Kyokushin kaikan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Kyokushin)
Langsung ke: navigasi, cari
Kyokushin logo.svg
Kanku, logo Kyokushin kaikan
Kyokushin
Janji karateka kyokushin.jpg
Karateka Kyokushinkai sedang mengucapkan janji karate.
Fokus Menyerang
Tingkat kekerasan full-contact; boleh menendang dengan kaki atau lutut ke arah kepala, tetapi tidak boleh memukul atau menyikut kepala dan leher. Serangan sekeras-kerasnya, boleh mencederai lawan.
Negara asal Bendera Jepang Jepang
Pencipta Masutatsu Oyama
Seni pendahulu Goju Ryu, Shotokan, Daito Ryu, dan banyak lainnya
Praktisi ternama Andy Hug, Bas Rutten, Georges St. Pierre, Dolph Lundgren, Glaube Feitosa, Francisco Filho, Sean Connery, Flemming Jensen, Mariusz Pudzianowski, Kenji Midori, Shokei Matsui

Kyokushin kaikan (極真会館?) adalah sebuah aliran karate yang didirikan oleh Masutatsu Oyama (大山倍達 Ōyama Masutatsu?). Aliran ini menekankan latihan fisik dan full-contact kumite, yakni latih-tanding (sparring) tanpa pelindung. Kyokushin memiliki arti kebenaran tertinggi, yang diyakini oleh Mas Oyama sebagaimana karate itu seharusnya diajarkan dan dipelajari. Kurikulum Kyokushin menekankan pada pertarungan realistik dan kekuatan fisik.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Asal mula[sunting | sunting sumber]

Masutatsu Oyama, pendiri aliran Kyokushin, lahir sebagai seorang Korea yang bernama Choi Hyung Yee. Sewaktu kecil di Korea, beliau mempelajari seni bela diri Korea yang bernama Chabee. Chabee mendapat pengaruh dari seni bela diri Tiongkok "Seni 18 Telapak Tangan" yang dikembangkan lebih lanjut oleh orang Korea menjadi Chabee. Sejak kecil, Choi Hyung Yee bukanlah seorang anak yang diam saja dan bersabar kalau diganggu. Ia sering terlibat dalam perkelahian, apalagi bila ia atau teman-temannya diganggu. Kepribadian yang agresif inilah yang ia wariskan ke Kyokushin menjadi sebuah aliran yang menekankan offense, dan pentingnya menjatuhkan lawan secepat mungkin.

Pada masa Perang Dunia 2, Choi Hyung Yee pindah ke Jepang dan mendaftarkan diri sebagai mekanik pesawat tempur. Di Jepang, ia tinggal bersama keluarga perantuan dari Korea dan mengadopsi nama keluarga mereka, Oyama. Pada saat itu banyak orang perantauan yang mengadopsi nama Jepang agar mudah berbaur dan diterima masyarakat Jepang. Setelah perang usai pada tahun 1945, beliau mempelajari karate Shotokan dari guru besar Gichin Funakoshi. Pada saat yang bersamaan, beliau bertemu dengan sesama perantauan dari Korea bernama So Nei Chu. So Nei Chu mewarisi Goju-Ryu dari Gogen Yamaguchi, dan Mas Oyama mempelajari Goju-Ryu dari So Nei Chu.

Sewaktu di Jepang, kepribadian yang agresif dan tidak mau kalah masih melekat kuat pada diri Oyama muda. Di Tokyo, ia sering terlibat perkelahian dengan para gangster Jepang maupun tentara Amerika yang bertugas di Jepang. Ia pernah secara tidak sengaja membunuh seorang gangster Jepang yang terkenal ahli menggunakan pisau (Akhirnya beliau dibebaskan dari tahanan dengan alasan membela diri). Oyama juga dijuluki "Superman dari Timur" oleh masyarakat setempat karena sering membela orang-orang lokal dari tentara Amerika yang berbuat onar. Setelah beberapa saat, Tokyo menjadi tidak aman lagi bagi Mas Oyama, karena beliau dicari oleh banyak pihak yang ingin membalas perbuatannya. Atas saran So Nei Chu, Mas Oyama akhirnya mengasingkan diri ke sebuah gunung untuk merenungkan tujuan hidupnya.

Selama dalam pengasingan, beliau hidup sebagai layaknya seorang Yamabushi (Prajurit Biksu). Menghadapi kerasnya tempaan alam, ia banyak mendapat inspirasi dari kisah hidup Miyamoto Musashi, seorang ahli pedang tersohor di Jepang. Setiap hari beliau berlatih mendalami ilmu bela diri serta bermeditasi untuk merenungkan hidupnya. Setelah beberapa saat, beliau merasa latihan di gunung sudah cukup dan memutuskan untuk turun ke kota.

Mas Oyama mengikuti kejuaraan karate dan menjadi juara. Akan tetapi, ia masih merasa kecewa dengan kemampuan yang dimilikinya. Merasa masih belum mampu menerapkan apa yang telah dipelajarinya pada pertarungan yang sesungguhnya, Mas Oyama mencukur habis rambutnya dan sekali lagi naik ke gunung untuk berlatih.

Setelah lebih dari setahun di gunung, Mas Oyama akhirnya turun untuk menguji hasil dari latihannya. Di sebuah desa, ada seekor banteng yang akan dijagal. Ia meminta izin untuk menjatuhkan banteng tersebut dengan tangan kosongnya. Akan tetapi, beliau gagal pada usaha pertamanya. Setelah dipukul, banteng tersebut marah dan mengobrak-abrik kerumunan orang-orang di sekitarnya. Mas Oyama tidak menyerah. Ia berhari-hari mempelajari banteng-banteng tersebut. Setelah itu, beliau mencobanya lagi. Banteng tersebut jatuh dengan sekali pukul ke arah kepalanya. Berita tentang seorang karateka menjatuhan banteng dengan kepalan tangannya menyebar dengan cepat. Selain itu, beliau juga mengadakan perjalanan keliling Asia Tenggara mengadakan demo dan menantang banyak aliran di dalam maupun luar Jepang. Hal ini menimbulkan banyak sensasi dan memopulerkan Karate di dunia internasional.

Dengan modal ketenaran inilah, Mas Oyama lalu mendirikan sebuah dojo karate di Tokyo. Karate di dojo ini menekankan pentingnya latihan full-contact kumite (latih-tanding tanpa pelindung). Menurutnya, full contact kumite merupakan hal yang penting untuk mengasah semangat dan ketrampilan berkelahi. Hal ini sempat menimbulkan ketegangan dengan tetua-tetua dari aliran karate lain yang berpendapat bahwa praktek aplikasi karate secara langsung itu berbahaya dan tidak perlu.

Puncak ketegangan ini muncul pada tahun 1960-an. Pada waktu itu, petinju Muay Thai menyatakan bahwa Thai Boxing adalah seni bela diri yang terkuat, dan ia telah mengalahkan banyak wakil aliran bela diri, termasuk karate Jepang (Pada waktu itu, karate sedang populer di dunia internasional, dan petinju Muay Thai ini ingin memanfaatkan kesempatan untuk mencari nama). Petinju Muay Thai tersebut meminta wakil resmi dari Jepang untuk menjawab tantangannya. Sikap resmi dari aliran-aliran Karate di Jepang adalah untuk tidak melayani tantangan tersebut, karena tujuan dari Karate adalah untuk membina mental dan salah satu dari perwujudan penempaan mental tersebut adalah untuk menghindarkan dari perkelahian yang tidak perlu. Akan tetapi, Mas Oyama berpendapat bahwa "Karate memang bukan untuk mencari masalah. Tetapi apabila masalah itu datang dengan sendirinya, lari dari masalah adalah tindakan pengecut". Ia mengirim 3 murid terbaiknya ke Thailand untuk bertanding dengan aturan Muay Thai. Dua dari tiga muridnya tersebut menang dan mereka kembali ke Jepang dielu-elukan sebagai pahlawan yang mengangkat harga diri Jepang. Hal ini menambah ketegangan antara aliran Oyama ini dengan aliran-aliran Karate yang lain, sehingga banyak aliran lain yang menjuluki aliran Oyama sebagai "bukan Karate" dan "ilmunya para berandalan".

Mas Oyama tidak ambil pusing atas tanggapan tersebut. Ia secara resmi mendirikan Kyokushin yang berarti kebenaran tertinggi yang beliau yakini sebagaimana Karate seharusnya diajarkan dan dipelajari. Ia mengadakan turnamen-turnamennya sendiri merespon dilarangnya Kyokushin mengikuti pertandingan-pertandingan Karate. Meski di-'anak-tiri'-kan, Kyokushin berkembang pesat di dalam maupun di luar Jepang, terutama karena beberapa generasi pertama Kyokushin banyak menantang berbagai aliran bela diri di Asia maupun di negara-negara Barat.

1964 hingga 1994[sunting | sunting sumber]

Setelah Kyokushin kaikan resmi dibentuk, Oyama memimpinnya untuk melakukan ekspansi. Oyama memilih instruktur-instruktur yang menurutnya mampu mempertunjukkan kemampuan dan gaya bertarung Kyokushin untuk merekut anggota baru. Pada awalnya, instruktur-instruktur itu ditugaskan untuk membuka dojo di kota lain di Jepang. Di sana instruktur tersebut akan memamerkan kemampuan mereka di area-area publik, misalnya di gymnasium, di gym milik polisi (di mana para atlet judo biasa berlatih), di taman, atau di festival-festival lokal.

Selain di jepang, Oyama juga menyebarkan instruktur-instrukturnya ke negara lain, misalnya ke Belanda (Kenji Kurosaki), Australia (Shigeo Kato), Amerika Serikat (Tadashi Nakamura, Shigeru Oyama and Yasuhiko Oyama, Miyuki Miura), dan Brazil (Seiji Isobe) untuk menyebarkan Kyokushin dengan cara yang sama seperti di Jepang. Pada tahun 1969, Oyama menyelenggarakan First All Japan Full Contact Championships di Jepang. Selain itu, pada thaun 1975, ia juga menyelenggarakan First Open Full Contact World Karate Championships. Sejak saat itu, pertandingan berskala internasional diadakan secara berkala setiap empat tahun sekali.

Setelah Oyama meninggal, International Karate Organization (IKO) Kyokushinkaikan mengalami perpecahan. Perpecahan disebabkan karena konflik tentang siapa yang akan menggantikan Oyama sebagai Chairman, serta tentang masa depan struktur dan filosofi organisasi. Hingga saat ini, masalah belum dapat dipecahkan. Shokei (Akiyoshi) Matsui sempat diperkirakan menjadi penerus Oyama setelah ia mengklaim bahwa ia memiliki hak intelektual atas semua merek dagang, simbol, dan nama Kyokushin. Namun ternyata sistem legal Jepang mengharamkan tindakan itu sehingga Shokei Matsui dipaksa mengembalikan semua hak intelektual Kyokushin kepada keluarga Oyama.

Kyokushin Saat Ini[sunting | sunting sumber]

Kematian Oyama meninggalkan perpecahan di tubuh organisasi Kyokushin. Kelompok-kelompok ini saling mengklaim memiliki otoritas untuk mewakili Honbu (markas/headquarters) yang asli.

Cabang-cabang baru yang memiliki gerakan dan teknik yang sama, namun dengan nama berbeda, lahir. Banyak juga dojo-dojo yang mengajarkan kurikulum Kyokushin meskipun tidak memiliki ikatan formal dengan organisasi. Meskipun sulit untuk dihitung secara pasti, diperkirakan jumlah murid yang mempelajari aliran Kyokushin atau aliran cabangnya telah mencapai jutaan orang.

Istri Oyama meninggal bulan Juni 2006 setelah lama mengidap penyakit. Berdasarkan sistem hukum di Jepang, hak intelektual milik Oyama diturunkan kepada anak perempuannya yang bernama Kikuko (dikenal pula dengan nama Kuristina).

Tehnik dan latihan[sunting | sunting sumber]

Latihan Kyokushin terdiri dari tiga elemen utama yang disebut sebagai 3K: (1) kihon (teknik), (2) kata, dan kumite (latih tanding).

Kihon[sunting | sunting sumber]

Kihon berarti teknik atau gerakan-gerakan dasar. Sistem latihan kyokusin dibuat berdasarkan karate tradisional seperti Shotokan dan Goju-ryu dengan beberapa teknik tambahan yg diadaptasi dari seni beladiri lain seperti tinju dan kickboxing saat kumite. Kyokushin juga memiliki banyak teknik orisinal yang tak ditemui pada aliran karate lainnya.

Kata[sunting | sunting sumber]

Kata adalah kombinasi gerakan-gerakan yang dilatih secara berulang-ulang. Diharapkan dengan latihan itu, karateka dapat refleks mengeluarkan kombinasi dalam pertarungan.

Kata Utara

Kata utara dipengaruhi oleh aliran Shotokan yang dipelajari Mas Oyama dari Gichin Funakoshi

  • Taikyoku sono ichi
  • Taikyoku sono ni
  • Taikyoku sono san
  • Pinan Sono Ichi
  • Pinan Sono Ni
  • Pinan Sono San
  • Pinan Sono yon
  • Pinan Sono Go
Kata khusus/unik
Kata selatan

Kata selatan dipengaruhi oleh aliran Goju Ryu yang dipelajari Oyama dari So Nei Chu dan Gogen Yamaguchi.

  • Gekisai Dai
  • Gekisai Sho
  • Tensho
  • Saifa
  • Seienchin
  • Seipai
  • Yantsu
Unik

Kyokushin memiliki beberapa kata yang tidak ditemui pada aliran lainnya, di antaranya Garyu, Yantsu, Tsuki no kata. Garyu diciptakan oleh Mas Oyama. Nama "Garyu" sendiri berasal dari nama kampung di mana Oyama lahir. Tsuki no kata juga salah satu kata unik Kyokushin, namun masih diperdebatkan siapa penciptanya. Teori yang paling umum adalah bahwa kata ini diciptakan oleh Tadashi Nakamura sebelum ia memisahkan diri dari organisasi Kyokushin.

Ura kata

Beberapa kata juga dilakukan dalam bentuk "ura". Ini berarti bahwa pada setiap langkah, salah satu kaki harus diputar (tergantung arah dan posisi terakhir). Ura kata dikembangkan oleh Oyama untuk melatih keseimbangan dan kemampuan pertarungan multi-arah

Kumite[sunting | sunting sumber]

Karateka junior Kyokushin menendang kepala lawannya dalam sebuah pertandingan.

Kumite (sparring) digunakan untuk melatih aplikasi berbagai gerakan dalam situasi pertarungan yang sesungguhnya. Kumite merupakan bagian penting dalam latihan Kyokushin, terutama bagi mereka yang sudah bertingkat tinggi.

Dalam kyokushin, baik pembina maupun warga (murid) harus melakukan kumite dengan keras agar mereka siap menghadapi pertarungan yang sesungguhnya. Tidak seperti jenis karate lain pada umumnya, Kyokushin menekankan pentingnya latihan full contact, tanpa menggunakan sarung tangan, pelindung badan, atau pelindung kepala (kecuali pelindung kemaluan bagi laki-laki). Beberapa perguruan mewajibkan penggunaan pelindung untuk warga yang masih berumur belia (kecil).

Dahulu, kumite dalam Kyokushin benar-benar dibuat menyerupai pertarungan nyata, serangan ke kepala boleh dilakukan baik dengan pukulan maupun tendangan. Namun ternyata hal ini membuat banyak murid cedera, disebabkan terutama akibat diperbolehkannya pukulan ke arah kepala. Akhirnya sekarang baik pada kumite maupun kejuaraan, pukulan ke arah muka dilarang, namun tendangan dan serangan lutut ke kepala dan leher tetap diperbolehkan.

Dalam budaya pop[sunting | sunting sumber]

Video game[sunting | sunting sumber]

Jin Kazama dari game Tekken bertarung menggunakan gaya Karate pada game Tekken 4, Tekken 5, dan Tekken 5: Dark Resurrection. Dia terlihat melakukan Yantsu dan pinan sono yon kata pada mode demonstrasi (demonstration modes) di game ini. Paul Phoenix, karakter lain dari game yang sama, juga terlihat menggunakan gaya Kyokushin.

Kadonashi Shintaro dari game Urban Reign juga menggunakan gaya bertarung Kyokushinkai. Begitu pula dengan Hitomi (Dead or Alive, Dead or Alive 3, Dead or Alive 4), Solara (Marvel Nemesis: Rise of the Imperfects)

Dalam game Art of Fighting, Fatal Fury, King of Fighters, terdapat sebuah aliran beladiri fiksional yang bernama Kyokugenryu Karate yang dibuat berdasarkan aliran Kyokushin.

Film[sunting | sunting sumber]

Sebuah film trilogi yang dibintangi oleh Sonny Chiba, karya sutradara Kazuhiko Yamaguchi diproduksi di Jepang antara tahun 1975 hingga 1977: Champion of Death, Karate Bearfighter, dan Karate for Life. Chiba memerankan Master Oyama yang tampil dalam dua dari tiga film di atas.

Film James Bond "You Only Live Twice," diperankan oleh Sean Connery, banyak mengambil tempat di Jepang dan menampilkan demonstrasi karate oleh beberapa murid Kyokushin terkenal, termasuk di antaranya Shigeo Kato (orang yang memperkenalkan Kyokushin ke Australia) dan Fujihara (salah satu petarung yang dikirim Mas Oyama untuk memenuhi tantangan petarung Muay Thai pada tahun 1964).

Fighter in the Wind (Bahasa Korea: 바람의 파이터), film Korea Selatan buatan tahun 2004 menceritakan kisah fiksi Choi Yeung-Eui (최영의) yang pergi ke Jepang semasa Perang Dunia II untuk menjadi pilot pesawat tempur. Namun di sana, ia malah menjadi petarung karate dan mengubah namanya menjadi Masutatsu Oyama (大山倍達). Ia pergi mengembara ke seluruh Jepang dan mengalahkan banyak petarung bela diri di sana. Film ini lebih banyak menceritakan kisah Mas Oyama (dengan bumbu fiksi) ketika masih remaja dan mengembangkan aliran beladirinya yang terkenal: Kyokushin.

Praktisi terkenal[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]