Kabupaten Raja Ampat
| Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel. Setelah dirapikan, tolong hapus pesan ini. |
Lambang Kabupaten Raja Ampat Moto: Mbilin Kayam |
|
Peta lokasi Kabupaten Raja Ampat Koordinat: |
|
| Provinsi | Papua Barat |
| Dasar hukum | 12 April 2003 |
| Ibu kota | Waisai |
| Pemerintahan | |
| - DAU | Rp. 486.042.052.000.-(2013)[1] |
| Luas | 46.296 km2 |
| Populasi | |
| - Total | 27.071 jiwa (2000) |
| - Kepadatan | 0,58 jiwa/km2 |
| Demografi | |
| Pembagian administratif | |
| - Kecamatan | 10 |
| - Kelurahan | - |
| - Situs web | www.rajaampatkab.go.id |
Kabupaten Raja Ampat adalah salah satu kabupaten di provinsi Papua Barat, Indonesia. Ibukota kabupaten ini terletak di Waisai.
Kabupaten ini memiliki 610 pulau. Empat di antaranya, yakni Pulau Misool, Salawati, Batanta dan Waigeo, merupakan pulau-pulau besar. Dari seluruh pulau hanya 35 pulau yang berpenghuni sedangkan pulau lainnya tidak berpenghuni dan sebagian besar belum memiliki nama.
Sebagai daerah kepulauan, satu-satunya transportasi antar pulau dan penunjang kegiatan masyarakat Raja Ampat adalah angkutan laut. Demikian juga untuk menjangkau Waisai, ibu kota kabupaten. Bila menggunakan pesawat udara, lebih dulu menuju Kota Sorong. Setelah itu, dari Sorong perjalanan ke Waisai dilanjutkan dengan transportasi laut. Sarana yang tersedia adalah kapal cepat berkapasitas 10, 15 atau 30 orang. Dengan biaya sekitar Rp. 2 juta, Waisai dapat dijangkau dalam waktu 1,5 hingga 2 jam.
Berdasarkan sejarah, di Kepulauan Raja Ampat terdapat empat kerajaan tradisional, masing-masing adalah kerajaan Waigeo, dengan pusat kekuasaannya di Wewayai, pulau Waigeo; kerajaan Salawati, dengan pusat kekuasaan di Samate, pulau Salawati Utara; kerajaan Sailolof dengan pusat kekuasaan di Sailolof, pulau Salawati Selatan, dan kerajaan Misol, dengan pusat kekuasaan di Lilinta, pulau Misol.
Penguasa Kerajaan Lilinta/Misol (sejak abad ke-16 bawahan kerajaan Bacan):
- Abd al-Majid {1872-1904)
- Jamal ad-Din (1904-1945)
- Bahar ad-Din Dekamboe (1945 - )
Penguasa Kerajaan Waigama (sejak abad ke-16 bawahan kerajaan Bacan):
- Abd ar-Rahman (1872-1891)
- Hasan (1891/1900-1916)
- Syams ad-Din Tafalas (1916-1953)
Penguasa Kerajaan Salawati (sejak abad ke-16 bawahan Kesultanan Ternate):
- Abd al-Kasim (1873-1890)
- Muhammad Amin (1900-1918)
- Bahar ad-Din Arfan (1918-1935)
- Abu’l-Kasim Arfan (1935-?)
Penguasa Kerajaan Waigeo (sejak abad ke-16 bawahan Kesultanan Ternate):
- Gandżun (1900-1918)
Daftar isi |
Potensi alam [sunting]
Berdasarkan potensi masing-masing distrik, pemerintah kabupaten merencanakan pengembangan wilayah untuk empat sektor, yaitu:
Pariwisata [sunting]
Terutama wisata bahari akan dikembangkan di Pulau Kofiau, Misool, Waigeo Selatan dan Barat serta Kepulauan Ayau.
Perkebunan [sunting]
Dengan komoditas utama kelapa dalam dan kelapa sawit akan dipusatkan di Pulau Pam, Kofiau dan Salawati.
Pertambangan [sunting]
Dipusatkan di Pulau Salawati (batubara dan migas); Waigeo dan Gag (nikel); Batanta dan Misool (emas dan bahan baku semen).
Perikanan [sunting]
Kepulauan Ayau, Waigeo, Batanta, Salawati dan Kofiau.
Pemekaran Daerah [sunting]
Kabupaten Raja Ampat Selatan [sunting]
Distrik yang mungkin bergabung ke dalam kabupaten ini meliputi :
Kabupaten Raja Ampat Utara [sunting]
Distrik yang mungkin bergabung ke dalam kabupaten ini meliputi :
Referensi [sunting]
| Wikimedia Commons memiliki kategori mengenai Kabupaten Raja Ampat |
- ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses 2013-02-15.
|
|||||||
|
||||||||||||||||||
