Padre pio

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Bagi orang-orang yang belum mengenalnya, mungkin mereka pikir seorang Padre Pio itu seperti para biarawan-biarawan lain di Biara Kapusin, San Giovani Rotondo, Italia. Namun, jika orang-orang sudah mengenal dia, maka pastilah orang itu akan menyebut Padre Pio sebagai tokoh paling terkenal pada abad ke-20, khususnya tempat tinggalnya sendiri, Italia. Orang yang mengalami stigmata ini tetap rendah hati dan tidak sombong. Meskipun berbagai macam rintangan menghadang, Ia tetap sabar dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah Bapa Yang Mahakuasa.


Masa Kecil[sunting | sunting sumber]

Padre Pio(Francesco Forgione)dilahirkan pada tanggal 25 Mei 1887 di sebuah kota kecil bernama Pietrelcina, Italia selatan, dalam wilayah Keuskupan Agung Benevento. Ia adalah anak ke-5 dari 8 bersaudara dari keluarga petani, pasangan Grazio Forgione dan Maria Giuseppa De Nunzio atau yang biasa disebut Mama Peppa. Bagi Mama Peppa sendiri, Fransesco(panggilan Padre Pio saat kecil), ia memang berbeda dari anak lain. Jauh lebih religius. Bahkan, saat Fransesco berusia 9 tahun, ia mencambuk dirinya sendiri agar serupa dengan Yesus Kristus. Fransesco pun kerap ditampaki berbagai macam wujud, seperti Tuhan Yesus, Bunda Maria, bahkan setan. Hal itu terjadi sejak ia berusia 5 tahun.

Pada Tahun 1903, saat ia berusia 16 tahun, ia berpisah dari keluarganya untuk masuk ke Biara Kapusin, biara yang terkenal akan biarawan-biarawan yang kebanyakan berjenggot. Tak lama setelah itu, ia diangkat menjadi novis dan dipilihkan sebuah nama orang kudus, sesuai dengan aturan biara tersebut. Dan untuk Fransesco, dipilihkan nama Pio. Aturan-aturan ketat yang dijalani para novis membuat Padre Pio muda sering sakit-sakitan. Oleh karena Ia dalam bahaya meninggal, ia ditahbiskan menjadi Imam dengan umur lebih muda daripada para novis yang lain.

Stigmata Pertama[sunting | sunting sumber]

Stigmata pertamanya sebenarnya terjadi di Pietrelcina, sore hari, 7 September 1911. Karena Ia takut, Ia lalu bertemu Monsigneur Salvatore Panullo, Pastor Paroki Pieltrecina untuk menolongnya, dengan cara berdoa. Ajaibnya, luka-luka stigmata itu hilang. Stigmata sesungguhnya terjadi pada 20 September 1918. Ketika itu, Padre Pio sedang sendirian di sebuah kapel tua. Tiba-tiba, Ia ditampaki sosok-sosok seperti malaikat dan memberinya sebuah stigmata. Luka-luka itu terdiri dari tangan kiri kanannya, juga di kakinya, juga pada lambung. Luka-luka itu membuka dan mengeluarkan banyak darah. Sebenarnya, kejadian ini amat dirahasiakan Padre Pio. Namun untuk kali ini ketahuan, sebab ketika Ia bergegas ke kamar untuk mengentikan pendarahan tersebut, darah tercecer ke lantai yang dilewatinya.Oleh karena itu, Kepala Biara memanggil dokter untuk mengobatinya. Dokter itu bersaksi, "Sungguh, ini bukan luka yang dibuat-buat. Di lambungnya pun, juga terdapat luka."

Inilah salah satu suratnya kepada Padre Benedetto, pembimbing rohaninya, tertanggal 22 Oktober 1918.

“… Apakah yang dapat kukatakan kepadamu mengenai penyalibanku? Ya Tuhan! Betapa aku merasa bingung dan malu apabila aku berusaha menunjukkan kepada orang lain apa yang telah Engkau lakukan kepadaku, makhluk-Mu yang hina dina! Kala itu pagi hari tanggal 20 [September] dan aku sedang berada di tempat paduan suara setelah perayaan Misa Kudus, ketika suatu istirahat, bagaikan suatu tidur yang manis menghampiriku. Segenap indera, lahir maupun batin, pula indera jiwa ada dalam ketenangan yang tak terlukiskan. Ada suatu keheningan mendalam di sekelilingku dan di dalamku; suatu perasaan damai menguasaiku dan lalu, semuanya terjadi dalam sekejab bahwa aku merasa bebas sepenuhnya dari segala keterikatan. Ketika semuanya ini terjadi, aku melihat di hadapanku, suatu penampakan yang misterius, serupa dengan yang aku lihat pada tanggal 5 Agustus, yang berbeda hanyalah kedua tangan, kaki dan lambung-Nya mencucurkan darah. Penglihatan akan Dia mengejutkanku: apa yang kurasakan pada saat itu sungguh tak terkatakan. Aku pikir, aku akan mati; dan pastilah aku mati jika Tuhan tidak campur tangan dan memperkuat hatiku, yang nyaris meloncat dari dadaku! Penglihatan berakhir dan aku tersadar bahwa kedua tangan, kaki dan lambungku ditembusi dan mencucurkan darah. Dapat kau bayangkan siksaan yang aku alami sejak saat itu dan yang nyaris aku alami setiap hari. Luka di lambung tak henti-hentinya mencucurkan darah, teristimewa dari Kamis sore hingga Sabtu. Ya Tuhan, aku mati karena sakit, sengsara dan kebingungan yang aku rasakan dalam kedalaman lubuk jiwaku. Aku takut aku akan mencucurkan darah hingga mati! Aku berharap Tuhan mendengarkan keluh-kesahku dan menarik karunia ini daripadaku….”

Padre Pio adalah imam pertama yang menerima stigmata Kristus. Para superiornya berusaha merahasiakan kejadian itu, kendati demikian, berita segera menyebar dan ribuan orang berduyun-duyun datang ke biara yang terpencil itu, baik mereka yang saleh maupun mereka yang sekedar ingin tahu. Sesungguhnya, setiap pagi, sejak pukul empat dini hari, selalu ada ratusan orang dan kadang-kadang bahkan ribuan orang menantinya.

Padre Pio tidur tak lebih dari dua jam setiap harinya dan tak pernah mengambil cuti barang sehari pun selama limapuluh tahun imamatnya! Ia biasa bangun pagi-pagi buta guna mempersiapkan diri mempersembahkan Misa Kudus. Setelah Misa, Padre Pio biasa melewatkan sebagian besar harinya dalam doa dan melayani Sakramen Pengakuan Dosa. Hidupnya penuh dengan berbagai karunia mistik, termasuk kemampuan membaca batin para peniten, bilokasi, levitasi dan jamahan yang menyembuhkan. Darah yang mengucur dari stigmatanya mengeluarkan bau harum mewangi atau harum bunga-bungaan.

Penderitaan[sunting | sunting sumber]

Selain oleh fisik, Ia juga menderita oleh perbuatan manusia sendiri. Ini terjadi mulai tahun 1923-1931. Hal ini dimulai dari penyerangan Pater Agustinus Gemmeli, seorang ahli dari Fransiskan sekaligus Pendiri Universitas Katolik "The Sacred Heart" karena Padre Pio menolak datang untuk pemeriksaan psikologis. Gemmeli yang menduga bahwa Padre Pio seorang neoropath menulis surat pada para pejabat Vatikan : "Stigmata kemungkinan disebabkan hysteria, akibat dari kehidupan spiritual yang rendah. Beberapa pastor di San Giovanni Rotondo yang antipati pada para Fransiskan, berhasil meyakinkan Uskup Manfredonia untuk mengeluarkan pernyataan bahwa Padre Pio dikuasai Iblis dan saudara sekomunitasnya tertipu.

Menanggapi hal ini, 31 Mei 1923, Vatikan mengumumkan bahwa kejaian-kEjadian yang berhubungan dengan Padre Pio tidak berasal dari kekuatan spiritual. Vatikan pun memerintahkan untuk menghentikan segala macam bentuk komunikasi yang dilakukan kepada Padre Pio. Mei dan Juni 1923, Vatikan mengeluarkan perintah yang sangat keras. Padre Pio dilarang merayakan misa, meberikan khotbah, bahkan memberikan pengakuan dosa. Ini terjadi hingga tahun 1931.

Tahun 1931. Padre Pio atas perintah Vatikan diperbolehkan lagi merayakan Ekaristi, dan Tahun 1964, ia diberikan kebebasan untuk melakukan tugasnya kembali.


Mujizat[sunting | sunting sumber]

Banyak mujizat terjadi atas namanya, dan daftar kesaksian dicantumkan di bawah.

Nyonya Cleonice, yang adalah anak rohani Padre Pio, mengatakan, “Dalam masa Perang Dunia Kedua, keponakanku menjadi tawanan. Kami tidak mendengar kabar berita mengenainya selama setahun dan semua orang yakin bahwa ia telah tewas. Orangtuanya sangat khawatir mengenai putera mereka. Suatu hari, ibunya menemui Padre Pio dan berlutut di hadapan sang biarawan yang sedang duduk dalam kamar pengakuan, `Saya mohon Padre, katakanlah apakah putera saya masih hidup. Saya tak akan pergi sebelum Padre menjawab saya!' Padre Pio menaruh simpati padanya; tampak butir-butir airmata menetes di wajahnya saat ia mengatakan, `Berdirilah dan pergilah dalam damai.' Beberapa hari kemudian, tak tahan lagi melihat dukacita kedua orangtua tersebut, maka aku memutuskan untuk meminta Padre Pio melakukan suatu mukjizat. Dengan kepercayaan penuh, aku mengatakan, `Padre, saya hendak menulis sepucuk surat kepada keponakan saya Giovannino. Saya hanya akan menuliskan namanya saja pada sampul surat, sebab kami tidak tahu di mana ia berada. Padre dan malaikat pelindungmu akan membawa surat ini kepadanya di mana pun ia berada.' Padre Pio tidak menjawab, maka aku menulis surat. Sore hari, sebelum tidur, aku meletakkan surat itu di atas meja yang terletak di samping tempat tidur. Keesokan harinya, dengan terkejut, heran bercampur takut, aku mendapati bahwa surat itu tidak lagi ada di sana. Aku pergi untuk menyampaikan terima kasih kepada Padre Pio dan ia mengatakan, `Berterimakasihlah kepada Santa Perawan.' Hampir limabelas hari kemudian, keponakan kami mengirimkan balasan surat. Maka, bergembiralah semua orang dalam keluarga kami dan kami mengucap syukur terima kasih, baik kepada Tuhan maupun kepada Padre Pio.”