Dirodometo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

BEDHOYO MATARAM SENOPATEN DIRODO METO Dikutip oleh: Agus Haryo S. (Fananie Z., 2005, Restrukturisasi Budaya Jawa ; Perspektif KGPAA MN I, hal 67-69)

Peperangan Sitakepyak Rembang adalah peperangan besar kedua yang dialami RM.Said (Pangeran Sambernyowo) yang ketika itu berumur 30 tahun.Perang ini adalah perang melawan 2 detachement Kumpeni Belanda pimpinan komandan Kapten Van der Pol dan Kapten Beimen di sebelah selatan negeri Rembang tepatnya di Hutan Sitakepyak. Perang terjadi pada hari Senin Pahing 17 Sura tahun Wawu 1681 J/ 1756 M yang ditandai dengan sengkalan Rupa (1) Brahmana (8) Anggoyak (6) Wani (1).

Walaupun musuh utamanya pasukan Belanda, bukan berarti bahwa pasukan tersebut tidak dibantu kekuatan lain. Sebagaimana dinyatakan dalam “Babad Lelampahan” (BL), Durma 43, hal 319, bahwa yang mengejar pasukan RM.Said adalah pasukan Kumpeni beserta patih Mataram Danureja, Raden Ronggo, tentara mancanegara, pasukan Kasultanan, prajurit Jawa Bugis dan Bali. Gabungan pasukan inilah yang terus menerus mengejar pasukan RM.Said sampai di Hutan Sitakepyak Rembang.

Di hutan inilah RM.Said harus bertahan sekuat tenaga dari kejaran musuh-musuhnya, dan akhirnya perang pun tak terelakkan. Besarnya tentara yang mengepung RM.Said mendekati 1000 pasukan gabungan dari 200 orang tentara Kumpeni, 400 orang pasukan bugis, sedangkan pasukan jawa (Kasultanan) tak terhitung jumlahnya. Hal tersebut seperti dinyatakan dalam bait . Kalihatus walandinipun kewala, dene wong bugis, kawanatus sedaya, wong Jawa datan winilis, wadya Mataram tinindhihan ngajurit. (BL, Durma 49;319).

Perang ini merupakan perang paling berat bagi RM.Said. Pada hari pertama peperangan yang terjadi sampai tujuh kali, pasukan RM.Said dibuat kocar kacir, diibaratkan seperti disapu air bah yang maha dahsyat, semangat pasukan perangnya telah hilang, hanya RM.Said sendiri yang masih tegar menghadapi kenyataan tersebut.

Namun berkat pengalaman dan keberaniannya yang luar biasa, pada hari berikutnya RM.Said mampu membangkitkan semangat pasukannya. Dengan kecerdikan dan keahliannya RM.Said mampu membunuh komandan pasukan perang Belanda yaitu Kapten Van der Pol. Terbunuhnya kapten tersebut ternyata sangat berpengaruh terhadap kosentrasi perang pasukan Belanda, sehingga situasi tersebut dimanfaatkan oleh RM.Said, tentara Belanda dibuat tak berkutik dan akhirnya melarikan diri tunggang langgangan. “Pengenge Kapitan Derpol wus pejah, sasisane ingkang mati, kumpeni lemajar, Kanjeng Pangeran Dipatya, antuk pitulung Widhi, sabalanira, datan bujung ing jurit” (BL, Durma 73;321), Pimpinan detasemen Kapten Van der Pol tewas, sisa tentaranya lari tunggang langgang, hanya karena pertolongan Allah sajalah Pangeran Adipati, dapat memenangkan pertempuran, sebaliknya musuh yang lari menyelamatkan diri tidak dikejarnya.

Dalam peperangan tersebut, korban di pihak Belanda yang tewas 85 orang, sedang prajurit RM.Said 15 orang. Kepala Kapten Van der Pol dipenggal dan dijinjing dengan tangan kiri kemudian diserahkan kepada Mbok Ajeng Wiyah, garwa ampil RM.Said, sebagai pelunasan janji RM.Said kepadanya.

Jumlah prajurit RM Said yang tewas barangkali kecil dibanding jumlah tentara Kumpeni. Namun jumlah tersebut dalam ukuran tentara RM.Said yang relatif kecil, adalah jumlah yang besar. Karenanya, peperangan tersebut merupakan peperangan yang paling berat baginya. Dibandingkan dengan perang di desa Kasatriyan, Ponorogo, yang ketika itu pasukan RM.Said mampu menewaskan 600 orang musuh dan korban di pihak sendiri hanya 3 orang. Namun demikian, hasil rampasan dari perang Sitakepyak cukup besar, diantaranya sejumlah besar peluru dan mesiu, 120 ekor kuda, 140 pedang, 80 karabin kecil, 130 pistol, 80 karabin panjang, dan perlengkapan perang lainnya. Semuanya dihibahkan kepada parajuritnya (BL, Durma, 77-80:322).

Dirodo Meto merupakan bentuk kreativitas seni RM Said untuk mengenang perlawanan dan jasa-jasa kelimabelas prajurit andalannya (Punggowo baku) yang gugur di medan laga. “Tak ada jalan lain untuk menembus kepungan itu selain menyerang dengan mengamuk dan membabibuta bak seekor gajah liar”, RM Said dan bala prajuritnya memang mengamuk. Dus, dari situlah makna tari Dirodo Meto. Nama Dirodo Meto diambil oleh RM Said dari kata Dirodo (gajah) dan Meto (mengamuk).

Dirodo Meto adalah tarian Si Gajah Ngamuk, sebuah gerak tari simbolis mengenang perjuangan dalam mempertahankan bukan saja nyawa, melainkan juga harga diri RM Said dan rakyat Mataram terhadap penindasan VOC Belanda dan kroninya ketika itu.

Bedhoyo Mataram Senopaten Dirodo Meto, adalah maha karya ke 2 dari 3 tarian sakral yang telah diciptakan oleh RM.Said (KGPAA Mangkoenagoro I), yaitu: 1. Bedhoyo Mataram-Senopaten Anglirmendung (7 penari wanita, pesinden, dan penabuh wanita), sebagai monumen perjuangan perang Kesatrian Ponorogo. 2. Bedhoyo Mataram-Senopaten Dirodometo (7 penari pria, pesinden, dan penabuh pria), sebagai monumen perjuangan perang di Hutan Sitakepyak. 3. Bedhoyo Mataram-Senopaten Sukopratomo (7 penari pria, pesinden, dan penabuh pria), monumen perjuangan perang bedah benteng Kumpeni Yogyakarta.