Partuturan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Pakaian Adat Simalungun didominasi oleh Ulos. Penutup kepala lelaki disebut Gotong sedangkan yang dikenakan perempuan disebut Suri-suri.

Partuturan adalah cara suku Simalungun menentukan perkerabatan atau keteraturan yang merupakan bagian dari hubungan keluarga (pardihadihaon) dalam kehidupan sosialnya sehari-hari terutama dalam acara adat.

Asal-usul[sunting | sunting sumber]

Awalnya orang Simalungun tidak terlalu mementingkan soal “silsilah” karena penentu partuturan di Simalungun adalah “hasusuran” (tempat asal nenek moyang) dan "tibalni parhundul" (kedudukan/peran) dalam "horja-horja adat" (acara-acara adat). Hal ini dapat dilihat pada pertanyaan yang diajukan oleh seorang Simalungun di saat orang mereka saling bertemu, dimana bukan langsung bertanya “aha marga ni ham?” (apa marga anda) tetapi “hunja do hasusuran ni ham (dari mana asal usul anda)?" Hal ini dipertegas lagi oleh pepatah Simalungun “Sin Raya, sini Purba, sin Dolog, sini Panei. Na ija pe lang na mubah, asal ma marholong ni atei” (dari Raya, Purba, Dolog, Panei. Yang manapun tak berarti, asal penuh kasih).

Sebagian sumber menuliskan bahwa hal tersebut disebabkan karena seluruh marga raja-raja Simalungun itu diikat oleh persekutuan adat yang erat oleh karena konsep perkawinan antara raja dengan “puang bolon” (permaisuri) yang adalah puteri raja tetangganya. Seperti raja Tanoh Djawa dengan puang bolon dari Kerajaan Siantar (Damanik), raja Siantar yang puang bolonnya dari Partuanan Silappuyang, Raja Panei dari Putri Raja Siantar, Raja Silau dari Putri Raja Raya, Raja Purba dari Putri Raja Siantar dan Silimakuta dari Putri Raja Raya atau Tongging.

Setelah marga-marga dalam suku Simalungun semakin membaur, partuturan semakin ditentukan oleh partongah-jabuan (pernikahan), yang mengakibatkan pembentukan hubungan perkerabatan antara keluarga-keluarga Simalungun.

Kategori partuturan[sunting | sunting sumber]

Partuturan dalam suku Simalungun di bagi ke dalam 3 kategori menurut kedekatan hubungan seseorang, yaitu:[1]

Tutur manorus (langsung)[sunting | sunting sumber]

Perkerabatan yang langsung terkait dengan diri sendiri.

  • Ompung: orang tua ayah atau ibu, saudara (kakak/adik) dari orang tua ayah atau ibu
  • Bapa/Amang: ayah
  • Inang: ibu
  • Abang: saudara lelaki yang lahir lebih dulu dari kita.
  • Anggi: adik lelaki; saudara lelaki yang lahir setelah kita.
  • Botou: saudara perempuan (baik lebih tua atau lebih muda).
  • Amboru: saudara perempuan ayah; saudara perempuan pariban ayah; saudara perempuan mangkela. Bagi wanita: orang tua dari suami kita; amboru dari suami kita; atau mertua dari saudara ipar perempuan kita.
  • Mangkela: suami dari saudara perempuan dari ayah
  • Tulang: saudara lelaki ibu; saudara lelaki pariban ibu; ayah dari besan
  • Anturang: istri dari tulang; ibu dari besan
  • Parmaen: istri dari anak; istri dari keponakan; anak perempuan dari saudara perempuan istri; amboru dan mangkela kita memanggil istri kita parmaen
  • Nasibesan: istri dari saudara (Ipar) lelaki dari istri kita atau saudara istri kita
  • Hela: suami dari puteri kita; suami dari puteri dari kakak/adik kita
  • Gawei: hubungan wanita dengan istri saudara lelakinya
  • Lawei: hubungan laki-laki dengan suami dari saudara perempuannya; panggilan laki-laki terhadap putera amboru; hubungan laki-laki dengan suami dari puteri amboru (botoubanua).
  • Botoubanua: puteri amboru; bagi wanita: putera tulang
  • Pahompu: cucu; anak dari botoubanua; anak pariban
  • Nono: pahompu dari anak (lelaki)[2]
  • Nini: cucu dari boru[3]
  • Sima-sima: anak dari Nono/Nini
  • Siminik: cucu dari Nono/Nini

Tutur holmouan (kelompok)[sunting | sunting sumber]

Melalui tutur Holmouan ini bisa terlihat bagaimana berjalannya adat Simalungun

  • Ompung Nini: ayah dari ompung
  • Ompung Martinodohon: saudara (kakak/adik) dengan ompung
  • Ompung Doli: ayah kandung dari ayah, kalau nenek perempuan disebut inang tutua
  • Bapa Tua: saudara lelaki paling tua dari ayah
  • Bapa Godang: saudara lelaki yang lebih tua dari ayah, di beberapa tempat biasa juga disebut bapa tua
  • Inang Godang: istri dari bapa godang
  • Bapa Tongah: saudara lelaki ayah yang lahir dipertengahan (bukan paling tua, bukan paling muda)
  • Inang Tongah: istri dari bapa tongah
  • Bapa Gian / Bapa Anggi: saudara lelaki ayah yang lahir paling belakang
  • Inang Gian / Inang Anggi: istri dari bapa gian/Anggi
  • Sanina / Sapanganonkon: saudara satu ayah/ibu
  • Pariban: sebutan bagi orang yang dapat kita jadikan pasangan (suami atau istri) atau adik/kakaknya
  • Tondong Bolon: pambuatan (orang tua atau saudara laki dari istri/suami) kita
  • Tondong Pamupus: pambuatan ayah kandung kita
  • Tondong Mata ni Ari: pambuatan ompung kita
  • Tondong Mangihut
  • Anakborujabu: sebagai pimpinan dari semua boru, anakborujabu dituakan karena bertanggung jawab pada tiap acara suka/duka Cita.
  • Panogolan: anak laki/perempuan dari saudara perempuan
  • Boru Ampuan: hela kandung yang menikahi anak perempuan kandung kita
  • Anakborumintori: istri/suami dari panogolan
  • Anakborumangihut: lawei dari botou
  • Anakborusanina

Tutur natipak (kehormatan)[sunting | sunting sumber]

Tutur natipak digunakan sebagai pengganti nama dari orang yang diajak berbicara sebagai tanda hormat.

  • Kaha: digunakan pada istri dari saudara laki-laki yang lebih tua. Bagi wanita, kaha digunakan untuk memanggil suami boru dari kakak ibu.
  • Nasikaha: digunakan istri kita untuk memanggil saudara laki kita yang lebih tua
  • Nasianggiku: untuk memanggil istri dari adik
  • Anggi
  • Ham: digunakan pada orang yang membesarkan/memelihara kita (orang tua) atau pada orang yang seumur yang belum diketahui hubungannya dengan kita
  • Handian: serupa penggunaannya dengan ham, tapi memiliki arti yang lebih luas.
  • Dosan: digunakan tetua terhadap sesama tetua
  • Anaha: digunakan tetua terhadap anak muda laki
  • Kakak: digunakan anak perempuan kepada saudara lakinya yang lebih tua
  • Ambia: Panggilan seorang laki terhadap laki lain yang seumuran
  • Ho: panggilan bagi orang yang sudah akrab (sakkan) atau pada orang yang derajadnya lebih rendah, kadang digunakan oleh suami pada istrinya
  • Hanima: sebutan untuk istri (kasar) atau pada orang yang berderajad lebih rendah dari kita (jamak, lebih dari seorang)
  • Nasiam: sebutan untuk yang secara kekerabatan berderajad di atas (jamak, lebih dari seorang)
  • Akkora: sebutan orang tua bagi anak perempuan yang dekat hubungan kekerabatannya
  • Abang: panggilan pada saudara laki yang lebih tua atau yang berderajad lebih dari kita
  • Tuan: dulu digunakan untuk memanggil pemimpin huta (kampung), atau pada keturunan Raja
  • Sibursok: sebutan bagi anak laki yang baru lahir
  • Sitatap: sebutan bagi anak perempuan yang baru lahir
  • Awalan Pan/Pang: sebutan bagi seorang Laki yang sudah memiliki Anak, misal anaknya Ucok, maka Ayahnya disebut pan-Ucok/pang-Ucok.
  • Awalan Nang/Nan: sebutan bagi seorang perempuan yang sudah memiliki anak, misal anaknya Ucok, maka ibunya disebut nan-Ucok/nang-Ucok.

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Jaumbang Garingging, Palar Girsang, Adat Simalungun, Medan, 1975
  2. ^ Sebagian orang mengartikan nono sebagai cucu dari putera/puteri kita, hal ini karena walaupun sudah tua, tapi nenek/kakek buyut tersebut masih dapat melihat (bahasa simalungun: Manonoi)si Nono
  3. ^ Sebagian orang mengartikan nini sebagai cucu dari cucu kita, hal ini karena walaupun sudah tua, tapi nenek/kakek buyut tersebut hanya dapat mendengar apa yang dikatakan (bahasa simalungun: nini) si Nini