Muhammad Husain Thabathaba'i

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Allameh Tabatabaei)
Langsung ke: navigasi, cari
Muhammad Husain Thabathaba'i
Ulama Iran
Allame-Tabatabai-youth.jpg
Allameh Tabatabaei, dalam usia muda.
Nama: Sayyed Mohammad Hosein Tabatabaei (Allameh Tabatabaei)
Lahir: {{{birth_date}}}
Meninggal: 1981
Aliran/tradisi: Syiah Dua Belas
Minat utama: Filosofi, Mistisisme, Tafsir, dan Hadits
Gagasan penting: Tafsir Qur'an dengan Qur'an
Dipengaruhi: Mulla Sadra, Allameh Qazi, Naeeni
Muhammad Hosein Esfehani
Hujjat Kuhkamari,Sayyed Hosein Badkubi, dan Abulqasem Khansari
Memengaruhi: Muhammad al-Tijani[rujukan?]
Henry Corbin[rujukan?], Hossein Nasr[1][rujukan?], Morteza Motahhari, Muhammad Mofatteh
Muhammad Beheshti, Jalaleddin Ashtiani
Ebrahim Amini, Javadi Amoli, Hasanzade Amoli, Musa Sadr, Makarem Shirazi,
dan Dariush Shayegan [2]

Sayyid Muhammad Husain Thabathaba'i dilahirkan di Tabriz pada tahun 1321 H /1903.

Ketika usia duapuluh tahun berangkat ke Universitas Najaf untuk melanjutkan pelajarannya. Disana ia mempelajari Syariat dan ushul al-fiqh dari dua di antara syaikh-syaikh terkemuka masa itu yaitu Mirza Muhammad Husain Na’ini dan Syaikh Muhammad Husain Isfahani.

Namun menjadi Mujtahid bukan tujuannya. Thabathaba'i lebih tertarik pada ilmu-ilmu aqliah, dan mempelajari dengan tekun seluruh dasar matematika tradisional dari Sayyid Abul Qasim Khwansari, dan filsafat Islam tradisional, termasuk naskah baku asy-Syifa karya Ibnu Sina dan al-Asfar karya Sadr al-Din Syirazi serta Tamhid al-Qawa’id karya Ibnu Turkah dari Sayyid Husain Badkuba’i.

Thabathaba'i juga mempelajari ‘ilm Hudhuri (ilmu-ilmu yang dipelajari langsung dari Allah SWT), atau ma’rifat, yang melaluinya pengetahuan menjelma menjadi penampakan hakekat-hakekat supranatural. Gurunya, Mirza Ali Qadhi, yang mulai membimbingnya ke arah rahasia-rahasia Ilahi dan menuntunnya dalam perjalananan menuju kesempurnaan spritual. Sebelum berjumpa dengan Syaikh ini, Thabathaba'i mengira telah benar-benar mengerti buku Fushulli al-Hikam karya Ibnu Arabi. Namun ketika bertemu dengan Syaikh besar ini, ia baru sadar bahwa sebenarnya ia belum tahu apa-apa. Berkat sang Syaikh ini, tahun-tahun di Najaf tak hanya menjadi kurun pencapaian intelektual, melainkan juga kezuhudan dan praktik-praktik spritual yang memampukannya untuk mencapai keadaan realisasi spritual.

[sunting] Referensi

  1. ^ An Introduction to the al-Mizan
  2. ^ * Jahanbaglu, Ramin (1998). Zire asmanhaye jahan (Below the skies of the world), An interview with Dariush Shayegan. Nashr Farzan. ISBN 964-6138-13-6. , (in Persian)[1]
Akun
Ruang nama

Varian
Tindakan
Navigasi
Komunitas
Wikipedia
Cetak/ekspor
Peralatan
Bahasa lain