AIDC F-CK-1 Ching-kuo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
IDF F-CK-1 Rolling over Hsinchu AFB Runway 20120602.jpg
Aircraft over Tainan 2.JPG

AIDC F-CK-1 Ching-kuo adalah pesawat jet tempur buatan Taiwan bermesin ganda (twinjet) yang dinamakan persis dengan president Republik China, Chiang Ching-kuo. Pembuatan Ching Kuo berada dalam proyek IDF / Indigenous Defense Fifhter. Pesawat jet tempur ini dibuat menjadi multirole capability, yaitu pesawat jet yang bisa menjalankan berbagai misi seperti stealth dan airbomber.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Setelah memburuknya hubungan diplomatik antara Washington dan Taipei pada Januari 1979, suplay militer masa depan Taiwan menjadi tanda tanya. Tetapi karena aksi Taiwan Relations Act (TRA) pada awal 1979, Taiwan berhasil membeli peralatan militer dan senjata canggih dari AS.

Taiwan membuat hampir 300 Northrop F-5 di bawah lisensi dari 1974-1986. Dari awal 1980an Taiwan tertarik untuk membeli pesawat jet tempu AS baru untuk menggantikan Northrop F-5 dan Lockheed F-104 yang menua. AS yang sedang meningkatkan hubungan diplomatis dengan China, menolak permintaan Taiwan untuk membeli F-16, dan memblok pembelian senilai $1miliar untuk 100 F-20 Tigersharks pada Juli 1982. Akhirnya Taiwan memutuskan untuk membuat pesawat domestik sendiri (Indigenous Defense Fighter (IDF)).

Taiwan memproduksi IDF Ching-kuo dengan bantuan dari perusahaan Amerika, yang dipimpin General Dynamics. Proyek ini terdiri dari empat subproyek. Proyek Ying-Yang (bekerjasama dengan General Dynamics) yang membuat airframe, Proyek Yun-han (bekerjasama dengan Hughes Co.) yang mendesain mesin, Proyek Tian-lei (bekerjasama dengan Westinghouse Co.), yang yang bertanggungjawab pada sistem avionik dan Proyek Tian-Chien yang mengembangkan sistem persenjataan.

Mesin kembar IDF similar dengan F-16 tetapi sedikit lebih kecil dan mempunyai jarak tempuh lebih pendek. IDF adalah pesawat hibrid dari tampilan luarnya. Hidung pesawat ini merupakan replika dari F-20A Tigershark, sementara bodi, sayap dan permukaan ekor vertikalnya meniru F-16, serta kokpit, sayap ekor vertikal dan lilitan dekat inlet mesin mirip pesawat Perancis.

IDF lebih hebat dari F-5E pada performa udaranya. IDF dapat berakselerasi lebih baik dari F-104 dan mampu berputar dalam radius yang lebih kecil dari F-5. Pesawat ini dilengkapi dengan empat misil Sidewinder tetapi tanpa tangki bahan bakar eksternal. Mempunyai ketahanan tempur selama tiga menit pada "afterburner" dengan radius tempur 70-90 mil laut. Pesawat ini terutama digunakan untuk pertempuran kontrol udara dan dapat digunakan untuk menembakkan misil "Hsiung Feng"-II ke target di lautan. Sebagian besar pesawat IDF diharapkan dapat dipersenjatai dengan BVR Tien Chien-II (Sky Sword-II) ARAAM.

Pesawat dilengkapi dengan sebuah radar GD-53, yang dikembangkan dari APG-67 yang secara esensial performanya similar. Radar APG-67 menggunakan teknologi Dopler pada band-X dan mempunyai 15 mode operasional, delapan untuk udara-ke-udara dan tuju untuk udara-ke-darat. Radar ini juga dapat beroperasi pada tiga frekuensi repetisi pulsa (pulse repetition frequencies [PRF]) berbeda -- tinggi, medium dan rendah – tergantung pada arah pesawat ke atas, ke bawah atau pada saat sebuah "dogfight" di udara, secara bersamaan.

Pada saat pesawat mengarah ke bawah, radius efektif radar adalah 39km, jika mengarah ke atas 57 km. Delapan mode udara-ke-udara adalah sebagai berikut: pencarian dan deteksi jarak pada saat pesawat mengarah ke atas, pencarian dan deteksi jarak pada saat pesawat mengarah ke bawah, deteksi kecepatan, pendeteksian (10 target) dan scanning secara bersamaan, "dogfight", tracking target tunggal, suvey situasi dan continuous-wave indicator interfacing. Tujuh mode udara-ke darat adalah sebagai berikut: topografi velositas gelombang riil, penajam velositas gelombang Doppler, deteksi jarak udara-ke-daratan, indikator target darat bergerak, indikator target darat diam, dan pencari target pada permukaan laut. Pada April 1997, divisi Teknologi Tepat Guna Litton berhasil memperoleh kontrak produksi sebesar $116,2 juta dari Aerospace Industrial Development Corporation Taiwan, ROC, untuk Improved Radar Warning Receivers (IRWR) agar dapat digunakan di pesawat ini.

Walaupun bentuknya yang relatif kecil, ternyata pesawat ini dilengkapi dengan dua mesin besar dengan daya propulsi pendek. Kelemahan fatal pesawat ini adalah kurangnya tenaga mesin dan beratnya body pesawat menyebabkan rentan kecelakaan.

Versi awal IDF mempunyai kecepatan maksimal 1.2 Mach dengan menggunakan mesin yang diproduksi bersama oleh Taiwan dan Allied Signal Garret Engine Division. Mesin TFE1042-70 didesain untuk pesawat tempur ringan untuk menghasilkan performa bagus bagi pesawat dan mengurangi biaya perawatan. Produksi pertama mesin TFE1042-70 dikirim ke Taiwan pada 1992, dan kemudian ITEC mengirim lebih dari 300 mesin untuk IDF. International Turbine Engine Corporation (ITEC) beroperasi bersama dengan Allied Signal Engines dan Aero Industrial Development Corp China. Rencana untuk mengganti mesin lama dengan mesin yang lebih bertenaga dilakukan sejak peresmian pesawat F-16 dan Mirage 2000.

Proyek IDF telah menghadapi banyak masalah sejak dimulainya program ini pada 1980. Akan tetapi, kecanggihan teknis dengan adanya sistem kontrol fly-by-wire dan desain bodi-sayap tergabung dipercaya menjadikan IDF sebagai pesawat tercanggih yang diproduksi oleh China hingga saat ini. Pada 1997 sekitar 60 pesawat sudah dibuat dan sekitar 130 pesawat pada awal 2000an.

Skuadron pertama IDF mulai bergabung dengan AU ROC pada Desember 1994.

Pertamakali takeoff, atau yang kerap disebut maidenflight, pada tahun 1989, berhasil menempuh 22 menit penerbangan. Pada tahun itu, sebenarnya Republik China sedang mempunyai konflik dengan Amerika. Hal ini berakibat pada delay dari bahan-bahan fundamental Ching Kuo. Tetapi agar Amerika bisa bersaing melawan USSR (Union of Soviet Socialist Republics) akhirnya pihak Amerika yang waktu itu dipimpin oleh Ronald Reagan mengeluarkan perjanjian “Six Assurance” untuk tetap menyuplai bahan ke Republik China dengan ketentuan-ketentuan yang tertentu.

Pembuatan Ching Kuo sendiri dibagi dalam empat bagian :

  • 1. “Yin Yang” (Soaring Eagle) : Pengembangan airframe, bekerjasama dengan General Dynamics.
  • 2. “Yun Han” (Cloud Han) : Pengembangan mesin, bekerjasama dengan Honeywell
  • 3. “Tien Lei” (Sky Thunder) : Pengembangan avionics (elektronik pada pesawat), bekerjasama dengan Smith Industes.
  • 4. “Tien Chien” (Sky Sword) : Pengembangan air-to-air missile.

Hanya dari sekedar melihat saja terlihat jelas bahwa designnya sangat dipengaruhi oleh F-16, baik dari design badannya maupun design sayapnya. Konstruksinya sebagian besar menggunakan aluminium alloy, tapi dengan beberapa composite di ekor pesawat dan rem , juga titanium pada mulut pipa mesin.

Radar dipasang dengan jenis Golden Dragon 53, dikembangkan di Westinghouse APG-67(V). Radar ini mempunyai maximum search range sekitar 35 miles (56 km) dan dapat mengarahkan rudal semi-aktif.

Sebenarnya 250 pesawat telah dipesan, tetapi karena batasan dari Amerika, produksi Ching Kuo dibatasi. 130 pesawat terakhir diselesaikan pada tahun 2000. Tidak ada Ching Kuo yang pernah dieksport.

  • Origin : AIDC, Taiwan
  • Type : Single-seat, twin-engined interceptor and air defence fighter with a secondary ground attack and anti-shipping function. The two-seater conversion trainer is fully combat capable, albeit with reduced internal fuel.
  • Engines : Two ITEC TFE1042-70 afterburning turbofans rated at 9,250lb (4,196kg) thrust maximum and 6,300lb (2,858kg) thrust military.
  • Dimensions : Span 30ft 10.25in (9.42m); length 46ft 7.75in (14.20m); height 15ft 6in (4.72m); wing area 260sq.ft (24.20m2).
  • Weights : Empty 14,300lb (6,486kg); normal takeoff 21,0000lb (9,526kg); maximum takeoff 27,000lb (12,247kg).
  • Loadings (at normal takeoff weight) : Wing 81 lb/sq.ft (394kg/m2); thrust 0.90.
  • Performance : Maximum speed (altitude) Mach 1.65; maximum speed (sea level) Mach 1.05; operational ceiling 50.000ft (15,239m); initial climb rate 50,000ft/min (254m/sec).
  • Armament : One 20mm M61A1 cannon with 511 rounds in the port wing root; four Sky Sword I heat-homing AAMs plus two Sky Sword II SARH AAMs; two AGM-65 Maverick or three Hsiung Feng II ASMs; or a variety of conventional air-to-surface weaponry. Maximum weight of stores 8,600lb (3,901 kg).
  • History : First flight prototype 28 May 1989; production delivery 10 January 1994 to 2000.
  • User : Republic of China Air Force (Taiwan)

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • Eden, Paul (ed.). The Encyclopedia of Modern Military Aircraft. London, UK: Amber Books, 2004. ISBN 1-904687-84-9. 
  • Wilson, Stewart. Combat Aircraft since 1945. London: Aerospace Publications, 2000. ISBN 1-875671-50-1. 
  • Lake, Jon (Autumn/Fall 1996). "AIDC Ching-Kuo: The Indigenous Defence Fighter". World Air Power Journal (London:Aerospace Publishing) (Volume 26): Pages 28–41. ISBN 1-874023-81-6. ISSN 0959-7050. 
  • Taylor, Michael (1999). Brassey's World Aircraft & Systems Directory 1999/2000. London: Brassey's. ISBN 1-85753-245-7. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Artikel ini memuat teks berbahasa Tionghoa. Tanpa dukungan multibahasa, Anda mungkin akan melihat tanda tanya, tanda kotak, atau karakter lain selain dari karakter yang dimaksud.