Io

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Io
Citra warna sejati yang diabadikan oleh wahana Galileo.
Citra Io dalam warna sejati yang diabadikan oleh Galileo. Titik hitam di sebelah kiri bagian tengah merupakan letusak gunung berapi Prometheus. Dataran keputihan dilapisi oleh endapan sulfur dioksida yang beku, sementara wilayah yang berwarna kuning memiliki kandungan sulfur yang tinggi.
Penemuan
Penemu Galileo Galilei
Tanggal ditemukan 8 Januari 1610[1]
Penamaan
Nama alternatif Yupiter I
Ciri-ciri orbit
Periapsis 420.000 km (0,002807 SA)
Apoapsis 423.400 km (0,002830 SA)
Jari-jari orbit rata-rata 421.700 km (0,002819 SA)
Eksentrisitas 0,0041
Periode orbit 1,769137786 d (152.853,5047 s, 42,45930686 h)
Kecepatan orbit rata-rata 17,334 km/s
Inklinasi 2,21° (terhadap ekliptika)
0,05° (terhadap khatulistiwa Yupiter)
Satelit bagi Yupiter
Elemen orbit yang seharusnya
Ciri-ciri fisik
Dimensi 3.660,0 × 3.637,4 × 3.630,6 km[2]
Jari-jari rata-rata 1.821,6±0,5 km (0,286 Bumi)[3]
Luas permukaan 41.910.000 km2 (0,082 Bumi)
Volume 2,53×1010 km3 (0,023 Bumi)
Massa 8,931938±0,000018×1022 kg (0,015 Bumi)[3]
Massa jenis rata-rata 3,528±0,006 g/cm3[3]
Gravitasi permukaan di khatulistiwa 1,796 m/s2 (0.183 g)
Kecepatan lepas 2,558 km/s
Periode rotasi Sinkron
Kecepatan rotasi 271 km/j
Albedo 0,63±0,02[3]
Suhu permukaan
   Permukaan
min rata-rata maks
90 K 110 K 130 K[5]
Magnitudo tampak 5,02 (oposisi)[4]
Atmosfer
Tekanan permukaan trace
Komposisi 90% sulfur dioksida


Io /ˈ./[6] adalah satelit terdalam di antara empat satelit-satelit Galileo yang mengelilingi planet Yupiter. Dengan diameter sebesar 3.642 kilometer (2,263 mil), Io merupakan satelit terbesar keempat di Tata Surya. Satelit ini dinamai dari Io, yang merupakan pendeta wanita untuk Hera yang menjadi salah satu kekasih Zeus.

Dengan lebih dari 400 gunung berapi aktif, secara geologis Io merupakan objek yang paling aktif di Tata Surya.[7][8] Aktivitas geologis yang ekstrem ini disebabkan oleh pemanasan pasang surut dari friksi yang dihasilkan di bagian dalam Io ketika mengalami penarikan oleh Yupiter dan satelit-satelit Galileo lainnya—Europa, Ganymede, dan Callisto. Beberapa gunung berapi menghasilkan sulfur dan sulfur dioksida yang dapat mencapai ketinggian 500 km (300 mil) di atas permukaan. Di permukaan Io juga terdapat 100 gunung yang terangkat akibat kompresi di dasar kerak silikat Io. Beberapa gunung di Io bahkan lebih tinggi dari Gunung Everest.[9] Tidak seperti satelit lain di Tata Surya yang umumnya terbuat dari es air, Io terdiri dari batu silikat yang mengelilingi inti besi cair atau besi sulfida. Sebagian besar permukaan Io merupakan dataran luas yang dilapisi oleh sulfur dan sulfur dioksida beku.

Vulkanisme Io menghasilkan kenampakan-kenampakan yang unik. Plume vulkanik dan aliran lava mengubah permukaan dan menyelimutinya dengan alotrop dan senyawa sulfur yang berwarna kuning, merah, putih, hitam, dan hijau. Aliran lava yang panjangnya dapat mencapai 500 km (300 mil) juga dapat ditemui di permukaan. Material-material yang dihasilkan oleh vulkanisme ini meliputi atmosfer Io yang tipis dan tidak lengkap, serta magnetosfer Yupiter. Pecahan (ejecta) vulkanik Io menghasilkan torus plasma yang besar di sekeliling Yupiter.

Io berperan penting dalam perkembangan astronomi pada abad ke-17 dan ke-18. Satelit ini ditemukan pada tahun 1610 oleh Galileo Galilei bersama dengan satelit-satelit Galileo lainnya. Penemuan ini mendorong penggunaan model heliosentris Kopernikus , perkembangan hukum pergerakan planet Kepler, dan pengukuran kecepatan cahaya untuk pertama kalinya. Dari Bumi, Io tampak seperti setitik cahaya hingga akhir abad ke-19 dan abad ke-20, ketika perkembangan teknologi memungkinkan manusia melihat kenampakan-kenampakan permukaannya, seperti wilayah kutub yang berwarna merah tua dan khatulistiwa yang cerah. Pada tahun 1979, dua wahanaVoyager menemukan bahwa Io adalah satelit yang aktif secara geologis, dengan beberapa kenampakan vulkanik, pegunungan besar, dan permukaan yang muda dan tidak menunjukkan bekas tubrukan. Wahana Galileo melakukan beberapa terbang lintas pada tahun 1990-an dan awal tahun 2000-an, sehingga berhasil memperoleh data mengenai struktur dalam dan komposisi permukaan Io. Wahana ini juga berhasil menyibak hubungan antara Io dengan magnetosfer Yupiter dan keberadaan sabuk radiasi yang berpusat di orbit Io. Io memperoleh sekitar 3.600 rem (36 Sv) radiasi per hari.[10]

Pengamatan lebih lanjut telah dilakukan melalui wahana Cassini–Huygens pada tahun 2000, wahana New Horizons pada tahun 2007, serta teleskop di Bumi dan Teleskop Angkasa Hubble.

Tata nama[sunting | sunting sumber]

Perbandingan ukuran Io (kiri bawah) dengan Bulan (kiri atas) dan Bumi.

Walaupun Simon Marius tidak dihargai sebagai penemu satelit-satelit Galileo, nama yang ia berikan kepada satelit-satelit tersebut merupakan nama yang digunakan. Dalam bukunya pada tahun 1614 yang berjudul Mundus Iovialis anno M.DC.IX Detectus Ope Perspicilli Belgici, ia mengusulkan beberapa nama alternatif untuk satelit besar terdalam Yupiter, seperti "Merkurius dari Yupiter" dan "Yang Pertama dari Planet-Planet Yupiter ".[11] Berdasarkan usulan Johannes Kepler pada Oktober 1613, ia juga merancang skema penamaan berdasarkan nama kekasih-kekasih Zeus dalam mitologi Yunani atau dewa yang sama dalam mitologi Romawi, Yupiter. Ia menamai satelit besar terdalam Yupiter dari tokoh dalam mitologi Yunani, Io.[11][12] Nama-nama Marius tidak banyak digunakan hingga seabad kemudian, dan pada awalnya Io disebut "Yupiter I" (berdasarkan sistem yang dirancang oleh Galileo),[13] atau "satelit pertama Yupiter".[14][15]

Kenampakan di Io dinamai berdasarkan tokoh-tokoh dan tempat-tempat dalam mitologi Io, serta dewa-dewi api, gunung berapi, Matahari, dan petir dari berbagai mitologi, ditambah tokoh-tokoh dan tempat-tempat dari Inferno karya Dante: namna-nama yang tepat untuk permukaan Io yang vulkanik.[16] Semenjak permukaan Io telah dilihat secara dekat untuk pertama kalinya oleh Voyager 1, International Astronomical Union telah menyetujui 225 nama gunung berapi, gunung, dataran tinggi, dan kenampakan albedo besar di Io. Kategori-kategori untuk berbagai kenampakan permukaan di Io yang telah disetujui adalah patera ("mangkuk"; depresi vulkanik), fluctus ("aliran"; aliran lava), vallis ("lembah"; saluran lava), dan pusat letusan yang aktif (tempat adanya plume vulkanik yang merupakan tanda terjadinya aktivitas vulkanik di gunung berapi tertentu). Gunung, dataran tinggi, dataran berlapis, dan gunung berapi perisai masing-masing dijuluki mons, mensa ("meja"), planum, dan tholus ("rotunda").[16] Named, bright albedo regions use the term regio. Contoh kenampakan yang sudah dinamai adalah Prometheus, Pan Mensa, Tvashtar Paterae, dan Tsũi Goab Fluctus.[17]

Sejarah pengamatan[sunting | sunting sumber]

Galileo Galilei, penemu Io

Io pertama kali diamati oleh Galileo Galilei pada tanggal 7 Januari 1610 dengan menggunakan teleskop refraksi berkekuatan 20x di Universitas Padua. Namun, pada saat itu Galileo tidak dapat memisahkan Io dengan Europa karena rendahnya kekuatan teleskopnya, sehingga keduanya tampak seperti satu titik cahaya. Io dan Europa tampak seperti objek yang terpisah saat Galileo melakukan pengamatan lagi pada hari berikutnya, yaitu 8 Januari 1610 (yang dianggap sebagai tanggal penemuan Io oleh IAU).[1] Penemuan Io dan satelit-satelit Galileo lainnya diterbitkan dalam Sidereus Nuncius karya Galileo pada Maret 1610.[18] Sementara itu, dalam karyanya yang berjudul Mundus Jovialis dan diterbitkan pada tahun 1614, Simon Marius mengklaim telah menemukan Io dan satelit-satelit Yupiter lainnya pada tahun 1609, satu minggu sebelum penemuan Galileo. Galileo meragukan klaim ini dan menganggap Marius melakukan plagiarisme. Walaupun begitu, pengamatan pertama Marius dilakukan pada tanggal 29 Desember 1609 dalam kalender Julius, yang sama dengan 8 Januari 1610 dalam kalender Gregorius yang digunakan Galileo.[19] Karena Galileo menerbitkan karyanya sebelum Marius, Galileo dianggap sebagai penemu Io.[20]

Selama dua setengah abad berikutnya, Io dikenal sebagai titik cahaya bermagnitudo 5 dalam teleskop-teleskop astronom. Pada abad ke-17, Io dan satelit-satelit Galileo lainnya memiliki beberapa fungsi, seperti menentukan garis bujur,[21] memastikan hukum pergerakan planet ketiga Kepler, dan menentukan waktu yang diperlukan cahaya menempuh jarak dari Yupiter ke Bumi.[18] Berdasarkan ephemerides yang dibuat oleh Giovanni Cassini dan astronom lainnya, Pierre-Simon Laplace merumuskan teori matematis untuk menjelaskan orbit Io, Europa, dan Ganymede yang resonan.[18] Nantinya akan diketahui bahwa resonansi ini ternyata sangat memengaruhi geologi ketiga satelit.

Pemutakhiran teknologi teleskop pada akhir abad ke-19 dan abad ke-20 memungkinkan astronom untuk melihat kenampakan-kenampakan permukaan berskala besar di Io. Pada tahun 1890-an, Edward E. Barnard adalah orang pertama yang mengamati variasi kecerahan Io di wilayah khatulistiwa dan kutub, dan dengan tepat menyatakan bahwa hal ini disebabkan oleh perbedaan warna dan albedo di antara kedua wilayah dan bukan karena Io berbentuk seperti telur (seperti yang diusulkan oleh William Pickering), dan juga bukan karena terdapat dua objek yang terpisah (seperti yang diusulkan oleh Barnard).[14][15][22] Pengamatan melalui teleskop nantinya memastikan bahwa wilayah kutub Io berwarna coklat kemerahan dan wilayah khatulistiwanya berwarna kuning-putih.[23]

Pengamatan melalui teleskop pada pertengahan abad ke-20 mulai menunjukkan sifat Io yang tidak biasa. Pengamatan spektroskopik menunjukkan Galileo lainnya).[24] Pengamatan yang sama menunjukkan bahwa permukaan Io didominasi oleh uap yang terdiri dari garam sodium dan sulfur.[25] Pengamatan melalui teleskop radio menyibak pengaruh Io terhadap magnetosfer Yupiter, seperti yang ditunjukkan oleh letupan panjang gelombang dekametrik yang terkait dengan periode orbit Io.[26]

Pioneer[sunting | sunting sumber]

Wahana pertama yang melewati Io adalah Pioneer 10 pada tanggal 3 Desember 1973 dan 11 pada tanggal 2 Desember 1974.[27] Pelacakan melalui radio berhasil mengumpulkan perkiraan massa Io, yang (ditambah dengan perkiraan terbaik yang ada mengenai ukuran Io) menunjukkan bahwa Io memiliki kepadatan terbesar di antara empat satelit Galileo lainnya, dan terdiri dari batu silikat daripada es air.[28] Pioneer juga menemukan keberadaan atmosfer tipis di Io dan sabuk radiasi yang kuat di dekat orbit Io. Kamera di wahana Pioneer 11 berhasil mengabadikan wilayah kutub utara Io.[29] Gambar dari dekat sebelumnya direncanakan akan diabadikan oleh Pioneer 10, tetapi hasil pengamatan tersebut hilang akibat radiasi yang tinggi.[27]

Voyager[sunting | sunting sumber]

Citra kutub selatan Io yang diabadikan oleh Voyager 1. Di gambar ini terdapat dua dari sepuluh puncak tertinggi Io, yaitu Euboea Montes di ujung kiri atas dan Haemus Mons di bawah.

Wahana Voyager 1 dan Voyager 2 melewati Io pada tahun 1979. Sistem pencitraan mereka yang lebih maju memungkinkan pengambilan gambar yang lebih detail Voyager 1 melewati Io pada tanggal 5 Maret 1979 dari jarak sejauh 20,600 km (12.8 mil).[30] Citra-citra yang dikirim kembali oleh Voyager 1 menunjukkan lanskap yang berwarna ganda dan tidak memiliki kawah tubrukan.[31][32] Citra dengan resolusi tertinggi yang diabadikan Voyager 1 menunjukkan permukaan yang relatif muda yang diselangi oleh lubang-lubang dengan bentuk yang aneh, gunung-gunung yang lebih tinggi dari Gunung Everest, dan kenampakan-kenampakan yang menyerupai aliran lava vulkanik.

Segera setelah itu, insinyur navigasi Voyager Linda A. Morabito menyadari keberadaan plume pada salah satu gambar.[33] Analisis citra-citra Voyager 1 lainnya menunjukkan sembilan plume yang tersebar di permukaan, sehingga membuktikan bahwa Io aktif secara vulkanik.[34] Kesimpulan ini sudah diprediksi oleh Stan Peale, Patrick Cassen, dan R. T. Reynolds dalam karya ilmiah yang diterbitkan sebelum Voyager 1 melewati Io. Mereka memperkirakan bahwa bagian dalam Io seharusnya mengalami pemanasan pasang surut yang diakibatkan oleh resonansi orbit dengan Europa dan Ganymede.[35] Data dari terbang lintas Voyager 1 juga menunjukkan bahwa permukaan Io didominasi oleh sulfur dan sulfur dioksida beku. Senyawa ini juga mendominasi atmosfer Io dan torus plasma yang berpusat di orbit Io (juga ditemukan oleh Voyager).[36][37][38]

Voyager 2 melewati Io pada tanggal 9 Juli 1979 dari jarak 1,130,000 km (0.702 mil). Walaupun tidak sedekat Voyager 1, perbandingan antara gambar-gambar yang diabadikan oleh kedua wahana menunjukkan terjadinya perubahan di permukaan Io dalam empat bulan. Selain itu, pengamatan Io dalam bentuk sabit yang dilakukan oleh Voyager 2 saat meninggalkan sistem Yupiter menunjukkan bahwa tujuh dari sembilan plume yang diamati pada bulan Maret ternyata masih aktif pada Juli 1979, dan hanya gunung berapi Pele yang tidak menunjukkan aktivitas yang sebelumnya diamati oleh Voyager 1.[39]

Galileo[sunting | sunting sumber]

Citra yang diabadikan oleh Galileo menunjukkan keberadaan titik hitam (memutuskan cincin alotrop sulfur berwarna merah yang diendapkan oleh Pele) yang disebabkan oleh letusan di Pillan Patera pada tahun 1997.

Wahana Galileo tiba di Yupiter pada tahun 1995 setelah menempuh perjalanan selama enam tahun dari Bumi. Lokasi Io di bagian sabuk radiasi Yupiter yang paling kuat menghalangi dilakukannya terbang lintas secara dekat, tetapi Galileo sempat melintasinya secara dekat segera sebelum memasuki orbit Yupiter selama dua tahun dengan misi utama untuk mempelajari sistem Yupiter. Meskipun tidak ada gambar yang diabadikan selama terbang lintas pada 7 Desember 1995, Galileo berhasil menuai hasil seperti penemuan inti besi yang besar, yang serupa dengan planet-planet berbatu di Tata Surya dalam.[40]

Walaupun tidak ada citra dari dekat dan meskipun terdapat masalah mekanik yang membatasi jumlah data yang dapat dikirim kembali, Galileo berhasil menemukan pengetahuan baru. Galileo mengamati dampak letusan besar di Pillan Patera dan memastikan bahwa letusan vulkanik di Io terdiri dari magma silikat dengan komposisi mafik dan ultramafik yang kaya akan magnesium.[41] Pencitraan Io dari jauh juga berhasil menunjukkan keberadaan sejumlah gunung berapi aktif (baik emisi panas dari magma yang mendingin di permukaan maupun plume vulkanik), gunung-gunung dengan berbagai macam morfologi, dan beberapa perubahan di permukaan yang terjadi semenjak misi Voyager terakhir dan selama Galileo mengorbit.[42]

Misi Galileo dua kali diperpanjang pada tahun 1997 dan 2000. Selama perpanjangan misi tersebut, wahana ini melintasi Io tiga kali pada akhir 1999 dan awal 2000, dan tiga kali pada akhir 2001 dan awal 2002. Pengamatan yang dilakukan selama itu menunjukkan berlangsungnya proses geologis di gunung berapi dan gunung Io, menemukan bahwa Io tidak memiliki medan magnet, dan menunjukkan tingkat aktivitas vulkanik Io.[42] Pada Desember 2000, jauh saat sedang menuju ke Saturnus, wahana Cassini secara singkat sempat melewati Yupiter dari jauh, sehingga dapat melakukan pengamatan bersamaan dengan Galileo. Pengamatan tersebut menemukan keberadaan plume baru di Tvashtar Paterae dan memperoleh pengetahuan terkait aurora di Io.[43]

Pengamatan selanjutnya[sunting | sunting sumber]

Perubahan yang terjadi di permukaan Io dari berakhirnya misi Galileo hingga pengamatan New Horizons (delapan tahun).

Setelah Galileo dengan sengaja diarahkan ke atmosfer Yupiter untuk dihancurkan pada September 2003, pengamatan vulkanisme Io dilakukan melalui teleskop-teleskop di Bumi, khususnya pencitraan optik adaptif dari teleskop Keck di Hawaii dan pencitraan dari teleskop Hubble.[44][45] Pencitraan ini memungkinkan ilmuwan mengamati aktivitas vulkanik di Io tanpa harus bergantung pada wahana di sistem Yupiter.

Wahana New Horizons melewati sistem Yupiter dan Io pada tanggal 28 Februari 2007 saat sedang menuju Pluto dan sabuk Kuiper. Wahana ini berhasil mengabadikan beberapa gambar, seperti gambar plume besar di Tvashtar, yang merupakan pengamatan kelas plume vulkanik terbesar setelah pengamatan plume Pele pada tahun 1979.[46] New Horizons juga mengambil gambar gunung berapi di dekat Girru Patera yang sedang melewati tahap awal letusan, dan beberapa letusan vulkanik yang terjadi semenjak misi Galileo selesai.[46]

Saat ini terdapat dua misi yang direncanakan akan mengunjungi sistem Yupiter. Juno, yang diluncurkan pada tanggal 5 Agustus 2011, memiliki keterbatasan dalam pencitraan, tetapi dapat mengamati aktivitas vulkanik Io dengan menggunakan spektrometer inframerah dekatnya, JIRAM. Sementara itu, Jupiter Icy Moon Explorer (JUICE) adalah misi European Space Agency yang direncanakan akan mengunjungi sistem Yupiter dan berakhir di orbit Ganymede.[47] JUICE dijadwalkan akan diluncurkan pada tahun 2022, dan diperkirakan akan tiba di Yupiter pada Januari 2030.[48] JUICE tidak akan melintasi Io, tetapi akan menggunakan alat-alatnya (seperti kamera bersudut sempit) untuk mengamati aktivitas vulkanik Io dan mengukur komposisi permukaannya selama fase di Yupiter (berdurasi dua tahun) sebelum memasuki orbit Ganymede. Di sisi lain, Io Volcano Observer merupakan usulan misi kelas Discovery yang akan diluncurkan pada tahun 2015. Misi ini menjadwalkan terbang lintas di Io; namun, misi ini tidak dipilih NASA untuk masuk ke penelitian Fase A, dan hanya menjadi konsep belaka.[49]

Orbit dan rotasi[sunting | sunting sumber]

Resonansi Laplace Io dengan Europa dan Ganymede (klik untuk melihat animasi).

Io mengorbit Yupiter dari jarak sejauh 421,700 km (262 mil) dari pusat Yupiter dan 350,000 km (217 mil) dari awal tertinggi. Satelit ini merupakan satelit terdalam di antara satelit-satelit Galileo, dan orbitnya berada di antara Thebe dan Europa. Io juga merupakan bulan kelima dari Yupiter. Satelit ini membutuhkan waktu 42,5 jam untuk menyelesaikan orbitnya (cukup cepat sehingga pergerakannya dapat diamati dalam satu malam). Io berada dalam resonansi orbit 2:1 dengan Europa dan 4:1 dengan Ganymede, yang berarti Io menyelesaikan dua orbit setiap kali Europa menyelesaikan satu orbit, dan Io menyelesaikan empat orbit setiap kali Ganymede menyelesaikan satu orbit. Resonansi ini membantu mempertahankan eksentrisitas orbit Io (0,0041), yang menyebabkan pemanasan pasang surut yang memicu aktivitas geologi di Io.[35] Tanpa eksentrisitas paksa ini, orbit Io akan melingkar akibat disipasi pasang surut, dan akibatnya Io akan menjadi objek yang kurang aktif secara geologis.

Seperti satelit-satelit Galileo lainnya dan Bulan, Io berada pada rotasi sinkron dengan Yupiter, sehingga salah satu permukaan selalu menghadap planet Yupiter. Sinkronitas ini menentukan sistem garis bujur di Io. Meridian utama Io bersilangan dengan khatulistiwa di titik subyupiter. Belahan yang selalu menghadap Yupiter disebut belahan subyupiter, sementara belahan yang selalu berlawanan arah dari Yupiter adalah belahan antiyupiter. Belahan Io yang selalu menghadap ke arah pergerakan Io disebut belahan depan, sementara belahan yang selalu menghadap arah yang berlawanan disebut belahan belakang.[50]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Blue, Jennifer (9 November 2009). "Planet and Satellite Names and Discoverers". USGS. 
  2. ^ Thomas, P. C.; et al. (1998). "The Shape of Io from Galileo Limb Measurements". Icarus 135 (1): 175–180. Bibcode:1998Icar..135..175T. doi:10.1006/icar.1998.5987. 
  3. ^ a b c d Yeomans, Donald K. (13 July 2006). "Planetary Satellite Physical Parameters". JPL Solar System Dynamics. 
  4. ^ "Classic Satellites of the Solar System". Observatorio ARVAL. Diakses 28 September 2007. 
  5. ^ Rathbun, J. A.; Spencer, J.R.; Tamppari, L.K.; Martin, T.Z.; Barnard, L.; Travis, L.D. (2004). "Mapping of Io's thermal radiation by the Galileo photopolarimeter-radiometer (PPR) instrument". Icarus 169 (1): 127–139. Bibcode:2004Icar..169..127R. doi:10.1016/j.icarus.2003.12.021. 
  6. ^ EYE-oh, atau bahasa Yunani: Ἰώ
  7. ^ Rosaly MC Lopes (2006). "Io: The Volcanic Moon". In Lucy-Ann McFadden, Paul R. Weissman, Torrence V. Johnson. Encyclopedia of the Solar System. Academic Press. hlm. 419–431. ISBN 978-0-12-088589-3. 
  8. ^ Lopes, R. M. C.; et al. (2004). "Lava lakes on Io: Observations of Io’s volcanic activity from Galileo NIMS during the 2001 fly-bys". Icarus 169 (1): 140–174. Bibcode:2004Icar..169..140L. doi:10.1016/j.icarus.2003.11.013. 
  9. ^ Schenk, P.; et al. (2001). "The Mountains of Io: Global and Geological Perspectives from Voyager and Galileo". Journal of Geophysical Research 106 (E12): 33201–33222. Bibcode:2001JGR...10633201S. doi:10.1029/2000JE001408. 
  10. ^ "2000 February 29, SPS 1020 (Introduction to Space Sciences)". CSUFresno.edu. 29 February 2000. 
  11. ^ a b Marius, S. (1614). Mundus Iovialis anno M.DC.IX Detectus Ope Perspicilli Belgici [The World of Jupiter discovered in the year 1609 by Means of a Belgian spy-glass]. 
  12. ^ Marius, S. (1614). Mundus Iovialis anno M.DC.IX Detectus Ope Perspicilli Belgici.  (in which he attributes the suggestion to Johannes Kepler)
  13. ^ "Io: Overview". NASA. Diakses 5 March 2012. 
  14. ^ a b Barnard, E. E. (1894). "On the Dark Poles and Bright Equatorial Belt of the First Satellite of Jupiter". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society 54 (3): 134–136. Bibcode:1894MNRAS..54..134B. 
  15. ^ a b Barnard, E. E. (1891). "Observations of the Planet Jupiter and his Satellites during 1890 with the 12-inch Equatorial of the Lick Observatory". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society 51 (9): 543–556. Bibcode:1891MNRAS..51..543B. 
  16. ^ a b Blue, Jennifer. "Categories for Naming Features on Planets and Satellites". U.S. Geological Survey. Diakses 12 September 2013. 
  17. ^ Blue, Jennifer (14 June 2007). "Io Nomenclature Table of Contents". U.S. Geological Survey. Diarsipkan dari aslinya tanggal 29 June 2007. 
  18. ^ a b c Cruikshank, D. P.; Nelson, R. M. (2007). "A history of the exploration of Io". In Lopes, R. M. C.; Spencer, J. R. Io after Galileo. Springer-Praxis. hlm. 5–33. ISBN 3-540-34681-3. 
  19. ^ Van Helden, Albert (14 January 2004). "The Galileo Project / Science / Simon Marius". Rice University. 
  20. ^ Baalke, Ron. "Discovery of the Galilean Satellites". Jet Propulsion Laboratory. Diakses 7 January 2010. 
  21. ^ O'Connor, J. J.; Robertson, E. F. (February 1997). "Longitude and the Académie Royale". University of St. Andrews. Diakses 14 June 2007. 
  22. ^ Dobbins, T.; Sheehan, W. (2004). "The Story of Jupiter's Egg Moons". Sky & Telescope 107 (1): 114–120. 
  23. ^ Minton, R. B. (1973). "The Red Polar Caps of Io". Communications of the Lunar and Planetary Laboratory 10: 35–39. Bibcode:1973CoLPL..10...35M. 
  24. ^ Lee, T. (1972). "Spectral Albedos of the Galilean Satellites". Communications of the Lunar and Planetary Laboratory 9 (3): 179–180. Bibcode:1972CoLPL...9..179L. 
  25. ^ Fanale, F. P.; et al. (1974). "Io: A Surface Evaporite Deposit?". Science 186 (4167): 922–925. Bibcode:1974Sci...186..922F. doi:10.1126/science.186.4167.922. PMID 17730914. 
  26. ^ Bigg, E. K. (1964). "Influence of the Satellite Io on Jupiter's Decametric Emission". Nature 203 (4949): 1008–1010. Bibcode:1964Natur.203.1008B. doi:10.1038/2031008a0. 
  27. ^ a b Fimmel, R. O.; et al. (1977). "First into the Outer Solar System". Pioneer Odyssey. NASA. Diakses 5 June 2007. 
  28. ^ Anderson, J. D.; et al. (1974). "Gravitational parameters of the Jupiter system from the Doppler tracking of Pioneer 10". Science 183 (4122): 322–323. Bibcode:1974Sci...183..322A. doi:10.1126/science.183.4122.322. PMID 17821098. 
  29. ^ "Pioneer 11 Images of Io". Galileo Home Page. Diakses 21 April 2007. 
  30. ^ "Voyager Mission Description". NASA PDS Rings Node. 19 February 1997. 
  31. ^ Smith, B. A.; et al. (1979). "The Jupiter system through the eyes of Voyager 1". Science 204 (4396): 951–972. Bibcode:1979Sci...204..951S. doi:10.1126/science.204.4396.951. PMID 17800430. 
  32. ^ The Milwaukee Sentinel, Pasadena, Calif.--UPI, Jupiter moon shows color, erosion signs, 6 Mar 1979, page 2.
  33. ^ Morabito, L. A.; et al. (1979). "Discovery of currently active extraterrestrial volcanism". Science 204 (4396): 972. Bibcode:1979Sci...204..972M. doi:10.1126/science.204.4396.972. PMID 17800432. 
  34. ^ Strom, R. G.; et al. (1979). "Volcanic eruption plumes on Io". Nature 280 (5725): 733–736. Bibcode:1979Natur.280..733S. doi:10.1038/280733a0. 
  35. ^ a b Peale, S. J.; et al. (1979). "Melting of Io by Tidal Dissipation". Science 203 (4383): 892–894. Bibcode:1979Sci...203..892P. doi:10.1126/science.203.4383.892. PMID 17771724. 
  36. ^ Soderblom, L. A.; et al. (1980). "Spectrophotometry of Io: Preliminary Voyager 1 results". Geophys. Res. Lett. 7 (11): 963–966. Bibcode:1980GeoRL...7..963S. doi:10.1029/GL007i011p00963. 
  37. ^ Pearl, J. C.; et al. (1979). "Identification of gaseous SO2 and new upper limits for other gases on Io". Nature 288 (5725): 757–758. Bibcode:1979Natur.280..755P. doi:10.1038/280755a0. 
  38. ^ Broadfoot, A. L.; et al. (1979). "Extreme ultraviolet observations from Voyager 1 encounter with Jupiter". Science 204 (4396): 979–982. Bibcode:1979Sci...204..979B. doi:10.1126/science.204.4396.979. PMID 17800434. 
  39. ^ Strom, R. G.; Schneider, N. M. (1982). "Volcanic eruptions on Io". In Morrison, D. Satellites of Jupiter. University of Arizona Press. hlm. 598–633. ISBN 0-8165-0762-7. 
  40. ^ Anderson, J. D.; et al. (1996). "Galileo Gravity Results and the Internal Structure of Io". Science 272 (5262): 709–712. Bibcode:1996Sci...272..709A. doi:10.1126/science.272.5262.709. PMID 8662566. 
  41. ^ McEwen, A. S.; et al. (1998). "High-temperature silicate volcanism on Jupiter's moon Io". Science 281 (5373): 87–90. Bibcode:1998Sci...281...87M. doi:10.1126/science.281.5373.87. PMID 9651251. 
  42. ^ a b Perry, J.; et al. (2007). "A Summary of the Galileo mission and its observations of Io". In Lopes, R. M. C.; and Spencer, J. R. Io after Galileo. Springer-Praxis. hlm. 35–59. ISBN 3-540-34681-3. 
  43. ^ Porco, C. C.; et al. (2003). "Cassini imaging of Jupiter's atmosphere, satellites, and rings". Science 299 (5612): 1541–1547. Bibcode:2003Sci...299.1541P. doi:10.1126/science.1079462. PMID 12624258. 
  44. ^ Marchis, F.; et al. (2005). "Keck AO survey of Io global volcanic activity between 2 and 5 μm". Icarus 176 (1): 96–122. Bibcode:2005Icar..176...96M. doi:10.1016/j.icarus.2004.12.014. 
  45. ^ Spencer, John (23 February 2007). "Here We Go!". Planetary.org. Diarsipkan dari aslinya tanggal 29 August 2007. 
  46. ^ a b Spencer, J. R.; et al. (2007). "Io Volcanism Seen by New Horizons: A Major Eruption of the Tvashtar Volcano". Science 318 (5848): 240–243. Bibcode:2007Sci...318..240S. doi:10.1126/science.1147621. PMID 17932290. 
  47. ^ Jonathan Amos (2 May 2012). "Esa selects 1bn-euro Juice probe to Jupiter". BBC News. 
  48. ^ JUICE assessment study report (Yellow Book), ESA, 2012 
  49. ^ McEwen, A. S. (2008). "Io Volcano Observer (IVO)" (PDF). Io Workshop 2008. 
  50. ^ Lopes, R. M. C.; Williams, D. A. (2005). "Io after Galileo". Reports on Progress in Physics 68 (2): 303–340. Bibcode:2005RPPh...68..303L. doi:10.1088/0034-4885/68/2/R02.