Panembahan Hanyakrawati

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Sri Susuhunan Adi Prabu Hanyakrawati Senapati-ing-Ngalaga Mataram (lahir: Kotagede, ? - wafat: Krapyak, 1613) adalah raja kedua Kesultanan Mataram yang memerintah pada tahun 1601-1613. Ia juga sering disebut dengan gelar anumerta Panembahan Seda ing Krapyak, atau cukup Panembahan Seda Krapyak, yang bermakna "Baginda yang wafat di Krapyak". Tokoh ini merupakan ayah dari Sultan Agung, raja terbesar Mataram yang juga pahlawan nasional Indonesia.

Silsilah keluarga[sunting | sunting sumber]

Nama asli Prabu Hanyakrawati adalah Raden Mas Jolang, putra Panembahan Senapati raja pertama Kesultanan Mataram. Ibunya bernama Ratu Mas Waskitajawi, putri Ki Ageng Panjawi, penguasa Pati. Antara kedua orang tua Mas Jolang tersebut masih terjalin hubungan sepupu.

Ketika menjabat sebagai Adipati Anom (putra mahkota), Mas Jolang menikah dengan Ratu Tulungayu putri dari Ponorogo. Namun perkawinan tersebut tidak juga dikaruniai putra, padahal Mas Jolang terlanjur berjanji jika kelak dirinya menjadi raja, kedudukan Adipati Anom akan diwariskan kepada putra yang dilahirkan Ratu Tulungayu.

Mas Jolang kemudian menikah lagi dengan Dyah Banowati putri Pangeran Benawa raja Pajang. Dyah Banowati yang kemudian bergelar Ratu Mas Hadi melahirkan Raden Mas Rangsang dan Ratu Pandansari (kelak menjadi istri Pangeran Pekik).

Empat tahun setelah Mas Jolang naik takhta, ternyata Ratu Tulungayu melahirkan seorang putra bernama Raden Mas Wuryah alias Adipati Martapura. Padahal saat itu jabatan adipati anom telah dipegang oleh Mas Rangsang.

  1. Panembahan Hadi Prabu Hanyokrowati/Panembahan Seda ing Krapyak (Sultan Mataram ke 2, 1601-1613) menikah dengan Ratu Tulung Ayu dan Dyah Banowati / Ratu Mas Hadi (Cicit dari Raden Joko Tingkir & Ratu Mas Cempaka), menurunkan putra-putri 12 orang :
    1. Sultan Agung / Raden Mas Djatmika (1593-1645), Sultan Mataram ke 3 (1613-1645) menikah dengan Permaisuri ke 1 Kanjeng Ratu Kulon / Ratu Mas Tinumpak (putri Panembahan Ratu Cirebon ke 4 setelah Sunan Gunung Jati), permaisuri ke 2 Kanjeng Ratu Batang / Ratu Ayu Wetan / Kanjeng Ratu Kulon mempunyai 9 orang putra-putri :
      1. Raden Mas Sahwawrat / Pangeran Temenggong Pajang
      2. Raden Mas Kasim / Pangeran Demang Tanpa Nangkil
      3. Pangeran Ronggo Kajiwan
      4. Gusti Ratu Ayu Winongan
      5. Pangeran Ngabehi Loring Pasar
      6. Pangeran Ngabehi Loring Pasar
      7. Sunan Prabu Amangkurat Agung / Amangkurat I / Raden Mas Sayidin (Sultan Mataram ke 4, 1646-1677) wafat 13 Juli 1677 di Banyumas.
        1. Sunan Prabu Mangkurat II / Sunan Amral / Raden Mas Rahmat (Sunan Kartasura ke 1, 1677-1703)
          1. Sunan Prabu Amangkurat III (Sunan Kartasura ke 2, 1703-1705)
        2. Susuhunan Pakubuwono I / Pangeran Puger / Raden Mas Drajat (Sunan Kartasura ke 3, 1704-1719)
          1. Raden Mas Sengkuk
          2. Prabu Amangkurat IV (Mangkurat Jawi) wafat 20 April 1726
            1. Kanjeng Pangeran Arya Mangkunegara (Mangkunegara I, 1757-1795)
            2. Gusti Raden Ayu Suroloyo, di Brebes
            3. Gusti Raden Ayu Wiradigda
            4. Gusti Pangeran Hario Hangabehi
            5. Gusti Pangeran Hario Pamot
            6. Gusti Pangeran Hario Diponegoro
            7. Gusti Pangeran Hario Danupaya
            8. Sri Susuhunan Pakubuwono II / Raden Mas Prabasuyasa (Sunan Surakarta ke 1, 1726-1742)
            9. Gusti Pangeran Hario Hadinagoro
            10. Gusti Kanjeng Ratu Maduretno, Garwa Pangeran Hindranata
            11. Gusti Raden Ajeng Kacihing, Dewasa Sedho
            12. Gusti Pangeran Hario Hadiwijoyo
            13. Gusti Raden Mas Subronto, Wafat Dalam Usia Dewasa
            14. Gusti Pangeran Hario Buminoto
            15. Pangeran Hario Mangkubumi Hamengku Buwono I (Sultan Yogyakarta Ke 1, 1717-1792)
            16. Sultan Dandunmatengsari
            17. Gusti Raden Ayu Megatsari
            18. Gusti Raden Ayu Purubaya
            19. Gusti Raden Ayu Pakuningrat di Sampang
            20. Gusti Pangeran Hario Cokronegoro
            21. Gusti Pangeran Hario Silarong
            22. Gusti Pangeran Hario Prangwadono
            23. Gusti Raden Ayu Suryawinata di Demak
            24. Gusti Pangeran Hario Panular
            25. Gusti Pangeran Hario Mangkukusumo
            26. Gusti Raden Mas Jaka
            27. Gusti Raden Ayu Sujonopuro
            28. Gusti Pangeran Hario Dipawinoto
            29. Gusti Raden Ayu Adipati Danureja I
          3. Pangeran Diposonto / Ki Ageng Notokusumo
          4. Raden Ayu Lembah
          5. Raden Ayu Himpun
          6. Raden Suryokusumo
          7. Pangeran Blitar
          8. Pangeran Dipanegara Madiun
          9. Pangeran Purbaya
          10. Kyai Adipati Nitiadiningrat I Raden Garudo (groedo)
          11. Raden Suryokusumo
          12. Tumenggung Honggowongso / Joko Sangrib (Kentol Surawijaya)
        3. Gusti Raden Ayu Pamot
        4. Pangeran Martosana
        5. Pangeran Singasari
        6. Pangeran Silarong
        7. Pangeran Notoprojo
        8. Pangeran Satoto
        9. Pangeran Hario Panular
        10. Gusti Raden Ayu Adip Sindurejo
        11. Raden Ayu Bendara Kaleting Kuning
        12. Gusti Raden Ayu Mangkuyudo
        13. Gusti Raden Ayu Adipati Mangkupraja
        14. Pangeran Hario Mataram
        15. Bandara Raden Ayu Danureja / Bra. Bendara
        16. Gusti Raden Ayu Wiromenggolo / R.Aj. Pusuh
      8. Gusti Raden Ayu Wiromantri
      9. Pangeran Danupoyo/Raden Mas Alit
    2. Pangeran Mangkubumi
    3. Pangeran Bumidirja
    4. Pangeran Arya Martapura / Raden Mas Wuryah (1605-1688)
    5. Ratu Mas Sekar / Ratu Pandansari
    6. Kanjeng Ratu Mas Sekar
    7. Pangeran Bhuminata
    8. Pangeran Notopuro
    9. Pangeran Pamenang
    10. Pangeran Sularong / Raden Mas Chakra (wafat Desember 1669)
    11. Gusti Ratu Wirokusumo
    12. Pangeran Pringoloyo

Peran awal[sunting | sunting sumber]

Mas Jolang pernah dikirim ayahnya untuk menghadapi pemberontakan pamannya dari pihak ibu, yaitu Adipati Pragola dari Pati tahun 1600.

Pemberontakan tersebut dipicu oleh perkawinan Panembahan Senapati dengan Retno Dumilah putri Madiun sebagai permaisuri kedua. Pragola marah karena khawatir kedudukan kakaknya (Ratu Mas Waskitajawi) terancam. Ia pun memberontak menyatakan Pati lepas dari Mataram.

Panembahan Senapati menugasi Mas Jolang untuk memadamkan pemberontakan Pragola. Namun ia tidak mampu mengalahkan kesaktian pamannya itu. Ia bahkan jatuh pingsan karena terluka menghadapi Pragola dan terpaksa dibawa mundur oleh pasukannya.

Pemberontakan Adipati Pragola akhirnya ditumpas langsung oleh Panembahan Senapati sendiri.

Pemberontakan Pangeran Puger[sunting | sunting sumber]

Pangeran Puger alias Raden Mas Kentol Kejuron adalah putra kedua Panembahan Senapati yang lahir dari selir bernama Nyai Adisara. Saat itu putra pertama Senapati yang bernama Raden Rangga Samudra (lahir dari Rara Semangkin) telah meninggal sejak lama. Hal ini membuat Pangeran Puger menjadi putra tertua dan merasa lebih berhak atas takhta Kesultanan Mataram daripada Mas Jolang.

Panembahan Senapati meninggal pada tahun 1601 dan digantikan oleh Mas Jolang sebagai raja Mataram selanjutnya, yang bergelar Prabu Hanyakrawati. Pengangkatan tersebut membuat Pangeran Puger sakit hati dan tidak mau menghadap ke pertemuan kenegaraan. menyadari hal itu, Hanyakrawati pun mengangkat kakaknya itu sebagai adipati Demak.

Meskipun demikian, Pangeran Puger tetap saja memberontak pada tahun 1602. Perang saudara antara Mataram dan Demak pun meletus. Akhirnya, pada tahun 1605 Pangeran Puger dapat ditangkap dan dibuang ke Kudus.

Pemberontakan selanjutnya terjadi pada tahun 1607, dilakukan oleh Pangeran Jayaraga (alias Raden Mas Barthotot), adik Hanyakrawati yang menjadi bupati Ponorogo. Pemberontakan ini dipadamkan oleh adik yang lain, yaitu Pangeran Pringgalaya (alias Raden Mas Julik putra Retno Dumilah). Jayaraga tertangkap dan dibuang ke Masjid Watu di Nusakambangan.

Menyerang Surabaya[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1610 Hanyakrawati melanjutkan usaha ayahnya, yaitu menaklukkan Surabaya, musuh terkuat Mataram. Serangan-serangan yang dilakukannya sampai akhir pemerintahannya tahun 1613 hanya mampu memperlemah perekonomian Surabaya namun tidak mampu menjatuhkan kota tersebut.

Serangan pada tahun 1613 sempat menyebabkan pos-pos VOC di Gresik dan Jortan ikut terbakar. Sebagai permintaan maaf, Hanyakrawati mengizinkan VOC mendirikan pos dagang baru di Jepara. Ia juga mencoba menjalin hubungan dengan markas besar VOC di Ambon.

Kematian di Krapyak[sunting | sunting sumber]

Prabu Hanyakrawati meninggal dunia pada tahun 1613 karena kecelakaan sewaktu berburu kijang di Hutan Krapyak. Oleh karena itu, ia pun terkenal dengan gelar anumerta Panembahan Seda ing Krapyak. Ia dimakamkan di Pasarean Mataram.

Putra yang ditunjuk sebagai raja selanjutnya adalah Mas Rangsang. Namun, karena sebelumnyua pernah berjanji pada istri pertama (Ratu Tulungayu), maka Mas Wuryah pun lebih dahulu dijadikan raja bergelar Adipati Martopuro selama satu hari.

Setelah memerintah selama satu hari, Adipati Martopuro kemudian digantikan oleh Mas Rangsang, atau yang lebih terkenal dengan julukan Sultan Agung.

Catatan[sunting | sunting sumber]

Pangeran Puger kakak Prabu Hanyakrawati yang memberontak pada tahun 1602-1605 berbeda dengan Pangeran Puger yang bergelar Pakubuwana I. Pangeran Puger Pakubuwana I adalah cicit Hanyakrawati yang hidup pada zaman selanjutnya. Ia menjadi raja Kasunanan Kartasura pada tahun 1705-1719.

Kepustakaan[sunting | sunting sumber]

  • Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). 2007. Yogyakarta: Narasi
  • H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti
  • M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
  • Moedjianto. 1987. Konsep Kekuasaan Jawa: Penerapannya oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius
  • Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu



Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Sutawijaya
Sultan Mataram
1601—1613
Diteruskan oleh:
Adipati Martopuro