan mengandalkan ceramah.

Menjadi konteks masa kini dan setia pada pada arah pendidikan Serikat Yesus, Loyola merumuskan arah pendidikannya yaitu menumbuhkan pemimpin-pemimpin yang melayani, kompeten, berhatinurani benar, dan berkepedulian. Loyola mengharapkan siswa-siswinya menjadi pribadi-pribadi yang dibekali kepedulian, yang mau bersusah payah untuk orang lain, khususnya yang kurang beruntung, dan yang mau ikut serta berusaha mengubah budaya, kebiasaan-kebiasaan, aturan-aturan dalam bisnis, politik serta tata hukum agar masyarakat dan warganya menjadi lebih manusiawi. Yang dikembangkan dalam diri siswa melalui pendidikan kolese adalah sikap menghayati kemanusiaan religius yang sejati dan berjuang untuk menjadikan masyarakat menjadi lebih manusiawi.

Berdasarkan arah tersebut, Kolese Loyola merumuskan visinya, yaitu terwujudnya pejuang-pejuang pembaharu dunia yang kompeten, berhati nurani benar, dan berkepedulian sosial demi lebih besarnya kemuliaan Allah.

Sejarah kolese menunjukkan bahwa arah pendidikan kolese selalu sama, yaitu mendidik kaum muda adalah mereformasi dunia. Saat ini, arah kolese tersebut dirumuskan: kolese mendidik orang-orang muda sebagai agen perubahan sosial dan menjadi tempat ditumbuhkembangkannya penggerak-penggerak perubahan sosial. Segala perubahan yang diarah selalu disesuaikan dengan konteks sosial dan kemasyarakatan yang ada.

Fasilitas[sunting | sunting sumber]

Gedung baru mulai dipergunakan pada tahun 2004, dan pembangunannya hampir selesai sepenuhnya. Gedung baru ini memiliki beberapa fasilitas baru. Fasilitas-fasilitas penting di SMA Kolese Loyola adalah:

Laboratorium. SMA Kolese Loyola dilengkapi dengan tiga laboratorium, masing-masing untuk Fisika, Kimia dan Biologi. Dalam waktu dekat akan tersedia pula berbagai laboratorium baru termasuk di antaranya laboratorium bahasa. Di samping itu terdapat juga dua laboratorium komputer yang menunjang pendidikan komputer dasar hingga networking.

Sarana olahraga. Sarana olahraga di SMA Kolese Loyola mencakup sebuah lapangan sepak bola, basket indoor, basket outdoor, futsal, badminton, voli indoor, dan voli outdoor, di samping berbagai peralatan atletik dan peralatan olahraga lain (seperti tenis meja). Untuk lapangan basket indoor, voli indoor, badminton, dan futsal tergabung dalam sebuah aula yang luas dilengkapi ruang ganti.

Sarana audio visual. Ruang-ruang audio visual di SMA Kolese Loyola dilengkapi dengan multimedia player, LCD projector, televisi, dan laptop.

Kafetaria. Sebagai tempat makan dan berkumpul, tersedia satu buah kafetaria.

Perpustakaan. SMA Kolese Loyola memiliki sebuah perpustakaan yang buka pada setiap hari kerja dan dilengkapi dengan berbagai jenis buku, mulai dari novel hingga berbagai ensiklopedia berbahasa Inggris. Perpustakaan SMA Kolese Loyola juga menyediakan unit-unit komputer dengan akses internet yang dapat dipergunakan secara bebas.

Kapel. Sebagai sekolah yang berasaskan Katolik, Loyola memiliki sebuah kapel di dalam lingkungan sekolah.

Teater terbuka. Ruang teater terbuka biasanya digunakan untuk acara-acara khusus.

Pemimpin Kolese[sunting | sunting sumber]

Kepala Sekolah

Pamong

Alumnus terkenal[sunting | sunting sumber]

Acara kolese[sunting | sunting sumber]

  • POPSILA - Pekan Orientasi Siswa SMA Kolese Loyola
  • Malam Inagurasi
  • Pesta Nama Santo Ignatius Loyola
  • Pasar Murah
  • Kampanye DKKL
  • Pelantikan Pengurus DKKL - Dewan Keluarga Kolese Loyola
  • Natalan
  • Malam Budaya
  • English Nite
  • Paskahan
  • Pekan Olahraga
  • Penerimaan Murid Baru
  • LOSAC - Loyola Sport and Academic Competition
  • Malam Musik
  • Live In
  • Classmeeting
  • Valentine's Day
  • Acara Wisuda
  • Pitoelasan
  • Student Exchange Week
  • Fesfias - Festival Film Anak Sos
  • Pelantikan Orator
  • LASICO - Lanny Singin Contest
  • LIVE IN
  • Social Work
  • Ekskursi
  • LEF - Loyola Education Fair
  • Retret kelas XII
  • LONI - Loyola Night
  • LDK dan LDO

Ekstrakurikuler[sunting | sunting sumber]

Setiap siswa/siswi diharuskan untuk memilih 2 Ekstrakurikuler. Satu untuk bidang olahraga, dan satu bidang non olahraga

Olahraga:

  • Bridge

Peserta didik dengan olahraga Bridge ini dilatih untuk mengembangkan kemampuan otak dan strategi dalam memperoleh kemenangan secara sportif. Olahraga ini juga dikenal dengan nama Contract Bridge. Pada hari Minggu, 13 Februari 2011 SMA Kolese Loyola ditunjuk sebagai tempat penyelenggara Turnamen Bridge antar Pelajar Se-Nasional (Area Kota Semarang). Turnamen ini akhirnya dimenangkan oleh pasangan Jeffry dan Jo, Jevon siswa kelas X SMA Kolese Loyola.

  • Taekwondo

Seni bela diri yang berasal dari Korea merupakan seni bela diri yang paling banyak dimainkan di dunia. Hubae (junior) merupakan seseorang yang mulai belajar taekwondo. Ekstrakurikuler ini juga melahirkan atlet-atlet taekwondo yang berprestasi di kancah nasional.

  • Tennis Meja

Permainan ini mengandalkan fisik, dan taktik. Sarana olahraga ini adalah meja, net dan bet. Ekstrakurikuler ini sering mengikuti berbagai pertandingan.

  • Tennis Lapangan

Merupakan Ekstrakurikuler terbaru di Loyola dan dalam proses untuk semakin menghadirkan siswa-siswi yang berprestasi terutama dalam bidang olahraga khususnya tennis lapangan.

  • Futsal Putri

Putri-putri SMA Kolese Loyola sengat tertarik dengan olahraga ini.

  • Sepakbola

Ekstrakurikuler ini memiliki sarana lapangan sepakbola yang berstandar nasional, yang jarang dimiliki oleh sekolah lain. Sepakbola SMA Kolese Loyola sering mengikuti pertandingan-pertandingan sepakbola.

  • Voli

Ekstrakurikuler Bola Voli SMA Kolese Loyola dilatih oleh mantan pelatih klub ternama di Kota Semarang. Ekstrakurikuler ini juga mengikuti berbagai pertandingan.

  • Bulutangkis

Ekstrakurikuler bulu tangkis SMA Kolese Loyola dilatih oleh mantan pelatih PB Djarum Putri. Ekstrakurikuler ini juga banyak mengikuti pertandingan-pertandingan atau turnamen-turnamen di dalam maupun di luar Kota Semarang.

  • Bola Basket

Bola Basket SMA Kolese Loyola sering mengikuti pertandingan-pertandingan basket di dalam dan di luar Kota Semarang dan sering mendapat juara. Ekstrakurikuler ini juga dilatih oleh pelatih yang berlisensi.

  • Dance

Tarian tradisional dan modern dikolaborasi sehingga menghasilkan gerakan-gerakan yang membuat mata tak akan terpejam. Ekstrakurikuler ini juga sering tampil dalam berbagai acara penting.

Non Olahraga:

  • Paskibra

Alunan kaki yang serentak membuat gerakan indah dalam tiap kali upacara untuk mengibarkan Sang Saka Merah Putih di SMA Kolese Loyola.

  • Drama

Seni peran melatih untuk lebih menjiwai peranan dalam hidupan kita sehari-hari. Menjiwai peranan tidaklah mudah sehingga memerlukan pemahaman yang lebih sehingga menghasilkan peranan yang indah. Ekstrakurikuler ini juga sering tampil dalam pertunjukan-pertunjukan penting.

  • Lukis

Goresan pensil dalam kanvas menghasilkan wajah-wajah nan menawan. Hasil karya ekstrakurikuler ini juga dipamerkan.

  • Dekorasi

Menghiasi panggung pada saat event-event tertentu merupakan hal yang sangat menarik karena panggung merupakan tempat yang sangat vital dalam pertunjukan. Loyola jarang menyewa dekorasi, sebab anak-anak dekorasi yang begitu kreatif dalam menghias panggung tidak perlu diragukan lagi kemampuannya.

  • Koor

Nada tenor, bass, sopran dan alto digabungkan menjadi kesatuan nada dalam bentuk suara manusia yang sangat merdu. Ekstrakurikuler ini sering berkolaborasi dengan ekstrakurikuler Gamelan Soepra.

  • Gamelan Soepra

Kolaborasi gamelan jawa, alat musik klasik, dan alat musik modern menghasilkan nada-nada nan indah dan menawan. Ekstrakurikuler ini juga sering melantunkan lagu dan dalam Kota Semarang maupun luar Kota Semarang. Nama "Soepra" merupakan pemberian dari Bapak Presiden Pertama RI, Soekarno. Gamelan Soepra merupakan salah satu kekhasan SMA Kolese Loyola.

  • Fotografi

Kamera merupakan salah satu media dokumentasi. Dokumentasi yang menarik akan memberikan kepuasan tersendiri bagi yang melihatnya dan bagi yang mendokumentasikan. Hasil karya ekstrakurikuler ini juga sering dipamerkan.

  • Leadership

Jiwa-jiwa pemimpin sangat diperlukan untuk mengubah dunia (man and woman for and with others).

  • Jurnalistik

Melalui ekstrakurikuler jurnalistik peserta didik dilatih untuk membuat tulisan-tulisan jurnal yang diekspresikan dalam bentuk majalah sekolah. Ekstrakurikuler ini dilatih langsung oleh seorang jurnalis/wartawan.

  • Komputer

Komputer merupakan salah satu sarana penunjang kemajuan dalam berbagai hal di era sekarang ini. Melalui komputer dan jaringan internet kita dapat membuka wawasan kita mengenai dunia karena komputer dan internet merupakan jendela dunia. Ekstrakurikuler komputer juga merupakan sarana pendukung peserta didik untuk mempersiapkan diri mengikuti lomba-lomba TIK.

Mars Kolese Loyola[sunting | sunting sumber]

Kolese kita Loyola perguruan tercipta

Mengasuh manusia sejati

Menuju jiwa yang jujur

Cinta ilmu, olahraga, seni, dan budaya

Pikiran dan kehendak hati di latih secara teratur


Arah tujuan praputra murni penuh susila

Mengabdi bangsa karna Tuhan

Negara adil dan makmur

Cinta bangsa sluruh nusa penuh cita-cita

Slamanya kita usahakan supaya berbudi yang luhur

Pranala luar[sunting | sunting sumber]