Nuruddin Zengi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Al-Malik Al-Adil Nuruddin Abul Qasim Mahmud bin 'Imaduddin Zengi (Februari 1118 – 15 Mei 1174), juga diketahui dengan nama Nur ad-Din, Nur al-Din, dan lain-lain (dalam bahasa Arab: نور الدين Nūruddīn) adalah anggota dari dinasti Zengi yang menguasai Suriah dari tahun 1146 sampai tahun 1174. Ia bercita-cita untuk menyatukan pasukan Muslim dari Efrat sampai Mesir. Ia juga memimpin pasukan melawan tentara salib.
Daftar isi |
[sunting] Kehidupan Awal
Ia dilahirkan pada bulan Februari tahun 1118 dimana ia adalah anak dari Zengi, seorang atabeg Aleppo dan Mosul.
[sunting] Menjadi pemimpin
Nuruddin adalah anak kedua Imaduddin Zengi, atabeg Aleppo dan Mosul, yang adalah musuh tentara salib. Setelah ayahnya dibunuh, Nuruddin dan kakaknya Saifuddin Ghazi I membagi kerajaan tersebut diantara mereka berdua, dimana Nuruddin menguasai Aleppo dan Saif ad-Din menguasai Mosul. Perbatasan antara kedua kerajaan baru dibentuk oleh sungai Khabur.
[sunting] Melawan tentara salib
Segera setelah ia memimpin, Nuruddin menyerang Kerajaan Antiokhia, merebut beberapa istana di utara Suriah, dimana pada waktu yang sama ia menaklukan sebuah usaha oleh Joscelin II untuk mengembalikan Kerajaan Edessa yang telah dikuasai oleh Zengi tahun 1144. Nuruddin mengusir seluruh populasi Kristen di kota tersebut sebagai hukuman karena membantu Joscelin.
Nuruddin mencoba bersekutu dengan tetangga Muslimnya di Irak utara dan Suriah untuk memperkuat Muslim melawan musuh mereka di barat. Pada tahun 1147, ia menandatangani perjanjian bilateral dengan Mu'inuddin Unur, gubernur Damaskus, sebagai bagian persetujuan ini, ia menikahi anak perempuan Mu'inuddin. Mu'inuddin dan Nuruddin menyerang kota Bosra dan Sarkhand, dimana kota itu direbut oleh pengikut Mu'in ad-Din yang memberontak yang bernama Altuntash, tetapi Mu'inuddin selalu curiga dengan tujuan Nuruddin dan tidak mau mengganggu mantan sekutu tentara salibnya di Yerusalem, yang telah membantu mempertahankan Damaskus melawan Zengi. Untuk menenangkan Mu'in ad-Din, Nuruddin mengurangi dirinya di Damaskus dan berbalik menuju kerajaan Antiokhia, dimana ia dapat merebut Artah, Kafar Latha, Basarfut, dan Balat.
Pada tahun 1148, Perang Salib Kedua tiba di Suriah, dipimpin oleh Louis VII dan Conrad III. Mereka memutuskan untuk menyerang Damaskus. Mu'inuddin dengan rasa malas memanggil bantuan dari Nuruddin. Pengepungan Damaskus hanya terjadi selama 4 hari sebelum Nuruddin tiba.
Nuruddin mengambil kesempatan dari kegagalan tentara salib dengan mempersiapkan serangan lainnya atas Antiokhia. Pada tahun 1149, ia melancarkan serangan melawan teritori yang didominasi oleh istana Harim yang terletak di tepi timur Orontes, setelah dimana ia menyerang istana Inab. Pangeran Antiokhia, Raymond dari Poitiers, dengan cepat datang untuk membantu istana yang diserang. Pasukan Muslim menghancurkan tentara salib di Inab, dimana Raymond terbunuh. Kepala Raymond dikirim ke Nuruddin, yang mengirimnya ke khalifah di Baghdad. Ia selanjutnya merebut semua teritori Antiokhia di timur Orontes, dimana segera daerah tersebut jatuh ke tangan Kekaisaran Bizantium. Pada tahun 1150, ia menaklukan Joscelin II untuk terakhir kalinya, setelah bersekutu dengan sultan Rüm, Mas'ud (dimana anak perempuan Mas'ud juga dinikahi oleh Nuruddin). Joscelin meninggal di penjaranya di Aleppo tahun 1159. Pada tahun 1152 Nuruddin merebut Tortosa setelah dibunuhnya Raymond II dari Tripoli.
[sunting] Menyatukan kerajaan Muslim
Nuruddin bercita-cita untuk menyatukan berbagai pasukan Muslim dari sungai Euphrates dan sungai Nil untuk membuat kesatuan front melawan tentara salib. Pada tahun 1149 ,Saifuddin Ghazi meninggal dunia, dan adiknya, Qutbuddin, meneruskannya. Qutbuddin mengakui Nuruddin sebagai maharaja Mosul, sehingga kota Mosul dan Aleppo disatukan dibawah satu orang.
Setelah kegagalan Perang Salib Kedua, Mu'inuddin memperbaharui perjanjiannya dengan tentara salib, dan setelah kematiannya tahun 1149, penerusnya Mujiruddin mengikuti peraturan yang sama. Pada tahun 1150 dan tahun 1151, Nuruddin mencoba menyerang Damaskus, namun mundur tanpa kesuksesan. Ketika Ascalon direbut oleh tentara salib tahun 1153, Mujiruddin melarang Nuruddin untuk melakukan perjalanan di teritorinya. Namun Mujiruddin adalah pemimpin yang lemah dibanding pemimpin sebelumnya, dan ia juga setuju untuk membayar upeti untuk tentara salib sebagai ganti untuk perlindungan atas mereka. Kelemahan Damaskus dibawah Mujiruddin membuat Nuruddin menurunkannya tahun 1154 dengan bantuan penduduk kota. Damaskus menjadi bagian teritori Zengid, dan seluruh Suriah disatukan dibawah kepemimpinan Nuruddin, dari Edessa di utara sampai Hauran di selatan. Ia berhati-hati dengan tidak menyerang Yerusalem, dan meneruskan mengirim upeti tahunan yang dilakukan oleh Mujiruddin.
Pada tahun 1157 Nuruddin menyerang Ksatra Hospitaller di benteng tentara salib di Banias dan memukul mundur tentara salib, tetapi ia jatuh sakit pada tahun itu dan tentara salib mendapat peristirahatan dari serangannya. Pada tahun 1159, kaisar Bizantium Manuel I Comnenus tiba untuk menegaskan kekuasaannya di Antiokhia, dan tentara salib berharap ia akan mengirim ekspedisi ke Aleppo. Namun, Nuruddin mengirim duta besar dan menegosiasikan persekutuan dengan kaisar melawan Seljuk. Nuruddin, bersama dengan Danishmend dari Anatolia timur menyerang sultan Seljuk Kilij Arslan II dari timur pada tahun berikutnya, ketika Manuel menyerang dari barat. Nantinya pada tahun 1160, Nuruddin menangkap pangeran Antiokhia, Raynald dari Chatillon setelah serangan di pegunungan Anti-taurus. Raynald tetap ditangkap selama 16 tahun. Pada tahun 1162, dengan Antiokhia dibawah kekuasaan Bizantium dan Negara-negara Tentara Salib di selatan tidak memiliki kekuatan untuk menyerang Suriah, Nuruddin naik haji ke Mekah. Segera setelah ia kembali, ia belajar dari raja yang telah meninggal Baldwin III dari Yerusalem, ia menahan diri untuk menyerang negara-negara tentara salib. William dari Tirus melaporkan bahwa Nuruddin berkata
| “ | Kita harus bersimpati dengan kesedihan mereka dan karena kasihan ampuni mereka, karena mereka telah kehilangan seorang pangeran serupa dengan sisa dari dunia tidak dimiliki hari ini.” | ” |
[sunting] Permasalahan Mesir
Karena tidak ada yang dapat dilakukan tentara salib di Suriah, mereka dipaksa untuk melihat selatan jika mereka ingin memperluas daerahnya. Jatuhnya Ascalon menyebabkan memutuskan Mesir dari Suriah, dan Mesir secara politik lemah oleh barbagai khalifah Fatimid. Pada tahun 1163, khalifah Fatimid adalah al-Adid yang masih muda, tetapi negara itu dikuasai oleh Shawar. Pada tahun itu, Shawar disingkirkan oleh Dirgham, dan setelah itu, Raja Yerusalem, Amalric I memimpin sebuah serangan melawan Mesir, dengan dalih bahwa Fatimid tidak membayar upeti yang telah mereka janjikan untuk dibayar selama kekuasaan Baldwin III. Kampanye ini gagal dan terpaksa tentara salib harus kembali ke Yerusalem, tetapi tentara itu dihasut oleh Nuruddin untuk memimpin kampanyenya melawan tentara salib di Suriah untuk mengembalikan perhatian mereka jauh dari Mesir. Serangannya atas Tripoli tidak berhasil, tetapi ia segera dikunjungi oleh Shawar yang dibuang, yang memintanya mengirim pasukan untuk mengembalikannya kedalam kekuasaan. Nuruddin tidak mau melepaskan pasukannya hanya untuk pertahanan Mesir, tetapi jendral Kurdinya, jendral Shirkuh meyakinkannya untuk menyerang tahun 1164. Sebagai balasan, Dirgham bersekutu dengan Amalric, tetapi sang raja tidak dapat melakukan mobilisasi tepat waktu untuk menyelamatkannya. Dirgham terbunuh selama inavsi Shirkuh dan Shawar kembali mendapat kekuasaan.
Shawar segera mengeluarkan Shirkuh dan bersekutu dengan Amalric, yang tiba untuk menyerang Shirkuh di Bilbeis. Shirkuh setuju untuk meninggalkan Mesir ketika Amalric terpaksa kembali ke rumah, setelah Nuruddin menyerang Antiokhia dan menyerang istana Harenc. Disana, Nuruddin memukul mundur pasukan gabungan Antiokhia dan Tripoli, tetapi menolak untuk menyerang Antiokhia sendiri, karena takut akan pembalasan dari Bizantium. Namun ia menyerang dan merebut Banias, dan untuk 2 tahun kemudian menyerang negara-negara tentara salib. Pada tahun 1166 Shirkuh dikirim kembali ke Mesir. Amalric mengikutinya pada awal tahun 1167, dimana Amalric dan Shawar melakukan perjanjian, dengan bantuan nominal dari khalifah. Tentara salib menduduki Alexandria dan Kairo dan mendirikan negara Mesir yang membayar upeti, tetapi Amalric tidak dapat menahan negara itu ketika Nuruddin tetap ada di Suriah, dan terpaksa kembali ke Yerusalem.
Pada tahun 1168 Amalric bersekutu dengan Kaisar Manuel dan menyerang Mesir sekali lagi. Anak Shawar, Khalil meminta bantuan dari Nuruddin dari Shirkuh dengan dukungan dari khalifah al-Adil. Pada awal tahun 1169 Shirkuh tiba dan tentara salib sekali lagi ditaklukan dan terpaksam undur. Pada saat ini Nuruddin mendapat kekuasaan penuh atas Mesir. Shawar dieksekusi dan keponakan Shirkuh, Salahuddin Ayyubi menjadi pemimpin teritori ini. Invasi terakhir atas Mesir dilancarkan oleh Amalric dan Manuel, tetapi invasi ini tidak teratur dan menjadi hal yang tidak ada gunanya.
[sunting] Kematian
Nuruddin sibuk bertempur dengan Ortoqid, dan pada tahun 1170 ia harus menenangkan permasalahan diantara keponakannya ketika saudaranya Qutbuddin meninggal. Setelah menguasai Mesir, Nuruddin percaya bahwa ia telah memenuhi tujuannya untuk menyatukan Muslim, tetapi Salahuddin Ayyubi tidak berharap menjadi subyek kekuasaannya. Ia tidak ikut serta dalam invasi Nuruddin atas Yerusalem tahun 1171 dan 1173, berharap bahwa kerajaan tentara salib akan beraksi sebagai negara bagian antara Mesir dan Suriah. Nuruddin menyadari bahwa ia telah membuat musuh yang berbahaya pada Salahuddin Ayyubi, dan kedua pemimpin menyiapkan pasukannya karena perang yang tidak dapat dihindari.
Namun, ketika Nuruddin sedang pada ambang penyerangan Mesir tahun 1174, ia terkena demam karena komplikasi peritonsillar abscess, dan meninggal pada umur 59. Anaknya As-Salih Ismail al-Malik menjadi penerusnya dan Salahuddin Ayyubi mendeklarasikan dirinya sebagai pengikutnya, walaupun ia benar-benar berencana untuk menyatukan Suriah dan Mesir dibawah kepemimpinannya. Ia menikahi istri Nuruddin, menaklukan orang lain yang mengklaim tahta dan menguasai Suriah tahun 1185, akhirnya memenuhi mimpi Nuruddin.
[sunting] Peninggalan
Nuruddin mendirikan universitas dan masjid di seluruh kota yang ia kuasai. Universitas-universitas tersebut penting bagi pengajaran Quran dan Hadits. Nuruddin sendiri menikmati untuk memiliki spesialis ynag membacakannya dari Hadith, dan profesornya memberinya diploma dalam narasi Hadits. Ia juga mendirikan rumah sakit gratis dikotanya, dan mendirikan karavanserai di jalan untuk penjelajah dan peziarah. Pada dunia Muslim ia menjadi figur legendaris dalam keberanian militer, kesalehan, dan kesopanan.
[sunting] Lihat pula
[sunting] Daftar pustaka
- Maalouf, Amin. The Crusades Through Arab Eyes, 1985
- Steven Runciman, A History of the Crusades, vol. II: The Kingdom of Jerusalem. Cambridge University Press, 1952
- The Damascus Chronicle of the Crusades, Extracted and Translated from the Chronicle of Ibn al-Qalanisi. H.A.R. Gibb, 1932 (reprint, Dover Publications, 2002)
- William dari Tirus, A History of Deeds Done Beyond the Sea, trans. E.A. Babcock and A.C. Krey. Columbia University Press, 1943

