Ejakulasi dini

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Ejakulasi dini
Klasifikasi dan rujukan eksternal
ICD-10 F52.4
ICD-9 302.75
MedlinePlus 001524
eMedicine med/643 

Ejakulasi dini (bahasa Inggris: Premature ejaculation) terjadi ketika pria mengalami orgasme dan mengeluarkan air mani setelah melakukan aktivitas seksual serta dengan stimulasi penis yang minimal. Hal tersebut dapat disebut ejakulasi secara cepat, klimaks cepat, atau klimaks sejak dini.

Meskipun pria yang mengalami ejakulasi dini menganggap dirinya tidak memiliki tenaga setelah ejakulasi, ternyata menurut penelitian banyak dari pria yang berharap bisa bertahan lebih lama.[1]

Pria yang mengalami ejakulasi dini dilaporkan memiliki keharmonisan yang terganggu, dan terkadang menolak melakukan hubungan seksual karena merasa malu dengan penyakit yang dialami.[2] Dibandingkan dengan pria, wanita tidak terlalu mempermasalahkan ejakulasi dini yang dialami pasangannya[3], tetapi dari beberapa penelitian menunjukkan kondisi tersebut yang menyebabkan ketidakharmonisan.[4][5][6]

Penyebab[sunting | sunting sumber]

Penyebab dari ejakulasi dini tidak terlalu jelas. Banyak teori yang dikeluarkan, termasuk bahwa ejakulasi dini terjadi karena hasil dari melakukan masturbasi yang terlalu cepat ketika masa remaja untuk menghindari pengawasan orang tua, demam panggung, konflik oidipal, agresivitas pasif, dan kurang melakukan aktivitas seksual — tetapi tidak ada satupun teori yang pasti dan bisa menjelaskan gejala tersebut.[1]

Ejakulasi dini dapat terjadi karena radang prostat[7] atau efek samping dari obat-obatan.

Pengobatan[sunting | sunting sumber]

Beberapa macam metode pengobatan sudah diuji coba untuk mengobati ejakulasi dini. Kombinasi dari pengobatan medis dan nonmedis merupakan metode yang efektif untuk mengobati ejakulasi dini antara lain :

1. Pelatihan otot seksual adalah salah satu metode paling mudah untuk memecahkan ejakulasi dini. Fungsi ejakulasi sperma dilakukan dengan bantuan otot PC, yang terletak di dasar panggul. Dan sebenarnya, pada beberapa pria otot ini tidak dilatih dengan baik untuk melaksanakan fungsi ejakulasi dengan benar.

2. Menjaga erotisme seksual pada kecepatan normal sangat penting untuk mencapai ereksi lengkap. Kebanyakan pria khawatir tentang perasaan dan yang itu akan mengakibatkan kehilangan kontrol dan berakhir dengan klimaks terlalu cepat. Untuk mengatasi ini, Anda perlu meningkatkan foreplay dan seks oral sementara terlibat dalam hubungan seksual. Latihan pernapasan juga akan membantu Anda untuk santai dan mengendalikan ejakulasi selama hubungan seks.

3. Gunakan Ramuan Herbal: penunda ejakulasi atau pil Anti ejakulasi dini tersedia saat ini. Selalu memilih pil bahan herbal yang diperkaya untuk mengobati jenis-jenis gangguan tersebut. Jika pil mengandung bahan-bahan herbal, maka kita dapat mengatakan 100% aman untuk digunakan karena tidak memberikan efek samping.

Diri sendiri[sunting | sunting sumber]

Banyak pria mencoba untuk mengobati dirinya dari ejakulasi dini dengan mengalihkan pikiran, seperti mencoba untuk menjauhi segala sesuatu yang dapat menstimulasi aktivitas seksualnya. Cara yang lain adalah melakukan hubungan seksual dengan perlahan, menolak melakukan masturbasi, ejakulasi sebelum melakukan aktivitas seksual, dan menggunakan lebih dari satu kondom. Menggunakan lebih dari satu kondom sangat tidak dianjurkan, karena akan terjadi gesekan antara kondom dengan penis dan akan menyebabkan iritasi hingga kerusakan. Banyak pria yang berpendapat bahwa cara tersebut berhasil.[1]

Konsultasi dengan dokter yang sudah ahli dalam bidang seksual dapat membantu sekitar 75 sampai 80 persen dalam proses penyembuhan.[8]


Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Strassberg, D. S., & Perelman, M. A. (2009). Sexual dysfunctions. In P. H. Blaney & T. Millon (Eds.), Oxford textbook of psychopathology (2nd ed.), (pp. 399–430). NY: Oxford University Press.
  2. ^ Barnes T., I. Eardley (2007). "Premature Ejaculation: The Scope of the Problem". Journal of Sex and Marital Therapy 33 (3): 151. PMID 7365515. 
  3. ^ Byers, E.S. and G. Grenier (2003). "Premature or Rapid Ejaculation: Heterosexual Couples’ Perceptions of Men’s Ejaculatory Behavior". Archives of Sexual Behavior 32 (3): 261. PMID 12807298. 
  4. ^ Limoncin, E. et al. (2013). "Premature Ejaculation Results in Female Sexual Distress: Standardization and Validation of a New Diagnostic Tool for Sexual Distress". Journal of Urology 189 (5): 1830–5. doi:10.1016/j.juro.2012.11.007. PMID 23142691. 
  5. ^ Graziottin, A. and S. Althof (2011). "What Does Premature Ejaculation Mean to the Man, the Woman, and the Couple?". Journal of Sexual Medicine 8: 304. doi:10.1111/j.1743-6109.2011.02426.x. PMID 21967392. 
  6. ^ Barnes T., I. Eardley (2007). "Premature Ejaculation: The Scope of the Problem". Journal of Sex and Marital Therapy 33 (3): 151. PMID 7365515. 
  7. ^ Althof, S.E. et al. (2010). "International Society for Sexual Medicine’s Guidelines for the Diagnosis and Treatment of Premature Ejaculation". Journal of Sexual Medicine 7 (9): 2947. doi:10.1111/j.1743-6109.2010.01975.x. PMID 21050394. 
  8. ^ McCabe, M.P. (2001). "Evaluation of a Cognitive Behavior Therapy Program for People with Sexual Dysfunction". Journal of Sex and Marital Therapy 27 (3): 259. doi:10.1080/009262301750257119. PMID 11354931. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]