Citraan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Penggunaan citraan yang baik akan menentukan keindahan puisi seorang penyair

Citraan adalah salah satu sarana kepuitisan yang digunakan oleh penyair untuk memperkuat gambaran pikiran dan perasaan pembaca. [1] Sarana ini berkaitan erat dengan pengalaman inderawi penyair atas objek-objek yang disebutkan atau diterangkan dalam puisi. [1] Guna tercapai kesinambungan maksud, pengalaman pembaca juga menjadi bagian dari sebuah proses pemahaman puisi. [1] Citraan bersifat deskriptif dan imajinatif yang diwujudkan dalam bentuk kebendaan melalui kata. [2] Jika dilihat dari fungsinya, maka hadirnya sebuah citraan bisa mengundang kembali ingatan pembaca atas berbagai pengalaman inderawi yang pernah dirasakan. [3] Oleh karena itu, kehadiran citraan tidak membawa kesan baru dalam pikiran melainkan melibatkan pembaca untuk terlibat dalam kreasi puitis. [3] Dalam membangun sebuah citraan yang menggugah perasaan, seorang penyair dapat melakukannya dengan dua cara , yaitu melalui deskripsi dan perlambangan (metafora). [4]

Jenis-jenis Citraan[sunting | sunting sumber]

Gambaran Citraan ada bermacam-macam, baik itu berkenaan dengan indera maupun gerak. [5] Berikut ini beberapa jenis Citraan:

  1. Citraan Penglihatan (Visual Imagery) [2]
  2. Citraan Pendengaran (Auditory Imagery) [2]
  3. Citraan Perabaan (Tactile Imagery) [2]
  4. Citraan Gerak (Kinaesthetic Imagery) [2]
  5. Citraan Penciuman (Olfactory Imagery) [2]
  6. Citraan Pengecapan (Gustatory Imagery) [2]

Citraan Penglihatan[sunting | sunting sumber]

Citraan Penglihatan merupakan Citraan yang bersentuhan dengan indera penglihatan. [5] Citraan penglihatan merupakan jenis yang paling banyak ditemukan dalam puisi. [5] Rangsangan yang distimulus oleh citraan penglihatan kepada indera penglihatan akan menjadikan bayangan imajinasi yang tidak terlihat seolah-olah nyata. [5]

Citraan Pendengaran[sunting | sunting sumber]

Citraan Pendengaran juga merupakan Citraan yang sering muncul dalam puisi dan dihadirkan dengan mengurai atau mendeskripsikan bunyi. [6] Penyair yang sering menggunakan jenis citraan ini disebut sebagai penyair auditif. [6]

Citraan Perabaan[sunting | sunting sumber]

Citraan Perabaan berkenaan dengan aktivitas perabaan. [7] Citraan Perabaan berkenaan dengan Citraan Gerak bahwa melalui Citraan ini, kita seolah-olah dihadapakan dengan sebuah benda padat dan selanjutnya dapat dipegang. [8]

Citraan Gerak[sunting | sunting sumber]

Kehadiran Citraan gerak bisa menimbulkan hal yang ditandai terkesan bergerak. [9] Hal yang digambarkan bergerak sebenarya tidak bergerak namun dilukiskan bergerak shingga terlihat hidup dan dinamis. [7]

Citraan Penciuman[sunting | sunting sumber]

Citraan ini merupakan citraan yang menonjolkan peran indra pembau. [10] Citraan ini merupakan jenis citraan yang paling jarang digunakan. [10]

Citraan Pengecapan[sunting | sunting sumber]

Citraan Pengecapan merupakan citraan yang berkenaan dengan indra pengecapan. [9] Citraan jenis ini jugajarang digunakan dalam puisi. [10]

Dengan berbagai kategori yang telah disebutkan di atas, tidak menutup kemungkinan bila terjadi perpaduan berbagai jenis Citraan dalam sebuah puisi sekaligus. [10] Kesatuan dari berbagai Citraan di atas, akan memberi warna sebuah puisi. [10]


Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Rachmat Djoko Pradopo. Pengkajian Puisi. Gadjah Mada University Press. hlm. 80. 
  2. ^ a b c d e f g "Contoh-contoh Citraan dalam Puisi". AnneAhira. Diakses 4 April 2014. 
  3. ^ a b "Puisi". Siswapedia. Diakses 5 April 2014. 
  4. ^ Suminto A. Sayuti. Perkenalan dengan Puisi. Gama Gramedia. hlm. 173. 
  5. ^ a b c d Rachmat Djoko Pradopo. Pengkajian Puisi. Gadjah Mada University Press. hlm. 81. 
  6. ^ a b Rachmat Djoko Pradopo. Pengkajian Puisi. Gadjah Mada University Press. hlm. 82. 
  7. ^ a b Rachmat Djoko Pradopo. Pengkajian Puisi. Gadjah Mada University Press. hlm. 83. 
  8. ^ Suminto A. Sayuti. Perkenalan dengan Puisi. Gama Gramedia. hlm. 176. 
  9. ^ a b Suminto A. Sayuti. Perkenalan dengan Puisi. Gama Gramedia. hlm. 174. 
  10. ^ a b c d e Rachmat Djoko Pradopo. Pengkajian Puisi. Gadjah Mada University Press. hlm. 85.