Manajemen sumber daya air

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Manajemen sumber daya air adalah aktivitas merencanakan, mengembangkan, mendistribusikan, dan mengelola penggunaan sumber daya air secara optimal. Manajemen sumber daya air adalah subbagian dari manajemen siklus air. Dalam kondisi yang ideal, perencanaan manajemen sumber daya air memperhatikan semua kebutuhan air dan mengalokasikan air berbasis kesetaraan yang memuaskan semua pengguna air. Secara praktek, hal in jarang terjadi.

Sumber daya air[sunting | sunting sumber]

Visualisasi distribusi air di bumi berdasarkan volume. Setiap satu kubus kecil mewakili 1000 km kubik air. Jumlah total sebanyak satu juta kubus kecil.[1]

Air adalah sumber daya yang penting bagi kehidupan di planet. Dari seluruh sumber daya air di bumi, hanya tiga persen yang merupakan air tawar, dan dua pertiganya berada dalam kondisi beku di es kutub dan gletser. Seperlima dari satu persennya berada di lokasi yang tidak terjangkau atau tidak bisa dimanfaatkan (misal air yang mengalir sebagai banjir akibat hujan deras). Kurang lebih hanya 0.08 persen dari total air tawar yang mampu dimanfaatkan oleh manusia dan kebutuhan tersebut terus berkembang untuk berbagai kebutuhan.[2]

Pertanian sebagai konsumen utama air[sunting | sunting sumber]

Pertanian adalah pengguna utama dari sumber daya air tawar dunia, mencapai 70 persennya.[3] Populasi dunia terus berkembang dan kebutuhan terhadap bahan pangan serta meningkatnya kebutuhan pertanian untuk menghasilkan bahan bakar (biofuel) meningkatkan kebutuhan sumber daya air bagi pertanian. Kelangkaan air menjadi masalah utama. Sebuah studi yang dilakukan di Sri Lanka oleh International Water Management Institute dilakukan pada tahun 2007 menemukan bahwa seperlima dari populasi dunia berada di area dengan kelangkaan air fisik, di mana tidak terdapat cukup air untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup.[4]

Sebuah laporan lain menyatakan bahwa masih memungkinkan untuk memproduksi bahan pangan di masa depan namun dengan akibat masalah lingkungan yang akan terjadi di berbagai belahan dunia. Mengenai produksi pangan, Bank Dunia menargetkan produksi pangan dan manajemen sumber daya air sebagai masalah global yang harus dibahas dan ditangani.[5]

Masa depan sumber daya air[sunting | sunting sumber]

Irigasi poros berputar (center pivot irrigation) di Kufra, sebelah tenggara Cyrenaica, Libya. Kekayaan hasil minyak bumi telah memungkinkan bagi Libya untuk menargetkan proyek besar di bidang pertanian seperti Sungai Buatan Raya di gurun Sahara

Salah satu masalah utama dari manajemen berbasis air adalah keberlanjutan dari alokasi sumber daya air sekarang dan di masa depan.[6] Karena air menjadi langka sehingga pengelolaan menjadi sebuah kepentingan yang terus tumbuh. Mencari keseimbangan antara yang dibutuhkan manusia dan yang dibutuhkan lingkungan menjadi tahap awal dari manajemen sumber daya air. Usaha menemukan sistem sumber daya air tawar yan berkelanjutan telah dilakukan pada skala nasional di berbagai negara pada seperti Australia.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ USGS - Earth's water distribution
  2. ^ Fry, Carolyn The Impact of Climate Change: The World's Greatest Challenge in the Twenty-first Century 2008, New Holland Publishers Ltd
  3. ^ Grafton, Q. R., & Hussey, K. (2011). Water Resources Planning and Management. New York: Cambridge University Press.
  4. ^ Molden, D. (Ed). Water for food, Water for life: A Comprehensive Assessment of Water Management in Agriculture. Earthscan/IWMI, 2007.
  5. ^ The World Bank, 2006 "Reengaging in Agricultural Water Management: Challenges and Options". hlm. 4–5. Diakses 2011-10-30. 
  6. ^ Walmsly, N., & Pearce, G. (2010). Towards Sustainable Water Resources Management: Bringing the Strategic Approach up-to-date. Irrigation & Drainage Systems, 24(3/4), 191-203.

Bahan bacaan terkait[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]