Group sounds

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Group sounds
Sumber aliran Rock and roll, beat music, British rock, kayōkyoku
Sumber kebudayaan pertengahan 1960-an di Jepang
Alat musik yang biasa digunakan Gitar listrik
Popularitas arus utama pertengahan 1960-an hingga awal 1970-an
Bentuk turunan J-pop
The Spiders, group sounds yang terkenal dengan lagu "Ano Toki Kimi wa Wakakatta" (1968) dan "Yuuhi ga Naiteiru" (1966).

Group sounds (グループ・サウンズ?) atau group sound (グループ・サウンド?) disingkat GS adalah sebutan untuk grup-grup musik rock yang menitikberatkan pada suara gitar listrik. Asal usul group sounds adalah demam gitar listrik (ereki boom) di Jepang pada pertengahan 1960-an, mengikuti kedatangan band-band asing seperti The Ventures dan The Astronauts untuk melakukan konser di Jepang.[1] Genre group sounds diciptakan oleh band-band yang masih bertahan setelah surutnya ereki boom. Formasi band group sounds tidak berbeda dari formasi sebuah band ereki boom, namun ditambah seorang vokalis.

Setelah kedatangan The Beatles di Jepang pada tahun 1966, band-band group sounds banyak menampilkan anggota yang menyanyi sambil memainkan alat musik.[1] Media massa Jepang menyebut band yang menyanyi sambil anggotanya memainkan gitar listrik sebagai group sounds.[1] Lagu hit dari The Blue Comets, "Aoi Hitomi (Blue Eyes)" (1966) kini dianggap sebagai lagu hit group sounds yang pertama.[2] Group sounds mencapai puncak kepopuleran setelah The Tigers melakukan debutnya dengan singel "Boku no Mary" pada Februari 1967.[1] Era group sounds berlangsung dari pertengahan tahun 1960-an hingga awal tahun 1970-an.[3]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Akhir dekade 1950-an dan awal 1960-an merupakan tahap awal perkembangan musik pop Jepang yang sangat terpengaruh oleh musik pop Barat.[4] Sebagian besar dari lagu-lagu hit pada masa itu adalah lagu-lagu pop Amerika yang didaur ulang dengan lirik dalam bahasa Jepang.[4]

Penggunaan gitar listrik (bahasa Jepang: ereki gitā) sudah dimulai sejak rockabilly populer di Jepang, tetapi baru mulai meluas setelah diimpornya piringan hitam The Ventures ke Jepang pada tahun 1960.[2] Kedatangan band-band asing untuk melakukan konser di Jepang, seperti: The Ventures (1962,[5] 1965),[6] The Animals (1965) dan The Beatles (1966), menimbulkan demam gitar listrik atau ereki boom (electric boom) di Jepang.[2] Remaja Jepang beramai-ramai mendirikan band-band amatir dengan nama keinggris-inggrisan, seperti The Tigers, The Jaguars, The Blue Comets, dan The Spiders. Lagu-lagu hit instrumental dari band-band Inggris dan Amerika Serikat seperti: The Tornados, The Champs, dan The Shadows, memicu remaja-remaja Jepang mendirikan trio atau kuartet yang memainkan surf, rockabilly, dan genre awal rock and roll. Grup-grup musik Jepang mulai meniru-niru gaya bermusik The Ventures dan The Beatles, dan menciptakan musik yang disebut ereki (electric).[2] Demam ereki didukung oleh produksi massal gitar listrik dengan harga terjangkau dari produsen alat musik seperti Aria, Teisco, Yamaha, Kawai, dan Guyatone.[6] Hampir semua sekolah menengah atas dan universitas memiliki band ereki sendiri yang mengadu kebolehan mereka dengan grup musik folk,[6] Stasiun televisi Fuji Television menayangkan acara audisi band ereki bernama Kachinuki Ereki Gassen.[1] Band-band Jepang saat itu, seperti: Terauchi Takeshi and The Blue Jeans, The Tigers, dan The Blue Comets biasanya menggunakan dua gitar listrik atau lebih, sebuah bas listrik, organ listrik, dan drum. Sebagian besar lagu yang mereka mainkan adalah lagu instrumental,[6] sambil kadang-kadang menjadi pengiring penyanyi solo di televisi.[2] Band-band rockabilly dan country-western juga ikut beralih menjadi band ereki mengikuti kepopuleran ereki di kalangan penonton klub-klub personel militer Amerika Serikat di Jepang. Terauchi Takeshi dan the Blue Jeans lalu dikenal sebagai raja musik surf guitar. Yuzo Kayama tidak hanya populer di panggung konser, melainkan juga menyandang gitarnya di layar perak bersama band pimpinannya, The Launchers dalam film Ereki no Wakadaisho (1965).[6]

Setelah ereki mulai populer, publik Jepang mulai memandang penuh curiga terhadap musik yang dimainkan dengan gitar listrik, karena keliarannya dan kemungkinan dipakai sebagai simbol kenakalan remaja.[2] Kerasnya suara band ereki serta beberapa skandal yang dibuat beberapa anggota band ereki menjadikan musik ini dijadikan sasaran kritik dari persatuan orang tua dan guru, serta polisi.[6] Demam musik ereki akhirnya surut pada tahun 1960-an setelah izin pergelaran musik remaja diperketat dengan alasan kekhawatiran meningkatnya kenakalan remaja. Alasan lain surutnya musik ereki adalah bergesernya selera publik dari lagu instrumental ke lagu yang berisi vokal.[2] Band-band yang bertahan setelah surutnya ereki boom terdorong untuk menciptakan lagu sendiri, dan tercipta tren musik baru yang disebut group sounds atau disingkat GS.[2] Masa peralihan band ereki menjadi band group sounds berlangsung sekitar tahun 1964.[6] The Tokyo Beatles didirikan pada Maret 1964 oleh sekelompok musisi yang sering bermain di klub-klub pangkalan militer Amerika Serikat. Mereka mengetahui kepopuleran The Beatles dari tentara Amerika. Band-band ereki seperti The Spiders dan The Blue Comets lalu mulai memperkenalkan gaya baru, lagu instrumental diganti dengan lagu-lagu berisi vokal. Meski jelas-jelas terpengaruh irama merseybeat seperti band-band Inggris dari Liverpool, mereka masih menggunakan gaya bermusik pop dari rock and roll dari tahun 1950-an.[6]

Meski sebagian besar dari lagu-lagu mereka adalah orisinal, band-band group sounds saat itu tidak lebih dari sekadar imitasi band-band Barat dalam soal musik dan penampilan. Band-band beraliran group sounds sebetulnya tidak lebih dari formasi grup ereki boom ditambah seorang vokalis.[2] Demam group sounds terjadi di Jepang pada tahun 1967 yang menandai demam band pertama di Jepang.[4] Band-band group sounds tidak hanya merajai tangga musik pop, melainkan juga mengisi sebagian besar porsi siaran televisi dan radio. Anggotanya tampil dalam berbagai majalah dan film-film layar perak.[6] The Blue Comets, The Tigers, dan The Tempters termasuk di antara band-band GS yang sukses.[2] Ketiganya dimulai pada era ereki boom, lalu berubah menjadi band group sounds setelah memasukkan seorang vokalis ke dalam formasi band mereka.[2] Lagu hit dari The Blue Comets, "Aoi Hitomi (Blue Eyes)" (1966) yang terjual sebanyak setengah juta kopi, kini dianggap sebagai lagu hit group sounds yang pertama. Lagu tersebut menggabungkan suara kibor elektronik tahun 1960-an dengan suara saksofon tahun 1950-an. Pada awal era group sounds, istilah group sounds tidak lebih dari sekadar nama baru untuk musik pop.[6] Dalam soal penampilan, generasi pertama musisi group sounds masih memakai setelan konservatif, dan rambut dipotong pendek sebagai warisan dari musik pop tahun 1950-an. Pada tahap awal perkembangannya, group sounds hanya sekadar nama baru untuk musik pop, dan terbuka untuk semua artis. Salah satu dari hit besar dari genre baru ini adalah "Makka na Taiyou" (1967) dari Hibari Misora yang diiringi Jackie Yoshikawa and The Blue Comets. The Blue Coments juga memenangi Japan Record Award dengan "Blue Chateu" pada tahun 1967.[6]

Group sounds baru menjadi genre musik tersendiri setelah The Beatles mengadakan konser di Tokyo pada musim panas tahun 1966. Jackie Yoshikawa and the Blue Comets merekam lagu "Welcome Beatles" untuk menyambut kedatangan Beatles di Jepang.[6] Namun saat itu The Blue Comets sudah mengalami kemunduran. Generasi pertama group sounds segera digantikan oleh generasi kedua group sounds seperti The Tigers, Carnabeats, dan The Tempters.[6] Mereka biasanya tampil berlima atau lebih, memainkan lagu-lagu ciptaan mereka sendiri, ditambah versi daur ulang lagu-lagu hit dari Barat. Generasi kedua group sounds tidak lagi memainkan saksofon, rambut gondrong, dan kostum mereka makin flamboyan. Berbeda dari band group sounds generasi pertama yang vokalisnya yang tidak memainkan instrumen, grup sounds generasi kedua menampilkan gitaris dan pemain bass yang menyanyi sambil bermain alat musik.[6]

Vokalis The Tigers, Kenji Sawada terkenal sebagai sosok karismatik yang digemari sejumlah besar penggemar wanita.[2] Kecuali The Tempters yang menulis sendiri sebagian lagu-lagu mereka, sebagian besar band group sounds menyewa pencipta lagu profesional dari perusahaan rekaman untuk menulis lagu hit untuk mereka.[2] Praktik seperti ini memang lumrah dilakukan oleh hampir semua artis dan band populer saat itu.[2] Lagu "Emerald no Densetsu" adalah lagu hit dari The Tempters dari tahun 1968.[2]

The Mops dan The Golden Cups menandai kemunculan gelombang baru group sounds. The Mops dikontrak oleh Horipro pada tahun 1967.[6] Mereka dipasarkan sebagai grup psychedelic rock pertama Jepang.[6] Singel "Asa Made Matenai" dari The Mops yang dirilis pada November 1967, sampai di peringkat ke-38 tangga lagu Oricon. Estetika baru dalam musik rock akhirnya mengakhiri era group sounds.[6] Mulai sekitar tahun 1968, mulai terdengar keluhan dari band-band group sounds bahwa diri mereka identik dengan musik pop hasil komoditas massal dan tidak otentik.[6] Pada akhir tahun 1970, sebagian besar band group sounds yang terkenal sudah membubarkan diri. Beberapa band group sounds generasi ketiga masih bertahan beberapa lama, tapi akhirnya lenyap setahun atau dua tahun kemudian.[6]

Daftar band group sounds[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e "グループサウンズ". Uta-Net. Diakses 2013-10-30. 
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o Stevens, Carolyn (2012). Japanese Popular Music: Culture, Authenticity and Power. Media, Culture and Social Change in Asia Series. Abingdon, Oxon: Routledge. hlm. 43. ISBN 1134179510. 
  3. ^ "プレミアムアーカイブス BS永遠の音楽 グループサウンズ大全集". NHK. Diakses 2013-10-30. 
  4. ^ a b c Bernstein, Arthur; Naoki Sekine, Dick Weissman (2013). The Global Music Industry: Three Perspectives. Routledge. hlm. 251. ISBN 1135922489. 
  5. ^ Sebagai atraksi pembuka Bobby Vee dalam turnya di pangkalan militer Amerika Serikat di Jepang
  6. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s Bourdaghs, Michael K. (2013). Sayonara Amerika, Sayonara Nippon: A Geopolitical Prehistory of J-Pop. New York: Columbia University Press. ISBN 0231530269. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]