Dugu Qieluo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Permaisuri Dugu Qieluo (Hanzi: 独孤伽罗, 544-10 September 602) atau yang juga dikenal dengan gelar Permaisuri Xian (献皇后) adalah permaisuri pertama Dinasti Sui, Tiongkok, istri Kaisar Wen dari Sui (Yang Jian). Ia dan suaminya adalah contoh pasangan suami istri kerajaan yang ideal, keduanya telah bersumpah setia selagi muda untuk hidup saling mencintai dan menghormati satu sama lain sampai ajal menjemput. Sejarah mencatat bahwa selama ia hidup Kaisar Wen tidak pernah memiliki seorangpun selir, sebuah hal yang langka dalam kehidupan kaisar-kaisar Tiongkok. Permaisuri Dugu juga sangat berperan dalam kebijakan-kebijakan suaminya mengelola negara. Namun sayang pada tahun-tahun terakhirnya ia mengambil keputusan yang salah dengan mencabut hak waris tahta putra sulungnya, Yang Yong dan mengalihkannya ke Yang Guang yang telah memikatnya dengan kepura-puraan. Yang Guang kelak naik tahta sebagai Kaisar Yang dari Sui yang memerintah sebagai tiran dan akhirnya membawa kehancuran bagi Dinasti Sui.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Dugu Qieluo yang beretnis Xianbei (suku minoritas di Tiongkok utara) dilahirkan tahun 544 sebagai putri ke-7 dari Jenderal Dugu Xin dari Wei Utara. Tahun 557, tak lama setelah Dinasti Wei Utara digulingkan oleh Zhou Utara, Dugu Xin terkesan oleh perwira muda Yang Jian, putra dari bawahannya Yang Zhong sehingga ia menikahkan putrinya dengan pemuda itu. Saat itu Dugu masih berusia 13 sementara Yang Jian 16 tahun. Tak lama setelah pernikahannya, ayahnya terlibat rencana makar yang dipimpin Jenderal Zhao Gui untuk menggulingkan wali kaisar, Yuwen Hu. Kegagalan ini berakibat Dugu Xin dipaksa bunuh diri oleh Yuwen. Dugu dan Yang Jian saling mencintai satu sama lain, kepadanya Yang Jian juga bersumpah bahwa ia tidak akan pernah membiarkan anak-anak mereka jatuh ke tangan wanita lain. Hubungan mereka akhirnya melahirkan lima putra dan tiga putri. Tahun 568, Yang Zhong meninggal dan Yang Jian mewarisi gelarnya sebagai Adipati Sui dan Dugu pun secara otomatis menjadi nyonya adipati.

Dugu Qieluo adalah salah satu wanita paling terhormat di Kerajaan Zhou Utara. Salah satu saudara perempuannya menikah dengan Kaisar Ming dari Zhou Utara dan putrinya Yang Lihua menikah dengan Kaisar Xuan dari Zhou Utara. Sekalipun memiliki kuasa dan status terhormat, ia tetap bersikap sederhana. Pernah suatu kali, Kaisar Xuan yang emosinya tidak stabil sedang marah pada permaisurinya sampai menyuruhnya melakukan bunuh diri. Ketika mendengar kabar ini, Nyonya Dugu segera menuju ke istana dan memohon pengampunan pada sang kaisar. Kaisar pun akhirnya luluh dan mengampuni permaisurinya.

Tahun 580, Kaisar Xuan menyerahkan tahtanya pada Yuwen Yan, putranya yang masih muda yang naik tahta sebagai Kaisar Jing dari Zhou Utara. Ia sendiri menjadi mantan kaisar dan masih berperan di belakang putranya, namun ia meninggal mendadak tak lama setelahnya. Yang Jian mengambil alih peran sebagai wali kaisar. Ketika Yang Jian menjabat sebagai wali, Nyonya Dugu pernah berpesan padanya, “Kini kau telah menunggangi binatang buas, tidak ada jalan untuk turun lagi, yang perlu kau lakukan sekarang adalah berjuang keras agar tetap dipunggungnya.” Tahun 581, setelah Yang Jian mengalahkan Jenderal Yuchi Jiong yang menentangnya sebagai wali, ia memaksa Kaisar Jing turun tahta serta mengangkat dirinya sebagai kaisar. Dengan demikian Dinasti Zhou Utara telah tamat riwayatnya, Yang Jian mendeklarasikan berdirinya Dinasti Sui dengan dirinya sebagai kaisar pertama dengan gelar Kaisar Wen dari Sui. Ia mengangkat Nyonya Dugu sebagai permaisurinya dan putra sulungnya, Yang Yong, sebagai putra mahkota, putra-putrinya yang lain pun juga mendapat gelar pangeran dan putri.

Awal pemerintahan Kaisar Wen[sunting | sunting sumber]

Sebagai seorang wanita yang terpelajar, Permaisuri Dugu sering terlibat diskusi mengenai masalah negara dengan suaminya. Suaminya sangat menghormati dan menyayanginya sehingga keduanya dijuluki Sepasang Orang Suci oleh para menterinya. Tidak jarang ia menghadiri rapat-rapat kenegaraan mendampingi suaminya hingga rapat berakhir, kalaupun tidak hadir ia akan menyuruh kasim untuk menggantikannya mendengarkan rapat. Setiap kali suaminya membuat keputusan yang salah, ia akan menasehatinya untuk memperbaiki. Pengalamannya kehilangan orang tua di usia muda, membuatnya terharu bila melihat pejabat yang masih memiliki kedua orang tuanya, setiap kali berpapasan dengan orang tua pejabatnya ia tidak segan-segan memberi hormat pada mereka. Ia menolak pandangan seorang pejabat yang mengatakan bahwa menurut peraturan pada masa Dinasti Zhou pernikahan pejabat harus mendapat persetujuan dari permaisuri, menurutnya tidak sepantasnya ia terlalu banyak campur tangan dalam masalah ini. Sebagai wanita nomor satu di Tiongkok, Permaisuri Dugu masih mempertahankan sikap sederhananya, pernah suatu kali ketika Kaisar Wen membutuhkan bubuk lada sebagai salah satu bahan untuk obat mencretnya. Saat itu bubuk lada adalah bahan rempah yang harganya sangat mahal bahkan kadang bisa melebihi emas, hanya permaisuri dan kalangan atas yang biasa memakainya. Ketika kaisar meminta lada dari Permaisuri Dugu ternyata ia tidak memilikinya dengan alasan harganya yang terlalu mahal. Juga ketika kaisar hendak memberi hadiah pada istri pejabatnya, Liu Song, berupa gaun berhias emas, Permaisuri Dugu tidak mempunyai apapun yang bisa ia berikan. Ketika sepupunya, Cui Changren, terlibat tindakan kriminal dan dijatuhi vonis mati, kaisar mempertimbangkan untuk mengampuni Cui atas dasar hubungan keluarga. Namun Permaisuri Dugu menolak, ia mengatakan bahwa tidak etis seseorang yang melanggar hukum dibebaskan hanya karena hubungan keluarga dengan penguasa, maka Cui pun akhirnya dihukum mati. Ia sangat menaruh hormat pada pejabat Gao Jiong, putra Gao Bin yang dulu pernah menjadi staff ayahnya, Gao menjadi seorang penasehat yang dipercaya olehnya. Namun ia mempunyai hubungan buruk dengan adik iparnya, Putri Shunyang (putri dari Yuwen Tai, ayah dari tiga kaisar pertama Zhou Utara), istri dari adik suaminya, Yang Zan, Pangeran Teng. Ketika Putri Shunyang terbukti mengguna-gunainya, Kaisar Wen memerintahkan adiknya untuk menceraikan wanita itu, namun Yang Zan menolak. Kematian Yang Zan pada tahun 591 diduga karena diracun oleh Kaisar Wen.

Akhir pemerintahan Kaisar Wen[sunting | sunting sumber]

Tahun 595, pembangunan istana musim panas Renshou di Baoji, Shaanxi, selesai di bawah pimpinan Jenderal Yang Su. Kaisar Wen yang mempertahankan pola hidup sederhana ketika melihat kemewahan istana itu merasa tidak senang, dengan marah ia berkata, “Yang Su telah menghambur-hamburkan sumber daya untuk membangun istana ini, rakyat akan memandang rendah padaku” Tak lama kemudian Permaisuri Dugu juga tiba di istana itu, ia menasehati suaminya agar turun emosinya dan menghibur Yang Su yang telah dimarahinya. Ia lalu memanggil Yang Su menghadapnya di istana, katanya, “Anda memahami bahwa kami pasangan tua ini hanya memiliki sedikit yang bisa dinikmati sehingga anda menghias istana ini sedemikian indahnya, tapi bukankah ada cara lain selain ini yang bisa menunjukkan kesetiaan dan bakti anda?” Ia lalu menghadiahi Yang dengan sejumlah uang dan sutra.

Tahun 598, Permaisuri Dugu dan adik tirinya, Dugu Tuo, terlibat skandal misterius. Istri Dugu Tuo, Nyonya Yang (saudara perempuan Yang Su) memiliki seorang pelayan wanita bernama Xu Ani yang menyembah siluman kucing dan konon katanya ia mampu memerintahkan roh kucing itu membunuh seseorang yang diinginkannya. Permaisuri Dugu dan istri Yang Su, Nyonya Zheng, jatuh sakit dalam waktu bersamaan, diduga ini adalah ulah siluman kucing. Kaisar mencurigai Dugu Tuo dan memerintahkan Gao Jiong menyelidikinya. Setelah menyelidiki, Gao melaporkan bahwa memang Dugu Tuo lah dalang di balik semua ini. Kaisar murka lalu memerintahkan Dugu Tuo dan istrinya melakukan bunuh diri, namun Permaisuri Dugu malah melakukan mogok makan selama tiga hari untuk memohon pengampunan bagi mereka, katanya, “Bila Tuo mencelakai rakyat, aku tidak akan berkata apapun untuk membelanya, namun kericuhan ini adalah karena diriku, maka kumohon anda mengampuni nyawanya.” Adik Dugu Tuo, Dugu Zheng juga ikut memohon dengan tulus sehingga kaisar pun tersentuh. Ia meringankan hukuman mereka, Dugu Tuo diturunkan statusnya menjadi rakyat biasa dan istrinya dipaksa masuk biara dan menjadi biksuni.

Secara keseluruhan hubungan pernikahan Permaisuri Dugu dan suaminya cukup harmonis, namun ada satu noda yang sempat hampir mengganggu keharmonisan itu. Suatu ketika Kaisar Wen pernah terpikat oleh kecantikan cucu perempuan almarhum Jenderal Yuchi Jiong yang dijadikan budak setelah kakeknya dihukum mati dulu sehingga dengan khilaf ia terlibat hubungan seks dengan wanita itu. Ketika perselingkuhan ini diketahui oleh Permaisuri Dugu, ia murka dan membunuh wanita itu. Kaisar Wen yang marah kabur dari istana dan menolak untuk kembali, Gao dan Yang Su mengejar dan membujuknya untuk kembali. Gao berkata, “Yang Mulia, bagaimana anda bisa mengabaikan masalah negara hanya karena seorang wanita?” Mereka akhirnya berhasil membujuk kaisar. Lewat tengah malam kaisar tiba di istana, Permaisuri Dugu dengan sabar menunggunya, ia lalu menangis dan meminta maaf. Gao dan Yang mengadakan sebuah pesta untuk merayakannya, keduanya pun kembali akur. Pada tahun-tahun terakhirnya, hubungan Permaisuri Dugu dengan Gao, yang sebelumnya sangat ia hormati, mulai renggang akibat Gao secara tidak sengaja menyebutnya ‘hanya seorang wanita.’ Ia semakin tidak senang pada Gao yang dianggapnya munafik setelah seorang selir Gao melahirkan baginya seorang putra, padahal tidak lama sebelumnya ketika istri Gao meninggal, ia menyarankan pada suaminya untuk mencarikan Gao istri baru, namun Gao menolak dengan alasan sudah tua dan gairah seks pun sudah turun. Ia mengatakan pada suaminya bahwa Gao tidak bisa dipercaya sehingga kaisar pun mulai menjaga jarak dengan Gao. Tahun 598, Gao yang diperintahkan membantu Yang Liang, Pangeran Han, untuk menginvasi Kerajaan Goguryeo, Korea kembali ke Tiongkok dengan kekalahan tragis. Dari awal Gao sudah menentang invasi ini, namun kaisar tetap memaksanya pergi ke Korea. Ketika ia kembali, Permaisuri Dugu mempersalahkan Gao setelah Yang Liang mengadu bahwa selama di Korea, Gao sering tidak mematuhi perintahnya.

Orang lain yang membuatnya marah adalah Yang Yong, putra sulungnya sendiri yang calon pewaris tahta. Yang Yong telah dinikahkan oleh orangtuanya dengan Putri Yuan, anak perempuan Yuan Xiaoju, seorang bangsawan terhormat dari keluarga Dinasti Wei Utara. Namun Yang Yong bersikap dingin pada istrinya itu, ia malah mengumpulkan banyak selir, salah satunya yang disayangi adalah Selir Yun, sedangkan dari Putri Yuan sendiri ia tidak memperoleh seorang anak pun. Ketika Putri Yuan tiba-tiba meninggal tahun 591 karena sakit, Permaisuri Dugu mencurigai Yang Yong dan Selir Yun yang meracuninya sehingga ia memarahinya. Sementara itu, putra keduanya, Yang Guang, Pangeran Jin, yang diam-diam mengincar tahta dan ingin menjatuhkan kakaknya, bersikap manis di hadapan orang tuanya, ia hidup dalam kesederhanaan sehingga membuat ayahnya senang dan tidak memiliki wanita lain selain istrinya sendiri, Putri Xiao sehingga membuat ibunya senang. Tahun 599, Permaisuri Dugu dan suaminya mempertimbangkan untuk menggantikan Yang Yong dengan Yang Guang sebagai putra mahkota. Ketika Permaisuri Dugu menemui Gao untuk meminta pendapatnya, Gao menyatakan dengan tegas bahwa putra mahkota tidak seharusnya diganti. Maka pada tahun itu juga Permaisuri Dugu membujuk suaminya untuk menyingkirkan Gao. Gao pun akhirnya didakwa telah melakukan tindakan kriminal, ia dipecat dari semua jabatannya, dan diturunkan statusnya menjadi rakyat biasa.

Yang Guang terus memprovokasi Permaisuri Dugu, ia menfitnah Yang Yong akan menghabisinya suatu hari kelak. Yang Guang berkomplot dengan Yang Su, yang tidak disukai Yang Yong, untuk menjatuhkannya. Permaisuri Dugu yang termakan hasutan putranya turut meminta Yang Su ikut berbicara di depan kaisar untuk mendepak Yang Yong. Yang Guang juga melakukan pendekatan pada Ji Wei, seorang sekutu Yang Yong, memintanya menjadi saksi palsu bahwa Yang Yong berencana melakukan makar. Kaisar memerintahkan Yang Su melakukan penyelidikan atas kasus ini, dalam penyelidikan Yang Su membuat bukti-bukti palsu yang memberatkan Yang Yong hingga akhirnya tahun 600 kaisar mencabut status putra mahkota Yang Yong dan menjadikannya tahanan rumah serta mengangkat Yang Guang sebagai penggantinya.

Permaisuri Dugu menghembuskan napas terakhir pada tahun 602 di Istana Yong'an. Kematiannya menjadi pukulan yang sangat berat bagi Kaisar Wen. Seorang pejabat penjilat bernama Wang Shao mencoba menghibur kaisar dengan mengirim petisi yang mengatakan bahwa berdasarkan ramalan Permaisuri Dugu sesungguhnya adalah Bodhisattva.

Didahului oleh:
-
'Permaisuri Tiongkok'
(Dinasti Sui)
581-602
Diteruskan oleh:
Permaisuri Xiao