Mitos otak 10%

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Mitos 10% otak adalah mitos bahwa semua manusia hanya menggunakan kurang dari 10 persen otaknya saja. Mitos ini biasanya dihubungkan dengan beberapa tokoh, seperti Albert Einstein.[1]

Gagasan bahwa sebagian besar otak masih belum digunakan merupakan gagasan tanpa landasan yang kuat. Setiap bagian otak telah diketahui fungsinya.[2][3][4]

Barry Beyerstein, seorang ahli otak, menunjukkan tujuh bukti kesalahan mitos ini:[5]

  • Penelitian kerusakan otak: Jika 90% otak tidak digunakan, berarti kerusakan terhadap wilayah tersebut tidak akan merusak performa otak. Sementara itu, kerusakan sekecil apapun terhadap otak dapat memberikan dampak yang besar.
  • Evolusi: Otak sangat berharga bagi anggota tubuh lain. Jika 90% otak tidak penting, maka akan muncul kemungkinan bertahan yang lebih besar bagi manusia dengan otak yang lebih kecil dan efisien.
  • Citra otak: Teknologi seperti Positron Emission Tomography (PET) dan Functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI) membuat aktivitas otak dapat dipantau. Bahkan saat manusia sedang tidur, semua bagian otak menunjukkan aktivitas. Otak hanya memiliki bagian yang "tidur" jika mengalami kerusakan berat.
  • Lokalisasi fungsi: Otak terdiri dari beberapa bagian, yang memiliki fungsinya masing-masing. Penelitian telah memetakan fungsi otak, dan tidak ada wilayah otak yang tak berguna.
  • Analisis mikrostruktural: Dengan teknik single-unit recording, peneliti memasukan elektrode kecil ke otak untuk memantau aktivitas sel. Jika 90% sel tidak digunakan, maka teknik ini seharusnya telah menunjukkan hal tersebut.
  • Penelitian metabolis: Teknik ilmiah lainnya mempelajari penyerapan molekul 2-deoksiglukosa oleh otak. Jika 90 persen otak tidak digunakan, maka sel yang tak aktif akan ditunjukan sebagai wilayah kosong dalam radiograf otak.
  • Penyakit otak: Sel otak yang tidak digunakan memiliki kecenderungan untuk mengalami degenerasi. Jika 90% otak tak digunakan, otopsi otak dewasa akan mengakibatkan degenerasi berskala besar.

Mitos 10% otak telah menyebar luas, bahkan kadang-kadang muncul dalam iklan-iklan.[6] Beberapa tokoh Zaman Baru mengklaim bahwa sembilan puluh persen bagian yang belum digunakan ini dapat memunculkan kekuatan psikik.[2]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Do People Only Use 10 Percent Of Their Brains". Scientific American. 7 February 2008. Diakses 2008-02-07. 
  2. ^ a b Radford, Benjamin (8 February 2000). "The Ten-Percent Myth". snopes.com. Diakses 2006-04-13. 
  3. ^ Chudler, Eric. "Myths About the Brain: 10 percent and Counting". Diakses 2006-04-12. 
  4. ^ "A Piece of Our Mind - About Ten Percent". The Two Percent Company. Diakses 2006-04-12. 
  5. ^ Beyerstein, Barry L. (1999). "Whence Cometh the Myth that We Only Use 10% of our Brains?". In Sergio Della Sala. Mind Myths: Exploring Popular Assumptions About the Mind and Brain. Wiley. hlm. 3–24. ISBN 0471983039. 
  6. ^ "Neuroscience For Kids". Eric H. Chudler, Ph.d(University of Washington, Director of Education and Outreach). 

Jika Anda melihat halaman yang menggunakan templat {{stub}} ini, mohon gantikan dengan templat rintisan yang lebih spesifik. Terima kasih.