Gusi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Gusi
ToothSection.jpg
Bagian potongan dari gigi dengan gusi atau gingiva yang terlihat
Gray's subject #242 1112
MeSH Gingiva

Gingiva atau gusi, terdiri dari jaringan mucosa yang menutupi tulang rahang.

Jaringan lunak[sunting | sunting sumber]

Jaringan gingiva normal aslinya transparan; Warna merah disebabkan adanya darah yang mengalirinya. Hubungan gingiva dengan gigi dan tulang melalui serat periodotal ( dikenal juga dengan serat PDL ). Gingiva merupakan salah satu komponen dari periodontium atau PDL, komponen lainnya adalah cementum (lapiasan sel terluar dari akar gigi), tulang dan serat PDL.

Subdivisi dari gingiva[sunting | sunting sumber]

Gingiva sacara anatomis terbagi menjadi marginal, attached dan daerah interdental.

Marginal gingiva[sunting | sunting sumber]

Marginal gingiva merupakan bagian tepi gingiva yang menyelimuti gigi seperti kerah pada baju. Pada 50% kasus, batas marginal gingiva dengan attached gingiva ditandai dengan adanya cerukan dangkal yang disebut free gingival groove. Marginal gingiva umumnya memiliki lebar 1mm, membentuk dinding jaringan lunak dari sulkus gingiva. Marginal gingiva dapat dipisahkan dengan permukaan gigi dengan menggunakan probe periodontal.

Attached gingiva[sunting | sunting sumber]

Attached gingiva merupakan kelanjutan dari marginal gingiva. Jaringan padat ini terikat kuat dengan periosteum tulang alveolar dibawahnya. Permukaan luar dari attached gingiva terus memanjang ke mukosa alveolar yang lebih kendur dan dapat digerakkan, bagian tersebut disebut mucogingival junction

Interdental gingiva[sunting | sunting sumber]

Interdental gingiva mewakili gingival embrasure, dimana terdapat ruang interproksimal dibawah tempat berkontaknya gigi. Interdental gingiva dapat berbentuk piramidal atau berbentuk seperti lembah.

Penyakit gingiva[sunting | sunting sumber]

Microekosistem lubang gingival, dibanjiri oleh sisa makanan dan saliva, yang dapat mendukung perkembangannya banyak mikroorganisme, yang beberapa diantaranya dapat menyebabkan penyakit. Kebersihan mulut yang buruk dapat menyebabkan penyakit gingival dan periodontal, penyakit itu antara lain gingivitis atau pyorrhea,yang merupakan salah satu penyebab utama kerusakan gigi. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa Anabolic steroid juga berhubungan erat dengan gingival enlargement yang pada banyak kasus membutuhkan gingivectomy. [1]

Karakteristik gingiva sehat[sunting | sunting sumber]

Warna[sunting | sunting sumber]

Gingiva sehat umumnya memiliki warna yang disebut "coral pink." Warna lain seperti merah, putih dan biru dapat menandai adanya peradangan (gingivitis) atau kelainan lain. Walaupun menurut text book warna gingiva disebut "coral pink", pigmentasi rasial normal membuat gingiva berwarna lebih gelap. Karena warna gingiva dipengaruhi pigmentasi rasial, kesepahaman dalam warna lebih penting daripada warna yang ada sebetulnya.

Kontur[sunting | sunting sumber]

Gingiva sehat memiliki permukaan halus dan bergelombang di depan tiap gigi. Gingiva sehat menempati daerah interdental dengan tepat dan pas, berbeda dengan papilla gingiva yang membengkak yang terdapat pada gingivitis, atau embrasure yang kosong pada penyakit periodontal. Gusi yang sehat melekat erat pada tiap gigi, bentuknya meruncing seperti ujung pisau pada tepi marginal gingiva bebas. Dilain pihak, gusi yang meradang memiliki tepi yang menggembung atau bulat.

Tekstur[sunting | sunting sumber]

Gingiva sehat bertekstur padat, tahan terhadap adanya pergerakan. Tekstur ini sering dideskripsikan sama seperti kulit jeruk. Gingiva yang tidak sehat teksturnya membengkak dan seperti busa.

Reaksi terhadap gangguan[sunting | sunting sumber]

Gusi sehat umumnya tidak berekasi terhadap gangguan normal seperti penyikatan atau periodontal probing. Sebaliknya gusi yang tidak sehat akan menunjukkan adanya perdarahan ketika probing / Bleeding On Probing (BOP) dapat disertai timbulnya cairan nanah.

Sumber[sunting | sunting sumber]

  • Willmann, Donald. PERI 5081 - Freshman Periodontics. UTHSCSA, 2006. 2.3.1

Pranala luar[sunting | sunting sumber]