Keajaiban di Sungai Han

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Untuk konteks sejarah yang lebih luas, lihat Ekonomi Korea Selatan.

Ekonomi Korea Selatan tumbuh pesat dari nol ke lebih dari satu triliun dolar dalam waktu kurang dari setengah abad.

Keajaiban di Sungai Han (Hangeul: 한강의 기적; Hangangeui Ginjeok) adalah sebuah istilah yang merujuk pada periode pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat, industrialisasi, pencapaian teknologi, urbanisasi, pembangunan gedung-gedung pencakar langit, modernisasi, globalisasi dan kebangkitan teknologi yang terjadi di Korea Selatan dari puing-puing Perang Korea, Penjajahan Jepang Atas Korea dan Perang Dunia Kedua menjadi sebuah negara makmur yang maju. Periode ini dimulai dari Rencana Lima Tahun yang dicanangkan pada tahun 1960, hingga periode industrialisasi dan kebangkitan Korsel sampai detik ini.

Istilah ini seringkali digunakan untuk memaparkan kekuatan ekonomi Korea Selatan yang sangat berpengaruh dalam skala global dengan munculnya perusahaan-perusahaan raksasa seperti Samsung, LG dan Hyundai-Kia pada abad ke-21. Kemajuan itu dipelopori oleh ibukota Seoul yang dilalui oleh Sungai Han. Ungkapan ini mengkuti istilah terkenal Keajaiban di Sungai Rhine, yang merupakan periode kebangkitan Jerman Barat setelah Perang Dunia II. Selain ekonomi yang didukung oleh para Chaebol, ekonomi Korea Selatan mendapat sumbangan triliunan won dari bisnis K-pop, K-drama dan wisata operasi plastik.

Kata "keajaiban" digambarkan dengan pencapaian pesat Korea Selatan menjadi negara ekonomi terbesar ke-13 dunia dan menjadi contoh bagi negara-negara berkembang yang lain,[1] yang dianggap banyak orang sangat mustahil pada saat itu. Ketika itu Korea Selatan adalah negara yang tercabik-cabik Perang Korea dan jutaan warga negaranya hidup dalam kemiskinan serta ratusan ribu penganggur berjuang keras memenuhi keperluan hidup. Dalam waktu kurang dari 4 dekade, negara miskin ini berubah menjadi salah satu pusat ekonomi dunia. Ibukota Seoul dengan cepat bertransformasi menjadi kota utama dan pusat bisnis dan perdagangan di Asia serta mempunyai infrastruktur paling mutakhir. Pencapaian ini dianggap sebagai kebanggaan nasional dan kemampuan unggul bangsa Korea.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Perkembangan pesat dari 1960-an sampai 1980-an[sunting | sunting sumber]

Seoul setelah Perang Korea pada tahun 1953.


Produk Nasional Bruto Korea Selatan meningkat lebih dari 8 persen per tahun, dari US$ 3,3 miliar pada tahun 1962 menjadi $US 204 miliar pada tahun 1989, lalu menyentuh angka satu triliun dollar AS pada tahun 2007. Pendapatan per kapita meningkat dari hanya US$ 87 pada tahun 1962 menjadi US$ 4.830 pada tahun 1989, menembus angka $ 20.000 pada tahun 2007. Sektor manufaktur menyumbang pendapatan 14,3 persen untuk PNB pada tahun 1962 menjadi 30,3 % pada tahun 1987. Volume komoditas perdagangan tumbuh dari US$ 480 juta pada tahun 1962 menjadi US$ 127,9 juta pada tahun 1990. Rasio pendapatan domestik meningkat dari 3,3 % pada tahun 1962 menjadi 35,8 % pada tahun 1989.

Faktor paling signifikan dalam industrialisasi yang sangat pesat tersebut adalah perencanaan strategi ekonomi tahun 1960-an yang berfokus pada ekspor manufaktur dengan angkatan kerja intensif. Strategi ini sesuai dengan kondisi Korea Selatan pada saat itu yang miskin akan hasil sumber daya alam, rendahnya angka pendapatan, serta pasar domestik yang kecil. Dengan strategi ini Korea Selatan bisa mendapatkan hasil yang bisa menyokong ekonominya. Pemerintahan pun ikut serta dalam rencana ini. Aliran bantuan dana dari pihak asing yang masuk menambah kekurangan kas dalam negeri. Usaha ini akhirnya berdampak pada pertumbuhan ekspor dan angka pendapatan yang terus meningkat.

Dengan memaksimalkan sektor industri, ternyata menimbulkan masalah lain, yaitu sektor pertanian mengalami ketertinggalan. Melebarnya jurang pendapatan antara sektor industri dan pertanian menjadi masalah serius pada tahun 1970-an hingga kini, walau pemerintah telah berusaha meningkatkan standar kesejahteraan dan pendapatan rakyat yang mengusahakan pertanian di pedesaan.

Stabilitas finansial[sunting | sunting sumber]

Pada awal tahun 1980-an, guna mengendalikan inflasi, sebuah kebijakan moneter konservatif dan undang-undang fiskal dikeluarkan. Pertumbuhan alokasi dana dikurangi dari level 30 % pada tahun 1970-an menjadi 15 %. Seoul bahkan membekukan anggaran belanjanya untuk sementara. Intervensi pemerintah dalam perekonomian dengan cepat berkurang dan kebijakan impor serta investasi asing dibebaskan untuk mengundang kompetisi. Untuk mengurangi ketimpangan antara sektor urban dan pedesaan, pemerintah membuka investasi asing lebar-lebar dalam proyek-proyek publik seperti pembangunan fasilitas jalan dan komunikasi disamping meningkatkan moderenisasi pertanian.

Kebijakan-kebijakan ini, ditambah perbaikan ekonomi global, ikut membantu memulihkan ekonomi Korea Selatan daripada kelesuan ekonomi. Korea Selatan mencapai pertumbuhan ekonomi nyata rata-rata 9,2 % pada tahun 1982 sampai 1985 dan 12,5 % dari tahun 1986 sampai 1988. Inflasi dua kali lipat pada tahun 1970-an dapat diatasi. Inflasi harga barang-barang rata-rata adalah 2,1 persen per tahun dari tahun 1980 sampai 1988; harga barang konsumsi meningkat rata-rata 4,7 % per tahun. Seoul mencapai surplus pertamanya pada neraca pembayaran pada tahun 1986 dengan angka US$ 7,7 miliar dan $US 11,4 miliar, masing-masing pada tahun 1987 dan 1988. Kemajuan ini membuat Korea Selatan dapat membayar utang kepada pihak asing. Surplus perdagangan tahun 1989 hanya US$ 4,6 miliar dan neraca perdagangan 1990 diproyeksikan negatif.

Industri high-tech di akhir 1990-an dan 2000-an[sunting | sunting sumber]

Dalam tahun-tahun belakangan, model ekonomi Korea Selatan mulai beralih dari perencanaan terpusat serta investasi dari pemerintah ke arah ekonomi yang berorientasi pasar. Bangkit dari kejatuhan ekonomi pada Krisis Finansial Asia tahun 1997, Korea Selatan meluncurkan kebijakan-kebijakan finasial untuk menstabilkan pasar. Pertumbuhan ekonomi yang sempat terpuruk dari 6,6 % pada tahun 1998, naik perlahan menjadi 10,8 % pada tahun 1999 dan 9,2 % pada 2000. Peningkatan ini tak lepas dari tangan dingin almarhum Presiden Kim Dae-jung, yang membuat Korea Selatan menjadi salah satu kekuatan ekonomi Asia. Pada tahun 2001, angka pertumbuhan turun drastis menjadi 3,3 % akibat melemahnya perekonomian global, terpuruknya ekspor, serta gagalnya reformasi finansial. Pada 2002, angka pertumbuhan ekonomi kembali mengalami perbaikan menjadi 5,8 % karena pertumbuhan industri dan konstruksi, walau perekonomian dunia masih belum stabil. Tugas-tugas pemerintah seperti restrukturisasi konglomerat (chaebol), privatisasi bank, dan ekonomi yang lebih liberal masih menjadi target penting yang masih belum diselesaikan hingga kini. Pertumbuhan kembali melemah di 2004, namun produksi meningkat 5 % pada 2006 menyusul tingginya permintaan akan produk-produk ekspor utama, seperti HDTV dan telepon genggam.

Korea Selatan bergantung penuh terhadap ekspor untuk menyokong perekonomian. Berbagai produk-produk yang paling diminati sekaligus ekspor terpenting adalah barang-barang elektronik, tekstil, kapal, produk otomotif, dan baja. Walaupun pasar impor telah diliberalisasi, pasar produk pertanian masih diproteksi karena lebarnya celah harga produk pertanian dalam negeri dengan pasar internasional. Sejak tahun 2005, harga beras di Korea Selatan 4 kali lebih tinggi dibanding harga beras di pasar internasional. Pemerintah khawatir dengan membuka pasar pertanian akan mengakibatkan kerugian besar di sektor pertanian. Pada akhir tahun 2004, sebuah perjanjian dengan WTO mengenai impor beras ditandatangani, dan konsumsinya meningkat 4 % dan diperkirakan akan menjadi 8 % pada tahun 2014.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]