Efisiensi transportasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Keekonomian moda angkutan barang dengan volume besar

Efisiensi transportasi adalah suatu ukuran besarnya biaya (dalam rupiah, waktu, energi atau tambahan lainnya) untuk menggerakkan sesuatu dalam hal ini bisa (penumpang ataupun barang) dari satu tempat ke tempat lain. Efisiensi transportasi ini tergantung kepada karakteristik mode angkutan yang digunakan, sebagai contoh suatu kapal akan semakin efisien kalau ukuran kapalnya semakin besar untuk perjalanan jarak jauh dan permintaannya besar.

Efisiensi bahan bakar untuk transportasi[sunting | sunting sumber]

Sektor transportasi merupakan sektor pengguna terbesar BBM[1] (56 persen) dan paling boros BBM, dan hal ini menjadi masalah sewaktu harga bahan bakar dunia melonjak dengan tajam pada tahun 2008 sehingga perlu diambil langkah untuk meningkatkan efisiensi dalam penggunaan bahan bakar yang antara lain dapat dilakukan dengan:

  • optimasi ukuran angkutan dengan memperhatikan besarnya permintaan dan jarak yang akan ditempuh,
  • pengembangan penggunaan angkutan massal disertai dengan langkah untuk pembatasan penggunaan kendaraan pribadi,
  • pemanfaatan sistem angkutan multi mode[2] yang dapat dipertukarkan seperti angkutan petikemas yang dapat diangkut dengan truk peti kemas, kereta api dan kapal laut. yang pada gilirannya akan mengakibatkan penghematan penggunaan bahan bakar.

Kapasitas angkut vs demand[sunting | sunting sumber]

Dalam penetapan dimensi alat angkut sangat dipengaruhi oleh besarnya demand. Pada demand yang kecil lebih optimal menggunakan angkutan dengan kapasitas yang kecil, dan untuk demand yang besar digunakan kapasitas angkutan yang besar. Dengan semakin besarnya alat angkut yang digunakan perlu dilakukan penyesuaian prasarananya, sebagai contoh kalau pelabuhan akan mengalihkan angkutan ke angkutan peti kemas maka pelabuhan harus menggunakan perangkat bongkar muat yang sesuai pula apakah menggunakan kran biasa pada pelabuhan kecil atau menggunakan kran peti kemas untuk pelabuhan dengan demand yang besar, dan ini masih harus didukung dengan lapangan penumpukan peti kemas serta perangkat pemindahan peti kemas yang sesuai pula. Demikian juga dengan semakin besar demand maka kapalnya akan semakin besar berarti perlu disesuaikan pula kedalaman alur pelayaran dan kolam pelabuhan.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Sri Hartati, Samhadi, Membangun Sistem Transportasi Efisien BBM, [1]
  2. ^ Iskandar Abubakar, Mengubah Wajah Transportasi Barang di Indonesia [2]