Herakleitos

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Heraclitus)
Langsung ke: navigasi, cari
Herakleitos
Lahir c. 550 SM
Efesus
Meninggal c. 480 SM
Era Filsafat Kuno
Tradisi Tidak termasuk ke dalam aliran filsafat manapun
Minat utama Metafisika, Epistemologi, Etika, Politik
Gagasan penting Logos, segala sesuatu mengalir

Herakleitos adalah seorang filsuf yang tidak tergolong mazhab apapun.[1] Di dalam tulisan-tulisannya,ia justru mengkritik dan mencela para filsuf dan tokoh-tokoh terkenal, seperti Homerus, Arkhilokhos, Hesiodos, Phythagoras, Xenophanes, dan Hekataios.[1][2][3] Meskipun ia berbalik dari ajaran filsafat yang umum pada zamannya, namun bukan berarti ia sama sekali tidak dipengaruhi oleh filsuf-filsuf itu.[1][3]

Herakleitos diketahui menulis satu buku, namun telah hilang.[1] Yang tersimpan hingga kini hanya 130 fragmen yang terdiri dari pepatah-pepatah pendek yang seringkali tidak jelas artinya.[1][4] Pemikiran filsafatnya memang tidak mudah dimengerti sehingga ia dijuluki "si gelap" (dalam bahasa Inggris the obscure).[1][2][5]


Riwayat Hidup[sunting | sunting sumber]

Efesus di Asia Kecil, tempat kelahiran Herakleitos

Herakleitos diketahui berasal dari Efesus di Asia Kecil.[1] Ia hidup di sekitar abad ke-5 SM (540-480 SM).[2][3][6] Ia hidup sezaman dengan Pythagoras dan Xenophanes, namun lebih muda usianya dari mereka.[1] Akan tetapi, Herakleitos lebih tua usianya dari Parmenides sebab ia dikritik oleh filsuf tersebut.[1]

Selain bahwa ia berasal dari keluarga terhormat di Efesus, tidak ada informasi lain mengenai riwayat hidupnya, sebab kebanyakan adalah cerita fiksi.[3][7] Tidak ada sumber yang menyebutkan bahwa ia pernah meninggalkan kota asalnya, yang pada waktu itu merupakan bagian dari kekaisaran Persia.[7]

Jika melihat karya-karya yang ditinggalkannya, tampak bahwa watak Herakleitos sombong dan tinggi hati.[1][3][7][2] Selain mencela filsuf-filsuf di atas, ia juga memandang rendah rakyat yang bodoh dan menegaskan bahwa kebanyakan manusia jahat.[1] Selain itu, ia juga mengutuk warga negara Efesus.[1]

Pemikiran[sunting | sunting sumber]

Segala Sesuatu Mengalir[sunting | sunting sumber]

"Seseorang tidak bisa dua kali masuk ke sungai yang sama."

Pemikiran Herakleitos yang paling terkenal adalah mengenai perubahan-perubahan di alam semesta.[1][3] Menurut Herakleitos, tidak ada satu pun hal di alam semesta yang bersifat tetap atau permanen.[1][3][6] Tidak ada sesuatu yang betul-betul ada, semuanya berada di dalam proses menjadi.[1] Ia terkenal dengan ucapannya panta rhei kai uden menei yang berarti, "semuanya mengalir dan tidak ada sesuatupun yang tinggal tetap." [1]

Perubahan yang tidak ada henti-hentinya itu dibayangkan Herakleitos dengan dua cara:

  • Pertama, seluruh kenyataan adalah seperti aliran sungai yang mengalir.[1] "Engkau tidak dapat turun dua kali ke sungai yang sama," demikian kata Herakleitos.[6][1][3] Maksudnya di sini, air sungai selalu bergerak sehingga tidak pernah seseorang turun di air sungai yang sama dengan yang sebelumnya.[6][1]
  • Kedua, ia menggambarkan seluruh kenyataan dengan api.[1] Maksud api di sini lain dengan konsep mazhab Miletos yang menjadikan air atau udara sebagai prinsip dasar segala sesuatu.[1] Bagi Herakleitos, api bukanlah zat yang dapat menerangkan perubahan-perubahan segala sesuatu, melainkan melambangkan gerak perubahan itu sendiri.[1] Api senantiasa mengubah apa saja yang dibakarnya menjadi abu dan asap, namun api tetaplah api yang sama.[1] Karena itu, api cocok untuk melambangkan kesatuan dalam perubahan.[1]


Logos[sunting | sunting sumber]

Segala sesuatu yang terus berubah di alam semesta dapat berjalan dengan teratur karena adanya logos.[6][2][3] Pandangan tentang logos di sini tidak boleh disamakan begitu saja dengan konsep logos pada mazhab Stoa.[1] Logos adalah rasio yang menjadi hukum yang menguasai segala-galanya dan menggerakkan segala sesuatu, termasuk manusia.[1][3] Logos juga dipahami sebagai sesuatu yang material, namun sekaligus melampaui materi yang biasa.[1] Hal ini disebabkan pada masa itu, belum ada filsuf yang mampu memisahkan antara yang rohani dan yang materi.[1]


Segala Sesuatu Berlawanan[sunting | sunting sumber]

Menurut Herakleitos, tiap benda terdiri dari yang berlawanan.[1][6] Meskipun demikian, di dalam perlawanan tetap terdapat kesatuan.[1][6] Singkatnya, dapat dikatakan bahwa 'yang satu adalah banyak dan yang banyak adalah satu.'[1][5] Anaximenes juga memiliki pandangan seperti ini, namun perbedaan dengan Herakleitos adalah Anaximenes mengatakan pertentangan tersebut sebagai ketidakadilan, sedangkan Herakleitos menyatakan bahwa pertentangan yang ada adalah prinsip keadilan.[1] Kita tidak akan bisa mengenal apa itu 'siang' tanpa kita mengetahui apa itu 'malam'.[6][5][1] Kita tidak akan mengetahui apa itu 'kehidupan' tanpa adanya realitas 'kematian'.[6] Kesehatan juga dihargai karena ada penyakit.[1] Demikianlah dari hubungan pertentangan seperti ini, segala sesuatu terjadi dan tersusun.[6] Herakleitos menegaskan prinsip ini di dalam kalimat yang terkenal: "Perang adalah bapak segala sesuatu."[6][1] Perang yang dimaksud di sini adalah pertentangan.[6][1]

Melalui ajaran tentang hal-hal yang bertentangan tetapi disatukan oleh logos, Herakleitos disebut sebagai filsuf dialektis yang pertama di dalam sejarah filsafat.[6]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]


Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac ad ae af ag ah ai aj K. Bertens. 1990. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Kanisius.
  2. ^ a b c d e (Inggris)Richard McKirahan. 2003. "Presocratic Philosophy". In The Blackwell Guide to Ancient Philosophy. Christopher Shields (Ed.). Malden: Blackwell Publishing.
  3. ^ a b c d e f g h i j Juhaya S. Praja. 2005. Aliran-Aliran Filsafat dan Etika. Jakarta: Kencana.
  4. ^ (Inggris)Kurt A. Raaflaub. 2007. "Poets, lawgivers, and the beginnings of political reflection." In The Cambridge History of Greek and Roman Political Thought, eds. Christopher Rowe and Malcolm Schofield, 23-59. Cambridge: Cambridge University Press.
  5. ^ a b c (Inggris)Edward Hussey. 1999. "Heraclitus." In The Cambridge Companion to Early Philosophy, ed. A.A. Long. 88-112. London: Cambridge University Press.
  6. ^ a b c d e f g h i j k l m Simon Petrus L. Tjahjadi. 2004. Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius.
  7. ^ a b c (Inggris)Ted Honderich (ed.). 1995. The Oxford Companion to Philosophy. Oxford, New York: Oxford University Press.


Pranala Luar[sunting | sunting sumber]

Wikidata: Heraclitus