Gerakan antimerokok

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Gerakan antimerokok merupakan sebuah fenomena di kalangan masyarakat. Fenomena antirokok saat ini mungkin tampak tak terbendung (tetapi mungkin pula akan kehilangan momentumnya), larangan merokok sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang baru.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

  • 1624: Berpedoman pada logika bahwa penggunaan tembakau dapat mengakibatkan bersin-bersin, Paus Urbanus VIII mengeluarkan larangan merokok di seluruh dunia dan mengancam akan mengucilkan para perokok dan penghisap tembakau di tempat-tempat suci. Seabad kemudian, Paus Benediktus XIII yang menyukai tembakau mencabut semua larangan merokok dan pada tahun 1779, Vatikan membuka pabrik tembakaunya.
  • 1633: Sultan Murad IV melarang rokok di Kekaisaran Ottoman. Namun penggantinya, Ibrahim Mad justru mengangkat larangan itu pada tahun 1647. Tembakau pun segera menjadi indulgensi bersama kopi, anggur, dan opium. Menurut sejarawan yang hidup semasa pemerintahan Ibrahim, rokok menjadi salah satu dari "empat bantal di sofa kesenangan."
  • 1634: Tsar Rusia, Michael, mengeluarkan larangan merokok dan akan menghukum para pelanggarnya dengan hukuman cambuk, deraan, bahkan akan membuang mereka ke Siberia. Pada 1674, perokok dianggap penjahat yang pantas diganjar hukuman mati. Tetapi, dua tahun kemudian, larangan merokok dihapuskan.
  • 1646: General Court of Massachusetts Bay melarang warganya merokok, kecuali bila dalam perjalanan yang setidaknya sejauh lima mil dari kota manapun. Tahun berikutnya, Colony of Connecticut membatasi setiap warga hanya boleh merokok satu batang per hari. Meskipun beberapa undang-undang antirokok tetap dipakai selama beberapa dekade, tetapi karena kurangnya penegakan, dan pada awal 1700an, New England merupakan konsumen utama dan produsen tembakau.
  • 1891: Rakyat Iran memprotes shah yang memberikan konsesi tembakau kepada Inggris. Protes tersebut kemudin mengakibatkan Ayatollah Haji Mirza Hasan Shirazi mengeluarkan fatwa yang melarang umat Syiah menggunakan ataupun memperdagangkan tembakau. Konfrontasi antara shah Iran dan ulama soal tembakau kemudian memicu Pemberontakan Tembakau. Namun pada tahun-tahun berikutnya, setelah bisnis negara yang terkait dengan Inggris dicabut, umat Syiah Iran justru dengan senang hati merokok.
  • 1895: Dakota Utara melarang penjualan rokok. 26 tahun kemudian, 14 negara bagian lainnya juga melakukan gerakan serupa. Pada tahun 1920, seorang tokoh gerakan antirokok, Lucy Gaston, mengumumkan pencalonannya sebagai presiden pada tahun 1920. Pada tahun yang sama, pencalonan Warren G. Harding justru ditentukan oleh ketua Partai Republik di sebuah "kamar penuh asap." Sejak tahun 1927, semua legislasi asap bebas―kecuali larangan merokok untuk anak-anak―dicabut.
  • 1942: Adolf Hitler menyebut tembakau sebagai "kemurkaan manusia merah terhadap manusia putih yang dendam karena telah diberi minuman keras." Ia juga mengarahkan salah satu kampanye antirokok yang paling agresif dalam sejarah, termasuk meberlakukan pajak berat dan larangan merokok di tempat umum. Tetapi, gerakan antirokok kehilangan sebagian momentumnya setelah dibentuknya Pengadilan Militer Nuremberg pasca Perang Dunia II. Selama pertengahan tahun 1950an, konsumsi tembakau dalam negeri melebihi tingkat sebelum perang.