An-Nawawi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Imam Nawawi
Gelar Al-Imam, Muhyiddin[1]
Kun-yah Abu Zakaria
Nama Yahya
Nasab bin Syaraf bin Murry bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Juma bin Hazam
Nisbah An-Nawawi, Ad-Dimasyqi
Lahir Muharram 631 H /1233 M
Nawa, Damaskus
Wafat 24 Rajab 676 H /1277 M
Nawa, Damaskus
Kebangsaan Syam
Etnis Arab
Zaman Abad ke-7 Hijriyah
Jabatan Madrasah Ashrafiyyah
Firkah Sunni
Mazhab Fikih Syafi'i
Minat utama Fikih, Hadits
Karya yang terkenal Arba’in Nawawi, Riyadhush Shalihin, Al-Minhaj syarh Shahih Muslim
Alma mater Madrasah Rawahiyyah

Al-Imam al-Allamah Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi (الإمام العلامة أبو زكريا محيي الدين بن شرف النووي الدمشقي), atau lebih dikenal sebagai Imam Nawawi, adalah salah seorang ulama besar mazhab Syafi'i. Ia lahir di desa Nawa, dekat kota Damaskus, pada tahun 631 H dan wafat pada tahun 24 Rajab 676 H. Kedua tempat tersebut kemudian menjadi nisbat nama beliau, an-Nawawi ad-Dimasyqi. Ia adalah seorang pemikir muslim di bidang fiqih dan hadits.

Imam Nawawi pindah ke Damaskus pada tahun 649 H dan tinggal di distrik Rawahibiyah. Di tempat ini beliau belajar dan sanggup menghafal kitab at-Tanbih hanya dalam waktu empat setengah bulan. Kemudian beliau menghafal kitab al-Muhadzdzabb pada bulan-bulan yang tersisa dari tahun tersebut, dibawah bimbingan Syaikh Kamal Ibnu Ahmad.

Semasa hidupnya beliau selalu menyibukkan diri dengan menuntut ilmu, menulis kitab, menyebarkan ilmu, ibadah, wirid, puasa, dzikir, sabar atas terpaan badai kehidupan. Pakaian beliau adalah kain kasar, sementara serban beliau berwarna hitam dan berukuran kecil.

Guru-guru Imam Nawawi[sunting | sunting sumber]

Sang Imam belajar pada guru-guru yang amat terkenal seperti Abdul Aziz bin Muhammad Al-Ashari, Zainuddin bin Abdud Daim, Imaduddin bin Abdul Karim Al-Harastani, Zainuddin Abul Baqa, Khalid bin Yusuf Al-Maqdisi An-Nabalusi dan Jamaluddin Ibn Ash-Shairafi, Taqiyuddin bin Abul Yusri, Syamsuddin bin Abu Umar. Dia belajar fiqih hadits (pemahaman hadits) pada asy-Syaikh al-Muhaqqiq Abu Ishaq Ibrahim bin Isa Al-Muradi Al-Andalusi. Kemudian belajar fiqh pada Al-Kamal Ishaq bin Ahmad bin usman Al-Maghribi Al-Maqdisi, Syamsuddin Abdurrahman bin Nuh dan Izzuddin Al-Arbili serta guru-guru lainnya.

Murid-murid Imam Nawawi[sunting | sunting sumber]

Tidak sedikit ulama yang datang untuk belajar ke Iman Nawawi. Di antara mereka adalah al-Khatib Shadruddin Sulaiman al-Ja’fari, Syihabuddin al-Arbadi, Shihabuddin bin Ja’wan, Alauddin al-Athar dan yang meriwayatkan hadits darinya Ibnu Abil Fath, Al-Mazi dan lainnya.

Karya[sunting | sunting sumber]

Imam Nawawi meninggalkan banyakkarya ilmiah yang terkenal. Jumlahnya sekitar empat puluh kitab, diantaranya: Dalam bidang hadits:

  • Al-Arba'in An-Nawawiyah (الأربعين النووية), kumpulan 40 -tepatnya 42- hadits penting.[2]
  • Riyadhus Shalihin (رياض الصالحين),[3] kumpulan hadits mengenai etika, sikap dan tingkah laku yang saat ini banyak digunakan di dunia Islam.
  • Al-Minhaj (Syarah Shahih Muslim), (شرح صحيح مسلم), penjelasan kitab Shahih Muslim bin al-Hajjaj.[4]
  • At-Taqrib wat Taysir fi Ma’rifat Sunan Al-Basyirin Nadzir. (التقريب والتيسير لمعرفة سنن البشير النذير), pengantar studi hadits.

Dalam bidang fiqih:

  • Minhaj ath-Thalibin (منهاج الطالبين وعمدة المفتين في فقه الإمام الشافعي).
  • Raudhatuth Thalibin,
  • Al-Majmu` Syarhul Muhadzdzab (المجموع شرح المهذب), panduan hukum Islam yang lengkap.
  • Matn al-Idhah fi al-Manasik (متن الإيضاح في المناسك), membahas tentang haji.

Dalam bidang bahasa:

  • Tahdzibul Asma’ wal Lughat.

Dalam bidang akhlak:

Dan lain-lain:

  • Tahdzib al-Asma (تهذيب الأسماء).
  • Ma Tamas Ilaihi Hajah al-Qari li Shahih al-Bukhari (ما تمس إليه حاجة القاري لصـحيح البـخاري).
  • Tahrir al-Tanbih (تحرير التنبيه).
  • Adab al-Fatwa wa al-Mufti wa al-Mustafti (آداب الفتوى والمفتي والمستفتي).
  • At-Tarkhis bi al-Qiyam (الترخيص بالقيام لذوي الفضل والمزية من أهل الإسلام).

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Ia digelari sebagai Muhyiddin (yang menghidupkan agama) namun ia membenci gelar ini karena rendah hati (tawadhu’). Diriwayatkan bahwa beliau berkata: “Aku tidak akan memaafkan orang yang menggelariku Muhyiddin.” Hal ini dikarenakan Islam adalah agama yang hidup dan kokoh, tidak memerlukan orang yang menghidupkannya sehingga menjadi hujjah atas orang-orang yang meremehkannya atau meninggalkannya.
  2. ^ (Arab) An-Nawawi. Al-Arba'in an-Nawawiyah (pranala unduhan).
  3. ^ (Inggris) -----. Riyad as-Salihin (The Meadows of the Righteous).
  4. ^ (Arab) -----. Syarh Shahih Muslim.
  5. ^ (Arab) -----. Al-Adzkar (pranala unduhan, unduhan 1.64 MB).

Pranala luar[sunting | sunting sumber]